27 December 2016

Separuh musim ala Napoli: antara ledakan gol dan naluri bertahan hidup

Napoli menutup paruh musim gugur Serie A musim 2016-17 dengan gol telat Manolo Gabbiadini pada menit ke-90+3 di Stadion Artemio Franchi pada Kamis (22/12) silam, memastikan pasukan asuhan Maurizio Sarri ini mengemas satu poin kembali ke kota Naples dengan menahan imbang tuan rumah Fiorentina 3-3.

Dengan hasil ini, mereka menyambut libur musim dingin dengan bercokol di peringkat ketiga klasemen sementara, mengemas total 35 poin dari 18 pertandingan, dengan rincian 10 kali menang, 5 kali imbang, dan 3 kali kalah. Roma, pesaing terdekat mereka, mendahului di peringkat kedua dengan perbedaan tiga poin; sedangkan rival utama dalam tiga musim terakhir, Juventus, masih nyaman di puncak klasemen dengan selisih tujuh poin.

Partenopei telah melalui separuh musim pertama yang penuh rintangan, setidaknya bila dibandingkan dengan pencapaian mereka musim lalu. Tim yang bermarkas di Stadion San Paolo ini tentu saja memulai musim dengan merelakan perginya bomber utama Gonzalo Higuain ke pesaing utama mereka Juventus dengan banderol 90 juta euro, memecahkan rekor transfer Italia dan mematahkan hati ribuan suporter setia. Tibanya penyerang muda Polandia Arkadiusz Milik hanyalah satu-satunya transfer top yang dilakukan pemilik eksentrik Aurelio Di Laurentiis untuk mengisi lubang yang ditinggalkan Higuain, selain gelandang Emanuele Giaccherini dan Piotr Zielinski.

Marek Hamsik dkk memulai musim yang sebenarnya dengan ditahan imbang tim promosi Pescara 2-2 di kandang lawan. Dalam sepuluh pertandingan pertama, mereka naik-turun dari peringkat kesepuluh di pekan pertama, duduk sejenak sebagai capolista setelah mengalahkan Bologna di pekan keempat, sebelum terbuang ke posisi ketiga di pekan kesepuluh.

Krisis tiba pada awal Oktober. Napoli menelan kekalahan pertama di liga pada 2 Oktober, 1-0 dari tuan rumah Atalanta, meskipun tak menggusur mereka dari peringkat kedua. Setelah itu, Milik terkapar cedera saat bermain bersama tim nasional Polandia. Hilangnya mantan striker Ajax Amsterdam itu berarti hilangnya mesin gol utama tim yang telah mencetak empat gol dari tujuh partai, termasuk dwigol apik kala menggilas Milan 4-2 di kandang pada akhir Agustus. Di titik krusial, Sarri terpaksa memplot Manolo Gabbiadini sebagai ujung tombak tim.

Celakanya, lawan Napoli selanjutnya adalah Roma, musuh bebuyutan mereka di Derby del Sole. Dibayang-bayangi penampilan luar biasa Edin Dzeko, Gli Azzurri terpaksa tunduk 1-3 di kandang sendiri. Garam kembali tertabur di atas luka saat sekali lagi mereka kalah di depan suporter sendiri, kali ini ditaklukkan Besiktas 2-3 di partai fase grup Liga Champions. Mimpi Sarri untuk mengudeta posisi Juventus seakan memburam dengan terlemparnya pasukannya hingga anak tangga kelima.

Di sini, survival instinct Sarri memainkan peran yang penting. Ia berpengalaman dalam hal ini: Sarri membawa Empoli, tim yang berisi pemain buangan dan pemuda tak berpengalaman promosi ke Serie A dan bertahan di posisi ke-15 kala para pengamat memprediksikan mereka akan terbuang kembali. Ia memilih berpegang teguh pada formasi 4-3-3-nya.

Dalam hal ini, Sarri diuntungkan dengan lini depan Napoli yang boleh dikatakan cukup berkualitas. Untuk mengisi posisi ujung tombak yang kosong, Sarri memplot Dries Mertens, yang boleh dikatakan terpinggir pada masa jayanya Higuain dan semakin terbuang dengan tibanya Milik, sebagai pengganti darurat.

Siasat Sarri terbukti ampuh. Diberi kepercayaan penuh, penyerang asal Belanda ini meledak: tiga belas gol ia cetak di seluruh pertandingan, termasuk gol penutup kontra Benfica yang memastikan posisi Napoli sebagai juara Grup B di Liga Champions dan meloloskan mereka ke fase gugur. Jangan lupakan pula berondongan empat golnya ke gawang Joe Hart saat Torino datang melawat ke Naples, yang mengembalikan mereka ke tiga besar buat kali pertama dalam enam pekan terakhir.

Sememangnya, kekuatan utama Napoli pada musim ini terletak di lini depan. Diisi pemain sekaliber Insigne, Milik, Callejon, dan Mertens, Napoli telah mencetak total 40 gol: terbanyak di liga sejauh ini, dan pas setengah dari yang mereka cetak sepanjang musim lalu. Selain dari lini depan, lini tengah mereka juga terbukti dapat diandalkan secara ofensif: kapten Marek Hamsik selain menjadi pemberi assist terbanyak buat tim (5 assist), juga berstatus pemain non-striker dengan catatan gol terbanyak (5 gol), berimbang dengan Insigne.

Menarik pula untuk diperhatikan bahwa 80% dari gol-gol Napoli berasal dari open play, angka yang cukup mencolok bila dibandingkan dengan Juventus (61%) dan Roma (62%), dua pesaing berat mereka. Strategi ala Sarri, juga melahirkan tim yang mengandalkan umpan-umpan pendek namun efektif: Napoli rata-rata melakukan 602 umpan pendek dalam satu laga dengan efektivitas 88%, sekali lagi superior bila dibandingkan dengan Juventus (457 umpan per laga, 84%) dan Roma (452 umpan per laga, 83%). Tak heran bila beberapa pengamat menjuluki sepak bola yang mereka mainkan sebagai salah satu yang paling menghibur di tanah Italia saat ini.

Tentu saja, beberapa aspek masih harus dibenahi oleh Sarri sepanjang libur musim dingin untuk menyongsong paruh kedua 2016-17 yang tampaknya bakal brutal bagi timnya.

Pertama, Sarri perlu memastikan fokus timnya tak terbelah antara liga domestik dan Eropa. Napoli akan menghadapi juara bertahan Real Madrid di 16 besar. Kali terakhir mereka bermain di fase gugur Eropa adalah 2011-12, kala disingkirkan wakil Inggris Chelsea di fase yang sama. Dari pertengahan Februari sampai awal April, mereka akan menghadapi sederet lawan berat yang: dimulai dari Real Madrid, Atalanta, Roma, Real Madrid (lagi), Juventus, dan ditutup oleh Lazio. Fase ini akan menjadi penentu utama nasib mereka di akhir musim. Ditambah pula, mereka harus berkompetisi di Coppa Italia; meski turnamen ini tak tampak menjadi prioritas utama Sarri.

Kedua, lini depan yang selama ini telah menjadi tali penyambung hidup tim, harus menjadi fokus utama. Dengan perginya Gabbidiani, Napoli dilaporkan akan merekrut striker Genoa Leonardo Pavoletti. Milik dijadwalkan akan kembali merumput selambat-lambatnya pada bulan Februari, membuat Sarri boleh sedikit bernafas lega menghadapi jadwal yang berat. Namun klub tak boleh lengah mengingat stok penyerang sewaktu-waktu bisa menipis, apalagi jika Mertens tak kunjung ditawari komitmen permanen untuk mengikatnya lebih lama di San Paolo: kontraknya habis pada akhir musim depan, dan ia (bersama Insigne) terus dikait-kaitkan dengan kepindahan ke klub besar lain di Inggris, Perancis, atau Spanyol.

Pada akhirnya, Napoli masih bisa bermimpi untuk mengakhri musim dengan menjulang scudetto di akhir musim asalkan dapat menjaga disiplin tim dan tak abai mengintai peluang. Dengan persaingan di sepuluh besar yang makin brutal karena munculnya tim-tim tak diduga seperi Atalanta dan Torino, ditambah dengan menguatnya Milan dan Lazio, pasukan kebanggaan wilayah selatan Italia ini harus hati-hati menjaga jarak dan memaksimalkan setiap pertandingan untuk meraup tiga poin. Selain itu, celah-celah kelemahan Juventus dan Roma harus dapat di-fait accompli oleh pasukan biru dari Naples ini, mengingat kedua tim itu bukanlah tanpa cela.

Bila scudetto sepertinya jauh dari jangkauan tangan, maka satu tiket menuju Eropa tampaknya cukup menjadi kuncian aman buat Partenopei.

Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia. 

24 December 2016

Pak Kayam dan roso kangen itu

Aduh, roso itu lho...

Saya tak ingat kapan saya bertemu buku bersampul biru gelap itu. Dan saya juga tidak tahu siapa yang memilikinya. Yang saya tahu, itu buku judulnya Para Tokoh Angkat Bicara, sebuah kompilasi wawancara dari majalah berita Indonesia yang saya tidak ingat apa nama dan kapan terbitnya. 

Yang diwawancara adalah tokoh-tokoh tanah air, mulai dari Iwan Fals sampai almarhum Gus Dur. Di halaman pertama yang saya temukan adalah wawancara sosiolog-cum-budayawan, almarhum Pak Umar Kayam.

Itulah perkenalan pertama saya dengan Pak Kayam.

Bagi saya beliau adalah seorang karakter yang enigmatik. Intriguing, kalau kata orang sini. Budayawan, pernah jadi dirjen, memerankan Soekarno dalam Pengkhianatan G30S/PKI, penulis, dosen, sosiolog. Banyak orang mengenalnya sebagai novelis yang menciptakan karakter Lantip dan Halimah pada Para Priyayi; ada juga yang mengenalnya dari karya-karya beliau yang lain seperti Sri Sumarah atau Bawuk.

Tapi sisi Pak Kayam yang paling menarik bagi saya adalah kolom-kolomnya, yang kelak dikumpulkan dalam buku Mangan Ora Mangan Kumpul. Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam budaya Minang (dan secara umum, Melayu), saya tak pernah benar-benar bisa memahami budaya Jawa, yang berasal nun dari pulau seberang. Bagi saya, membedakan bahasa halus, menengah, dan tinggi sama membingungkannya dengan memilah kaum abangan, santri, dan bangsawan — — meski yang belakangan nyata cuma dari pikiran Geertz.

Namun ulasan Pak Kayam berbeda. Gayanya bertutur, kata yang ia pilih, mengajak pembaca ikut tenggelam bersama apa yang ia ingin maksudkan. Pak Kayam mengambil serpihan kehidupan sehari-hari, memotretnya sejenak, lalu menyusunnya menjadi sebuah fragmen. Bahwa pembaca mungkin tak familiar akan latar belakang kisahnya yang amat njawani; tiada masalah, karena pesan yang ia sampaikan universal.

Pak Kayam dalam ulasannya memperkenalkan sebuah dunia yang membuat para pembacanya familiar, seakan-akan pernah menjadi bagian dari cerita besar itu sendiri. Saya merasa familiar dengan Ki Ageng (karakter alter ego Pak Kayam). Pun saya merasa tak asing dengan perangkat kitchen cabinet-nya: Mr. Rigen sang Dirjen van Pracimantoro, istrinya Mrs. Nansiyem, dan dua anak mereka: Beni Prakosa sang siswa SD Indonesia Hebat, dan “King” Septian Tholo-Tholo.

Saya tidak tahu dari mana datangnya rasa familiaritas itu.

Mungkin karena saya datang dari keluarga abdi negara di sebuah universitas, persis dengan Ki Ageng dan Fakultas Sastra UGM-nya. Mungkin karena saya tumbuh di keluarga kelas menengah yang suka berandai-berandai menggapai dunia yang bergerak di luar sana, macam keluarga Ki Ageng di Cipinang Indah. Mungkin pula karena saya juga sedang menghabiskan waktu di luar negeri, serupa dengan Ki Ageng yang diceritakan hidup di New Haven, Connecticut selama setahun.

Bahkan meski saya bukan orang Jawa, atau tumbuh dengan kultur Jawa. Bahkan walau saya cuma pernah ke Jogja sekali seumur hidup saya. Bahkan sekalipun saya tak tumbuh-besar saat beliau masih berkarya. Cerita-cerita beliau masih bergema sama kuatnya hari ini dibanding dua puluh tahun lalu. Kritik-kritik halus dan pengamatan-pengamatan berbalut ironinya, entah bagaimana masih bisa tetap relevan hingga kini.

Saya juga menemukan sisi unik dari goresan pena Pak Kayam: ia amat mencintai makanan. Penulis-penulis hebat yang saya kagumi punya personal taste yang selalu tersirat pada cerita-ceritanya. Haruki Murakami dengan berlari; Orhan Pamuk dengan sepak bola. Umar Kayam? Makanan!

Kecintaan Pak Kayam pada makanan sudah jadi fakta sejarah, barangkali. Ia fasih menggunakan makanan sebagai objek bertutur, memosisikannya sebagai bagian yang amat penting dalam kecintaannya pada kemanusiaan. Dengan mencintai makanan, Pak Kayam mencintai kehidupan.

Ah, omong-omong tentang masa kini. Saya terpaku betul dengan cerita Pak Kayam yang berjudul “Tentang Roso Kangen Itu”, di buku kedua Mangan Ora Mangan Kumpul. Esai ini menceriterakan Pak Ageng yang baru pulang dari luar negeri selama setahun (baca: Amerika Serikat), lalu pulang ke Yogya. Ya, Yukjo-nya.

Bagi saya, ini contoh esai klasik Pak Kayam. Ia memadukan dengan halus pemikiran cerdasnya dengan metafora makanan, sesuatu yang amat ia cintai dengan penuh seluruh. Bahkan boleh saya bilang, ini karya Pak Kayam yang paripurna. Berikut saya kutipkan:
Sesudah setahun absen dari revolusi, jajanan ndèsit itu terasa nikmat betul. Gatot, yang kalau dinilai dari sudut tampang lahiriah paling pol hanya bisa disejajarkan dengan kombinasi warna lukisan abstrak, dus tidak menarik, pagi itu jadi melambai-lambai minta disantap. Dan waktu saya gigit, kok ya, maknyuss!. Sedikit kecut, sedikit nggêdabêl, tapi ya biar. Begitu juga yang lain-lainnya.
Sembari makan itu saya ngunandikå tentang roso. Roso enaknya makanan dan roso kangen. Tentang makanan enak. Bagaimana kita bisa mengatakan makanan yang satu itu enak, sedang makanan yang lain tidak. Ternyata tidak selalu gampang.
Ambillah contoh gatot itu. Sebelum berangkat ke Amerika, gatot itu masuk prioritas yang paling bawah dalam urutan menu jajan pasar saya. Dalam keadaan obyektif makanan itu agak kecut, agak ngilêr dan sedikit sekali gurihnya ketela terasa. Tetapi, waktu dihidangkan setelah setahun pergi, lhooo … kok jadi maknyuss!
Semua atribut roso yang menjengkelkan itu jadi hilang. Subyektivitas apakah itu? Subyektivitasnya orang yang kangen kepada negeri leluhurnya. Negeri yang menyandang segala atribut lårå-låpå-nya dunia ketiga. Atau subyektivitasnya orang yang nggragas saja? Atau mungkin kedua-duanya!
Di Amerika, tidak seperti jaman saya dulu masih kuliah. Saya banyak masak masakan Indonesia karena semua bahan yang diperlukan hampir bisa didapat di toko-toko Cina atau Korea. Toh, waktu baru datang di Cipinang Indah, ibunya anak-anak memerintahkan madam Belgeduwelbeh masak lodèh, sayur asêm, sambel goreng (masakan yang juga saya masak bersama si Gendut di Amerika), rasanya kok maknyuss juga. Subyektivitas apakah ini?
Subyektivitasnya orang kangen atau subyektivitasnya orang yang fanatik atau supernasionalis? Semua yang dimasak di rumah sendiri pasti enaknya. Waduhh, kok bertumpuk-tumpuk roso subyektivitas itu! Gatot yang secara obyektif kecut bin nggêdabêl binti ngiler, jadi enak. Masakan rumah yang secara obyektif biasa-biasa saja, jadi seenak masakan restaurant berbintang. Apa roso kangen, kapang, sono, rindu, itu yang jadi penentu?
Lha, … terus yang dikangeni itu apa, lho?! Wong pergi juga cuma setahun. Dan negeri yang ditinggal setahun itu, ya masih begini-begini saja, lho. Saya tidak kunjung bisa memutuskan.
Istirahat yang tenang, Pak Kayam. Terima kasih sudah menginspirasi saya selama ini. 

Ah, saya jadi kangen rumah…

Indianapolis, Indiana, 4.15 pm. Salju makin tipis, meski Natal sudah menjelang.

21 December 2016

Arrigo Brovedani dan tribun penonton yang kian sepi

Saat Arrigo Brovedani melangkah keluar dari mobilnya di lapangan parkir Stadion Luigi Ferraris pada suatu malam musim dingin Desember 2012, ia tak akan mengira bahwa ia akan jadi satu-satunya penonton yang duduk di tribun suporter tandang pada hari itu. 

“Ketika saya bepergian untuk pertandingan tandang, biasanya akan ada 80 hingga 200 orang,” ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha wine ini. “Tapi karena (hari) ini Senin, waktu dan lokasi membuat saya berpikir takkan bertemu lebih dari lima atau enam orang di sini.” Ia menyetir pulang-pergi ke kota Genoa, tempat pertandingan dihelat, sejauh enam ratus mil dan memakan waktu empat jam. Sampdoria, sang tuan rumah, akan menjamu Udinese.

Brovedani, dengan rambut gimbal dan brewok lebat yang sekali pandang akan mengingatkan kita pada Marouane Fellaini campur Russell Brand, mendukung Udinese. “Saya selalu membawa bendera dan syal (Udinese) di mobil saya,” ujar lelaki yang berasal dari Spilimbergo, sebuah kota kecil di sebelah barat Udine ini. Hari itu, ia menjadi satu-satunya yang mengibarkan bendera tim berjuluk Il Zebrette ini, berhadapan dengan tak kurang dari dua puluh ribu pendukung tuan rumah Sampdoria seperti yang tercatat resmi oleh liga.

Oleh staf stadion, Brovedani ditawarkan untuk duduk di tribun utama. Namun, ia menolak dan memilih untuk duduk di tribun khusus penonton tandang sesuai yang tercantum pada tiketnya. “Pendukung tuan rumah mulai berteriak mengejek dan menghina seperti biasa,” akunya. Tapi, ketika mereka tahu apa yang terjadi, mereka memberikan saya tepuk tangan yang meriah.”

Brovedani-lah bintang utama pada malam yang dingin itu. “Ketika saya melihat para pemain Udinese melakukan pemanasan, saya berteriak pada mereka: ‘Hei, aku sendiri di sini. Sendiri! Kalian bisa mendengarku sekarang, tapi kalian takkan bisa lagi kalau pertandingan sudah dimulai!’” Dusan Basta dan kawan-kawan berhasil mencuri tiga poin penuh dari Luigi Ferraris malam itu berkat gelontoran dua gol dari Danilo Larangeira dan Antonio Di Natale, mengunci skor akhir 2-0. 

Tak pelak ia jadi idola. “Mereka (suporter Sampdoria) sebenarnya amat baik hati: mereka menawarkan saya makanan dan kopi, dan manajer klub memberikan saya kaus,” ujarnya seperti yang dilansir oleh CNN. Manajemen Udinese menawarkannya tiket gratis untuk pertandingan kandang selanjutnya; BBC bahkan mengundangnya untuk menonton pertandingan Premier League langsung di Inggris.

Bagi sebagian orang, kisah Brovedani mungkin tak lebih dari sekadar --- mengorupsi istilah seniman eksentrik Andy Warhol --- 90 minutes of fame. Namun, ada sesuatu yang lebih menarik di sebalik kisahnya, yaitu tentang makin sepinya bangku penonton di liga-liga sepak bola utama Eropa.

Ambil saja Serie A, tempat kisah ini berlangsung. Seiring dengan bergulirnya zaman, bangku-bangku stadion tim Negeri Pizza ini kian menunjukkan tanda-tanda takkan sering penuh terisi oleh penonton setia mereka. Musim lalu, kehadiran rata-rata di sebuah pertandingan Serie A adalah 22,640 orang, di atas Ligue 1 (20,980) namun dilampau oleh La Liga (28,170) dan Premier League (36,450). 

Data lain yang dikumpulkan oleh surat kabar olahraga terkemuka La Gazzetta dello Sport menemukan bahwa tren kehadiran suporter di stadion-stadion Italia secara konsisten menurun sejak musim 1991-92. Statistik teranyar untuk partai pembuka musim 2016/17 lalu menunjukkan bahwa total kehadiran suporter di seluruh stadion hanya sekitar 426,388 orang, menyisakan sekitar 49% tiket tak terjual dan tercatat sebagai rekor terendah sejak musim 2007-08.

Dan ini tak terbatas pada klub-klub semenjana bertabur pemain provinciale saja. Pertandingan panas sekelas Derby della Capitale antara Roma dan Lazio di Stadion Olimpico Roma pada awal Desember lalu, misalnya, hanya berhasil menarik sekitar 40 ribu penonton. Kapasitas Olimpico, salah satu stadion terbesar di Italia itu, adalah sekitar 70 ribu orang.

Pengamat kerap bersilang pendapat tentang masalah ini. Tentu saja, televisi dan Internet memainkan peranan penting dalam memindahkan lapangan hijau ke ruang tamu penonton. 

Namun, pendapat lain mengarah pada manajemen klub yang buruk menuai protes dari kalangan suporter yang biasanya menjadi bagian penting dalam memenuhi bangku-bangku stadion. 

Seperti yang dikatakan jurnalis James Horncastle, “para fans kecewa dengan keadaan klub. Banyak yang memutuskan untuk tak lagi hadir di pertandingan….sampai sang direktur eksekutif pergi.” Ia mengambil contoh ultras Roma dan Lazio yang tak lagi hadir bersorak di Stadio Olimpico lantaran kedua klub memutuskan untuk memasang partisi di Curva Nord dan Curva Sud Stadion Olimpico. Protes-protes lain juga bermunculan: mulai dari suporter Milan yang telah lama berusaha mendepak sang godfather Silvio Berlusconi, sampai protes pendukung Inter terhadap kepemilikan kolektif klub, salah satunya oleh pengusaha Indonesia Erick Thohir. 

Kondisi stadion lokal pun tak membantu. Selain Juventus dengan Juventus Stadium-nya, kebanyakan markas tim profesional Italia saat ini dibangun untuk helatan Piala Dunia 1990, lebih dari seperempat abad silam. Seperti yang ditulis oleh Chloe Beresford untuk The Guardian, masih banyak klub yang terikat utang dari program renovasi ini, yang tercatat melampaui 84% dari anggaran semula. Pembiayaan yang separuh ditanggung oleh Komite Olimpiade Italia, yang bersikeras memasang trek atletik di banyak stadion, membuat para penonton terletak jauh dari lapangan.

Beberapa stadion lain justru berusia lebih panjang: tribun-tribun Luigi Ferraris, tempat Brovedani berdiri malam itu, dibuka untuk umum pada 1911. Giuseppe Meazza/San Siro dibuka pada 1926, Olimpico Roma pada 1932, dan San Paolo pada 1959. Kebanyakan stadion tua itu dimiliki oleh dewan kota dan sering kali tak terurus dengan baik, apalagi bila dibandingkan dengan stadion-stadion di Inggris dan Jerman yang jauh lebih modern. Satu-satunya stadion yang berdiri pada abad ke-21 selain Juventus Stadium adalah San Filippo milik klub Serie B Messina yang dibuka pada 2004.

Terakhir, skandal judi dan pengaturan skor yang kerap kali membelit klub-klub Italia makin tak mengundah gairah suporter untuk datang langsung ke stadion. Pecahnya skandal calciopoli satu dekade silam tentu masih segar dalam ingatan dan menyebabkan pudarnya kepercayaan suporter terhadap institusi sepak bola lokal, terutama pada tim-tim papan atas yang ikut tersangkut seperti Juventus, Milan, Lazio, dan Fiorentina. 

Tak heran kalau insan-insan sepak bola Italia mulai bersuara mengenai hal ini. "Secara teknis, (Serie A) masih kompetitif, namun perbaikan harus dilakukan di sisi infrastruktur (untuk mengembalikan) hasrat penonton untuk kembali ke stadion,” ujar mantan arsitek Milan Claudio Ancelotti. 

Tentu kita tak bisa melupakan Juventus dengan konsep stadionnya yang visioner dan mulai ditiru klub-klub lain. Hanya sang Nyonya Tua, yang notabene cukup kaya untuk membongkar Stadion delle Alpi yang mereka beli dari dewan kota Turin dan membangun stadion baru di atasnya. Juve tercatat memiliki rekor kehadiran penonton terbaik di seluruh Italia sejak bermain di stadion berkapasitas sekitar 41,000 orang itu, memaksimalkan profit yang mereka tuai untuk bersaing di pentas Eropa. Perlahan, klub-klub lain seperti Roma, Inter, dan Milan, mulai membentangkan rencana untuk membangun kandang baru di masa depan. 

Jalan masih panjang buat klub-klub Italia untuk mengembalikan suporter mereka yang pernah begitu loyal dan terkenal, terutama pada masa-masa jayanya tiga dan empat dekade silam. Sementara menunggu stadion baru yang megah bermunculan satu-satu, rasanya mereka harus masih bergantung harap pada kisah-kisah individual seperti Brovedani ini. Seperti kata orangnya sendiri: “Saya tak pikir ini cerita yang begitu besar. Ada begitu banyak fans garis keras yang tak pernah ketinggalan satu pertandingan pun, jadi saya pasti bukanlah yang pertama!”

Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia pada Desember 2016.

16 December 2016

Cat's Eye continues to work hard despite poor viewership

--- behind the camera, Benson and Frazier is making Cat's Eye great again

For last three years, LN’s student-run television program Cat’s Eye has experienced major up and downs. From unannounced leave of its advisor to hiatus last fall, the program has returned to normalcy this year. And behind every announcement made and sports match shot, two men are running the show: Andrew Benson and Tyrone Frazier III.

“I’ve been always interested with high-tech stuff,” said Benson, a three-year veteran producer that has been through two different advisors. “When I first came here, my older brother was a big part of Cat’s Eye, and I want to uphold tradition Cat’s Eye has been known for.”

Frazier’s story was slightly different. Also a senior, he’s only been on the crew for two years after transferring from Perry Meridian. But like Benson, his childhood greatly influenced his choice. “I first picked up camera when I was two years old. Ever since, I’ve grew with video.” Taking up role as director, he is the guy in charge of everything. In addition, he is also “senior sports correspondent”, putting together match highlights from all LN sports team.

For them, the biggest challenge to run the program is keeping the crews’ creativity alive and well. “Making sure they get work done, but still having creative mindset,” Benson said. Notably, Cat’s Eye began to produce short, entertaining videos to accompany their announcements.

For Frazier, it is the skits that made Cat’s Eye better. “Last year, we didn’t have much control,” he said. “But we now had a little bit of freedom to do funny, interesting things. So that’s what I think made it a lot better.”

Tyler Goudreau, Cat’s Eye faculty advisor, agreed. “Every episode we put out is a step forward from the previous. So far, we’re getting there.”

The pair think that public reaction is now more positive. “I think the content has been a lot better, so people are actually watching the shows,” Benson said. For example, Cat’s Eye interviewed Olympics hurdles bronze medalist and LN grad Ashley Spencer several months ago, one of the major stories they run this year.

But Cat’s Eye still has a long road to go. One of the major obstacle now is its viewership. “We hit about 35 to 50 viewers per episode, which is technically less than total teachers that should turn in to the show,” Goudreau said.

Social studies teacher Corey McGarrell is one of the few teachers that routinely turned in the show every morning. “I think it is a good way to keep connected to all the different areas in the school.” As for the quality? “The anchors are doing nice job reading the news and announcements in a professional way.”

But still, Goudreau have positive words for the pair. “I think they are the first students we had in the long time, that stepped into the studio and taking things on themselves without complete handholding from me,” he said.

Graduating this year, they recounted their times of working together. Frazier said that he always liked the class. “It’s one of the class that you can come for 90 minutes and don’t have to sit and worry about logical thinking.” Benson somewhat agreed: for him, the people behind the cameras are the most special. “It’s a great group of people. Everyone can come together and have fun and make videos with cool ideas.”

And with each other, too. “Tyrone is a great guy,” Benson said. “Without Tyrone, I don’t think Cat’s Eye would be where it is at right now.”

“I think Benson is cool,” Frazier said. “When I get stressed out, because I’m a perfectionist, he calmed everybody down. We have the balance. That’s how we try to get it into the next level.”

An edited version of this story appeared in the 16 December 2016 edition of LN North Star, the student newspaper of Lawrence North High School, Indianapolis.

11 December 2016

Kala dua mesin gol Turin bersua di Olimpico

Sejak Juventus menjadi klub Italia pertama yang memiliki kandang sendiri, Derby della Mole tak lagi dimainkan di bawah satu atap seperti halnya derbi Milan atau della Capitale. Stadio Olimpico di Torino, tempat mereka bermain dari zaman sebelum Perang Dunia Kedua hingga awal 1990-an, kini dikuasai oleh Torino, rival sekota mereka dan rekan berbagi lapangan selama lebih tiga dekade dan dua periode berbeda. Pada Minggu (11/12) malam, pasukan Massimiliano Allegri ini akan “pulang” sebagai tim tamu, menghadapi tantangan Il Granata di pertandingan lanjutan Serie A.

Sebagai pemuncak klasemen, Juventus jelas difavoritkan untuk memenangkan pertemuan kali ini. Bianconeri akan tiba di Olimpico dengan motivasi ekstra setelah mengalahkan Dinamo Zagreb di partai terakhir fase grup Liga Champions, mengunci posisi mereka sebagai juara grup. Di tanah sendiri, mereka juga berjarak empat poin dari pesaing terdekat, Roma dan Milan. Kebijakan rotasi pemain yang efektif dari allenatore Allegri memastikan bahwa Juventus akan tampil dengan kekuatan penuh untuk cepat-cepat mengamankan scudetto musim ini, kali keenam berturut-turut sejak 2010.

Sementara itu, tuan rumah sedang berada dalam posisi yang kurang menguntungkan. Empat pertandingan tak terkalahkan Il Toro terputus pekan lalu, saat terpaksa tunduk dua gol tanpa balas dari Sampdoria di Luigi Ferraris. Pelatih Sinisa Mihajlovic, di musim pertamanya bersama Torino, tentu saja tak ingin mengecewakan para suporter akan janjinya untuk membawa angin perubahan ke ruang ganti. Untuk mengamankan jatah tiket ke Eropa musim depan, mereka harus sekuat tenaga bersaing dengan Napoli dan Fiorentina, yang pekan lalu sama-sama menangguk kemenangan.   

Juventus diperkirakan akan menurunkan formasi 3-5-2, taktik yang sejauh ini bekerja dengan baik sesuai dengan rencana Allegri. Absennya Andrea Barzagli dan Leonardo Bonucci di lini belakang tak akan jadi masalah besar bagi sang capolista, terutama setelah performa apik Daniele Rugani di Zagreb beberapa hari yang lalu menunjukkan bahwa bek muda anggota tim nasional Italia ini dapat dipercaya untuk menahan gempuran serangan Torino. Kehadiran Benatia, yang kerap digilirkan dengan Bonucci sebagai bek tengah, memastikan pertahanan Sang Nyonya Tua yang sampai hari ini masih mencatat rekor terbaik di liga dengan hanya kebobolan 13 gol, berada di kaki dan tangan yang aman.

Dari lima gelandang yang dimainkan Allegri kontra Zagreb, tiga diperkirakan akan diparkir: Kwadwo Asamoah, Mario Lemina, dan Juan Cuadrado. Lemina, yang tampil apik saat dipercaya mengatur tempo permainan, akan digantikan oleh Sami Khedira. Stephan Lichtsteiner dan Alex Sandro, yang bermain sembilan puluh menit melawan Atalanta pekan silam, akan kembali diturunkan. Di pos penyerang, meskipun Paulo Dybala diperkirakan akan siap untuk bermain, namun Allegri dikabarkan akan menaruh kepercayaan pada duet Gonzalo Higuain dan Mario Mandzukic, yang telah mencetak sebelas dari 32 gol Juventus sejauh ini.

Torino juga diperkirakan akan menurunkan skuat terbaiknya, dengan seluruh tim utama akan cukup bugar untuk menghadapi lawatan sang tetangga. Untuk mengisi formasi 4-3-3 ala Mihajlovic, sang allenatore akan menghadapi pilihan yang cukup berimbang antara Davide Zappacosta atau Lorenzo De Silvestri sebagai bek kanan. Zappacosta, yang sejauh ini memiliki persentase umpan sukses lebih tinggi (83.7%) ketimbang De Silvestri (73.9%) difavoritkan untuk kembali mengisi sayap kanan, meski De Silvestri mencatat assist terbanyak di antara pemain Torino lain (4), terutama setelah peran krusialnya menyusun ulang pertahanan gawang Joe Hart kala melawat Sampdoria pekan lalu.

Di lini tengah Il Toro, gelandang veteran Mirko Valdifiori akan bahu-membahu bersama sayap Daniele Baselli dan Marco Benassi untuk memproduksi peluang-peluang maut ke lini depan, yang musim ini menjelma menjadi salah satu ciri khas utama skuat Mihajlovic. Dipimpin talenta muda dan pencetak gol terbanyak Andrea Belotti (10 gol), trio yang diperkuat Iago Falque (7 gol) dan Adem Ljajic (5 gol) ini akan menjadi momok utama lini pertahanan Juventus. Belotti, yang baru saja menandatangani perpanjangan kontrak, tentu saja akan mencari-cari peluang untuk menegaskan reputasinya sebagai harapan baru buat Gli Azzurri: musim lalu, tendangan penaltinya mengakhiri rekor tak kebobolan di kandang milik legenda Juventus Gianluigi Buffon. Sepuluh gol yang dicetaknya sejauh ini hampir menyamai total golnya musim lalu (12), dan tak ada tanda-tanda ia akan berhenti.

Meskipun begitu, tak dapat dibantah bahwa statistik tak begitu memihak pada sang tuan rumah. Juventus telah memenangi 10 dari 11 pertandingan terakhir atas Torino dalam seluruh kompetisi, dan Torino hanya dapat memenangkan satu dari 20 Derby della Mole terakhir di Serie A. Pertemuan terakhir mereka pada Maret awal tahun ini, juga di Olimpico, berakhir dengan kemenangan telak 1-4 Sang Nyonya Tua, diwarnai dua gol dari Alvaro Morata.

Uniknya, kemenangan terakhir Torino atas Juventus, yaitu pada bulan April 2015 yang berakhir dengan skor 2-1 untuk tuan rumah di Olimpico, dicetak oleh tim asuhan Giampiero Ventura yang memainkan 3-5-2 melawan pasukan Allegri yang bermain dengan 4-3-1-2. Pencetak gol kemenangan Il Toro, tak lain dan tak bukan adalah Fabio Quagliarella, eks Juventus.

Rekor kandang dan tandang juga akan berperan penting di sini. Torino dapat berharap pada tuah Olimpico, stadion yang mereka bagi kepemilikannya bersama dengan Juventus dari tahun 1958 hingga 1990 dan kedua kalinya dari 2006 hingga 2011. Il Toro tak terkalahkan di stadion berkapasitas tiga puluh ribu orang itu musim ini, mencatatkan rekor lima kemenangan dan tiga imbang, termasuk menghancurkan Roma 3-1 pada akhir September silam dan mengalahkan Fiorentina 2-1 pada awal Oktober. Di sisi lain, Juventus mengoleksi tiga kekalahan dari enam pertandingan tandang terakhirnya di liga: kekalahan memalukan 3-1 dari Genoa di Luigi Ferraris pada akhir November silam tentu saja masih segar dalam ingatan.

Pada akhirnya, lini serang akan jadi fokus utama derby kali ini. Juventus boleh dibilang memiliki kolektivitas penyerangan terbaik di Serie A musim ini, dengan tujuh pemain berbeda telah mencetak lebih dari dua gol. Tetapi, barisan bomber muda Torino telah mencetak paling tidak lima gol, menjadikan mereka sebagai salah satu barisan penyerangan paling produktif di Eropa. Menarik untuk melihat bagaimana Belotti dan Higuain akan berjibaku menembus barisan pertahanan sang lawan untuk memastikan kemenangan tim masing-masing.

Meskipun begitu, sisi putih dan hitam diperkirakan masih akan pulang ke sisi lain kota Turin, melewati menara museum Mole Antonelliana yang tinggi menjulang dan menjadi asal nama salah satu rivalitas tertua sepak bola Italia itu, dengan tiga poin tergenggam di tangan.

Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia.

09 December 2016

Torino: dihantui Superga, dibayangi Juventus

Il Grande Torino: terbaik pada masanya



Tak lama setelah kabar tragis tiba dari Kolombia, tempat pesawat yang ditumpangi klub Brazil Chapecoense menjabat nasib terakhirnya, sepak bola dunia seketika tersentak. Pemain, pelatih, klub, dan suporter bergantian menyatakan duka atas tewasnya tujuh puluh satu penumpang dalam penerbangan malang itu, termasuk 22 pemain inti dan staf pelatih yang dijadwalkan akan berlaga di final Copa Sudamericana 2016.

Tanda pagar #ForçaChape cukup menggambarkan duka atas tragedi itu. Dari seluruh pernyataan berkabung, tak ada yang lebih kuat maknanya ketimbang sepatah cuitan dari akun resmi klub Serie A, Torino. “Takdir mengikat kita dengan erat,” tulis Il Granata. “Kami bersama kalian, sebagai saudara.” Tragedi ini tiba kurang dari dua minggu sebelum Torino akan menghadapi rival sekota mereka, Juventus, dalam pentas Derby della Mole.

Torino, klub berwarna kebesaran merah tua ini, adalah bukti paling sahih bagaimana sebuah tragedi dapat mengubah wajah sebuah klub sepak bola untuk selama-lamanya.

Sepak bola tiba di Turin pada akhir abad ke-19, dibawa oleh para saudagar Swiss dan Inggris. Beragam macam tim sepak bola berkembang dan tumbang sebelum klub “besar” pertamanya, Juventus, didirikan pada 1897. Tak butuh waktu lama buat tim berseragam pink dan hitam itu untuk mengukir nama: pada 1905, mereka keluar sebagai juara kejuaraan nasional.

Torino Football Club lahir dari sebuah pemberontakan. Setahun setelah juara liga, konflik internal meletus di tubuh La Vecchia Signora. Setelah kalah dalam perebutan kuasa dengan dewan direksi, Presiden Alfred Dick meninggalkan klub, diikuti serombongan loyalisnya. Pada 3 Desember 1906, Torino didirikan.

Sebulan kemudian, kedua tim berhadapan-hadapan buat kali pertama. Bermain di Velodrome Umberto I, klub pemberontak ini menang 2-1. Inilah edisi pertama Derby della Mole. Namanya diambil dari Mole Antonelliana, bangunan museum tinggi menjulang di pusat kota Turin, salah satu landmark ibu kota wilayah Piedmont itu.

Torino dan Juventus saling bersaing di kejuaraan, namun sang saudara tua mengklaim pamor lebih tinggi, terutama setelah Eduardo Agnelli, pemilik raksasa otomotif Fiat mengambil alih kuasa pada 1923. Di bawah pimpinan Carlo Carcano, Bianconeri  memenangkan lima scudetto berturut-turut dari musim 1930 hingga 1935. Pemain-pemain mereka menjadi tulang punggung tim nasional Italia asuhan Vittorio Pozzo yang memenangkan Piala Dunia 1934, sementara tak satupun pemain Torino terpilih.

Dari sisi budaya, Torino dan Juventus perlahan jadi dua sisi koin yang berbeda. Novelis Mario Soldati dalam novelnya, “Two Cities” (1964), menggambarkan dua karakter, Emilio dan Giraudo. Emilio adalah suporter Juventus, “tim para lelaki terhormat, pionir industri, penganut sekte Yesuit, para konformis, yang lulus sekolah menengah.” Sedang Giraudo mendukung Torino, “tim para pekerja, imigran, kelas menengah ke bawah, dan kaum miskin.” Ini ibarat Real Madrid dan Atletico Madrid, atau River Plate dan Boca Juniors.

Namun tim kelas pekerja dan pemberontak ini pulalah yang kemudian melahirkan tim sepak bola paling diingat sepanjang masa: Il Grande Torino.

Diarsiteki presiden klub Ferruccio Novo, fondasi tim terbentuk dengan merekrut talenta muda seperti kapten dan gelandang serang Valentino Mazzola, bek Aldo Ballarin, dan kiper Valerio Bacigalupo. Tak puas dengan taktik “metodo”, yang umum dianut klub Italia saat itu dan membawa Azzurri menjuarai dua Piala Dunia, Novo mendobrak tradisi dengan memainkan formasi W-M yang diperkenalkan pelatih Arsenal Herbert Chapman. Alih-alih dua bek di lini belakang, taktik yang jamak disebut sistema ini lebih kurang berformat 3-2-2-3, memainkan dua gelandang dan dua mezzepunte. Kelak, taktik inilah yang menjadi dasar totaal football ala Belanda.

Tak ada yang menduga bahwa sistem ini bekerja dengan brilian. Di tengah kecamuk Perang Dunia Kedua, Torino memenangkan kejuaraan perang 1944. Sejarah mulai ditulis. Lima musim berikutnya, mereka menyapu bersih empat scudetto dibawah asuhan pelatih asal Hungaria, Egri Ebstein.

Pasukan tangguh ini mencetak banyak rekor: 20 pertandingan tak terkalahkan pada musim kedua, memenangkan liga di musim keempat dengan terpaut enam belas poin dari Milan di peringkat kedua, dan mencetak 107 gol dalam satu musim pada 1946-47, rata-rata tiga setiap pertandingan. Di kandang mereka, Stadio Filadelfia Torino, Il Toro tak terkalahkan dalam 93 pertandingan antara 1943 dan 1949. Selama lima musim bersama, Il Grande Torino mencetak 483 gol dan hanya kebobolan 165 gol.

Menggantikan peran Juventus, Torino menjadi pemasok pemain utama ke tim nasional Italia: dalam sebuah pertandingan persahabatan melawan Hungaria pada 1947, 10 dari 11 pemain di starting line-up Azzurri asuhan Pozzo adalah dari Torino.

Persis Chape, Torino musnah di puncak kejayaannya.

Pada 4 Mei 1949, setelah bermain dalam partai persahabatan kontra Benfica di Lisbon, skuat Torino terbang pulang ke Italia. Cuaca buruk, angin kencang, dan kabut tebal menyambut mereka di Turin sore itu. Sekitar pukul 5.05 sore, salah satu tim sepak bola terbaik yang pernah dimiliki Italia menyambut ajal di kaki bukit Superga.

Pozzo, yang telah meninggalkan kursi kepelatihan Italia, ditugaskan untuk mengidentifikasi jenazah I suoi ragazzi, anak-anak asuhannya. Pada koran La Stampa, ia berkata: “Tim ini tewas dalam aksi, seperti sekelompok tentara di medan perang, yang meninggalkan parit pertahanan mereka dan tak pernah kembali.”

Kabut duka menyelimuti seluruh Italia, negeri yang baru saja bangkit dari reruntuhan kekalahan di Perang Dunia Kedua dan menjadikan Il Grande Torino sebagai harapan baru mereka. Setengah juta orang memadati proses pemakaman para korban, mengantarkan jenazah mereka yang diselimuti bendera negara masing-masing di atas peti mati yang diarak oleh truk.

Ketua Federasi Sepak Bola Italia, Ottorino Barassi, menyampaikan pidato yang diiringi isak tangis di depan arak-arakan jenazah itu, mengumumkan Torino sebagai juara Serie A 1948-49. Itu adalah gelar kelima buat skuat yang telah musnah, gelar keenam buat klub sepanjang sejarah, dan gelar penutup sebuah era yang penuh sejarah.

Sore kelam di Superga itu tak pernah lepas dari ingatan setiap suporter Torino. “Saya mengingatnya dengan sangat baik, karena setiap remaja lelaki dan pria dewasa di generasi saya mengingat persis dimana mereka berada dan apa yang mereka lakukan saat mendengar kabar itu,” ujar reporter veteran Gazzetta dello Sport Rino Tommasi, yang saat itu tinggal di Turin.

Tak seperti Manchester United yang menjuarai Piala Champions sepuluh tahun setelah pesawat mereka celaka di Munich, Torino tak pernah pulih seperti sedia kala. Mereka tak pernah dapat lepas dari bayang-bayang Il Grande Torino, juga tak pernah dapat kembali menyaingi rival sekota mereka.

“Ada seorang petugas seragam yang selalu menceritakan pada kami tentang Bacigalupo dan Mazzola, agar kami melanjutkan tradisi Il Grande Torino,” ujar Renato Zacarelli, yang bergabung dengan akademi Torino lima belas tahun usai nahas itu. “Anda merasakannya saat latihan dan di ruang ganti. Anda harus berjalan di terowongan yang pernah mereka lalu, kereta yang pernah mereka naiki, dan lapangan tempat mereka bermain.”

Torino terdegradasi ke Serie B buat pertama kali pada 1959. Di era 1960-an, dibawah pimpinan Nereo Rocco, mereka sempat menaruh asa untuk kembali ke jajaran elit, namun terpatahkan dengan satu lagi tragedi: tewasnya sang ikon, Gigi Meroni, pada 1967. Pada 1976, Torino dibawah pimpinan Zacarelli, memenangkan scudetto ketujuh mereka, dan yang terakhir sejauh ini. Il Granata menghabiskan 1980-an, 1990-an, dan 2000-an turun-naik berganti kasta, setiap tahun bergulir memupus sedikit demi sedikit impian untuk membangun kembali Il Grande Torino.

Mereka juga tak dapat lagi menyaingi Juventus. Sang saudara tua menguasai Italia, Eropa, dan bahkan dunia, dengan berderet-deret scudetto, Coppa Italia, dan Liga Champions. Mereka juga meneruskan peran Torino sebagai pemasok pemain utama ke tim nasional Italia, merebut gelar La Fidanzata d’Italia, sang kekasih Italia. Sementara itu, Torino tak pernah lagi mendekat ke titel juara liga. Mereka baru bisa kembali ke Eropa pada 1992, saat mereka mencapai final Piala UEFA. Baru dua dekade berselang mereka kembali, dipimpin Giampiero Ventura.

Derby della Mole, yang dulunya pernah jadi salah satu derby tersengit di seantero negeri, kini tak lebih dari ajang mengafirmasi superioritas sisi hitam-putih kota Turin.

Saat para pemain Torino memasuki lapangan untuk menghadapi Juventus, kini pemuncak liga, Minggu malam nanti, kenangan masa lampau mereka tentang Superga masih akan dibanding-bandingkan dengan celaka Chape di Kolombia.

Di saat yang sama, mereka masih harus berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang Juve, yang difavoritkan menggondol gelar juara liga kelima mereka berturut-turut, persis Il Grande Torino puluhan tahun silam.

Mole Antonelliana, bangunan tinggi menjulang itu, masih akan jadi penanda bahwa bayang-bayang itu masih ada.

Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia pada Desember 2016.

07 December 2016

Menelaah ulang kebangkitan Lazio

Lima bulan lalu, ruang ganti Lazio tampak seperti sedang dilamun badai.

Tim ibu kota ini baru saja menyelesaikan musim yang mengecewakan: mereka terpuruk di peringkat kedelapan di Serie A; di Eropa, mereka tertendang keluar dari Liga Champions oleh Bayer Leverkusen di fase 16 besar; dan petualangan mereka di Liga Europa juga berakhir di tahap yang sama oleh Sparta Prague. Pelatih Stefano Pioli dipecat pada bulan April setelah kalah dari rival sekota Roma, dan kendali tim diberikan pada Simone Inzaghi yang tetap saja tak sanggup mengangkat performa tim, memastikan mereka terbuang dari kompetisi Eropa untuk musim 2016-17, kali keempat sejak sepuluh tahun terakhir.

Yang terjadi pada Lazio setelah musim menutup tirai juga tak membuat para suporter menaruh harapan besar. Pelatih eksentrik Marcelo Bielsa mengundurkan diri kurang 48 jam setelah menerima mandat, memaksa Presiden Claudio Lotito untuk kembali berpaling pada Inzaghi sebagai pejabat sementara meskipun disambut dengan protes keras dari para suporter.

Sementara itu, skuat musim lalu satu demi satu berangsur copot. Pemain-pemain yang berperan penting menjaga I Bianconcelesti tak keluar dari sepuluh besar angkat kaki dari Olimpico: mulai dari bek kanan Abdoulay Konko, bek tengah Santiago Gentiletti, striker veteran Miroslav Klose, sampai pencetak gol terbanyak Antonio Candreva. Nama-nama besar lain seperti Lucas Biglia dan Felipe Anderson juga santer dirumorkan bakal mengepak koper, walaupun pada akhirnya tak terealisasi.

Namun, lima bulan kemudian, sisi putih-biru ibu kota Italia itu duduk nyaman di peringkat keempat liga, berselisih delapan poin dari capolista Juventus, dan hanya satu poin dari Milan di peringkat ketiga dan Roma di peringkat kedua. Ciro Immobile dkk tak terkalahkan di liga dalam delapan pertandingan terakhir, termasuk menahan imbang Napoli di Naples, sebelum tunduk pada Roma di Derby Della Capitale. Biancocelesti kembali difavoritkan untuk jadi pesaing serius di Serie A musim ini, setidaknya untuk merebut satu tiket zona Eropa.

Pertanyaannya: bagaimana mereka bisa membalikkan semua itu?

Simone Inzaghi tak pernah lepas dari bayang-bayang kakaknya, mantan kapten Milan Filippo Inzaghi.

“Buat orang-orang di luar Lazio, ia tak lebih dari adik kecil Filippo,” tulis Paolo Bandini di The Guardian. Tiga tahun lebih muda daripada Filippo, ia menghabiskan sebelas musim bermain untuk Lazio sebagai penyerang, mengemas tiga penampilan bersama tim nasional Italia sebelum pensiun pada 2010 dan bergabung dengan jajaran kepelatihan Gli Aquilotti.

Sebelum diangkat menggantikan Pioli pada April tahun ini, Inzaghi melatih tim Allievi dan Primavera. “Cita-cita saya adalah menjadi pelatih Lazio,” ujarnya tanpa segan setelah mengambil alih kendali tim musim lalu. “Saya adalah pelatih hari ini, namun saya juga ingin menjadi pelatih di masa depan.”

Kalimat terakhir sempat hampir terbengkalai selama dua hari di awal Juli setelah Lotito memutuskan untuk menunjuk Bielsa sebagai pelatih kepala alih-alih mempermanenkan Inzaghi. Tapi waktu tidak berselang lama sebelum sang presiden memutuskan bahwa ia lebih cocok untuk menyetir tim, kali ini beserta kontrak permanen.

Dengan kata lain, Simone berhasil melampaui bayang-bayang Filippo, yang dipecat dua musim lalu oleh AC Milan setelah awal yang tampak menjanjikan namun semakin lama semakin menurun. Tak heran bila sang legenda Milan itu sendiri yang pertama kali mengucapkan selamat setelah Lazio memanggil Simone kembali.

Dengan hati-hati, Inzaghi menyetir Lazio dari keterpurukan musim lalu. Pembelian pertamanya adalah bek asal Belgia Jordan Lukaku, disusul ujung tombak Sevilla dan Gli Azzurri Ciro Immobile. Bagaikan rahmat tak terduga, ia diuntungkan dengan hanya perlu fokus pada liga domestik, salah satu keunggulan utama Lazio ketimbang pesaingnya yang lain di zona Eropa.

Menyiasati bolongnya lini tengah yang ditinggal pergi Candreva ke Inter Milan, Inzaghi memilih memainkan formasi 4-3-3 dengan mengandalkan trio Marco Parolo, Lucas Biglia, dan Senad Lulic. Tak ada yang baru dari formasi ini; perbedaan terbesar hanyalah bila musim silam poros serangan berpusat pada Candreva, kini Immobile yang jadi harapan.

Lazio juga terbukti dapat beradaptasi dengan strategi lain bila keadaan memaksa. Kontra Pescara pada akhir September silam, misalnya, Inzaghi memilih menurunkan 3-5-2 untuk meredam Il Delfini yang terkenal solid dalam menghadapi tim yang bertaktik 4-3-3.“Kami mengambil resiko dengan 3-5-2, yang membuat kami memainkan Senad Lulic dan Anderson berperan sebagai sayap untuk mendukung serangan,” ujar Inzaghi pasca pertandingan.

Namun pertaruhan itu terbayar: trio Sergej Milinkovic-Savic, Danilo Cataldi, dan Parolo berhasil mengatasi umpan-umpan pendek pasukan asuhan Massimo Oddo itu. Lazio berhasil menang 3-0, dengan gol-gol datang dari tiap lini: gol pembuka dari bek Stefan Radu, gol kedua dari Milinkovic-Savic, dan gol penutup dari Immobile.

Musim ini, Lazio telah bermain delapan kali menggunakan formasi empat bek (4-3-3 atau 4-3-2-1), mencatatkan lima kemenangan dan tiga imbang. Sebaliknya, formasi tiga bek (3-5-2, 3-4-3, atau 3-5-1-1) dimainkan sebanyak lima kali, dengan rekor dua kali menang, sekali kalah, dan sekali imbang.

Permainan Lazio musim ini seakan mata rantai yang hanya dapat berfungsi bila seluruh komponen lengkap terpasang. Di lini serang, misalnya, peran krusial Ciro Immobile yang telah mencetak sembilan gol musim ini tak dapat diabaikan, namun begitu pula dengan Felipe Anderson yang telah melepas lima assist, terbanyak musim ini. Tak heran sisi kiri yang ditempati Anderson menjadi salah satu kekuatan utama dalam penyerangan mereka musim ini. Begitu pula di belakang: agresivitas Stefan Radu di sayap kanan diimbangi oleh kesolidan Wallace memenangkan duel-duel udara di lapangan tengah.

Terakhir, pendekatan ala Inzaghi ini ditunjang pula dengan kepercayaan yang ia taruh pada para pemain muda. “Kami memiliki delapan pemain yang lahir setelah 1993 dan saya tidak punya masalah untuk memainkan mereka,” ujar sang pelatih. Benar saja: pemain muda seperti gelandang Milinkovic-Savic, penyerang Keita Balde Diao, sampai kiper Thomas Strakosha (semuanya masih berusia 21 tahun) cukup sering diturunkan untuk memberikan nafas segar bagi tim. “Ia memiliki karakternya sendiri. Ia masih muda dan punya mentalitas mirip kami, yang saya rasa merupakan sebuah kelebihan,” ujar bek senior Dusan Basta.

Pujian pun mulai mengalir, meski akhir musim belum hampir. “Inzaghi telah membangun tim yang kuat dengan pemain muda bertalenta, dan kali ini mereka akan mengejar satu tempat di enam besar,” ujar pelatih Juventus Massimiliano Allegri, salah satu dari dua tim yang mampu menundukkan mereka musim ini.

Para pemain juga merasakan hawa positif dari kepemimpinan Inzaghi. “Dia memberikan kami kebebasan dan kekuatan baru,” ujar gelandang Marco Parolo. “Dia membuat kami merasa tenang dengan metodenya. Kami hanya berpikir untuk berbuat yang terbaik dari pertandingan ke pertandingan, dan sejauh ini pekerjaan kami mulai membuahkan hasil,” Basta mengamini.

Namun, Lazio masih jauh dari kata selesai. Sejauh ini, Lazio masih belum mampu menang melawan tim-tim papan atas lain seperti Juventus dan Milan, serta hanya dapat menahan imbang Napoli. Setelah menghadapi Palermo akhir pekan ini, mereka akan menghadapi rival sekota Roma di Derby della Capitale, yang akan menjadi ujian terbesar untuk memastikan kesuksesan mereka bertahan di zona Eropa.

Membangun skuat yang dapat benar-benar bersaing untuk gelar juara juga tampaknya masih jauh dari harapan. Terlebih dahulu, Lazio harus dapat mempertahankan pemain-pemain pentingnya seperti Anderson dan Biglia dari kejaran tim-tim Premier League, yang dikabarkan mulai menunjukkan minat. Satu hal lain yang lebih penting, klub harus dapat mempertahankan Inzaghi, yang hanya diikat kontrak sampai akhir musim ini.

Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia.

06 December 2016

Menanti sinar Simeone junior


 
Seisi Stadion Luigi Ferraris mungkin tak berharap muluk-muluk kala pemuncak liga Juventus datang melawat pada laga lanjutan Serie A, Minggu (27/11) silam. Sang tuan rumah Genoa tengah kehilangan bomber utama mereka, Leonardo Pavoletti, yang telah mencetak tiga gol musim ini akibat cedera. Pelatih Ivan Juric memilih menurunkan Giovanni Simeone sebagai penyerang utama, diapit Lucas Ocampos dan Luca Rigoni.
 
Dan tak ada pula suporter I Rossoblu yang mengira bahwa pada menit ketiga, Simeone membuka keunggulan klub asal Liguria itu dengan penyelesaian sempurna dari jarak dekat, tak dapat dihalau kiper Gianluigi Buffon. Itu gol pertamanya dalam enam pertandingan terakhir, dan gol ketiganya di liga musim ini.
 
Sepuluh menit kemudian, seisi stadion kembali menahan nafas saat Simeone menggandakan keunggulan atas sang juara bertahan lewat sundulan mautnya. Ini kali pertama Genoa mencetak lebih dari satu gol ke gawang I Bianconeri sejak Oktober 2011, kala mereka menahan imbang pasukan asuhan Antonio Conte itu di Turin.
 
Enam belas menit berselang, Juventus justru kebobolan akibat kecerobohan salah satu palangnya, Alex Sandro, memperparah taburan garam ke atas luka kekalahan yang pada akhirnya tetap saja tak dapat diredam gol Miralem Pjanic delapan menit jelang peluit akhir. Sang raksasa pulang dari Luigi Ferraris dengan kepala tertunduk, sedikit banyak akibat seorang pemuda bernama belakang Simeone.
 
Giovanni Simeone Baldini dilahirkan di Madrid, dua puluh satu tahun silam. Saat itu, ayahnya Diego baru saja menyelesaikan musim pertamanya bersama klub ibu kota Atletico Madrid, setelah sebelumnya menghabiskan dua musim bersama Sevilla. Dua bulan jelang ulang tahun pertamanya, ayahnya membawa pulang dua medali juara: Primera Division, dimana Atletico menumpaskan tempelan ketat Valencia dan Barcelona di laga-laga akhir; dan Copa del Rey, mengalahkan Barcelona di partai puncak di La Romareda.
 
Keluarga Simeone hijrah ke Italia, mengikuti karir sang bapak yang bersinar bersama Inter Milan dan Lazio. Enam tahun di sana, Diego pulang kampung ke Vicente Calderon, namun hanya dua musim saja sebelum menuntaskan karir sepak bolanya yang gemerlap bersama Racing Club de Avellaneda di kasta tertinggi Argentina pada musim panas 2006. Dalam kalimat Giovvanni: “ia hidup bersama sepak bola setiap harinya, dari lapangan sampai meja makan.”
 
Pada masa yang sama, Giovanni mulai bergelimang dengan lapangan hijau. Ia pertama bergabung bersama tim muda River Plate, tempat ayahnya melatih. “Sejak saya masih kecil, situasinya tidak begitu mudah: semua orang berpikir bahwa saya bermain sepak bola hanya karena saya adalah putra Simeone. Padahal tidak begitu,” ujarnya dalam satu wawancara. Diego memang diangkat sebagai pelatih kepala Los Millionarios pada musim dingin 2007, menggantikan bos legendaris Daniel Passarella.
 
Menggocek bola sambil dibayang-bayangi ayah sendiri yang punya nama di lapangan bola tentu saja merupakan dilema yang tak asing lagi bagi para pemain muda. Bila tersilap langkah, publik akan segera membanding-bandingkan mereka dengan kehebatan ayah mereka. Tak kurang dari Jordi Cruyff, putera legenda Belanda Johan Cruyff, atau Darren Ferguson, pewaris nama belakang Sir Alex Ferguson, yang terhitung tak dapat melepaskan diri dari bayang-bayang seperit.
 
Namun Giovanni beruntung. Ayahnya meninggalkan Argentina setelah kekalahan River di perempatfinal Copa Sudamericana pada bulan November 2008 dari Chivas Guadalajara, kurang sebelas bulan dari pengangkatannya. “Saya hanyalah seorang pemuda biasa yang ingin bermain sepak bola, berlatih dan masuk tim utama,” tegas Giovanni. “Anda tak bisa membandingkan kami. Saya Giovanni, dan dia ayah saya.”
 
Pada akhirnya Giovanni memang berlatih dan masuk tim utama River tiga tahun kemudian, menandatangani kontrak profesional pertamanya pada November 2011. Debutnya di liga berakhir dengan kekalahan tandang dari Gimnasia La Plata pada Agustus 2013. Setahun kemudian, manajemen River meminjamkannya ke Banfield, tempatnya mencetak dua belas gol dari 34 penampilan dan mulai menuai lirikan dari klub-klub Eropa.
 
Ada cerita menarik saat Giovanni akhirnya hijrah ke Benua Biru pada musim panas tahun ini, dan barangkali dapat pula menggambarkan bagaimana hubungan ayah dan anak Simeone ini.“Saya ingin meminta nasihat dari ayah saya, tapi ia sedang dalam perjalanan ke Australia dan saya tak dapat menghubunginya. Pada akhirnya, saya justru berbicara dengan bibi saya, dan ia berkata saya harus mengambil keputusan dengan cepat,” cerita Giovanni. 
 
Tanpa mengontak ayahnya, sang penyerang muda memutuskan menerima tawaran Enrico Preziosi untuk bergabung dengan Il Grifone pada akhir Agustus dengan biaya transfer 3 juta euro.
 
Simeone senior sendiri nyatanya tak begitu mengambil pusing karir anaknya. “Saya tak pernah menunjukkan apa yang harus ia lakukan secara spesifik,” ujar jenderal lapangan tengah tim nasional Argentina era 1990an ini. “Kami sering berbicara lewat telepon. Tapi kami berbicara tentang kehidupan, yang saya rasa lebih penting.”
 
Dalam wawancara terpisah untuk Gazzetta dello Sport, Diego menyatakan kegembiraannya soal keputusan Giovanni. “Dia bisa belajar dan berkembang di sana. Memang tak mudah, tapi saya pikir dia punya kapasitas yang diperlukan.” Pada konferensi pers pertamanya bersama Genoa, sang junior mengamini pernyataan itu. “Sulit beradaptasi dengan sepak bola Italia. Kecepatan dan tekniknya berbeda, tak hanya di pertandingan tapi juga saat latihan.”
 
Secara teknis, dua Simeone ini jelas berbeda. Diego merupakan gelandang serang bertenaga yang dapat memenangkan duel udara dan tekel keras sama baiknya, tipikal penghuni lini tengah klasik yang ia gambarkan sebagai “menjepit pisau di sela-sela gigi.” Giovanni, di sisi lain, adalah seorang penyerang tengah murni, No. 9 klasik, yang mengingatkan mantan pelatihnya di Banfield akan Patrick Vieira muda. 
 
Tetap saja, buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Giovanni mengantar Argentina menjadi kampiun Kejuaraan Sepak Bola Muda Amerika Selatan 2015 dan mengepak pulang titel pencetak gol terbanyak dengan 9 gol. Mantan bek Milan Alessandro Costacurta, yang menghabiskan puluhan menit berjibaku melawan ayahnya di Serie A, dapat merasakan karakter keras El Cholo membekas pada puteranya. “Dari karakternya, saya dapat melihat Giovanni adalah putera Diego,” ujar Costacurta.
 
Dan dua gol ke gawang Juventus itu hanyalah satu bentuk afirmasi lain atas perbandingan dua pria itu. “Sebelum setiap pertandingan, saya berbicara dengan ayah saya, walaupun tak selalu tentang sepak bola,” aku Giovanni. Ia masih tetap menegaskan bahwa ia ingin menjadi seorang pria dewasa, seorang Giovanni Simeone yang bebas dari bayang-bayang siapapun. "Saya hanyalah Giovanni, seorang pemuda yang ingin berkembang dan bertambah baik.”
 
Tapi tak dapat pula ia menampik pengaruh seorang Simeone lain masih kuat membayang bersama tiap langkah kaki dan sepakan kerasnya. “Ia memang mengatakan bahwa saya akan mencetak gol ke gawang Juventus. Saya telah memenuhi keinginannya. Hari ini adalah hari terbaik dalam karir saya.”
 
Ia berhenti sejenak.
 
“Paling tidak, sejauh ini.”
 
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia pada Desember 2016.