23 December 2013

Review: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)

Singkat saja, karena saya memang tak pernah suka panjang-panjang.

Saya sudah membaca novelnya, dan memang apa yang ditayangkan film ini tak begitu jauh dari kenyataan. Novelnya sendiri dibuka dengan prolog dan epilog - jujur saja, saya tak pernah suka novel yang dibuka dengan kenangan masa lalu. Saya kira novel ini semacam karangan bebas saja, tak dimaksudkan sebagai novel sastrawi berat yang mendayu-dayu.

Film yang paling menarik untuk dikritik tentu saja film yang diangkat dari sebuah novel. Dan saya kira, film ini sudah cukup baik dalam menjalankan peran adaptasinya dari sebuah novel.

99 Cahaya di Langit Eropa menyuguhkan latar keislaman. Latar perjalanan hidup seorang Hanum yang dikisahkan mendapat beasiswa ke Wina, Austria, diceritakan dengan latar kota khas Eropa yang eksotis. Penggambaran film ini sebenarnya cukup baik: menampilkan berbagai sudut kota dan secara adil membagi perhatian antara tram-tram kota dan perumahan sederhana para imigran. Meskipun berlatar di cukup banyak tempat, namun ia tak dipenuhi oleh detil-detil yang tak perlu.

Yang paling saya sayangkan adalah ketiadaan - jika tidak dibilang sangat kurang - dialog bahasa asing dalam film ini. Dalam buku aslinya, Fatma diceritakan dapat  berbahasa Jerman yang cukup fasih (ia mendapat nilai pemuncak di kursusnya, jika Anda ingat-ingat). Namun di film, Fatma 95% berbahasa Indonesia. Anaknya, Ayse (yang digambarkan sudah SD, padahal di buku masih gadis kecil), juga berbahasa Indonesia. Saya kira ini mengurangi jiwa "asing" di film ini. Plot-plot digambarkan di Wina yang mayoritas berbahasa Jerman, namun tak ada dialog lengkap dalam bahasa Jerman. Stefan sang ateis Austria pun dengan fasih mencampur adukkan bahasa Jerman, Inggris dan Indonesia. Khan sang staf doktoral dari India degan fasih berbahasa Indonesia. Jika film ini tidak bisa dibilang film asal kejar setoran, maka ini adalah film yang dialognya dikerjakan setengah hati.

Satu hal yang saya soroti adalah kehadiran Fatin Shidqia. Tanpa bermaksud untuk menyakiti siapapun, tapi apa maksudnya ini? Rangga dan Hanum turun dari bukit (yang saya lupa namanya) lalu begitu saja bertemu Fatin? Tak bisakah sutradara menemukan improvisasi yang lebih mengena ketimbang "koinsidensi yang tak sengaja"? Adegan Fatin itu pun saya kira tak lebih dari pesanan sponsor semata.

Kesan dakwah di film ini pun terasa agak hambar dengan pemeran utamanya, Acha Septriasa, hanya sekali tampak mengenakan jilbab, yaitu saat berkunjung ke Masjid Wina. Film ini diklaim sarat dengan syiar Islam, namun tak ada sama sekali syiar dari pemeran utamanya. Semoga film selanjutnya mengubah cara pandang saya terhadap muatan dakwah di film ini.

Secara umum, film ini dikemas dengan apik, namun tak lepas dari cacat. Angkat topi untuk usaha sutradara dan para pemerannya yang sanggup jauh-jauh syuting nun di Austria sana.

Saya masih menunggu film lanjutannya yang tampaknya cukup seru: Stefan si ateis pembayar asuransi 80 euro ditabrak mobil.

8/10 untuk film ini.

06 November 2013

Balada kaca mobil

Sore ini AC mobil mati. Dan saya memutuskan untuk membuka kaca mobil sepanjang perjalanan pulang ke rumah.

Jarang sekali saya membuka kaca mobil ketika dalam perjalanan. Biasanya saya lebih banyak memutuskan untuk menggunakan AC yang dingin itu, apalagi di tengah cuaca Pekanbaru yang panas menghantam ulu hati.

Namun, hari ini cuaca cukup sejuk. Tak ada kabut asap, tak ada orang yang iseng menjulurkan tangannya dari angkot yang sedang berjalan. Sadar atau tidak sadar, kaca mobil adalah sebuah diskriminasi.

Terlepas dari segala keamanan yang ditawarkannya, kaca mobil bertindak sebagai sekat, pembatas. Kaca mobil telah membatasi kita dari mengamati dunia di luar mobil. Kaca adalah pembatas, sebuah partisi yang kita semua tunduk kepadanya.

Kaca mobil bertindak sebagai tiran. Kepadanya kita tunduk patuh. Ia bersekongkol dengan AC yang dingin dan nyaman, berkomplot untuk menjadikan para penumpangnya terlelap nyaman di pangkuan kursi jok yang empuk, dibuai angin dingin dari sang AC. Kita terlena, dan acap kali tak awas dengan apa yang terjadi di balik kaca itu.

Kaca (apalagi yang berselimut tabir hitam) membuat kita kerap kali tak mendapat gambaran penuh tentang apa yang terjadi di luar sana. Kita dilenakan dengan segala sesuatu yang hitam, kabur, abu-abu karena sang kaca bertabir hitam. Visualitas kita terjajah oleh kaca bertabir hitam. Warna-warni hidup di luar tak jelas. Mata kita ditutup.

Sore ini, saya memutuskan untuk tidak patuh kepada sang kaca. Kaca saya turunkan, dan angin sore berhembus, menderu melawan kencangnya laju mobil. Saya bisa melihat, di luar sana, apa yang tidak bisa saya lihat ketika kaca terpasang kokoh di tempatnya.

Hiruk pikuk pedagang di pasar yang sedang menjajakan dagangannya.
Seorang bapak tua miskin bertongkat lusuh duduk lelah di halte Trans Metro.
Tiga motor berkeranjang pacu cepat sepanjang jalan aspal, membawa semangka.
Para petugas Dishub bermuka garang mengatur lalu lintas di Simpang Garuda Sakti yang semrawut.
Truk-truk pasir satu demi satu keluar dari tambangnya yang kusam.

Dan masihkah kau percaya pada kaca?

19 October 2013

Mengikuti lomba blog apalah-apalah

Hari ini saya iseng-iseng ikut lomba blog memperingati ulang tahun suatu pusat perbelanjaan di kota ini, bersama kawan satu ini. Hasilnya terlalu bagus untuk dibilang buruk, tetapi juga terlalu buruk untuk dibilang bagus.

Nah, logika macam apa ini, saya pun kurang tahu. Terserah panitia sajalah. Toh saya ikut bukan untuk jadi juara, melainkan semata untuk mengais pengalaman dan mengejar selembar sertifikat keikutsertaan yang “sakti” itu, hehehe.

Alkisah, pada tentatif acara yang telah dibuatkan jauh-jauh hari oleh panitia, disebutkan bahwa lomba akan dimulai pukul sepuluh teng. Para peserta diharapkan datang sejam lebih awal. Atas azas “waktu adalah uang” dan “tepatilah janjimu” yang terdoktrin di jiwa-jiwa murid Al-Fityah (ceileh), jadilah saya tersuruk-suruk minta izin ke guru bimbel untuk tidak masuk kelas hari ini. Bagian ini lolos, dan sang guru pun mengizinkan.

Nah, sanak, pusat perbelanjaan tempat digelarnya lomba ini terletak sekitar seribu lemparan batu dari daerah tempat tinggal saya. Nasib orang pinggiran. Ketika kami tiba di pusat perbelanjaan tersebut sekitar pukul sembilan – setelah menerobos keramaian kota di pagi Sabtu yang berasap –, ironi pertama menyambut kami.

Tempat lomba masih kosong melompong. Hanya ada para pekerja pembersih yang sibuk merapikan sana-sini, mempersiapkan restoran-restoran yang akan buka jam sepuluh nanti. Sebenarnya saya tidak terlalu terkejut. Bukankah hal ini biasa di negeri yang maskapai penerbangannya bisa menelantarkan penumpang tanpa sebab yang jelas selama delapan jam?

Jadilah kami terpaksa menunggu sekitar satu setengah jam. Untung saja mesin WiFi di tempat perlombaan sudah dihidupkan, dan koneksi Internet nirkabel di sana cukup kencang dan maknyus. Baru sekitar pukul 10.30, para panitia terlihat berdatangan dan sibuk berkejaran dengan sang waktu. Menyiapkan panggung, meja, karpet, serta stand-stand promosi. Kebetulan sponsor utama lomba blog ini adalah salah satu perusahaan penyedia jasa telekomunikasi terkemuka yang bahkan orang-orang di pelosok saja mungkin tahu namanya. Perusahaan penyedia jasa telekomunikasi itu bekerja sama dengan pusat perbelanjaan ini untuk merayakan ulang tahun mereka yang jatuh berbarengan. Salah satu program mereka adalah menggelar lomba blog.

Ironi kedua adalah kecepatan Internet di tempat lomba yang berubah melambat saat peserta mulai berdatangan. Konon panitia mengklaim bahwa mereka sudah menyediakan bandwith untuk Internet nirkabel hingga 50 MB. Tapi tetap saja lelet saat para peserta satu persatu mengakses Internet lewat komputer jinjing dan peranti-peranti telekomunikasi mereka. Panitia pun sibuk mengatur sana-sini untuk memastikan ketersediaan layanan Internet nirkabel untuk sekitar seratusan peserta.

Lho kenapa tidak pakai kabel LAN saja? Cukup stabil, toh? Rupanya, sanak, penyedia jasa layanan komunikasi ini juga merangkap sebagai penyedia jaringan Internet nirkabel yang cukup punya nama di negeri ini. Mana mungkin mereka mau pakai kabel LAN purba zaman baheula itu sementara mereka kampanye besar-besaran untuk jasa Internet nirkabel.

Akhirnya lomba baru dimulai sangat telat, pukul setengah satu siang. Lomba dimulai pas ketika azan Zuhur berkumandang dan jam makan siang. Para peserta sesi pertama (dibagi menjadi sesi pertama dan sesi kedua, mungkin juga ada sesi ketiga. Jumlah peserta membludak, jadi panitia harus membagi per sesi supanya nanti bandwith-nya ndak meledak) tampak gelisah dan memasang wajah memelas.
Ironisnya, segelintir saja yang saya lihat pergi shalat Zuhur di mushalla, yang letaknya tak jauh dari lokasi lomba.

Padahal, – selain anak-anak dari sekolah-sekolah Kristen – muka-muka peserta lomba itu rata-rata Muslim. Banyak juga yang berjilbab. Tapi sampai para peserta sesi pertama selesai sekitar jam setengah tiga, mushalla tampak sepi-sepi saja. Ya sudah, kalau begitu saya berhusnudzan saja seperti yang diajarkan Nabi. Mungkin mereka sedang tidak shalat bagi yang perempuan. Atau para laki-lakinya mungkin merasa lomba blog itu sebagai kesulitan sehingga boleh menjamak shalat. Atau mereka musafir yang jauh datang dari Merauke. Wallahu’alam.

Koneksi Internet nirkabel nan gencar dipromosikan perusahaan penyedia jasa telekomunikasi yang mensponsori lomba ini malah semakin menurun setelah lomba dimulai. Aktivitas kami mengobrak-abrik blog yang baru dibuat itu berkali-kali terhambat dengan koneksi yang hidup-segan-mati-enggan. Tiap lima menit mati. Sambung lagi, harus masuk log menggunakan nama pengguna dan kata laluan yang sapanjang tali baruak. Untunglah tak berlangsung lama, dan satu jam terakhir lomba, Internet nirkabel lancar jaya di tempat lomba itu.

Memasuki detik-detik terakhir lomba, saya iseng-iseng tanya ke salah satu petugas yang ditugaskan untuk membantu para peserta seandainya ada masalah pada koneksi Internet nirkabel. Petugas bertampang kaku itu terkejut sedikit ketika saya lemparkan pertanyaan dengan gaya jurnalistik yang interogatif.

“Mas, kenapa gak pakai kabel LAN aja?”

“Ehm, tahun lalu kami pakai kabel LAN, kata peserta kurang cepat dan lambat.”

Akhirnya setelah melihat wajah petugas yang berubah kurang senang saat ditanya perihal LAN itu, saya langsung ngacir ke meja panitia buat menyerahkan kartu tanda peserta dan menukarkannya dengan sertifikat. Lumayanlah, buat tambah-tambah CV.

Sementara kami bergegas meninggalkan pusat perbelanjaan itu, para peserta (yang jumlah saya kira ratusan) memulai sesi kedua. Bahkan mungkin juga sesi ketiga. Mungkin ketika saya sudah duduk nyaman di rumah, menonton Detective Conan di depan layar komputer jinjing dan menyeruput minuman seperti saat ini, para peserta itu masih berkutat dengan kode-kode HTML dan desain blog. Mungkin saja.

Terlepas dari koneksi Internet nirkabelnya yang pada masa-masa tertentu lebih lambat dari waktu yang diperlukan kepala suku negeri kita untuk mengambil suatu kepentingan strategis negara, secara umum lomba ini cukup menarik. Hadiahnya juga tak tanggung-tanggung, yaitu berupa lembaran uang kertas warna-warni bertandatangan para pejabat negara. Wuah, luar biasa sekali.

Nah, jika pertanyaannya apakah saya mau ikut lagi jika ada lomba sejenis ini di masa depan, saya dengan tegas menjawab: tidak. Saya memutuskan untuk tidak percaya lagi kepada pamflet-pamflet dan brosur-brosur bertuliskan “acara dimulai jam 10.00 WIB”, karena rakyat negeri ini masih belum terbiasa menghargai waktu.

Toh di negeri kita ini, sudah awam suatu maskapai menelantarkan penumpangnya hingga delapan jam di bandara...

06 October 2013

Cerita tentang Palestina

Dulu saya sering bertanya-tanya: Palestina itu Indonesia sebelah mana?

Salah satu sebabnya adalah karena saya sering menonton program Dunia Dalam Berita TVRI yang sering disetel di rumah kakek di Padang dulu. Penyiarnya kerap menyebut-nyebut soal Palestina dengan gaya yang simpatik.

Sampai suatu hari TVRI menyiarkan gambar seorang tua yang berbadan agak bungkuk, berkeffiyeh hitam dan berbalut jaket lusuh. Ia dikelilingi para pengikutnya, semuanya berjenggot hitam, mengangguk-angguk takzim mendengar pria tua berkeffiyeh itu bicara. Karismatik sekali, pikir saya. Mengalahkan Pak Kapolda Sumbar yang berkumis, yang pernah saya lihat di kantor kakek.

Pria berkeffiyeh itu tampak takzim dan sorot matanya mengendalikan. Di podium tempat ia bicara tertulis "World Economic Forum, Davos, Switzerland". Di papan nama kecil tertulis: "Mr. Arafat."

Itulah perkenalan saya dengan Yasser Arafat dan perjuangan Palestina. Lalu TVRI menyiarkan gambar para pejuang berjenggot jatuh-bangun di padang pasir berdebu, memanggul senapan mesin. Bunyi roket bersahut-sahutan. Di kemudian hari baru saya tahu bahwa itu adalah rekaman para mujahiddin Palestina yang sedang bertempur melawan tentara perbatasan Israel.

"Perkenalan" kedua saya dengan Palestina terjadi saat saat saya di negeri orang beberapa tahun lalu.

Guru agama saya, seorang ustadz muda dari sebuah daerah bernama unik di dekat ibu kota negara itu, kerap kali menyebut-nyebut soal Palestina. Pribadinya yang eksentrik, meledak-ledak dan menyentuh bila berceramah, kerap membawakan tema perjuangan Islam di kelasnya. Ia bercerita tentang Palestina, mulai dari Syeikh Ahmad Yassin, Ismail Haniyeh, PLO, Arafat, Hamas, Jihad Islam, Balfour, hingga Yerusalem yang mistis. Kerap kali ia setelkan video-video perjuangan dan nasyid-nasyid perang. Semacam indoktrinasi jihad yang lunak.

Kebetulan pula saat itu pecah Perang Gaza 2008 dan penyerangan Israel atas misi kemanusiaan Mavi Marmara. Wah, heroik sekali keadaan di sekolah saat itu. Semua orang tampak anti-Semit. Di Indonesia saya dengar orang-orang sudah mulai membakar bendera Israel. Luar biasa panasnya waktu itu. Rasanya kalau ada pesawat gratis ke Palestina, semua orang berebut ikut untuk mengganyang Zionis jahanam itu. Epik sekali.

Pandangan saya kepada Palestina perlahan-lahan berubah setelah mengenal Edward Said. Said, putra saudagar Kristen di Yerusalem dan mengungsi ke Amerika Serikat, lalu menjadi profesor sastra Inggris, terkenal sebagai salah satu aktivis kemerdekaan Palestina yang paling vokal. Bersama Noam Chomsky yang Yahudi, ia sering mengeluarkan komentar-komentar pedas yang kerap bikin merah telinga rezim Tel Aviv.

Said, dan banyak penulis lain yang kerap mengangkat Palestina sebagai objek tulisan mereka, selalu bertutur mengenai Palestina merdeka. Ia mengangkat kisah kamp pengungsi Sabra dan Shatilla, kelahiran Hamas, serta betapa biadabnya serdadu-serdadu Israel. Ia mengeluhkan betapa lemahnya negara-negara Arab yang seolah enggan membantu Palestina dan berlepas tangan, menceburkan diri dalam kolam uang hasil tambang minyak yang melimpah ruah.

Dari Said, saya mendap pemahaman bahwa konflik di Palestina tak sesederhana yang saya kira dahulu. Palestina adalah tanah yang telah diperebutkan puluhan bangsa sejak dahulu kala. Ia tak sesederhana Islam vs Yahudi saja. Ada orang Kristen, Druze, Katolik, Ortodoks dan berbagai macam penganut agama lain di Palestina. Ada orang Kristen yang menentang Israel seperti Said, orang Yahudi yang menentang Israel seperti Chomsky, dan tak kurang pula sebaliknya. Palestina adalah sebuah ironi yang kompleks. Yerusalem, kota suci yang telah ternoda oleh darah selama ribuan tahun, adalah tempat tinggal bagi orang Islam, Yahudi dan Kristen. Menyatukan Palestina tak semudah yang dipikirkan semua orang, karena Palestina adalah rumah bagi segala bangsa. Ummul bilad, ibu dari segala negeri.

Karena itu, bila saya mendengar ada ormas atau individu Indonesia yang berapi-api ingin jihad ke Palestina, saya hanya bisa tersenyum saja. Apalagi jika sampai menjelek-jelekkan Israel dengan kata-kata makian kasar yang tak patut dilontarkan seorang Muslim. Saya hanya bisa tersenyum.

Palestina tidaklah sesederhana yang kita kira, dan hanya orang-orang yang benar-benar mencintainya yang dapat membelanya. Seperti kata guru saya dulu, "Palestina adalah tanah yang dijanjikan, dan Allah hanya menjanjikan mati syahid bagi orang-orang yang benar-benar beriman kepadaNya."

Yasser Arafat, Syaikh Ahmad Yassin, Edward Said, Abdul Aziz Rantissi, dan sebagainya mungkin telah mati, tetapi pemikiran mereka yang menginginkan Palestina merdeka tetap bergaung. Hingga kini.

05 October 2013

Catatan dari kegelapan

Tampaknya tiap hari Pekanbaru akan terus diliputi kegelapan. PLN ini semakin menyebalkan dari hari ke hari. Berdasarkan jadwal pemadaman terbaru yang dirilis, Perusahaan Lilin Negara itu akan memadamkan listrik di tiap tempat di Pekanbaru tiga kali sehari. Sekali mati dua jam.

Artinya warga Pekanbaru akan menghabiskan seperempat hari dalam kegelapan, entah sampai kapan.

Tak ada listrik enam jam sehari berarti tak ada listrik selama 42 jam seminggu dan 168 jam sebulan.

Itu sama dengan mati listrik lima hari penuh sebulan.

Bah.

Mari menyetel Green Day saja. Biar tenang.

Wake me up, when the power outage ends...

Merendah diri ala Indra Sjafri

Sepak bola adalah permainan lelaki. Kita tak menampik bahwa memang ada perempuan yang bermain sepak bola, tetapi sejatinya, sepak bola memang awalnya dimainkan oleh kaum Adam.

Maka tak heran jika kita melihat lapangan sepak bola kerap kali dipenuhi pemain jatuh bergelimpangan kena tekel lawan, lutut-lutut robek, adu mulut dengan wasit dan sebagainya, karena sepak bola memang berjiwa maskulin. Sepak bola disimbolkan seperti Hercules: kasar, agresif dan penuh keringat.

Karena kaum Adam rata-rata mempunyai ego yang besar, maka tak jarang kita menemukan pertembungan ego dalam permainan ini, baik di dalam maupun luar lapangan. Kita telah sering mendengar Jose Mourinho menyombongkan kehebatan timnya tapi esoknya Madrid kalah ditekuk Sporting Gijon, atau Joey Barton yang petantang-petenteng di Twitter musim lalu, mengatakan QPR takkan degradasi ke Championship Division padahal nyatanya musim ini mereka terbenam ke sana.

Pertunjukan penuh ego ini tak pernah berujung, karena memang maskulinitas tak pernah lepas dari namanya ego. Ego pada lelaki tak pernah mengenal usia, suku dan bangsa. Dan pada dunia sepak bola yang keras ini, muncullah seseorang bernama Indra Sjafri.

Pria berkumis melintang kelahiran Painan, setengah abad silam ini memang bukan siapa-siapa. Seperti lazimnya anak lelaki Minang pada masa itu, ia memilih merantau ke Padang, ibu kota Sumatera Barat, yang berjarak hampir seratus kilometer dari kampung halamannya. Di sana ia bergabung dengan PSP Padang, klub sepak bola kebanggan penduduk Kota Bingkuang saat itu.

Di PSP, Sjafri muda terpanggil masuk tim Pra-PON mewakili Sumatera Barat pada tahun 1985. Ia seangkatan dengan Rudy William Keltjes, eks pemain timnas era 80-an dan pemenang medali emas sepak bola PON untuk Kalimantan Timur tahun lalu. Ketika itu, hati kecilnya berontak melihat banyaknya pemain yang punya kemampuan individu di atas rata-rata, namun tersia-siakan dan sulit mendapat tempat untuk membela Merah Putih di kancah internasional.

Sakit hati Sjafri muda akhirnya ia lampiaskan pada karir selanjutnya. Pria yang pernah menjadi kepala kantor pos ini memutuskan untuk jadi pelatih sepak bola, obsesinya sejak lama.

Setelah meraih lisensi A, ia pun mulai bergerilya ke pelosok-pelosok negeri. Ia telah mengunjungi tak kurang dari 43 daerah untuk mencari pemain-pemain muda berbakat. Saat ia melatih timnas U16, ia sampai harus ke Muara Teweh, sebuah kota kecil di Kalimantan sana, untuk mencari pemain muda untuk timnya.

Ia menunjukkan kesabarannya dan kecintaannya kepada sepak bola sejak diberi tugas menangani tim nasional pada tahun 2010. Ia rela merogoh koceknya sendri pada masa-masa kelam konflik sepak bola Indonesia untuk mengakomodasi perjalanannya mencari pemain muda potensial di seluruh penjuru Nusantara.

“Pemain terbaik anak bangsa di langit pun pasti akan saya cari. Kecuali naturalisasi. Saya tidak mau itu. Kita ini bangsa besar yang punya potensi selangit,” ujarnya pada suatu ketika.

Ketika pelatih timnas lainnya sibuk mengejar Jose Mourinho, ia justru sibuk bekerja keras, seperti teladan sosok The Special One itu. "Kerja keras dan tak takut menerima tantangan. Itu yang membuat saya mengidolakan Mourinho. Itu yang saya coba tiru," ujarnya. Ia menempa Evan Dimas Darmono cs dengan seluruh jiwa dan raganya. Ia juga tak ragu menjuluki anak asuhnya Skuat Garuda Jaya, meskipun banyak orang yang mencibirnya. Namun, ia maju terus.

Ia membuat semua orang Indonesia yang menyaksikan partai final Piala AFF U19 di Sidoarjo terharu karena tangisannya setelah Ravi Murdianto menepis sepakan eksekutor Vietnam, Pham Duc Huy. Saat pengalungan medali, para pemain Indonesia menyalami dan mencium tangan pelatihnya. Nilai-nilai keluhuran dan kerendahan hati yang ditanamkannya pada para remaja berbalut seragam tim nasional ini tampaknya telah meresap sepenuhnya ke relung hati mereka yang terdalam.

Apa komentar pertama sang pelatih saat ditanya para awak media?

“Ini kemenangan milik bangsa”.

Indra Sjafri dan timnya menunjukkan kepada kita bahwa masih ada light at the end of the tunnel. Betapapun kuat arus kapitalisme ke dalam dunia sepak bola yang kita cintai, ini, akan tetap ada orang yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuknya, karena kecintaan yang telah mendarah daging.

Sebentar lagi Piala AFC U19 akan dimulai di Jakarta. Indra Sjafri dan timnya akan bertempur lagi melawan tim yang jauh lebih menantang ketimbang yang mereka hadapi di Sidoarjo beberapa pekan silam.

Kita tak akan tahu bagaimana prestasi Indonesia nantinya, tapi saya bisa memastikan bahwa kita akan tetap melihat kerendahan hati seorang Indra Sjafri di pinggir lapangan, dan respek luar biasa dari para pemainnya yang diwujudkan dalam bentuk mencium tangan sang pria tua keras hati itu.

Jika Liverpool punya spirit of Shankly, maka Indonesia punya spirit of Sjafri.

Pertama tayang di Suara Supporter.

25 September 2013

Membedah siasat Semen Padang selepas Piala AFC

Setelah peluit panjang tanda akhir pertandingan yang ditiupkan wasit Mehtab Hossain membahana di atas Stadion Haji Agus Salim pada 24 September silam, saya mulai berpikir: okay, what’s next?

Semen Padang telah membuat pemirsa sepak bola Indonesia bangga sepanjang musim ini. Kiprah mereka yang sensasional di Liga Prima musim lalu – menjuarai liga dengan delapan dari pesaing terdekatnya Persebaya – dan lolos ke Piala AFC sebagai salah satu dari wakil Indonesia di tengah karut-marut konflik yang menghantam sepak bola ibu pertiwi, jelas tak mudah disaingi sembarang klub.

Klub berjuluk Kabau Sirah ini melenggang tanpa pernah kalah di fase grup, hal yang belum pernah dilakukan klub Indonesia manapun di pentas Asia. Setelah gol telat Vendry Mofu ke gawang Kitchee di leg kedua babak 16 besar, SP berpeluang besar untuk melampaui prestasi mereka di Piala Winners Asia 1992, dimana mereka terhenti di perempatfinal oleh Yokohama F. Marinos. Sayang, gol gelandang pengganti Ryuji Sueoka ke gawang Jandia Eka Putra di Calcutta tanggal 17 September silam, ditambah ketidakmampuan skuat besutan Pak Haji Suhatman Imam mengalahkan sang tamu di Agus Salim pada leg kedua, akhirnya menutup asa klub kebanggaan warga Kota Padang ini untuk menjadi klub Indonesia pertama yang melaju ke semifinal kompetisi Asia.

Banyak yang perlu dibenahi Semen Padang untuk menghadapi partai final Liga Prima 2013 dan Liga Super Indonesia tahun depan. Meskipun Kabau Sirah mendapat wild card untuk melenggang langsung ke partai final IPL – sementara sepuluh lainnya harus bertempur di babak play-off dan semifinal – partai final jelas tidak pernah menjadi hal yang mudah. Apalagi menghadapi persaingan keras di ISL musim depan, Semen Padang harus mulai berbenah agar tak dipecundangi klub-klub “tradisional” seperti Persipura, Persib, Arema, Sriwijaya dan Persebaya, yang terkenal memiliki skuat yang relatif dalam dan basis dukungan yang kuat.

Dari sisi teknis, Semen Padang harus mulai memerhatikan lini depan. Edward Junior Wilson sudah dipastikan hampir angkat kaki dari Padang. Padahal Mak Itam, demikian ia dipanggil publik Agus Salim, adalah mesin gol utama SP dalam tiga musim terakhir. Memang masih ada talenta lain seperti Titus Bonai (orang satu ini lebih dikenal sebagai pengumpan ketimbang perusak), M. Nur Iskandar atau si serbabisa Hendra Bayauw, tetapi menggantikan seorang penyerang utama bukanlah hal yang mudah. SP harus belajar dari tetangganya di Riau, PSPS Pekanbaru, yang langsung limbung (mereka terjun ke Divisi Utama musim ini) setelah ditinggal mesin gol utama mereka, Herman Dzumafo. Alternatif pengganti Mak Itam – jika pun SP memang harus mencari penggantinya – antara lain Patrich Wanggai, kompatriot Titus Bonai di timnas SEAG 2011, yang dapat memformulasikan partnership ala Papua nan di lini depan. Atau SP juga dapat mendatangkan Djibril Coulibaly dari Barito Putera, yang berkarakter mirip dengan Edward, sama-sama perusak untuk level nasional. Jika tak bisa mendatangkan kedua striker di atas, mungkin SP boleh menjajal produk Semen Padang U21 atau memantau dari timnas level usia dini.

Di lini tengah, SP harus mengambil perhatian khusus terhadap Kakanda Elie Aiboy. Sang kapten lawas dari Papua ini tampaknya sudah mulai menurun kondisinya, hal yang wajar mengingat usianya tak lagi muda. Kebijakan pelatih Suhatman yang terus menurunkannya sejak menit pertama tampaknya menutup peluang para gelandang muda lain untuk menjajal tim utama. Saya tidak terlalu banyak menaruh harapan bagi gelandang yang hanya bisa bermain penuh selama 60 menit, dan saya kira tak ada salahnya jika SP mulai memikirkan pengganti baru di posisi sang kapten yang mulai menua. Masih banyak gelandang dalam tim, seperti Jajang Paliama, Riky Akbar Ohorella atau Hendra Adi Bayauw yang mampu memenuhi tuntutan ala Suhatman, atau siapapun yang kelak menjadi pelatih kepala. Sisanya, Esteban Vizcarra dan Yu Hyun-Koo telah beraksi luar biasa musim ini, dan tak ada salahnya klub mengganjar perpanjangan kontrak. Oh ya, Vendry Mofu, sang pencetak gol telat kesayangan publik Padang itu, juga tampaknya harus diamankan dari godaan fulus klub-klub ISL musim depan.

Lini pertahanan sendiri sebenarnya tak terlalu bermasalah. David Pagbe dan Novan Setyo Sasongko bekerja keras sepanjang musim ini, begitu juga Hengky Ardiles. Sedikit gangguan kecil mungkin muncul dalam wujud Wahyu Wijiastanto. Eks pemain Persiba Bantul ini dipuji-puji sebagai salah satu bek masa depan Semen Padang mengingat posturnya yang tinggi besar, menguntungkannya dalam duel udara. Namun sesungguhnya “kebesaran” ini tak terlalu menguntungkan SP: Wahyu terlihat lebih kerap kehilangan bola-bola bawah dan terlambat melakukan tekel di area pertahanannya sendiri, apalagi lawan yang dihadapi berpostur kecil. Hal ini pula yang saya duga membuatnya jarang terlihat lagi di timnas. Seharusnya SP sudah bisa mengantisipasi hal ini dengan mempersiapkan pelapis bagi Wahyu sang tunggak gadang, dengan kriteria mampu menghadang bola atas dan bola bawah dengan sama baiknya.

Salah satu keuntungan yang bisa dimanfaatkan manajemen SP adalah otot finansial kuat yang tidak bisa dinikmati oleh klub lainnya. Semen Padang saat ini dibawah kendali PT. Kabau Sirah Semen Padang (KSSP) yang didanai penuh oleh PT. Semen Padang, sebuah korporasi semen tertua di Indonesia dan mempunyai dana yang cukup besar. Ini terbukti dengan kesuksesan SP mengarungi liga musim ini tanpa kesulitan finansial berarti, di kala klub-klub pesaingnya satu demi satu dihantam badai tunggakan gaji. Kita tentu ingat “kecelakaan” yang menimpa Persibo Bojonegoro, kompatriot Kabau Sirah di Piala AFC musim ini, yang mengandalkan dana seadanya untuk mengarungi kompetisi Asia. “Kekayaan” ini disiratkan oleh kredo antik yang kerap diulang-ulang suporter di tribun: “selagi Bukit Karang Putih berasap, Semen Padang takkan bubar!”

Hal lain yang harus dibenahi oleh SP dalam menghadapi musim baru adalah dengan mengganti pelatih kepala itu sendiri. Peran Pak Haji Suhatman Imam selaku nakhoda tim begitu dominan musim ini, sehingga membuat publik hampir lupa bahwa pelatih kepala yang sebenarnya adalah Jafri Sastra. Kapasitas Pak Haji Suhatman sebenarnya hanyalah sebatas direktur teknik: namun jangan heran jika ia yang lebih dominan dalam mengatur dan memberi instruksi bagi para pemain di lapangan ketimbang Jafri yang lebih banyak duduk manis di bangku cadangan. Rilis resmi klub tak terlalu menjawab keheranan publik mengapa pelatih zaman lawas ini yang dipercaya mengendalikan klub.

Padahal Pak Haji Suhatman tak punya lisensi pelatih A AFC sampai saat ini, tapi Jafri justru punya. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada sang legenda lawas, tentu akan jauh lebih baik jika Semen Padang memilih salah satu dari dua pelatih ini, atau jika memang manajemen berkeras tidak menginginkan Jafri menduduki posisi pelatih kepala, mereka harus mempertimbangkan untuk memakai pelatih yang lebih muda, mengingat ada banyak pelatih berkualitas di luar sana.

Alternatif untuk bangku kepelatihan SP – jika pun memang harus ada – mungkin adalah Nil Maizar. Meskipun pelatih timnas di Piala AFF 2012 itu kini menjadi calon anggota DPR-RI dari salah satu partai yang dipimpin orang yang sama-sama berkumis dengannya, tak ada salahnya manajemen mempertimbangkan sang anak jati Payakumbuh kembali mengendalikan Kabau Sirah sekiranya ia kurang beruntung di pesta demokrasi tahun depan. Pilihan lainnya mungkin adalah membujuk Indra Sjafri untuk lengser dari kursi pembina timnas U19, sesuatu yang tak terlalu mustahil andai saja timnas U19 binaannya tak mampu bersinar cemerlang di Piala AFC tahun depan dan ia didepak PSSI; sesuatu yang lumrah dilakukan federasi sepak bola kita yang tercinta ini.
Opsi terakhir mungkin adalah menggunakan pelatih asing, sesuatu yang sebenarnya bisa saja dilakukan SP mengingat kemampuan finansial mereka. Simon McMenemy, eks bos timnas Filipina dan Arcan Iurie, kini pelatih Perseman Manokwari, mungkin bisa dijajal. Ingat pula bahwa SP dulu promosi ke Liga Super 2009-10 atas peran seorang pelatih asing, tak lain dan tak bukan adalah Iurie.

Dari sisi nonteknis, stadion dan suporter patut kita nomorsatukan dalam bedah siasat ini. Stadion Azwar Anas di Katapiang, Padang Pariaman, di luar kota, yang diimpi-impikan suporter tampaknya belum akan siap dalam waktu dekat (menurut komisaris utama Toto Sudibyo, stadion tersebut baru akan siap dalam 3-4 tahun, dan sampai saat ini memang belum ada tanda-tanda realisasinya), jadi lebih realistis jika SP memperbaiki Stadion Agus Salim. Jangan sampai kondisi stadion milik Pemerintah Kota Padang itu menjadi batu penjegal SP untuk lolos verifikasi ke Liga Super musim depan: SP pernah punya pengalaman dengan hal renovasi stadion ini sehingga memaksa mereka untuk mengungsi hingga ke Stadion Muhammad Yamin di Sijunjung, lebih kurang dua ratus kilometer jauhnya.

Jika manajemen benar-benar serius untuk membenahi stadion di tengah kota ini, tentu klub harus mencari stadion alternatif untuk menggelar laga kandang. Wacana menjadikan Stadion Utama Riau atau Stadion Kaharuddin Nasution di Pekanbaru sebagai kandang sementara mungkin bisa digulirkan lagi sementara Stadion Agus Salim diperbaiki. Namun opsi pindah kandang ke luar Padang tentu hanya bisa diaktifkan seandainya saja Pemkot Padang dan manajemen SP mencapai kata sepakat untuk memperbaiki stadion usang itu.

Hal terakhir yang patut diperhatikan oleh manajemen klub adalah suporter. Banyak suporter lokal Padang yang merutuk manajemen saat harga tiket untuk laga kandang Piala AFC melambung selangit. Basis suporter SP, baik dari kubu The K’mers atau Spartacks adalah para pelajar sekitar Padang yang tentu saja tak berkocek tebal. Mungkin klub bisa mulai menjual tiket terusan musiman atau memberi diskon tertentu untuk menarik penonton, mengingat stereotip “they only come when they win” yang kerap menjadi bahan debat di antara para suporter Kabau Sirah di dunia maya. Kedua kelompok saling tuduh bahwa stadion hanya penuh saat SP menghadapi lawan-lawan besar, dan kosong pada saat klub melawan klub-klub “kecil”.

Hal ini tentu perlu dihindari, dan klub harus lebih memerhatikan lagi kedamaian kocek para suporternya. Jangan lupakan pula jaringan suporter Padang yang tersebar ke seluruh penjuru Nusantara. Pengalaman pulang kampung ke Padang satu atau dua kali setahun tentu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka untuk menonton tim kesayangan beraksi di kandang sendiri, dan tentu tidak baik membuat mata para perantau terbelalak dengan mahalnya harga tiket.

Pada akhirnya, semua ini kembali ke meja rapat para direksi dan manajemen klub. Jikapun Bukit Karang Putih masih tetap berasap, namun jika manajemen tidak mulai mendengar suara-suara orang yang mencintai klub dengan setulus hati, tampaknya berat untuk Semen Padang kembali berjaya. Alangkah baiknya jika para pemangku kepentingan mulai mendengarkan suara-suara yang menginginkan “pembedahan” di dalam tubuh klub, mengingat SP akan berlaga di ISL musim depan, bahkan tak tertutup pula kemungkinan kembali bermain di kompetisi Asia sebagai wakil Indonesia jika sukses menggondol trofi IPL musim ini.

13 September 2013

Seni, selera, Cherybelle

Saya sering kebingungan melihat orang-orang berdebat mengenai musik favorit mereka.

Pernah, di suatu Subuh buta, sudah ada dua orang, sebut saja A dan B. Si A ini fans berat Cherrybelle, dan si B adalah pendukung garis keras JKT48.

B: "Eh, selera lo enggak banget, suka Ceribel yang jiplakan SNSD itu! Alay!"
A: "Daripada kalian, sok keJepang-Jepangan. Pakai tim reserve segala. Wota girlband norak!"
B: "Jaga mulut lu ya! JKT48 itu bukan girlband, tapi idol group. Lu tau, blah blah blah..."
A: "Alaaah, banyak omong lo. Wota keringetan!"
B: "Dasar fan Ceribel alay tukang jiplak!"
A: "Lo norak!"
B: "Lo plagiat!"

Gitu terus sampai kiamat.

Bagaimana Anda bisa menentukan seorang pemusik itu yang terbaik?

Bagi saya, seni itu relatif.

Musik didesain untuk menghibur, dan sangat tergantung atas respon di telinga para pendengarnya.

Atas dasar apa The Beatles disebut sebagai band terbaik sepanjang masa? Semua penggemar Coldplay pasti akan menyebut lagu-lagu Chris Martin cs sebagai yang terbaik. Seluruh penggemar Metallica pasti akan merespon keras jika para pengagum Nirvana petantang-petenteng keliling London dan mengklaim mereka sebagai band terbaik dunia.

Musik didesain untuk menghibur, tetapi dapat berubah menjadi kekacauan di tangan mereka yang mengkultuskannya.

04 September 2013

Memilih gubernur

Hari ini pemilihan gubernur Riau.

Sebenarnya saya tak terlalu berminat melihatnya, namun saya disuruh bolak-balik ke TPS yang dekat masjid itu.Keluarga saya bukanlah keluarga politik, dalam artian ada anggota keluarga kami yang berafiliasi ke partai politik tertentu. Mana ada PNS berpartai.

Akhirnya, saya memutuskan mengamati saja proses 'pesta demokrasi' ini. Pertama, saya pergi ke TPS dekat masjid. Di sana TPS 46. Kondisi tenang-tenang saja. Proses berlangsung monoton, tanpa intervensi dari para saksi. Oh ya, harus saya catat bahwa ada lima pasangan yang berlaga dalam pemilihan gubernur kali ini, dan tentu saja ada lima saksi setiap TPS.

Mungkin mereka takut melihat seorang polisi berseragam lengkap, dengan kacamata hitam dan pistol di pinggang.

Lalu saya pergi ke TPS di lapangan voli belakang rumah. Di sana kondisi tak setenang TPS dekat masjid. Para saksi dan warga sekitar silih berganti menginterupsi para panitia pemilihan. Ibu-ibu yang siaga di belakang tenda siap bertepuk dan berkomentar tiap Pak Ketua Panitia membacakan nomor urut yang dicoblos. Memang, komunal sekali.

Hari ini sekolah libur. Besok masuk lagi. Sementara para cagub dan cawagub yang terhormat, yang balihonya memenuhi segala penjuru mata angin sedang berdebar-debar menunggu hasil penghitungan suara, rakyatnya duduk tenang di rumah sambil menonton TV.

Mungkin memang lebih enak jadi rakyat biasa, tak perlu jadi politisi.

19 August 2013

Tentang Mesir dan rezim itu

Sore itu, hujan lebat mengguyur Pekanbaru. Sekitar jam setengah enam, hujan lebat berganti hujan rinai-rinai yang sejuk. Saya sedang dalam perjalanan menuju sebuah acara buka bersama. Di depan bundaran Mal SKA, ada sesuatu yang menarik.

Beberapa orang, yang dari pakaian dan gayanya saya taksir para aktivis Islam yang biasa kita lihat di teras-teras masjid kampus, berdiri menantang hujan di trotoar. Mereka membawa poster-poster dari kertas karton warna-warni bertuliskan "Tolak Kudeta". Salah satu dari mereka membawa kamera SLR, barangkali seksi dokumentasi.

Saya terkesiap sejenak. Kudeta apa yang mereka tolak? Apa walikota kita dikudeta?

Namun, puing-puing kesadaran saya menyatu kembali dalam waktu sepersekian detik. Kombinasi dandanan, pakaian, dan poster-poster yang mereka bawa, membawa saya kepada berita tadi pagi. Mereka bukannya sedang memprotes kudeta yang terjadi di negeri ini, bukan, sama sekali bukan. Mereka sedang memprotes kudeta yang terjadi di negeri nun jauh di sana: Mesir.

Wajah-wajah para demonstran ini tampak letih. Polisi yang berjaga pun tampak letih. Mereka bahkan sebenarnya tidak bisa disebut demonstran karena jumlah mereka terlalu sedikit. Mereka pengunjuk rasa. Namun, dari wajah mereka terpancar keikhlasan, senyum anti-kudeta, tak peduli apakah Jenderal Abdul Fatah as-Sisi, sang menteri pertahanan yang menggulingkan Mursi itu, mendengar suara mereka di kota udik nan panas ini.

Mereka mencerminkan sikap sejati seorang Muslim. Muslim itu bersaudara. Mereka tetap mendukung Mohammad Mursi, doktor teknik yang hafal 30 juz kitab Allah itu. Mursi, dan ratusan aktivis Ikhwanul Muslimin yang menjemput syahid di Maydan Tahrir atau Rab'ah 'Adawiyyah, itu saudara mereka.

Hujan rintik-rintik bertahan hingga azan Maghrib tiba. Kaki langit berubah kuning, diiringi dengungan azan lamat-lamat membubung di udara. Para aktivis tadi perlahan-lahan membubarkan diri, menuju kantong-kantong nasi bungkus dan kotak-kotak air mineral.

Di Kairo, Alexandria, Port Said, Nasr City, Ismailiyya dan di seluruh pelosok negeri Amru ibn Ash itu, jutaan rakyat Mesir yang berang memekik: 'Esqaat el nizam! Turunkan rezim!"

18 August 2013

Pragmatisme seorang Jose Mourinho

Jose Mourinho, pria Portugis bermulut besar itu adalah sosok yang kontroversial, sekaligus pragmatis. Kontroversial, karena sering melontarkan sinisme setara Piers Morgan dan keangkuhan selevel Hitler, sekaligus pragmatis, karena gaya bermainnya.

Tiga musim pertama Chelsea di bawah Mourinho adalah masa kelam bagi para pengagum sepak bola agresif. Kepragmatisan Mou, yang memakai prinsip '1-0 dan matikan permainan', hampir pasti akan membuat begawan sepak bola menyerang semacam Zdenek Zeman akan tertelan cerutu tembakaunya sendiri.

Musim 2006-07 adalah musim Premier League yang paling rendah rataan golnya, dengan rataan 2,45 gol. Chelsea hanya kalah tiga kali musim itu dan menutup pertahanan mereka rapat-rapat dengan hanya kemasukan 24 gol musim itu.

Padahal saat itu mereka mempunyai barisan tengah berkualitas dunia di diri Frank Lampard dan sosok penggedor prima dalam jiwa Didier Drogba. Jika saja Mou mau sedikit melonggarkan kebijakan pragmatisnya, saya tak akan ragu menyebut mereka berpeluang besar menggeser Manchester United dari tahta juara musim itu.

Musim ini, saat Mou kembali ke Stamford Bridge sebagai hamba Roman Abrahamovich yang kesekian, ancang-ancang bahwa ia akan kembali menerapkan pragmatisme khasnya segera menguat. Pragmatisme ini sempat membuat suporter Chelsea berdebar-debar melihat pertahanan, dan akhirnya memakan korban pertama: kekalahan perdana dari Everton.

Menariknya, Mourinho sendiri tidak menyangkal kepragmatisan yang diterapkan kepada tim-tim yang ia pimpin. Dalam sebuah wawancara dengan FourFourTwo Australia beberapa tahun lalu, ia menggambarkan dirinya sebagai pragmatis tulen yang mengedepankan kebersamaan tim.
I prepare my team to go to a football match, not to do something special, but to make the difference. We prepare ourselves to go there as a group, to succeed. Football is a team sport, I was always a collaborative sport man. Of course, I admire people from individual sports but, for me, the collective sports were always my dream and especially sports like football, which is about 11 men at the same time thinking the same thing, working for the same goal. And I’m much more for that. What really pleases me is to see a collective performance and the group reaching an objective.
Di satu sisi, saya salut dengan konsistensi Mou untuk bermain pragmatis, yang telah ia terapkan sejak duduk di kursi kepelatihan Porto, satu dekade silam. Pragmatisme yang sama ia bawa ke Stamford Bridge, San Siro, Santiago Bernabeu, dan kini kembali ke the Bridge. 

Namun, di lain sisi, sebagai pemuja Zemanlandia dan pertandingan khas Britania yang penuh adu fisik dan baku serang, dapat saya katakan bahwa Chelsea belum bisa juara musim ini dengan hanya mengandalkan pragmatisme Mou. Fernando Torres dan kawan-kawan tampaknya harus sedikit berani berkreasi sendiri di mulut gawang, tanpa memedulikan pragmatisme pelatih mereka di pinggir lapangan.

08 August 2013

Lebaran yang sakral

Lebaran adalah hal yang sakral. Di Indonesia, Lebaran dimaknai sebagai hari raya Idul Fitri. Jika ditambahkan embel-embel 'haji' di belakangnya, jadilah ia bermakna hari raya Idul Adha.

Idul Fitri adalah sesuatu yang sakral. Kesakralan hari ini, hari pertama Syawal, adalah sesuatu yang tak terbantahkan, dirayakan oleh segala macam lapisan masyarakat.

Idul Fitri adalah sebuah perayaan. Perayaan keimanan, puncak dari puasa Ramadan sebulan penuh, hari kemenangan yang penuh warna. Idul Fitri adalah yaumul fath, hari kemenangan.

Saya bukanlah seseorang yang berilmu agama tinggi, apalagi bisa mengeluarkan ijtihad berupa-rupa. Maka karena kejahilan saya inilah, saya berusaha memaknai Idul Fitri secara sederhana.

Idul Fitri adalah feast. Berupa-rupa makanan terhidang, yang tak pernah kita lihat sebelumnya. Lontong, opor, ketupat, rendang, gulai, dan berupa-rupa penganan yang jika saya sebutkan satu persatu akan mengubah tulisan ini menjadi daftar menu restoran.

Lebaran juga menjadi sesuatu yang membuat senewen beberapa orang. Indonesia pasca-Soeharto paling riweuh soal penentuan kapan Lebaran. Kadang, ormas-ormas bertikai, beradu argumen yang pintar-pintar, berbuih-buih istilah Arab keluar dari mulut mereka. Semua itu digelar di hadapan hidung bapak menteri agama yang terhormat. Sidang itsbat lebih populer ketimbang sidang vonis koruptor atau eksekusi cambuk.

Ada dua jenis anak Adam yang berbeda cara dalam memaknai Idul Fitri.

Idul Fitri dimaknai damai oleh orang-orang yang berpikir terbuka. Mereka ini kaum yang lapang ati lapang ikua, yang berdebat dengan elegan dan menerima perbedaan tanpa mencacimaki. Merekalah kaum yang patuh atas palu yang diketuk bapak menteri agama saat sidang itsbat. Mereka adalah kaum yang telah sampai kepada kematangan spiritual. Panduan hidup mereka adalah Quran dan Hadits. Terberkatilah orang-orang seperti ini.

Adapun golongan kedua adalah golongan yang memaknai Idul Fitri sebagai sesuatu yang harus diseragamkan. Kaum ini gemar berdebat dan mengeluarkan dalil-dalil pintar yang menyihir audiensnya. Mereka kaum yang merasa bahwa mereka harus memanfaatkan sebaik-baiknya lisan karunia Tuhan. Mereka menjajakan pemikiran mereka dengan vokal dan keras. Tak sedikit dari mereka yang berbeda pendapat dengan pemerintah, lalu berlebaran sehari atau dua hari lebih cepat ketimbang putusan yang diketuk bapak menteri agama yang terhormat. Terberkati jugalah orang-orang ini.

Selamat hari raya Idul Fitri 1434 Hijriyyah kepada semua pembaca blog ini. Bagi yang mudik, mudiklah. Pulang ke haribaan kampung halaman. Tsaaaah.

Saya sendiri baru mudik ke Padang pada hari raya kedua. Huhuhu.

01 August 2013

Mengapa saya menulis

Bagi saya, menulis adalah pekerjaan mulia. Para penulis adalah the messengers, orang-orang yang mengabdikan dirinya demi mencerdaskan rakyatnya. Tentu kita tahu bahwa ada pepatah kuno don't kill the messenger, dan kita tahu pula bahwa banyak penulis yang dibunuh karena karyanya.

Menulis dalam artian kita mengarang, membuat artikel. Bukan sekadar tulis-menulis benda remeh temeh seperti catatan utang warung kopi. Sejak kecil, saya sering menonton film-film yang tanpa kita sadari, menampilkan unsur-unsur jurnalistik di dalamnya. Jurnalistik, jelas memerlukan skill menulis.

Seperti anak-anak kecil di zamannya, saya menonton The Amazing Spiderman :) Di sana dikisahkan bahwa Clark Kent adalah seorang jurnalis. Pewarta. Reporter. The messenger. Otak saya yang lugu (ceileh) langsung memproses, "jurnalis adalah pekerjaan keren."

Kalau jurnalis bukan pekerjaan keren, mengapa Clark Kent mau repot-repot mengetik lembur, mewawancarai orang, sampai mengejar-ngejar berita ke sana kemari? Kenapa dia menanggalkan ego kesuperheroannya dan memilih kerja sebagai jurnalis? Mengapa dia tidak mengikuti jejak sobatnya saja, Bruce Wayne misalnya, yang jadi industralis kelas wahid?

Jawabannya, karena pekerjaan jurnalis itu keren. Titik. Hanya itu saja yang ada di benak saya waktu itu.

Besar sedikit, saya membaca koran. Media cetak paling merakyat, setidaknya sebelum zaman Internet dan online journalism datang memberangusnya. Kakek saya berlangganan koran Haluan di rumahnya di Padang dulu. Setiap dia sedang berkebun tiap pagi, ada seorang loper koran mengayuh sepeda butut yang sudah oleng sebelah karena beban koran yang menumpuk di sadel belakangnya. Ia menyangkutkan koran yang masih berbau khas percetakan itu ke pagar rumah kakek. Saya selalu berebut untuk membaca koran itu.

Dan karena kesukaan saya membaca koran pulalah, saya beberapa kali masuk koran dalam usia belum genap empat tahun. Hehehe. Tahu kolom khusus yang biasa dipakai para orang tua untuk memajang foto anaknya yang masih balita di sana, berikut ucapan salam (misalnya salam Lebaran Raya atau Lebaran Haji) kepada keluarga yang jauh? Nah, di situ saya muncul.

Saat itu ayah saya masih di Inggris. Saya tampil di kolom khusus balita itu dan tertulis, "salam untuk Papa di Manchester". Di kemudian hari saya pikir lagi: "Emangnya nih koran nyampai distribusinya ke Manchester?" Hehehehe

Dari koran pagi Haluan itu pulalah saya mengenal beberapa kolumnis kondang yang rajin menghiasi koran tebal itu dengan tulisan-tulisan mereka. Temanya variatif. Hari ini profesor A menyajikan mengenai Palestina, besoknya lagi doktor B beropini mengenai HAM, dan besoknya lagi doktorandus C bersilang pendapat dengan keduanya: ia membahas silat Minang.

Kolom favorit saya di Haluan saat itu adalah kolom berbahasa Minang. Ada cerbung Sabai nan Aluih yang legendaris di sana. Mungkin Anda tahu hikayat Sabai nan Aluih yang terkenal itu. Tapi, Sabai nan Aluih yang ada di Harian berbeda sendiri. Ia tak berkisah tentang pertengkaran adat kontra agama atau kawin lari yang lazim kita temukan di novel-novel lama sastrawan Minangkabau. Sabai yang ini bertutur tentang kehidupan sosial rakyat Sumatera Barat saat itu. Dikisahkan bahwa ada dua sahabat di sebuah kampung dekat kota yang rajin maota di kedai kopi kampung mereka. Topik ota mereka variatif dan kaya akan pemahaman sosial. Dua sahabat ini kadang menyindir para tetua adat yang kolot, pak bupati yang kemarin masuk bui karena korupsi, hingga para maling ayam yang kena denda sosial karena menebang pohon pisang wali nagari tempo hari.

Mungkin saya beruntung lahir dan besar di Padang, sebuah kota yang mempunyai akar jurnalistik dan literatur yang sangat kuat. Koran pertama di Indonesia terbit di Padang. Tak terhitung banyaknya sastrawan dan sastrawati besar yang berasal dari Sumatera Barat. Saat saya kecil, industri jurnalistik, wabilkhusus koran, masih menjamur di Padang.

Bapak-bapak di kawasan Pondok di Muaro sering kali saya lihat duduk berbincang dengan kawannya, dengan koran, entah itu Haluan atau Singgalang, di tangan. Kadang sambil menyeruput es durian Pulau Karam yang legendaris itu atau main catur halma. Tapi sesudah gempa 2009, saya dengar bahwa sudah banyak koran-koran kecil yang terpaksa gulung tikar. Sayang sekali.

Selain koran, yang saya baca lainnya adalah Harry Potter. Saya pertama kali bertemu Harry Potter dalam bentuk CD, bukan bukunya. Jadi saya terlebih dahulu tahu tentang Profesor Dumbledore dan asrama Ravenclaw karena menonton filmnya. Bukunya ada, tapi versi Inggris. Ditambah kapasitas otak anak kelas 2 SD, saya tak berminat membaca bukunya. Versi Indonesianya sendiri baru saya baca saat kelas 1 SMP.

Sejak menonton Harry Potter dan Batu Bertuah, saya menganggap buku-buku J.K. Rowling, J.R.R. Tolkien sang pengarang The Lord of the Rings dan C.S. Lewis sang penulis The Chronicles of Narnia sebagai sebuah khazanah ilmu yang baru bisa dipahami setelah bertapa beberapa hari di gua terpencil. Mungkin kedengaran agak lebay, tapi begitulah yang dipahami oleh kami, anak-anak SD pinggiran kota Pekanbaru.

Sejak saat itu saya mengerti bahwa penulis, dan segala pekerjaan yang berhubungan dengan menulis, adalah pekerjaan keren. Tidak lagi samar-samar seperti ketika saya menonton Spiderman meloncat dari bangunan satu ke bangunan lain dan besoknya dia sudah hadir lagi di kantornya selaku wartawan biasa.

Saat saya pindah ke Malaysia, Indonesia sedang dilanda booming buku-buku dakwah romantis seperti buku-buku Habiburrahman El Shirazy. Saya yang polos, menurut saja diajak menonton filmnya di Batam. Pulang dari bioskop saya gagal menangkap apapun dari film tadi.

Saat saya di Malaysia jugalah hadirnya tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Kami, anak-anak Indonesia di Malaysia, berbondong-bondong menonton filmnya saat ada pemutaran di pesantren kilat Ramadan kami. Yang bisa mengambil iktibar dari film tersebut, diberi hadiah dari ustadzah pembimbing kami. Tak ada yang bisa jawab, selain karena kami terlalu fokus mendengarkan soundtrack film itu yang digubah Nidji, putihnya pasir di pulau Belitong dan potret buram seorang lelaki berwajah Melayu berambut ikal di bagian belakang novelnya.

Sejak saat itu, bahkan sampai hari ini, saya tetap menulis. Paling tidak seminggu sekali, di blog ini, atau di ratusan lembar buku harian yang terserak entah di mana letaknya kini. Saya mengenal blog sebagai tempat menulis yang efektif, sekaligus membuka pergaulan kita dengan banyak orang lain yang sebelumnya tidak kita kenal.

Kebiasaan saya untuk blogwalking, blusukan dari blog ke blog, membaca tulisan-tulisan dan analisis-analisis orang lain mengenai suatu perkara, saya ibaratkan seperti Ibnu Batutah, sang penjelajah Maroko yang pergi ke sana kemari hingga ke tanah Gayo di Aceh untuk membuka cakrawala pengetahuannya.

Karena itulah Islam menganjurkan kita hijrah, bermusafir dari satu tempat ke tempat lain, membuka pikiran kita terhadap hal-hal baru dan tidak membiarkan wawasan kita tidak terkungkung di satu tempat saja. Dan tidak ada cara terbaik untuk merekam suatu perjalanan selain menuliskannya. Sebab itulah kini buku-buku traveling sangat laku. Hehehe.

Ali ibn Abi Thalib pernah berkata, "Ikatlah ilmu dengan menulisnya." Ali ini orang yang luar biasa cerdasnya. Kata Nabi, "kalau ilmu itu ibarat suatu kota, maka Ali inilah gerbangnya."

Pernah mendengar frasa "[masukkan nama pengarang di sini] boleh mati, tapi karya-karyanya tetap hidup"? Nah, jika Qin Shi Huang, kaisar pertama Cina, sampai harus membangun patung-patung terakota yang perkasa demi mengawalnya "menuju keabadian", saya percaya bahwa kita bisa melakukannya dengan mudah tanpa harus memahat patung di pegunungan Shaanxi, yaitu dengan menulis.

21 July 2013

Cerita Pak Belalang

Setiap kali pergi tarawih, saya selalu teringat lelucon lawas Malaysia.

Alkisah, pada suatu masa, di kerajaan antah berantah, hiduplah seorang ahli nujum bernama Pak Belalang. Sang ahli nujum ini kemampuannya luar biasa, pintar bukan buatan, ahli bersilat lidah tiada tara, berpetatah-petitih luar biasa fasihnya. Singkatnya, jika ilmu pernujuman ada di universitas-universitas, maka Pak Belalang inilah guru besarnya. Cerdas tiada terkira.

Syahdan, tersebutlah raja dari kerajaan tetangga yang iri hati dengan Pak Belalang ini. Maka ditantangnyalah Pak Belalang ini beradu tebak-tebak buah manggis dengan ahli nujum kerajaannya, Pak Pelanduk namanya. Pak Pelanduk ini juga seorang ahli nujum yang sakti mandraguna, berbicara alangkah lihainya. Konon tenungnya bisa melintasi samudera. Pak Belalang lawan Pak Pelanduk adalah semacam clash of the titans, pertarungan kelas adiluhung dengan menggunakan ilmu kelas pertapa.

Singkat cerita, Pak Belalang selalu berhasil menjawab pertanyaan Raja Negeri Tetangga dengan lihai dan pintar. Sementara Pak Pelanduk tampak cukup kewalahan diberondonc pertanyaan cerdas dari Raja Antah Berantah. Skor sama kuat, 10-10.

Soal penentuan. Raja Negeri Tetangga bertanya kepada Pak Belalang dan Pak Pelanduk sekaligus. Semacam soal rebutan. Yang benar menang.

"Banyak-banyak, kurang-kurang, kadang-kadang. Apakah itu?"

"Salat tarawih, Tuanku," jawab Pak Belalang tangkas.

"Mengapa pula demikian?" cecar Raja Negeri Tetangga tak sabar.

"Mudah saja, Tuanku," jawab Pak Belalang takzim.

"Salat tarawih itu Tuanku, pada sepuluh hari pertama, banyak umat yang antusias mengikutinya, sebab itulah disimbolkan dengan banyak-banyak. Tetapi Tuanku, lama kelamaan jumlah umat yang hadir semakin kurang-kurang."

"Nah, apa pula yang kadang-kadang itu?"

"Nah, Tuanku, pada sepuluh hari terakhir, umat akan semakin sibuk menyiapkan Hari Raya Idul Fitri. Mereka sibuk menyiapkan lemang, kue lebaran, mencari baju baru, ke sana kemari. Sehingga, tarawih ke masjid itu jadi kadang-kadang saja. Begitulah, hehehehehe...."

17 July 2013

Sekolah yang berubah

Saya masih cukup sering terkejut-kejut sendiri dengan perubahan yang terjadi di sekolah saya saat ini.

Misalnya, beberapa orang yang saya tahu sering duduk dan bersenda gurau di ruang-ruang kelas kami, sekarang sudah pergi. Yang ada adalah para pengganti mereka, yang beberapa dari mereka bahkan belum mengenali kami sepenuhnya.

Perpustakaan, ruang favorit saya di sekolah ini, sudah bertransformasi menjadi sebuah ruang kosong besar. Meja kayu tua dan lemari reyot masih ada, tetapi buku-buku yang biasanya ada di sana, terutama tetralogi Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, telah raib entah ke mana. Mungkin dikilokan atau berakhir di gerobak-gerobak sampah, saya tidak tahu.

Lahan luas di depan sekolah kami, tempat dulu Ammar mendirikan gubuk ala Indian di semak belukarnya dan kemudian hangus dipanggang penjaga sekolah kami, kini telah berubah menjadi ladang jagung besar. Tak tersisa lagi kebun kangkung (atau bayam?) warisan ekskul berkebun yang dulu pernah saya tampilkan di majalah sekolah.

Selebihnya tidak ada yang berubah. Tiang-tiang basket masih ditelungkupkan di samping kantor. Tiang-tiang gawang bola masih terpaku bisu di kedua sisi lapangan pasir yang  becek itu. Tak ada yang bermain di sana selama Ramadan.

Sore tadi saya ke SD. Ibu saya mengikuti rapat POMG. Saya duduk di rak sepatu di koridor dekat lapangan basket, tempat kami dulu sering menyaksikan laga-laga basket dan futsal.

Guru saya, salah seorang guru SMP yang ikut ditransfer ke SD, langsung duduk di samping saya.

"Pasti beda suasananya di sana, kan?"

13 July 2013

Sesat pikir tim nasional vs klub

Saat musim libur sepak bola ini, jarang-jarang kita bisa menemukan pertandingan sepak bola sekelas Liga Primer Inggris atau yang selevel dengannya. Yang ada hanyalah serangkaian uji coba, piala dunia usia muda ataut tur-tur klub Eropa ke negara-negara Eropa.

Saya cukup senang saat mendengar Chelsea, Manchester City dan Arsenal datang ke Indonesia, membawa serta pemain-pemain macam Frank Lampard, Edin Dzeko dan Theo Walcott yang selama ini hanya bisa kita lihat di kotak kaca. Dahaga belasan ribu, atau bahkan puluhan ribu penggemar mereka di negeri ini akan terpuaskan melihat para pemain bule itu menggocek bola di rerumputan SUGBK dan menyapa mereka dengan tata bahasa Indonesia yang centang perenang. Saya tidak punya masalah akan hal itu.

Namun, darah saya menggelegak saat mendengar kabar mereka akan berujicoba melawan tim nasional Indonesia. Anak TK sekalipun mengerti bahwa tim nasional satu tingkat lebih tinggi dari klub. Tim nasional adalah tempat berkumpulnya pemain terbaik dari klub-klub dari sebuah negara, kawah candradimuka yang berfungsi sebagai pride of nation.

Dalam Soccernomics, dijabarkan bahwa sepak bola global telah memasuki fase dimana uang bisa mengatur segalanya. Klub dijalankan dengan sistem kapitalis yang luar biasa biadab: mulai dari harga tiket selangit sampai aturan-aturan yang mencekik kreativitas suporter. Anda akan menjadi penguasa sepak bola jika Anda mempunyai uang. Hanya itu saja. Persetan loyalitas, nilai tradisional klub, dan kebebasan berekspresi. Tuan uang mengatur segalanya.

Liga Primer Inggris adalah contoh terkeji dari komersialisasi sepak bola. Anda tentu tahu bahwa para sugar daddy macam Syeikh al-Nahyan di Eastlands dan Roman Abrahamovic di Cobham telah menanamkan pundi-pundi uang mereka dan menguasai tatanan sepak bola global. Anda juga tentu paham bagaimana klub macam Anzhi Makhachkala dan Monaco bisa menggebrak perhatian publik dunia dengan menggaji besar pemain-pemain uzur buangan dari top three.

Timnas Indonesia adalah satu-satunya kehormatan yang masih dimiliki negeri ini. Mempertandingkannya dengan klub-klub arogan dari Eropa? Maaf, saya tidak sudi.

Sesungguhnya, jika kita timbang manfaat dan mudaratnya, akan lebih banyak mudaratnya. Para fan layar kaca yang sok tahu tentu akan semakin besar kepala dan menjelek-jelekkan pemain negerinya sendiri, seperti yang terjadi pada Bambang Pamungkas saat melawan Milan Legends. Para pemain kita tidak pula akan mendapat manfaat berarti terhadap skill dan teknik mereka dengan hanya sekali menjegal Yaya Toure atau Mikel Arteta. Menjadi pemain berteknik bagus adalah anugerah yang hanya bisa didapat dengan kerja keras.

Yang beruntung dari pertandingan anjangsana semacam ini hanyalah para promotor yang memanfaatkan dahaga fans layar kaca yang rela mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk menyaksikan pertandingan timpang sebelah semacam ini. Sungguh tak adil hidup ini.

PSSI sebenarnya bisa mempertandingkan klub-klub Eropa tadi dengan klub-klub lokal Indonesia, seperti saat QPR melawan Persebaya. Pertandingan tersebut akan jauh lebih bermanfaat dan lebih berimbang ketimbang mengumpulkan pemain timnas untuk melawan mereka. Para pemain Eropa itu mendapat lawan yang sepadan statusnya, sekaligus merasakan atmosfer suporter Indonesia yang militan, sesuatu yang tak akan dapat mereka rasakan jika bertanding melawan timnas. Klub vs timnas akan dipadati belasan ribu fans layar kaca postmodern yang bahkan tidak kenal Bert Trautmann atau Paolo Di Canio dan berani-beraninya mengklaim fans sejati hanya setelah membeli kaus-kaus bola palsu yang bisa Anda dapatkan dengan harga miring di lapak-lapak Pasar Tanah Abang.

Timnas lawan klub hanya akan menunjukkan bahwa kita terlalu menghormati mereka, mempertontonkan betapa rendahnya kualitas sepak bola kita. Bung Karno akan menangis dari dalam kuburnya jika tahu bahwa kita sampai harus mengumpulkan pemain-pemain terbaik kita hanya demi melawan klub Eropa dalam pertandingan cari keringat semacam ini. Betapa budak mental kita.

Walaupun timnas kita tidaklah bagus-bagus amat, tapi setidaknya, wahai para pengurus PSSI, tunjukkanlah harga diri. Hanya karena godaan fulus selangit, Anda bisa memperdagangkan timnas kami? Bahkan jika Juventus datang ke Indonesia dan melawan tim nasional kita, saya bersumpah tidak akan menyaksikan mereka bermain. Sebut saya seorang konservatif yang kolot atau ultranasionalis yang chauvinis, tetapi atas nama iman dan akal sehat, saya menolak.

12 July 2013

Tentang jadi kelas sembilan

Kemarin hari pertama saya duduk di kelas sembilan SMP. Atau, bagi sebagian orang yang menganggap kami tak ubahnya anak SD, kelas tiga. Tis'ah. Sembilan.

Kami tak bisa lagi main bola Sabtu pagi. Saya tak akan jadi kuli tinta lagi di majalah sekolah. Kami tidak akan kena semprot lagi kala baris-berbaris menghadap matahari di Jumat pagi. Kami tak berhak atas forum OSIS lagi.

Pagi itu, ada banyak yang memenuhi halaman sekolah yang ditumbuhi tanaman-tanaman hijau yang jarang-jarang dan pasir-pasir konstruksi yang tandus.

Wajah-wajah yang saya kenal, tersenyum gembira bisa bertemu teman-temannya lagi. Mereka tertawa sukacita, barangkali karena mereka merasa merekalah penguasa sekolah ini. Barangsiapa yang tak tahu medan, tanyalah pada mereka. 

Wajah-wajah baru, malu-malu, di pojokan, sambil harap-harap cemas apakah mereka akan betah di sekolah ini. Mereka seperti para Ibnu Batutah yang terdampar di pulau Sumatera: mengembara tak tentu arah, menelisik area sekolah baru dari WC sampai kebun.

Dan beberapa wajah yang saya kenal, beberapa orang tidak hadir. Ada yang saya tidak tahu kabar beritanya, ada pula yang saya tahu sudah pergi meninggalkan kami, ke tempat yang tidak jauh dari sini. Alasannya kami tidak tahu pasti. Dan pengganti-pengganti mereka didatangkan pula dari tempat yang tidak jauh itu.

Ada pula yang pergi tak kembali dan tak ada ganti. Ini sudah hampir mirip lagu dangdut remix.

Ada yang dulu masih rajin menyemburkan asap-asap knalpotnya tiap pagi, kini tak ada lagi. Ada yang dulu tiap hari bau lontong sayur dan pecal semerbak menaungi bumi, kini tak tercium lagi (ya iyalah, mana ada orang jualan lontong siang-siang pas Ramadan).

I realized that this year would be a challenging periode for us. Tahun ini, kami harus menentukan nasib kami sendiri. Sepertinya begitu. Dan akan terus begitu.

06 July 2013

Tentang capres

Wiranto, Hari Tanoe, Megawati, Prabowo, Hatta Rajasa, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Jokowi.

Nama-nama ini santer digoreng media sebagai bakal calon presiden dan wakil presiden pada pemilu 2014 nanti.

Lalu, siapa yang akan Anda pilih?

Pertama, saya tidak punya hak pilih.

Kedua, jikapun saya punya hak pilih, saya hanya akan memilih calon yang tepat.

28 June 2013

Siram-menyiram

Siram-menyiram dapat diasosiasikan dengan berbagai hal.

Para ustadz di masjid senang memberikan istilah dramatis pada ceramahnya, maka terkenallah istilah "siraman rohani."

Para koruptor senang pula untuk memberi istilah yang mengaburkan fakta untuk membutakan penyidik KPK akan kucuran uang ke rekening mereka. Maka terkenal pulalah istilah "disiram duit".

Para ekstremis yang bisa mengancam eksistensi republik biasa kena bedil pelor. Untuk menghaluskan bahasa, aparat kerap pula menggunakan kalimat "disiram peluru".

Lalu, apa nama siraman ke muka seseorang dengan teh manis di muka pemirsa televisi yang terhormat di acara bincang pagi?

27 June 2013

Ransum gandum dan keluguan

Dulu, guru mengaji kami di TPA mengajarkan bahwa pemimpin haruslah peduli kepada rakyatnya.

"Umar bin Khatab mengantarkan ransum gandum langsung ke rakyatnya! Itulah pemimpin yang amanah."

Alkisah, kawan kami ini, luar biasa lugunya dalam mencerna ucapan sang guru. Kebetulan dia ketua kelas. Maka keesokan harinya, sang guru datang membawa oleh-oleh makanan untuk majelis guru. Kawan kami ini menyelinap ke ruang guru dan mengambil sekantung makanan. Dibawanya ke hadapan kami.

"Mari kita bagi-bagi untuk rakyat."

Kami ingatkan dia bahwa waktu Isya sudah dekat, dan siapapun yang tak hadir di shaf anak-anak saat shalat berjamaah akan "dipanggang di api neraka, rambut dililit dan otaknya direbus."

Namun, sang kawan ini tak takut akan segala ancaman yang kami kutip dari koleksi buku Neraka Jahannam koleksi Pak Kepala Sekolah di lemari reyotnya di kantor. Seakan amal baiknya telah cukup dan ia mampu mengalahkan segala macam siksaan.

Maka kami pun mengalah. Sang kawan ini menyelinap keluar dari masjid dan kabur secepat kilat. Saat sesi mengaji, ia muncul kembali, dengan wajah manis menatap sang guru. Guru kami pun tak curiga, sampai keesokan harinya.

Saat kami tiba untuk mengaji keesokan harinya, kami lihat si ketua kelas ini sedang menunduk dimarahi guru kami. Seperti lazimnya jika guru kami sedang marah, kami sembunyi di belakang tangki air masjid.

Singkat cerita, kawan kami ini diseret cuping hidungnya oleh sang guru macam ekstremis dibedil kumpeni ke kantor guru. Kami jarang melihatnya hadir di masjid sejak itu.

25 June 2013

Tentang anak kecil dan tanah ulayat

Seorang anak kecil berdiri di depan Stadion Kaharuddin Nasution, Rumbai. Tubuhnya kurus, wajahnya tirus. Ia membawa karung kecampang kotor, diselipkan di pinggangnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam besi panjang yang berlekuk di ujungnya.

Siang itu, Pekanbaru panasnya luar biasa. Matahari berada melayang-melayang persis di atas kepala, seperti kata baginda rasul tentang isyarat hari kiamat: matahari tepat di atas ubun-ubunmu. Motor-motor lalu lalang dari arah pusat kota, berderum menembus kabut asap yang siang itu menyelimuti Pekanbaru.

Konon, kabut asap itu telah sampai pula ke negara-negara tetanga, sehingga memaksa kepala suku negeri ini meminta maaf ke negara-negara tersebut. Padahal perusahaan yang membakar hutan-hutan tanah ulayat suku pedalaman Riau itu tak lain merupakan perusahaan dari negara-negara yang mengeluh itu.

Anak tadi masih tetap berdiri. Stadion Kaharuddin Nasution berdiri tegap, bercat kuning terang dengan pilar-pilar besi kuning menyangga loket-loket yang tak berpenghuni. Tong sampah berlogo PON di pos jaga depan tertungging tak karuan. Konstruksi tong sampah itu tak benar, sehingga disenggol sedikit saja langsung rebah menyembah bumi.

Orang yang mengetahui dan menyetujui anggaran tong sampah timpang itu tak lain kepala suku provinsi ini. Kabar terakhir darinya ia telah masuk bui oleh suatu komisi di Jakarta sana yang mencurigai sang kepala suku dengan dugaan korupsi. Tak lain korupsi benda remeh temeh seperti tong sampah, sampai yang berat-berat macam stadion kasti.

Rumbai-rumbai spanduk terpasang di pagar-pagar kusam stadion itu. Sang anak hanya memandang. Spanduk itu berisi ucapan selamat ulang tahun kepada provinsi ini. Di balik spanduk itu tersembunyi lampu-lampu jalan yang pecah, bisa jadi karena anggaran dimakan sang kepala suku dan kroni-kroninya.

Sang anak tadi masih tetap berdiri di muka pintu stadion yang gagah, tetapi tak terawat itu. Ilalang liar tumbuh dengan rakusnya menyaingi pohon-pohon tua, mengais-ngais makanan hasil fotosintesis. Tak tahu adat betul.

Seorang kakek tua, berperut buncit, hanya mengamati saja perilaku si anak yang dari tadi berdiri tegak di muka stadion. Ia duduk berselonjor di warunganya yang kusam, hampir rubuh, di sela-sela pagar stadion yang sama kusamnya.

Sang anak tadi berlari ke warung sang kakek. Ditingalkannya saja besi berlekuk dan karung kecampangnya. Ia duduk di samping sang kakek.

"Tuk, ceritakanlah sesuatu tentang stadion ini," pinta sang anak.

"Di stadion ini, sebuah klub sepak bola pernah berpesta, nak," jawab sang kakek pelan. Dihirupnya kopi dari cawan yang kotor, lalu menghela napas. Berat.

"Jadi kapan hal itu akan terulang lagi, Tuk?'"

"Suatu hari nanti, nak. Saat perusahaan-perusahaan yang sekarang membakar tanah ulayat kita mau membantu klub yang bermain di stadion ini," ujar sang kakek sambil menatap langit.

23 June 2013

Pekanbaru, 229 tahun

Hari ini, Pekanbaru berulang tahun ke-229.

Seperti lazimnya kota-kota lain di Indonesia, Pekanbaru adalah tempat yang (belum) sempurna.

Dan seperti lazimnya kota-kota lain di Indonesia, Pekanbaru adalah tempat berbaurnya semua orang dari berbagai macam suku. Melayu, Cina, Minang, Bugis, Batak sampai suku asli dari hutan pedalaman. Pekanbaru adalah contoh positif bagaimana keragaman berbudaya seharusnya dipraktekkan.

Dengan penduduk mencapai 800 ribu orang (tergolong kecil memang, bila kita melihat ke utara dan bertemu Medan), Pekanbaru masih belum bisa lepas dari berbagai kekurangannya.

Geng motor yang pernah suatu waktu merajalela, kabut asap yang mencekik kerongkongan warganya tiap pagi, para pedagang kaki lima yang enggan pindah meski telah digertak pamong praja, sampai klub sepak bola kebanggaan warga kota yang tengah ngos-ngosan kekurangan dana di liga.

Walau bagaimanapun, Pekanbaru masih tergolong cukup layak untuk ditinggali.

Bukan bermaksud merendahkan daerah tertentu, tapi di Pekanbaru, alhamdulillah, tidak ada pertentangan antar suku, antar ras, antar agama. Kota ini cukup tenang dalam hal toleransi beragama. Tak ada diskriminasi. Tak ada pertentangan Sunni kontra Syiah, atau tudingan kaum ini kaum itu. Warga Pekanbaru tak menyukai hal itu.

Anak muda Pekanbaru tidak suka tawuran. Ada memang, tapi tidak sesignifikan kota-kota besar lainnya. Mungkin area Pekanbaru memang terlalu kecil untuk jadi medan pertempuran. Hehehe.

Suporter sepak bolanya, sangat loyal. Asykar Theking adalah kelompok pendukung terbesar PSPS Pekanbaru (yang tengah megap-megap di dasar klasemen Liga Super), dan mereka sangat berdedikasi. Rela  pergi ke mana saja PSPS beraksi, meskipun itu berarti harus memacu motor ke Bangkinang saat PSPS mengungsi ke sana. Tawuran antar suporter pun jarang, mungkin karena PSPS tidak punya rival bebuyutan semacam Persija kontra Persib. Ada memang, tapi kejadiannya bisa dihitung dengan jari. Jarang sekali.

Seperti yang saya sebutkan tadi, Pekanbaru masih (belum) sempurna. Masih banyak yang perlu dibenahi.

Mengutip perkataan bibi Ikal dari Cinta di dalam Gelas, "Serahkan sajalah semuanya ke pemerintah. Beres."

Selamat ulang tahun, Pekanbaru. Kota tua yang kini sedang terbatuk-batuk karena kabut asap.

18 June 2013

Sajak orang beriman

seorang Somali duduk melahap pretzel di bangku kayu Central Park, berlatar hutan beton Manhattan
dia adalah seorang Muslim
seorang Turki bersujud di halaman rindang Mezquita Cordoba, kini jadi gereja, tak acuh akan hardikan para pendeta dan penjaga bersenjata,
dia adalah seorang Muslim
seorang Chechen memanggul AK47 di hutan Siberia nan kelam, siaga di balik pinus sambil melafalkan ayat-ayat suci dari kitab yang dipelajarinya,
dia adalah seorang Muslim
seorang Uyghur menuntun unta tua dan kain dagangan, menentang amu tentara berbaret merah di celah-celah Jalur Sutra, dengan iman di dada,
 dia adalah seorang Muslim
seorang Sulu berkain pelikat menyelipkan badik pusaka di pinggang, memacu laju perahu mengejar badai Laut Cina Selatan, tak peduli akan tentara diraja,
dia adalah seorang Muslim
seorang Pashtun tua berselempangkan peluru, bersimpuh di bukit-bukit kecil Celah Khyber, berdoa pada Tuhannya,
dia adalah seorang Muslim
seorang Parsi bersurban putih bersih, mengaji kitab bersama ayatollah mereka di balik pilar-pilar masjid Khomeini di Qom nan berwibawa,
dia adalah seorang Muslim
seorang Minang bergamis putih dengan sepeda tua, terantuk-antuk menyusuri lereng Marapi menuju nagari-nagari selingkar danau, mengajar firman Tuhan bagi hambanya,
dia adalah seorang Muslim
seorang Berber memacu kuda menembus pinggang Pegunungan Atlas, untuk menyampaikan bahwa teriknya api revolusi di Benghazi telah mengancam sang kolonel nan digdaya,
dia adalah seorang Muslim
mereka beriman, karena mereka tahu, harapan itu masih ada

16 June 2013

Jeans Anis Matta

Gelanggang Remaja Pekanbaru tampak penuh hari itu. Lapangan yang biasanya riuh dengan sorakan cheerleaders basket kini dipenuhi orang-orang yang duduk rapi di tribun-tribun, menghadap ke arah panggung kehormatan yang dilatarbelakangi poster seorang bapak yang sedang tersenyum.

Tribun-tribun Gelanggang Remaja terisi penuh hari ini. Di sisi timur, tampak ibu-ibu berjilbab tumpah ruah di deretan kursi-kursi plastik, dengan bendera kertas bergambar dan bendera Merah Putih Indonesia. Di sisi barat, para bapak-bapak berjanggut duduk tenang sambil berdiskusi dengan rekan-rekannya yang lain - juga berjanggut - juga sambil mengibar-ngibarkan bendera kertas putih bergambar. Dari panggung kehormatan,  seorang penyanyi memimpin koor melagukan lagu Iwan Fals yang masyhur, Bongkar, dengan irama aslinya. Gelanggang tersebut tampak bergemuruh.

Seruan gendang bertalu-talu dari pintu masuk barat gelanggang tersebut menyentak perhatian semua orang. Beberapa orang berjas putih hitam masuk ke lapangan dan disambut meriah orang-orang yang duduk di tribun-tribun. Mereka menyerukan nama Allah ketika rombongan tersebut naik ke panggung. The big boss has arrived. 

Saya berada di sisi kiri panggung kehormatan ketika bapak yang wajahnya ada di poster memasuki gelanggang. Ia memakai celana jeans ketat, jas hitam-putih seperti para bapak di tribun atas, dan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam. Bersama beliau, tampak beberapa orang lain yang bergaya sama.

Bapak yang wajahnya ada di poster tadi tersenyum saat dipotret. Ia naik ke panggung kehormatan diiringi teriakan Allahu Akbar dari tribun-tribun atas. Sorot matanya teduh dan berwibawa. Di sampingnya ada seorang bapak berkaus Barcelona. Ia seorang anggota DPR yang lazim kita lihat wajahnya di televisi.

Setelah menyanyi beberapa lagu, dipimpin seorang bapak lain yang juga berjeans, bapak yang wajahnya ada di poster itu maju ke depan untuk orasi. Ia lepaskan jasnya dan hanya memakai kemeja serta jeans saja. Dengan mikrofon, ia gaungkan gelanggang yang penuh sesak itu. Suaranya menggelegar bak Soekarno.

Tahu siapa bapak yang wajahnya ada di poster dan memakai jeans tersebut?


01 June 2013

Syeikh tiba dari Mesir

Kemarin ada seorang syeikh dari Mesir datang ke sekolah kami. Konon, beliau lulusan Al-Azhar, seorang ahli bahasa Arab dan tsafaqah Arabiyah, kajian tentang Arab. Syeikh Sya’ban bin Mabrouk, namanya. Sebenarnya, seperti halnya orang Arab lainnya, nama beliau begitu panjang dan bertali-tali. Seperti yang dikatakan Ustad Yon selaku penerjemah perkataan Syeikh Sya’ban itu, nama beliau yang sebenarnya adalah Syeikh Sya’ban bin Mabrouk bin abihi (bapaknya) bin abihi bin abihi, demikian sampai Nabi Adam.

Dandanan beliau mengingatkan saya akan Hasan al-Banna, cendekiawan pengarang Al-Matsurat dan pemimpin besar Ikhwanul Muslimin yang kesohor tersebut. Wajahnya putih kemerahan. Beliau memakai peci Turki merah yang dibalut surban putih. Wajahnya layaknya Syeikh Yusuf al-Qaradawi, hanya versi yang lebih kurus dan ramping. Ia memakai gamis putih di dalam dan jas ulama panjang sampai menutupi telapak kaki. Janggutnya putih tercukur rapi, tetapi tidak meranggas.

Ia tak pernah tertawa keras, hanya tersenyum. Raut wajah beliau mengumumkan seorang hafiz 30 juz Quran yang telah menemukan kebahagiaan dan keabadian ibadah dalam hidupnya dan telah diberkahi syafaat dari Rasulullah.

Singkat cerita, beliau berwajah sastrawi. Saat pertama kali mendengar bahwa seorang syeikh Mesir akan datang berkunjung, saya agak terkejut. Mungkinkah sekolah kami telah mendapat perjanjian pertukaran siswa dari sebuah madrasah di Mesir? Apakah yang berkunjung tersebut anak buah Presiden Muhammad Mursi?

Rupanya tidak. Syeikh Sya’ban mengatakan bahwa dia sudah tiga tahun di Indonesia, mengajar bahasa Arab sebagai dosen tamu di UIN. Pantas saja mudah mengundangnya ke sini. 

Beliau memberikan wejangan – atau lebih tepatnya, menasihati? – dengan Ustad Yon bertindak selaku penerjemah. Pada awalnya, saya berharap agar sang syeikh memberikan sesuatu yang beda, menggebrak, dan berapi-api, bukan hanya pernyataan normatif seperti “pemuda Indonesia sangat potensial” dan “semoga hubungan baik ini berlanjut” seperti yang dikumandangkan para orang asing yang pernah berkunjung ke sekolah kami.

Setelah diperhatikan, beliau tidak terlalu menggebrak dalam ucapannya, tetapi tidak pula memuji-muji sekolah kami secara berlebihan. Rasanya saat beliau berbicara, saya ingin
meneriakkan yel-yel jahil seperti “Esqaat el nizam (turunkan rezim)…. Hosni Mubarak…. Esqaat el nizam…. Sayid Husein Al-Tantawy…. Al-Ahly….. Esteghlal…. Lapangan Tahrir…. Esqaat el nizam…”

Saat sesi tanya jawab, kami dipersilakan bertanya pada sang syeikh. Awalnya saya berusaha bertanya mengenai rivalitas sepak bola terpanas di Mesir, Al-Ahly vs Esteghlal, dan bagaimana pendapatnya tentang kerusuhan sepak bola di Port Said tahun lalu, tapi setelah melihat sorot mata beliau yang lebih banyak mengkaji kitab Allah ketimbang menonton Mohammed Aboutrika bermain, niat itu saya urungkan. Akhirnya, saya bertanya sedikit saja: bagaimana kehidupan di Mesir?

Syeikh tersebut tersenyum tipis, lalu gigi-giginya yang putih terlihat. “Alhamdulillah, setelah revolusi, kehidupan rakyat semakin baik.” Saat menyebut mengenai revolusi, saya langsung menduga beliau seorang simpatisan Ikhwanul Muslimin.

Karena hari itu hari Jumat, tentu kami harus menunaikan shalat Jumat. Khatib hari ini berteriak-teriak di mimbar sampai urat lehernya kelihatan. Bagi kami, ini sangat mengganggu. Teks khutbahnya baik dan menyerukan ummat bagi kebaikan, tetapi cara menyampaikannya sangat tidak enak.

Sementara, Syeikh Sya’ban yang kalem, duduk setengah meter dari mimbar, hanya mengangguk-angguk takzim sambil mengelus janggut putih tipisnya, sementara sang khatib berteriak-teriak seakan mendakwahi kaum kafir di pedalaman Afrika sana.

Saat keluar, saya perhatikan Syeikh Sya’ban. Ia menyalami sang khatib juru teriak dengan wajah takzim sambil berulangkali beristighfar. Sang khatib tampaknya melihat raut muka Syeikh Sya’ban yang teduh, lalu ia buru-buru pergi.

Malu berangkali.

18 May 2013

Tentang Khan dan anti-kekerasan

Saya baru selesai membaca Nonviolent Soldier of Islam karya Eknath Easwaran. Buku ini berkisah tentang Abdul Ghaffar Khan, pejuang kemerdekaan India dan disebut-sebut sebagai Gandhi dari Perbatasan. Ia berasal dari suku Pashtun.

Orang-orang Pashtun adalah para pejuang yang keras dan sangat menghargai harga diri mereka. Seperti ditulis Easwaran, seorang Pashtun lebih memilih mati ketimbang dilecehkan. Badal, kewajiban untuk membalas dendam, telah ditanamkan secara keras ke jati diri setiap Pashtun.

Kewajiban balas dendam ini bahkan masuk dalam Pushtunwali, hukum yang digunakan kaum Pashtun untuk memerintah diri mereka sendiri. Mahatma Gandhi menuturkan bahwa di tanah kelahirannya, Gujarat, anak-anak bisa berubah pucat pasi jika mendengar kata Pashtun diucapkan. Kaum ini, yang memerintah diri sendiri di atas genangan darah, selalu dianggap sebagai kaum barbar, liar, dan senang membunuh. Setidaknya begitu menurut para penguasa Raj di Delhi dan London.

Ia putra seorang tuan tanah yang kaya di Utmanzai, nun jauh di Provinsi Perbatasan Barat Laut di Pakistan. Rumah masa kecilnya adalah sebuah oase di tengah gurun: tanah kelahirannya adalah Celah Khyber, pintu gerbang India. Ia lahir dari klan Mohammedsaiz, salah satu klan terkaya dalam suku Pashtun di provinsi tersebut.

Seperti halnya Mahatma Gandhi dan orang-orang India, Ghaffar Khan mengubah orang Pashtun, yang semula selalu menyelipkan revolver di sabuk mereka, menjadi suatu kaum yang bersenjatakan keberanian untuk melawan penjajahan tuan-tuan tanah Inggris.

Ghaffar membentuk Khudai Khidmatgar, "para pelayan Tuhan", tentara antikekerasan profesional pertama di dunia. Khidmatgar, laskar berbaju merah, adalah sebuah kekuatan yang dominan di Perbatasan Barat Laut sampai kemerdekaan India dan Pakistan pada 1947.

Ghaffar menghabiskan hampir setengah hidupnya di balik jeruji besi. Ia adalah murid Mahatma Gandhi yang terbaik, dan seperti gurunya, "Mahatmaji"nya, ia menolak pembagian India dan Pakistan. Ia kemudian dipenjarakan rezim militer Pakistan, bebas, masuk, bebas, masuk, bebas, masuk, sampai kewafatannya pada 1988, dalam usia 98 tahun.

Sungguh ironis, Gandhi dibunuh seorang ekstrimis Hindu karena menduganya pro-Muslim, sementara Khan dipenjarakan dan dibungkan rezim Islam dengan cap pro-Hindu. Sungguh ironis untuk Sang Mahatma Hindu dan Sang Fakir Miskin, yang telah memperjuangkan kemerdekaan tanpa menumpahkan darah setetes pun, dibungkam oleh negara yang dimerdekakannya.

Kisah kewafatan Khan adalah epik tersendiri. Zia Ul Haq, diktator militer paling keras sepanjang sejarah Pakistan, bersikeras datang ke upacara pemakamannya, meskipun Zia sendiri yang memenjarakan dan membungkam Khan. Empat puluh ribu orang Pakistan mengantar jenazah Khan ke Jalalabad di Afganistan, melintasi Celah Khyber. Padahal saat itu terjadi perang di tanah Afgan. Para tentara setuju melakukan gencatan senjata.

Khan adalah seorang pendamai, bahkan ketika ia sudah berbentuk jasad mati dan diarak dalam peti. Itulah wajah Islam yang sebenarnya. Nonviolent. Antikekerasan. Satyagraha. Perlawanan pasif.

Pertanyaannya: apakah ormas-ormas dengan embel-embel Islam di Indonesia mau mengikuti jejak Ghaffar Khan? Berhenti menyerang mereka yang sepaham dengan ideologinya dan mempromosikan kedamaian? 

They did not represent the religion itself, they just want to show to the world how their ideologies works. Hanya mereka sendiri yang bisa menjawabnya. Mungkin hari ini, atau nanti. Atau tidak untuk selamanya.

15 May 2013

Haflah takhrij dan Wiji Thukul

Seperti lazimnya sekolah-sekolah lain, Al-Fityah pun menggelar perpisahan untuk murid kelas 9 yang akan tamat pada akhir semester ini. Namun, di sini, tempat bahasa Arab dijunjung "karena merupakan bahasa surga", kami menyebutnya haflah takhrij.

Nah, seperti juga lazimnya para junior kelas 8 dan 7 di sekolah lain, kami diharuskan membuat semacam persembahan terakhir buat para senior. Bukan, saya tidak bermaksud mengenai persembahan kambing gemuk dan apel busuk a la Habil dan Qabil, yang menyebabkan terbunuhnya Habil.

Persembahan ini adalah sebuah persembahan kesenian, show of force, tempat menunjukkan kreativitas tertinggi dan seni nan adiluhung. Di situ kami dinilai lewat kaca mata seni. Dan tambahan lagi, adalah suplemen nilai mata pelajaran Seni Budaya jika persembahan kami dapat memuaskan sang guru seni.

Masalah drama cukup membuat kami senewen. Mengingatkan sejarah antara "ikhwan kelas 8 Al-Razi dan pentas kesenian" tidak terlalu mengesankan, kami berniat membuat sebuah persembahan kesenian yang lain dari yang lain, yang tak lazim, the unique one. Akhirnya, mengingat haflah takhrij ini digelar pada bulan Mei, kami (tepatnya saya) memilih satu tema: reformasi.

Nah, saat sedang merancang naskah, mata saya tertumbuk pada satu puisi dari Wiji Thukul. Wiji, yang telah belasan tahun diciduk tentara dan tak pernah kembali, yang puisi-puisinya menggoyahkan rezim Cendana sampai mangkrak, sampai sekarang masih menjadi penyair favorit saya. Tempo menurunkan edisi khusus mengenai pria cadel itu, dan saya menemukan puisinya yang paling terkenal, berjudul Peringatan. 

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan
masalahnya sendiri
penguasa harus waspada
dan belajar mendengar
bila rakyat sudah berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak 
tanpa ditimbang
suara dibungkam 
kritik dilarang
tanpa alasan
dituduh subversif dan
mengganggu keamanan
maka hanya adu satu kata:
lawan!

14 April 2013

Review: Jerusalem, The Biography

Kemarin, di Gramedia, mata saya tertohok pada Jerusalem: The Biography, karya Simon Sebag Montefiore. Tebalnya 800 halaman kira-kira.

Seingat saya, terakhir kali saya membeli buku yang kurang lebih tebalnya sama dengan buku ini, itu adalah sebulan yang lalu, saat saya membeli The Greatness of Al-Andalus karya David Levering Lewis. Itupun hanya 630-an halaman. Entah kenapa saya terobsesi pada buku tebal.

Buku ini adalah sebuah epos 3.000 tahun tentang Yerusalem, kota suci, Al-Quds, Kota Kuil, pusat dunia, rumah bagi tiga agama. Yahudi, Kristen dan Islam. Montefiore menulisnya secara gamblang, bersikap jujur dan netral. Buku ini tidak berisi tentang ajaran agama Yahudi, Kristen, maupun Islam. Bukan juga sebuah studi ketuhanan. Buku ini adalah tentang sejarah Yerusalem yang dapat dinikmati pembaca umum, tanpa suatu agenda politis.

Buku ini dilengkapi beberapa fotografi yang lumayan, dan juga silsilah Nabi Muhammad dan keluarga Herod, yang suatu masa dulu pernah memerintah Yerusalem. Sumbernya memakai Al-Quran versi terjemahan baru oleh MAS Abdul Haleem di Oxford, 2004.

Menurut saya, yang menarik dari buku ini adalah Montefiore menulis tentang Charlemagne dan Harun Al-Rasyid di bagian keempat bukunya. Tidak seperti literatur sejarah lain yang membandingkan Charlemagne dan Kekhalifahan Berber di Spanyol, Montefiore memberi sudut pandang lain. Berikut saya kutipkan separagraf tulisannya:
Khalifah (Harun al-Rasyid) mengirimi Charlemagne seekor gajah dan sebuah jam air astrolabe, sebuah alat canggih yang menunjukkan superioritas Islam dan menakuti sebagian orang primitif Kristen yang mengira alat sihir iblis.
Montefiore juga menjabarkan hubungan Charlemagne dan Yerusalem.
Orang Kristen dan pagan, ujar seorang peziarah, melakukan perdamaian di antara mereka. Sikap murah hati Charlemagne melahirkan cerita bahwa dia secara diam-diam pernah berkunjung ke Yerusalem, menjadikannya pewaris Heraclius. Ini secara luas diyakini, terutama pada masa Perang Salib, tapi Charlemagne tidak pernah berkunjung ke Yerusalem.
Ini sejujurnya sangat menarik.

Oh ya, buku ini jelas punya beberapa kelemahan. Montefiore tidak terlalu banyak menjabarkan kisah pendirian Dome of the Rock oleh khalifah Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Pun Montefiore tidak banyak menulis tentang Palestina dan Yerusalem di masa modern. Alangkah baiknya, misalnya, Montefiore menerangkan peran Hafez al-Assad dalam Yerusalem dan Palestina modern pada umumnya. Sebab, Hafez dikenal sebagai seorang penentang tegas Israel. Dan bahkan Montefiore tampaknya kurang bersemangat menjelaskan tentang Perang Enam Hari, dan berfokus kepada kisah Yitzhak Rabin.

Apapun, buku ini sangat bagus. Saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin mendapat gambaran umum tentang Yerusalem, kota suci. Kota seribu satu kisah.

18 January 2013

Stiker gubernur dan kampanye ilegal

Pagi itu, angin Subuh masih mengalun di lokasi sekolah baru Al-Fityah. Ya, kami sudah pindah dari gedung lama yang tinggi, berjenjang, ramai dan berbagi dengan bocah-bocah SD, ke sebuah tempat baru yang tenang, di ujung Jalan Simpang Karya Baru, terpencil, hampir masuk hutan, syahdu, rimbun, sekaligus berdebu.

Saya datang jam 6.45 ke lokasi itu. Belum ada orang yang datang. Gerbang seng baru dibuka para penjaga yang merangkap pekerja bangunan di sana. Pintu kelas yang berderit baru dibuka para penjaga itu. Angin Subuh masih berdesir. Saya masuk ke kelas.

Ada stiker bakal calon gubernur Riau tertempel di kaca lemari buku kami. Saya kenal dia, Jon Erizal. Posternya terpampang besar di Simpang Panam. Dia calon gubernur muda yang energik, hampir mirip Jokowi versi lebih berisi dan tanpa baju kotak-kotak. Dia didukung oleh beberapa partai, termasuk PKS.

Saya tahu reputasinya. Ustad Asbi pernah bercerita, dalam usia 30-an tahun, tahun 1996, saat Soeharto masih memerintah negeri ini, dia telah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan multinasional. Gajinya 400 juta. Dia adalah Mark Zuckerberg versi Orde Baru. Dia kaya raya. Dan murah hati, konon katanya. Sekarang dia maju sebagai calon gubernur Riau.

Saya tak berinisiatif mencabut stikernya. Mungkin seseorang yang jadi simpatisan Jon Erizal menempelkannya di lemari kami. Entah kapan, saya tidak tahu. Mungkin beberapa pendukungnya berkumpul di kelas ini kemarin malam. Sebaiknya tak usah dicabut, panjang urusannya nanti. Demikian pikiran saya.

Lalu saya ambil Quran, mencoba menghafal Surah An-Naba. Lima belas menit. Ustad Mukhlis masuk ke kelas. Deru motornya tak mengejutkan siapapun. Memang lumrah.

Setengah jam. Ustad Mukhlis duduk di depan kelas, menelaah Quran-nya. Tak ada respon soal stiker Jon Erizal itu. Pun tidak dari para penghuni kelas Al-Razi. Akhirnya kami lanjut belajar Matematika. Pun tak ada respon dari Ustad Asbi.

Namun, jam 9, saat kami istirahat, tampaknya Ustad Mukhlis cukup terganggu soal stiker itu. Di depan semua orang, ia menghampiri kaca lemari dan mencabutnya dengan satu kalimat:

"Ini sekolah, bukan tempat kampanye!"

Saya menyaksikannya. Dan semua orang. Saya terkesan. Beliau menjunjung profesionalisme ketimbang kampanye partai. (Jon Erizal jelas-jelas didukung PKS).

06 January 2013

Puisi soal besok

besok.
besok hari Senin.
besok hari Senin kami sekolah.
besok hari Senin kami sekolah lagi.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru di Jalan Swakarya.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru di Jalan Swakarya pakai baju.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru di Jalan Swakarya pakai baju olahraga.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru di Jalan Swakarya pakai baju olahraga bawa tas.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru di Jalan Swakarya pakai baju olahraga bawa tas bawa buku.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru di Jalan Swakarya pakai baju olahraga bawa tas bawa buku tembus jalan.
besok hari Senin kami sekolah lagi di gedung baru di Jalan Swakarya pakai baju olahraga bawa tas bawa buku tembus jalan becek berlubang.
semoga saja tidak hujan.