Bagi saya, menulis adalah pekerjaan mulia. Para penulis adalah
the messengers, orang-orang yang mengabdikan dirinya demi mencerdaskan rakyatnya. Tentu kita tahu bahwa ada pepatah kuno
don't kill the messenger, dan kita tahu pula bahwa banyak penulis yang dibunuh karena karyanya.
Menulis dalam artian kita mengarang, membuat artikel. Bukan sekadar tulis-menulis benda remeh temeh seperti catatan utang warung kopi. Sejak kecil, saya sering menonton film-film yang tanpa kita sadari, menampilkan unsur-unsur jurnalistik di dalamnya. Jurnalistik, jelas memerlukan
skill menulis.
Seperti anak-anak kecil di zamannya, saya menonton
The Amazing Spiderman :) Di sana dikisahkan bahwa Clark Kent adalah seorang jurnalis. Pewarta. Reporter.
The messenger. Otak saya yang lugu (ceileh) langsung memproses, "jurnalis adalah pekerjaan keren."
Kalau jurnalis bukan pekerjaan keren, mengapa Clark Kent mau repot-repot mengetik lembur, mewawancarai orang, sampai mengejar-ngejar berita ke sana kemari? Kenapa dia menanggalkan ego kesuperheroannya dan memilih kerja sebagai jurnalis? Mengapa dia tidak mengikuti jejak sobatnya saja, Bruce Wayne misalnya, yang jadi industralis kelas wahid?
Jawabannya, karena pekerjaan jurnalis itu keren. Titik. Hanya itu saja yang ada di benak saya waktu itu.
Besar sedikit, saya membaca koran. Media cetak paling merakyat, setidaknya sebelum zaman Internet dan
online journalism datang memberangusnya. Kakek saya berlangganan koran
Haluan di rumahnya di Padang dulu. Setiap dia sedang berkebun tiap pagi, ada seorang loper koran mengayuh sepeda butut yang sudah oleng sebelah karena beban koran yang menumpuk di sadel belakangnya. Ia menyangkutkan koran yang masih berbau khas percetakan itu ke pagar rumah kakek. Saya selalu berebut untuk membaca koran itu.
Dan karena kesukaan saya membaca koran pulalah, saya beberapa kali masuk koran dalam usia belum genap empat tahun. Hehehe. Tahu kolom khusus yang biasa dipakai para orang tua untuk memajang foto anaknya yang masih balita di sana, berikut ucapan salam (misalnya salam Lebaran Raya atau Lebaran Haji) kepada keluarga yang jauh? Nah, di situ saya muncul.
Saat itu ayah saya masih di Inggris. Saya tampil di kolom khusus balita itu dan tertulis, "salam untuk Papa di Manchester". Di kemudian hari saya pikir lagi: "Emangnya nih koran nyampai distribusinya ke Manchester?" Hehehehe
Dari koran pagi
Haluan itu pulalah saya mengenal beberapa kolumnis kondang yang rajin menghiasi koran tebal itu dengan tulisan-tulisan mereka. Temanya variatif. Hari ini profesor A menyajikan mengenai Palestina, besoknya lagi doktor B beropini mengenai HAM, dan besoknya lagi doktorandus C bersilang pendapat dengan keduanya: ia membahas silat Minang.
Kolom favorit saya di
Haluan saat itu adalah kolom berbahasa Minang. Ada cerbung
Sabai nan Aluih yang legendaris di sana. Mungkin Anda tahu hikayat
Sabai nan Aluih yang terkenal itu. Tapi,
Sabai nan Aluih yang ada di
Harian berbeda sendiri. Ia tak berkisah tentang pertengkaran adat kontra agama atau kawin lari yang lazim kita temukan di novel-novel lama sastrawan Minangkabau.
Sabai yang ini bertutur tentang kehidupan sosial rakyat Sumatera Barat saat itu. Dikisahkan bahwa ada dua sahabat di sebuah kampung dekat kota yang rajin
maota di kedai kopi kampung mereka. Topik
ota mereka variatif dan kaya akan pemahaman sosial. Dua sahabat ini kadang menyindir para tetua adat yang kolot, pak bupati yang kemarin masuk bui karena korupsi, hingga para maling ayam yang kena denda sosial karena menebang pohon pisang wali nagari tempo hari.
Mungkin saya beruntung lahir dan besar di Padang, sebuah kota yang mempunyai akar jurnalistik dan literatur yang sangat kuat. Koran pertama di Indonesia terbit di Padang. Tak terhitung banyaknya sastrawan dan sastrawati besar yang berasal dari Sumatera Barat. Saat saya kecil, industri jurnalistik, wabilkhusus koran, masih menjamur di Padang.
Bapak-bapak di kawasan Pondok di Muaro sering kali saya lihat duduk berbincang dengan kawannya, dengan koran, entah itu
Haluan atau
Singgalang, di tangan. Kadang sambil menyeruput es durian Pulau Karam yang legendaris itu atau main catur halma. Tapi sesudah gempa 2009, saya dengar bahwa sudah banyak koran-koran kecil yang terpaksa gulung tikar. Sayang sekali.
Selain koran, yang saya baca lainnya adalah Harry Potter. Saya pertama kali bertemu Harry Potter dalam bentuk CD, bukan bukunya. Jadi saya terlebih dahulu tahu tentang Profesor Dumbledore dan asrama Ravenclaw karena menonton filmnya. Bukunya ada, tapi versi Inggris. Ditambah kapasitas otak anak kelas 2 SD, saya tak berminat membaca bukunya. Versi Indonesianya sendiri baru saya baca saat kelas 1 SMP.
Sejak menonton Harry Potter dan Batu Bertuah, saya menganggap buku-buku J.K. Rowling, J.R.R. Tolkien sang pengarang
The Lord of the Rings dan C.S. Lewis sang penulis
The Chronicles of Narnia sebagai sebuah khazanah ilmu yang baru bisa dipahami setelah bertapa beberapa hari di gua terpencil. Mungkin kedengaran agak lebay, tapi begitulah yang dipahami oleh kami, anak-anak SD pinggiran kota Pekanbaru.
Sejak saat itu saya mengerti bahwa penulis, dan segala pekerjaan yang berhubungan dengan menulis, adalah pekerjaan keren. Tidak lagi samar-samar seperti ketika saya menonton Spiderman meloncat dari bangunan satu ke bangunan lain dan besoknya dia sudah hadir lagi di kantornya selaku wartawan biasa.
Saat saya pindah ke Malaysia, Indonesia sedang dilanda
booming buku-buku dakwah romantis seperti buku-buku Habiburrahman El Shirazy. Saya yang polos, menurut saja diajak menonton filmnya di Batam. Pulang dari bioskop saya gagal menangkap apapun dari film tadi.
Saat saya di Malaysia jugalah hadirnya tetralogi
Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Kami, anak-anak Indonesia di Malaysia, berbondong-bondong menonton filmnya saat ada pemutaran di pesantren kilat Ramadan kami. Yang bisa mengambil iktibar dari film tersebut, diberi hadiah dari ustadzah pembimbing kami. Tak ada yang bisa jawab, selain karena kami terlalu fokus mendengarkan
soundtrack film itu yang digubah Nidji, putihnya pasir di pulau Belitong dan potret buram seorang lelaki berwajah Melayu berambut ikal di bagian belakang novelnya.
Sejak saat itu, bahkan sampai hari ini, saya tetap menulis. Paling tidak seminggu sekali, di blog ini, atau di ratusan lembar buku harian yang terserak entah di mana letaknya kini. Saya mengenal blog sebagai tempat menulis yang efektif, sekaligus membuka pergaulan kita dengan banyak orang lain yang sebelumnya tidak kita kenal.
Kebiasaan saya untuk
blogwalking, blusukan dari blog ke blog, membaca tulisan-tulisan dan analisis-analisis orang lain mengenai suatu perkara, saya ibaratkan seperti Ibnu Batutah, sang penjelajah Maroko yang pergi ke sana kemari hingga ke tanah Gayo di Aceh untuk membuka cakrawala pengetahuannya.
Karena itulah Islam menganjurkan kita
hijrah, bermusafir dari satu tempat ke tempat lain, membuka pikiran kita terhadap hal-hal baru dan tidak membiarkan wawasan kita tidak terkungkung di satu tempat saja. Dan tidak ada cara terbaik untuk merekam suatu perjalanan selain menuliskannya. Sebab itulah kini buku-buku
traveling sangat laku. Hehehe.
Ali ibn Abi Thalib pernah berkata, "Ikatlah ilmu dengan menulisnya." Ali ini orang yang luar biasa cerdasnya. Kata Nabi, "kalau ilmu itu ibarat suatu kota, maka Ali inilah gerbangnya."
Pernah mendengar frasa "[masukkan nama pengarang di sini] boleh mati, tapi karya-karyanya tetap hidup"? Nah, jika Qin Shi Huang, kaisar pertama Cina, sampai harus membangun patung-patung terakota yang perkasa demi mengawalnya "menuju keabadian", saya percaya bahwa kita bisa melakukannya dengan mudah tanpa harus memahat patung di pegunungan Shaanxi, yaitu dengan menulis.