Selama dua puluh tahun menukangi Arsenal, Arsene Wenger terkenal sebagai seorang pelatih yang berhati-hati, taktis, dan penuh perhitungan. Bukan tanpa sebab lelaki Perancis ini diberi gelar Sang Profesor oleh kawan maupun lawan. Ibarat seorang profesor betulan, pemenang tiga kali Liga Premier ini selalu berusaha untuk meramu taktik agar dapat memaksimalkan timnya di semua ajang, baik itu di liga domestik, Liga Champions, Piala FA, maupun turnamen lainnya. Dalam kata lain, Profesor Wenger bakal selalu menjaga agar semua pintu menuju kejayaan tetap terbuka, dengan taktik yang sesuai dan strategi yang matang.
Pekan ini, pasukan asuhannya akan diuji untuk menjaga satu pintu tetap terbuka: Piala EFL. Pasukan merah dari London ini bakal menjamu Southampton di perempat final turnamen yang dahulunya dikenal dengan nama Piala Liga tersebut di Emirates Stadium pada Kamis (1/12) dini hari.
Arsenal saat ini duduk di peringkat keempat Liga Premier, berselisih ketat tiga angka dengan pemuncak liga Chelsea, dan telah memastikan diri lolos ke babak gugur Liga Champions sebagai peringkat kedua Grup A di belakang PSG. Suasana tim tengah kondusif setelah meraih kemenangan perdana pekan silam atas Bournemouth, setelah tiga kali berturut-turut terpaksa berbagi satu poin dengan lawan.
Sebagai salah satu pesaing juara, dapat diperkirakan Wenger akan mengistirahatkan beberapa pemain kunci. Patut dicatat bahwa Arsenal akan menghadapi tantangan serius di akhir pekan melawan West Ham United, yang baru saja menahan imbang Manchester United, disusul laga pamungkas fase grup Liga Champions kontra FC Basel beberapa hari kemudian.
Memainkan 4-2-3-1 klasiknya, yang telah membuahkan delapan kemenangan dan 28 gol sejauh ini, Wenger diperkirakan akan mengistirahatkan kiper utama Petr Cech dan menurunkan Emiliano Martinez, penjaga gawang muda asal Argentina yang diturunkan di partai Piala EFL terakhir kontra Reading.
Bek kanan Hector Bellerin dilaporkan masih dalam tahap pemulihan dari cedera pergelangan kaki. Dengan Mathieu Debuchy juga tak tersedia setelah hanya tampil 16 menit saat melawan Bournemouth, Carl Jenkinson akan mengambil posisi tersebut. Seperti Martinez, bek Inggris ini juga diturunkan 90 menit melawan Reading, tapi baru mengumpulkan total satu penampilan di liga dan dua di Liga Champions sejauh ini. Selain itu, duet garda tengah Shkodran Mustafi dan Laurent Koscielny akan digantikan oleh bek muda Rob Holding dan Gabriel Paulista. Di sisi kiri, Nacho Monreal akan menyaksikan deputinya, Kieran Gibbs, bermain.
Di lini tengah, Francis Coquelin akan diduetkan dengan Aaron Ramsey alih-alih Granit Xhaka: patut dimaklumi karena peran vital Xhaka sebagai pelindung lini belakang musim ini. Bagi Ramsey sendiri, pertandingan ini dapat jadi menjadi debutnya di Piala EFL musim ini. Tetapi, terdapat pula potensi Mohammed Elneny yang akan dimainkan, terutama setelah gelandang asal Mesir ini bermain cukup baik dua babak melawan Bournemouth, ditambah jam bermainnya yang cukup minim musim ini (507 menit). Trio Theo Walcott-Mesut Oezil-Alex Iwobi diperkirakan hanya akan menyisakan Oezil saja sebagai pengatur serangan, disusul pulihnya Lucas Perez yang dapat berperan di posisi Walcott sementara Oxlade-Chamberlain mengambil alih tugas Iwobi di sisi lain.
Terakhir, untuk penyerang, Wenger akan mencadangkan bomber Alexis Sanchez, yang sejauh ini menjadi pencetak gol terbanyak tim dengan delapan gol. Penggantinya tentu saja Olivier Giroud, pemain yang berperan krusial memastikan kelolosan Arsenal ke Liga Champions pekan silam.
Di sisi lain, tim tamu diperkirakan juga akan membawa beban yang lebih berat daripada tuan rumah. Pasukan asuhan Claude Puel itu saat ini tertahan di peringkat kesepuluh liga, dan hanya menang tipis 1-0 atas Sunderland di putaran Piala EFL sebelumnya. Tak seperti sang lawan, The Saints masih belum memastikan kelolosan ke putaran gugur Liga Europa: pekan depan, rival berat Portsmouth ini harus dapat menang atau menahan seri tanpa gol klub Israel Hapoel Be’er Sheva untuk melanjutkan petualangan mereka di Eropa, menyusul pemuncak klasemen Grup K Sparta Prague.
Untuk mengakomodasi Arsenal, Puel diperkirakan akan memainkan 4-3-3 alih-alih skema umum mereka 4-1-2-1-2. Dengan cederanya Dusan Tadic dan tak pastinya status Steven Davis, mereka terpaksa merapatkan lini tengah di bawah pimpinan Pierre-Emile Højbjerg dan Oriol Romeu, sembari mengandalkan daya ledak penyerang tengah Charlie Austin yang telah menyarangkan enam gol secara keseluruhan musim ini.
Southampton juga tak banyak terbantu oleh fakta bahwa mereka hanya mampu memenangkan satu dari sembilan pertandingan tandang di seluruh kompetisi musim ini, dan bahkan tak mampu mencetak satu gol pun dalam lima pertandingan. Arsenal, sebaliknya, justru memiliki rekor yang superior: mereka tak pernah kalah lagi di kandang sejak takluk 3-4 dari Liverpool di partai pembuka musim, pertengahan Agustus lalu.
Pada pertemuan terakhir kedua tim di Emirates bulan September silam, Arsenal mengalahkan Southampton dengan skor 2-1 pada pertandingan yang menampilkan gol bunuh diri Cech dan sepakan penyelamat Santi Cazorla. Uniknya, Southampton memenangkan tiga dari enam pertemuan terakhir, paling anyar pada Desember 2015 saat sepasang gol Shane Long membantu menghancurkan Arsenal 4-0 di St Mary’s Stadium.
Dengan persaingan yang ketat di liga dan sepak terjang di Eropa yang secara historis tak dapat ditebak, bersama Piala FA turnamen ini dapat dikatakan salah satu sumber piala yang masih dapat mereka harapkan. The Gooners terakhir kali memenangkan turnamen seperempat abad silam pada musim 1992-93 di bawah pimpinan George Graham, kala mereka mengalahkan Sheffield Wednesday dengan skor 3-1 di Stadion Wembley yang masih memiliki menara kembar.
Wenger sendiri belum pernah menjunjung Trofi Alan Hardaker sepanjang karirnya di tanah Inggris: kiprah terbaiknya adalah empat kali tunduk di semifinal sebelum melaju ke partai puncak di musim 2010-11, hanya untuk dibungkam oleh gol telat Obafemi Martins untuk Birmingham City. Musim lalu, Alex Oxlade-Chamberlain dkk malah ditaklukkan Sheffield Wednesday tiga gol tanpa balas di kandang lawan, seiring dengan menghebatnya badai cedera di ruang ganti.
Secara historis, sang tamu juga tak punya sejarah mentereng di turnamen ini. The Saints terakhir kali masuk perempatfinal dua musim lalu, dan tak pernah lagi mencapai partai puncak sejak kalah dari Nottingham Forest asuhan Brian Clough pada tahun 1979.
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia.
30 November 2016
25 November 2016
The good vibes
“Hey Ramzy, do you want this pizza?”
Lunch time. One of my friend just brought one large pan of pizza from the cafeteria. He want to share it with us. Including with me, who was apparently sitting next to him at the main corridor that afternoon. Unfortunately, the pizza’s topping is pepperoni. Of course I know what pepperoni is made of.
“Nah, man, I’m good for now.” This coleslaw might be tasteless, but I’m not switching to a haram diet plan for now.
“Really? You didn’t want some?”
“Nope, thank you.”
My other friend sitting next to me quickly intervened. “What’s wrong with you? That’s pepperoni!”
He suddenly looked very guilty. Maybe he didn’t remember that I’m a Muslim, and being a Muslim means a total abstinence from consuming pork. (Trust me, that’s the most general stereotype of Muslims Americans tend to remember). Offering a large pan of pepperoni pizza to this Muslim guy is the mother of all crime.
“Oh man, I’m so sorry. I apologize.” His voice turned more and more apologetic. “I’m sorry, I totally forget about it.”
“No, no, that’s okay.”
But he didn’t give up. He handed me a bowl of mozzarella fingers from his tray. “But you can eat cheese, right? Here, have the fingers. I’m so sorry. Please, have this one.”
I gladly accept another awkward moment of my intercultural experience that afternoon.
I arrived here in the United States in mid-August, when summer is not entirely over but fall has not arrived yet. Like other exchange students, I began my journey in Washington D.C, the first American city I stepped foot in. And that’s also where I had my first impression of American people and society in general: they are warm, caring people. Everybody seems to be nice with each other, and they treat strangers — like us, the exchange students — with utmost respect and kindness.
At Washington D.C., we attended our one-day orientation. Arrived in the hotel, we lined up for registration and getting all administration stuff done. While we were waiting, there is this middle-aged gentlemen welcoming us with wide smile and sincere face. He dressed simply with volunteer identifications and greeted us one by one, shaking our hands, exchanging smiles and laughter. He even distributed all of our stuff to us. And turns out that he was some kind of a high-ranking official at AFS international leadership, and a former Ambassador of the United States to Panama. Wow, you can’t get a better welcome than that.
One of the first thing I learn here is that American people are just like many other people in the world. I am placed in Indianapolis, Indiana. It’s a lovely city with a population of a million people, but still retains its small-town feeling. The people here are typically Midwestern: nice, kind, often with smile. And the feeling of a distinct American cultural identity is very strong here.
Every morning, somebody might see me walking down the corridor and casually greeting “good morning!”, or maybe stopping for a little chat. If it’s Monday, they’ll ask “do you have a great weekend?”; if it’s Friday, maybe a little “have a great weekend!”. I used to left dumbstruck when somebody greeted me “how is it going?” politely and I didn’t even know him. Same thing, you can expect random fist bump from some guy you didn’t really know when you’re sitting alone in the library or cafeteria.
They know I’m a foreigner — an Englishman in New York, if Sting would put it — and they are naturally curious of it. (“So your name is Mow-ham-med, right?”). They would ask how do you like it here, whether it suit your expectation or not. They would gladly offer you help anytime you need it. They would happily hear your stories, feeling proud when you mention the reason why do you want to come here. (“Of course, we’re the greatest country in the world!”). Because just like many other people in this world, Americans are just as good, as kind, and as sincere as them.
I can feel this vibes everywhere. At my temporary host family house, where I got the first glimpse of American everyday life. At my current family’s house, where I stay awake until 2 AM in the morning to watch the Chicago Cubs making their history, inning by inning. At the debate class, where we discuss a motion of teacher-student fight. At the YMCA’s swimming pool, where the lifeguard used to be an exchange student too. At Model UN sessions, when we negotiate to save the world but ended up launching nuclear weapon to each other. At the Interdisciplinary class, when endless lecture of American history sometimes alternated with cranky memes and Hamilton’s rap battle song. At the newspaper class, where we discuss Harambe as serious journalistic stuff. At the school’s football field, where I interviewed the athletic director while roaming around with a golf cart. At Lucas Oil Stadium, where I watched my first football game. In Indianapolis. In New York City. In Cincinnati. In Washington. Everywhere.
This is not the first time I live abroad, but this is the first time I’m lost abroad. So far, I loved every single bit of it.
“So, have you missed home?” one of my friend asked lately.
“Well, I don’t really know,” I replied after a long thought.
Maybe I’ve found a new home.
Initially published in Bina Antarbudaya's Medium channel.
Lunch time. One of my friend just brought one large pan of pizza from the cafeteria. He want to share it with us. Including with me, who was apparently sitting next to him at the main corridor that afternoon. Unfortunately, the pizza’s topping is pepperoni. Of course I know what pepperoni is made of.
“Nah, man, I’m good for now.” This coleslaw might be tasteless, but I’m not switching to a haram diet plan for now.
“Really? You didn’t want some?”
“Nope, thank you.”
My other friend sitting next to me quickly intervened. “What’s wrong with you? That’s pepperoni!”
He suddenly looked very guilty. Maybe he didn’t remember that I’m a Muslim, and being a Muslim means a total abstinence from consuming pork. (Trust me, that’s the most general stereotype of Muslims Americans tend to remember). Offering a large pan of pepperoni pizza to this Muslim guy is the mother of all crime.
“Oh man, I’m so sorry. I apologize.” His voice turned more and more apologetic. “I’m sorry, I totally forget about it.”
“No, no, that’s okay.”
But he didn’t give up. He handed me a bowl of mozzarella fingers from his tray. “But you can eat cheese, right? Here, have the fingers. I’m so sorry. Please, have this one.”
I gladly accept another awkward moment of my intercultural experience that afternoon.
I arrived here in the United States in mid-August, when summer is not entirely over but fall has not arrived yet. Like other exchange students, I began my journey in Washington D.C, the first American city I stepped foot in. And that’s also where I had my first impression of American people and society in general: they are warm, caring people. Everybody seems to be nice with each other, and they treat strangers — like us, the exchange students — with utmost respect and kindness.
At Washington D.C., we attended our one-day orientation. Arrived in the hotel, we lined up for registration and getting all administration stuff done. While we were waiting, there is this middle-aged gentlemen welcoming us with wide smile and sincere face. He dressed simply with volunteer identifications and greeted us one by one, shaking our hands, exchanging smiles and laughter. He even distributed all of our stuff to us. And turns out that he was some kind of a high-ranking official at AFS international leadership, and a former Ambassador of the United States to Panama. Wow, you can’t get a better welcome than that.
One of the first thing I learn here is that American people are just like many other people in the world. I am placed in Indianapolis, Indiana. It’s a lovely city with a population of a million people, but still retains its small-town feeling. The people here are typically Midwestern: nice, kind, often with smile. And the feeling of a distinct American cultural identity is very strong here.
Every morning, somebody might see me walking down the corridor and casually greeting “good morning!”, or maybe stopping for a little chat. If it’s Monday, they’ll ask “do you have a great weekend?”; if it’s Friday, maybe a little “have a great weekend!”. I used to left dumbstruck when somebody greeted me “how is it going?” politely and I didn’t even know him. Same thing, you can expect random fist bump from some guy you didn’t really know when you’re sitting alone in the library or cafeteria.
They know I’m a foreigner — an Englishman in New York, if Sting would put it — and they are naturally curious of it. (“So your name is Mow-ham-med, right?”). They would ask how do you like it here, whether it suit your expectation or not. They would gladly offer you help anytime you need it. They would happily hear your stories, feeling proud when you mention the reason why do you want to come here. (“Of course, we’re the greatest country in the world!”). Because just like many other people in this world, Americans are just as good, as kind, and as sincere as them.
I can feel this vibes everywhere. At my temporary host family house, where I got the first glimpse of American everyday life. At my current family’s house, where I stay awake until 2 AM in the morning to watch the Chicago Cubs making their history, inning by inning. At the debate class, where we discuss a motion of teacher-student fight. At the YMCA’s swimming pool, where the lifeguard used to be an exchange student too. At Model UN sessions, when we negotiate to save the world but ended up launching nuclear weapon to each other. At the Interdisciplinary class, when endless lecture of American history sometimes alternated with cranky memes and Hamilton’s rap battle song. At the newspaper class, where we discuss Harambe as serious journalistic stuff. At the school’s football field, where I interviewed the athletic director while roaming around with a golf cart. At Lucas Oil Stadium, where I watched my first football game. In Indianapolis. In New York City. In Cincinnati. In Washington. Everywhere.
This is not the first time I live abroad, but this is the first time I’m lost abroad. So far, I loved every single bit of it.
“So, have you missed home?” one of my friend asked lately.
“Well, I don’t really know,” I replied after a long thought.
Maybe I’ve found a new home.
Initially published in Bina Antarbudaya's Medium channel.
21 November 2016
Kala Pioli selamat dari baptisan api
Stefano Pioli berlari masuk ke lapangan hijau dengan suka cita sepenuh hati usai pertandingan mendebarkan di Giuseppe Meazza, Minggu (21/11) dini hari tadi. Di pertandingan pertamanya sebagai pelatih Internazionale, mantan pelatih Lazio ini berhasil lolos melewati “pembaptisan api” yang disiapkan oleh rival sekota AC Milan di pekan ketigabelas Serie A. Gol telat Ivan Perisic di menit ke-90+2 menutup pertandingan dengan skor imbang 2-2, sekaligus mengakhiri salah satu dari puluhan episode Derby della Madonnina yang acap kali menghibur dan mendebarkan, baik secara taktis maupun dramatis.
Kedua tim bisa dibilang menurunkan formasi terbaiknya, meskipun berlubang di sisi yang sama: bek tengah. Milan, yang telah mengemas dua belas poin dari lima laga terakhir (termasuk menang atas Juventus), menurunkan formasi 4-3-3 dengan susunan pemain ideal mereka. Lini depan diisi oleh trio Suso, Carlos Bacca, dan M’Baye Niang, yang telah menyumbang total 13 gol untuk Il Diavolo Rosso musim ini. Giacomo Bonaventura, tulang punggung lini tengah Milan musim ini, melapisi lini tengah bersama Manuel Locatelli dan Juraj Kucka.
Namun, lini belakang mereka sedikit terganggu setelah absennya bek tengah Alessio Romagnoli karena cedera yang ia dapatkan saat membela tim nasional Italia kontra Jerman pekan silam. Pelatih Vincenzo Montella pun memilih bek Paraguay Gustavo Gomez, yang terakhir masuk starting line-up saat Milan mengalahkan Pescara akhir bulan Oktober silam, untuk menggantikan Romagnoli.
Di sisi lain, Inter yang tengah diguncang badai transisi dari pemecatan Frank de Boer awal bulan ini telah menemukan sosok nahkoda baru di ruang ganti dengan ditunjuknya Pioli. Setelah kalah dari Sampdoria di liga pada laga terakhir de Boer, skuat dipegang sementara oleh pelatih tim muda Stefano Vecchi, yang memimpin tim saat dikalahkan oleh Southampton di Europea League dan menghancurkan juru kunci liga Crotone tiga gol tanpa balas jelang masa rehat internasional.
Mengabaikan 4-3-3 ala de Boer, Pioli menurunkan formasi 4-2-3-1, mencadangkan Ever Banega dan memilih duet Marcelo Brozovic-Kondogbia untuk menyokong trio Antonio Candreva, Joao Mario, dan Ivan Perisic, membiarkan Mauro Icardi sebagai ujung tombak di depan. Seperti halnya sang lawan, lubang di posisi bek tengah yang biasa ditempati Andrea Ranocchia terpaksa ditambal dengan menurunkan Gary Medel, yang baru saja kembali dari larangan bermain tiga laga setelah menyikut pemain Atalanta Jasmin Kurtic akhir bulan lalu.
Derby edisi ke-165 ini dimulai dengan dibentangkannya spanduk raksasa oleh ultras Milan, ditujukan kepada bos besar Rossoneri Silvio Berlusconi yang dikabarkan semakin hampir melego klub yang ia miliki selama tiga puluh tahun itu kepada sekelompok investor Cina.
Permulaan laga, walau bagaimanapun, tak berpihak pada para suporter pembentang spanduk itu. Kelincahan Perisic, bekerjasama dengan Kondogbia, membuat kiper muda Gianluigi Donnarumma bekerja keras selama setengah jam pertama. Sundulan bertenaga Kondogbia pada menit ke-24, dibantu oleh umpan silang Danilo D’Ambrosio, membuat sisi San Siro berdebar-debar sementara sisi Meazza nyaris melonjak girang.
Sisi San Siro justru menjadi yang pertama melonjak girang setelah tembakan bertenaga
Suso berhasil menjebol sisi kiri gawang Samir Handanovic di menit ke-40, memanfaatkan orkestra serangan balik yang dikomandani Bonaventura.
Delapan menit setelah kembali dari turun minum, Inter menyamakan kedudukan lewat tembakan kaki kanan Candreva ke sisi kiri jauh gawang Donnarumma. Perayaan tak berlangsung lama buat Inter, karena lima menit kemudian Suso mencetak gol keduanya setelah menerima umpan dari Bacca dan melewati dua bek mereka.
Pioli merespon dengan menyeimbangkan kembali lini belakang dan tengah dengan berturut-turut menarik keluar Cristian Ansaldi dan Marcelo Brozovic dengan Yuto Nagatomo dan Stevan Jovetic, dalam upaya untuk menembus celah pertahanan Milan. Montella justru mengorganisir kembali penyerangannya dengan menarik Bacca, yang digantikan oleh Matias Fernandez di menit ke-71, disusul Niang yang digantikan Gianluca Lapadula dan Bonaventura yang digantikan Mario Pasalic pada sepuluh menit terakhir.
Barisan pertahanan Milan mulai terlihat rapuh pada sepuluh menit terakhir, sementara Inter mulai tampak frustrasi untuk mencari celah, terutama dari sisi kiri yang dijaga rapat Ignazio Abate. Namun, dari sisi itu pulalah akhirnya gol penyelamat Inter lahir di waktu tambahan: memanfaatkan kegagalan para pemain Milan menyisir bola dari sepak pojok, Perisic tak ambil resiko untuk menggerakkan kaki kirinya untuk menjebol gawang Donnarumma, mencatatkan gol keempatnya di liga musim ini.
Keberhasilan Inter mengemas satu poin dari Derby della Madonnina kali ini tercatat adalah yang pertama kali sejak Roberto Mancini memimpin Geoffrey Kondogbia dkk menang tipis 1-0 kontra Milan asuhan Sinisa Mihajlovic pada bulan September 2015 silam.
Terpaksa berbagi satu poin, Milan yang bermain sebagai tuan rumah masih berada di peringkat ketiga dengan 26 poin dari 13 pertandingan, menyia-nyiakan kesempatan untuk mengudeta Roma yang kalah dari Atalanta dari peringkat kedua. Dari jumlah pertandingan yang sama, Inter masih tersendat di luar zona Eropa, terpaku di peringkat kesembilan dengan 18 poin. Jarak kedua tim Milano ini dari Juventus sang capolista juga tak berubah banyak: Milan berselisih sembilan poin, sedangkan Inter berbeda lima belas poin.
Namun bagi Pioli, berhasil selamat dari pertandingan perdana memang patut dirayakan dengan berlari masuk ke lapangan selepas sepakan kaki kiri Perisic itu. “Saya sangat bergairah dalam bekerja,” ujar sang allenatore pada konferensi pers usai laga. “Saya berusaha untuk memberikan segalanya, dan saya juga mengharapkan pemain saya untuk melakukan hal yang sama.”
Yang pasti, jalan masih panjang bagi kedua tim. Bianconeri akan bertandang ke Israel untuk lanjutan fase grup Europea League kontra Be’er Sheva sebelum menghadapi dua pertandingan kelas berat kontra Fiorentina dan Napoli, sedangkan Milan yang tak dipusingkan oleh laga internasional bakal berhadapan dengan dua tim papan bawah Empoli dan Crotone sebelum juga bertarung melawan sesama penghuni zona Eropa, Roma dan Atalanta, sebelum rehat Natal tiba.
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia pada November 2016.
18 November 2016
LN National Art Honor Society draws portraits for Syrian refugees
Since civil war broke out in Syria in March 2011, millions of its residents have fled to seek refuge in neighboring countries like Turkey, Jordan and Lebanon. As fights between rebel factions and ruling regime forces soon plunged the Middle East country into one of the deadliest conflicts in modern history, the number of the refugees has dramatically rose to nearly five million, according to the latest United Nations data.
Some made dangerous journeys by land and sea to European Union countries, where their presence triggered political, economical, and social backlash. Some journeyed further to other countries like Canada, United States, and Latin American countries. Some never made it.
Responding to their plight, members of National Art Honor Society decided to contribute their artistic skills. Since 2011, the students have been working alongside a charitable nonprofit organization called the Memory Project, which invites art teachers and students from all over the country to draw portraits of children suffering from war, neglect, abuse and poverty. The nonprofit was founded by Ben Schumaker, an art teacher, and is based in Middleton, WI.
Art teacher Careth Flash oversees this project alongside her colleague Sarah Osborne.
“Portraits are made for the orphans, in order for them to have something of personal keepsake since they don’t have ability to have personal possession,” Flash said.
In the past, they have been doing similar projects for orphanages around the world like Nepal, Afghanistan, Ethiopia, Guatemala, Jamaica and the Dominican Republic. But this year, rather than orphanages, it is the Syrian refugee camps that would be sent with these portraits.
“This year is going to be a little more difficult,” Flash said.
Participants are required to contribute $15 for every portrait sent to the project, in order to cover costs of delivery to targeted groups overseas. The project, however, did not require any minimum contribution, so participating schools could easily determine how many portraits they are going to commit.
“One year we had a big number who are willing and able to do this, so we had like 15 portraits. Last year we had eight,” Flash said.
Funding is plenty for these young artists. For this year’s participation, a major fundraiser will be held to cover the fees, as well as another one planned in December as Winter Artist Market.
“For people who like to buy and gift (artworks), that’s a great time for them to do that.
And that’s a great fundraiser for us, too,” Flash said.
Junior Sophia Sample joined the project last year.
“We all got one picture (of the refugee children) each to draw. Everybody got their own portrait and draw it,” Sample said.
The project allows its contributors to create their artwork in any medium, but accepted works are mostly drawings or paintings.
“Some are painting, some are using pencils, some with color pencils,” Flash added.
Their motivation behind this project is primarily for artistic pleasure, as well as humanitarian sense.
“Every year I ask students what they want to do. The people who have experienced it say that they had a great deal of satisfaction and pleasure,” Flash said.
Sample enjoyed doing this project last year and looks forward to doing it again this year because she feels it is for a great cause.
“They feel that they’re bringing joy in a very simple way,” Sample said. “It’s really worth it."
And the public reaction has been quite welcoming for them.
“Sometimes we are able to display it (the portraits) before we send it. Reaction from parents, friends, and members of the community is, ‘whoa’,” Flash said.
“Most people didn’t know that this project existed, and they’re interested and intrigued with the whole concept,” Flash said.
An edited version of this story appeared in the 18 November 2016 edition of LN North Star, the student newspaper of Lawrence North High School, Indianapolis.
Some made dangerous journeys by land and sea to European Union countries, where their presence triggered political, economical, and social backlash. Some journeyed further to other countries like Canada, United States, and Latin American countries. Some never made it.
Responding to their plight, members of National Art Honor Society decided to contribute their artistic skills. Since 2011, the students have been working alongside a charitable nonprofit organization called the Memory Project, which invites art teachers and students from all over the country to draw portraits of children suffering from war, neglect, abuse and poverty. The nonprofit was founded by Ben Schumaker, an art teacher, and is based in Middleton, WI.
Art teacher Careth Flash oversees this project alongside her colleague Sarah Osborne.
“Portraits are made for the orphans, in order for them to have something of personal keepsake since they don’t have ability to have personal possession,” Flash said.
In the past, they have been doing similar projects for orphanages around the world like Nepal, Afghanistan, Ethiopia, Guatemala, Jamaica and the Dominican Republic. But this year, rather than orphanages, it is the Syrian refugee camps that would be sent with these portraits.
“This year is going to be a little more difficult,” Flash said.
Participants are required to contribute $15 for every portrait sent to the project, in order to cover costs of delivery to targeted groups overseas. The project, however, did not require any minimum contribution, so participating schools could easily determine how many portraits they are going to commit.
“One year we had a big number who are willing and able to do this, so we had like 15 portraits. Last year we had eight,” Flash said.
Funding is plenty for these young artists. For this year’s participation, a major fundraiser will be held to cover the fees, as well as another one planned in December as Winter Artist Market.
“For people who like to buy and gift (artworks), that’s a great time for them to do that.
And that’s a great fundraiser for us, too,” Flash said.
Junior Sophia Sample joined the project last year.
“We all got one picture (of the refugee children) each to draw. Everybody got their own portrait and draw it,” Sample said.
The project allows its contributors to create their artwork in any medium, but accepted works are mostly drawings or paintings.
“Some are painting, some are using pencils, some with color pencils,” Flash added.
Their motivation behind this project is primarily for artistic pleasure, as well as humanitarian sense.
“Every year I ask students what they want to do. The people who have experienced it say that they had a great deal of satisfaction and pleasure,” Flash said.
Sample enjoyed doing this project last year and looks forward to doing it again this year because she feels it is for a great cause.
“They feel that they’re bringing joy in a very simple way,” Sample said. “It’s really worth it."
And the public reaction has been quite welcoming for them.
“Sometimes we are able to display it (the portraits) before we send it. Reaction from parents, friends, and members of the community is, ‘whoa’,” Flash said.
“Most people didn’t know that this project existed, and they’re interested and intrigued with the whole concept,” Flash said.
An edited version of this story appeared in the 18 November 2016 edition of LN North Star, the student newspaper of Lawrence North High School, Indianapolis.
17 November 2016
Menanti sihir para pemuda Atalanta
Gian Piero Gasperini barangkali tak akan pernah muncul ke panggung dunia jika bukan karena kisahnya yang fenomenal bersama Internazionale lima tahun silam. Pria setengah abad ini menggantikan Leonardo sebagai komandan ruang ganti Giuseppe Meazza pada akhir Juni 2011, namun empat kali imbang dan satu kekalahan sudah cukup buat Massimo Moratti untuk mendepaknya pada akhir September. Ia dianggap terlalu medioker, kelewat provinciale untuk tim pengejar titel juara macam Il Nerazzuri.
Lima tahun kemudian, Gasperini kembali lagi bersama sekelompok anak muda berseragam hitam dan biru. Bedanya, logo di dada mereka bukanlah ular berbisa kebanggaan Inter, melainkan dewi lembut berkulit putih milik Atalanta.
Gasperini tiba di Atleti Azzurri d’Italia pada pertengahan Juni silam. Ia tipikal pelatih kelas menengah Italia yang kerap berganti-ganti klub tergantung kemurahan (atau ketidakjelasan) hati pemilik klub: ia baru saja meninggalkan periode keduanya di Genoa, yang berlangsung selama tiga tahun tanpa prestasi berarti selain bongkar-pasang skuat setiap musimnya demi memenuhi anggaran yang tipis dan hasrat bertahan di kasta tertinggi. Pun di tempat barunya, tiada siapapun yang berharap muluk-muluk. Klub dari wilayah Lombardia ini menyelesaikan musim lalu di tingkat ke-13, dua setrip dibawah Genoa-nya Gasperini.
Musim Atalanta bersama Gasperini dibuka dengan kekalahan 3-4 di kandang dari Lazio. Kemenangan pertamanya tiba pada pertengahan September, 2-1 di kandang atas Torino. Namun lima pertandingan pertamanya diakhiri dengan kekalahan 1-0, juga di kandang, atas Palermo, klub yang pernah ia latih beberapa musim silam. Di titik yang sama bersama Inter, ia telah dipersilakan angkat kopor. Kini, di Bergamo, Gasperini dapat menemui kembali nasib yang sama.
“Di satu titik, saya merasa seperti mayat berjalan,” mantan gelandang ini berkata pada koran lokal Bergamo. Di laga tandang selanjutnya kontra Crotone, seluruh direktur klub hadir menonton pasukannya. “Mereka terlihat seperti di pemakaman. Saya pikir bunga-bunga juga sudah siap,” ujarnya sedikit berkelakar.
Dewi Fortuna masih berpihak padanya. “Kami yakin bahwa terus maju bersama Gasperini adalah hal yang benar,” ujar presiden klub Antonio Percassi. “Setelah kekalahan dari Palermo, saya bertemu para pemain. Saya katakan pada mereka bahwa siapapun yang ingin tetap di sini harus mengikuti aturannya, atau mereka bisa pulang ke rumah masing-masing.”
Di laga tandang selanjutnya kontra Crotone, seluruh direktur klub hadir menonton pasukannya. “Mereka terlihat seperti di pemakaman. Saya pikir bunga-bunga juga sudah siap,” ujarnya sedikit berkelakar. Namun peti mati tak jadi dibuka. Anak asuhnya berhasil menang 1-3, salah satunya berkat gol cepat penyerang muda Andrea Petagna di menit ketiga. Kunjungan sang Presiden menjadi salah satu faktor pemicunya. “Setelah kekalahan dari Palermo, saya melihat tanda-tanda itu,” ujar Gasperini. “Presiden bertemu para pemain, berbicara dengan mereka, dan melegitimasi posisi saya. Itu adalah titik balik kami.”
Dukungan penuh manajemen klub padanya membuat Gasperini mulai yakin untuk menerapkan aturannya sendiri. Mengikuti aturan Gasperini berarti bermain dengan cepat, solid, dan tak kurang defensif. Ia adalah konservatif kelas wahid yang hanya mau bermain sepak bola menggunakan tiga bek, tak kurang tak lebih: apakah itu 3-4-3, 3-5-2, atau 3-4-2-1. Aturan utama buat para penyerang adalah untuk terus menekan bek tengah lawan sepanjang 90 menit.
Tapi aturan lainnya adalah kepercayaan Gasperini pada para pemain muda. Setelah kalah dari Palermo, ia memutuskan untuk mulai menggunakan bakat tempaan akademi Atalanta yang pernah melahirkan pemain semodel Gaetano Scirea, Roberto Donadoni, Andrea Pirlo, dan Riccardo Montolivo. Kontra Crotone, ia mulai memberikan kepercayaan lebih pada talenta muda seperti Petagna, Jasmin Kurtic, Alejandro Gomez, Franck Kessié, Andrea Conti, Mattia Caldara, dan Roberto Gagliardini. Ini pertaruhan besar: karir dan reputasinya, beserta harapan klub untuk selamat menempuh satu musim lagi di Serie A, dapat hancur dalam sekejap. Ditambah pula ruang ganti tak memiliki sosok pemain senior yang dapat membimbing para pemuda ini.
Pekan berikutnya, Petagna mencetak gol semata wayang pada kemenangan mengejutkan mereka di kandang atas Napoli. “Pada akhir pertandingan, presiden memberitahu saya: ‘Anda bisa dibilang sangat pemberani, atau justru gila’,” ujar Gasperini.
Gasperini mungkin pemberani, namun ia jelas belum gila. Melawan Napoli, misalnya, ia memainkan formasi tiga bek yag dijaga Rafael Toloi, Caldara, dan Andrea Masiello. Lini tengah digalang duet Kessie dan Remo Freuler. Kurtic dan Gomez diplot di belakang Petagna, yang berperan sebagai ujung tombak. Taktik mereka berhasil membendung Manolo Gabbiadini dan membuat frustasi gelandang lincah seperti Marek Hamsik. Hasilnya, dapat ditebak, cukup membuat kancah sepak bola Italia terpana. Sebagian membandingkan mereka dengan pencapaian fenomenal Sassuolo pimpinan Eusebio Di Francesco musim silam, hanya kali ini versi tiga bek dan lebih menekankan man-to-man marking.
Lini tengah yang solid sejauh ini menjadi tumpuan utama skuat, selain memaksimalkan bola-bola mati yang jadi spesialisi tersendiri bagi para pemain: dari sembilan belas gol yang dicetak sejauh ini, delapan bersumber dari set piece dan dua dari titik dua belas pas. Delapan puluh persen operan mereka adalah umpan-umpan pendek yang efektif dan mudah dijangkau. 3-4-2-1, formasi yang sudah dipakai Gasperini lima kali musim ini, berhasil menciptakan sembilan gol dan hanya kebobolan satu gol ketimbang versi lain seperti 3-5-2 atau 3-4-3.
Fakta-fakta seperti ini cukup impresif mengingat Atalanta bukanlah tim medioker mendadak kaya yang langsung dapat bersaing di papan atas. Melainkan, mereka memilih untuk melongok ke bawah dan mengandalkan sumber daya mereka sendiri, berupa sistem pembinaan pemain muda yang komprehensif. Saat menang atas Napoli, misalnya, empat pemain tercatat berstatus anggota skuat tim nasional Italia U21. Bahkan Gasperini sendiri terkejut dengan anak asuhnya. “Gagliardini adalah bukti bahwa sepak bola hari ini begitu supercharged,” ujarnya. “Tak masuk akal ia bisa masuk Nazionale hanya setelah beberapa pertandingan Serie A.”
Orobici beruntung karena Gasperini bukanlah tipikal pelatih yang hanya fokus pada pertandingan selanjutnya. Ia memiliki visi yang jauh menjangkau ke masa depan. Saat ditanya mengenai perbandingan tim mudanya dengan Athletic Bilbao dan Sassuolo, ia dengan serius menjawab bahwa hal itu bisa dilakukan. “Klub sejauh ini cukup serius, strukturnya ideal, para suporter mendukung, dan saya melihat banyak pemain yang menarik di tim muda,” ujar Gasperini pada Gazzetta dello Sport.
Menarik untuk menanti sejauh mana Atalanta dapat bersaing di Serie A musim ini. Akankah mereka bermimpi lebih dari sekedar zona Eropa? Hanya waktu, dan formasi tiga bek Gasperini, yang tahu.
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia pada November 2016.
15 November 2016
Argentina dan tepi jurang pragmatisme itu
Kembalinya Lionel Messi tetap saja tak mampu untuk membangkitkan Argentina dari rentetan hasil buruk di babak kualifikasi Piala Dunia 2018 zona CONMEBOL. Terakhir, pasukan Edgardo Bauza ini terpaksa menelan kekalahan 3-0 di Belo Horizonte atas tuan rumah Brasil. Coutinho, Neymar, dan Paulinho menjadi pemain yang membuat Argentina semakin terancam gagal lolos ke Piala Dunia 2018.
Barangkali perkataan mantan pelatih Cesar Luis Menotti-lah yang paling pas menggambarkan situasi separuh darurat di tubuh tim Albiceleste. “Saya tak paham bagaimana cara Bauza bertahan, bagaimana cara dia menyerang,” ujar pelatih gaek yang membawa Argentina juara Piala Dunia 1978 ini. “Jika Messi tak dapat mencetak gol, Higuain atau Di Maria seharusnya bisa.”
Sedikit banyak pendapat Menotti ada benarnya. Argentina saat ini masih terjebak di peringkat keenam klasemen sementara dengan mengemas 16 poin dari empat kali menang, empat kali seri, dan tiga kali kalah, satu setrip di bawah peringkat kelima yang bakal meloloskan mereka ke play-off antar-konfederasi. Sebelas gol yang dicetak lini serang mereka adalah yang terendah kedua di liga, hanya unggul ketimbang juru kunci Bolivia. Bauza sendiri seakan mengakui situasi krusial tim asuhannya. “Kami tengah berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya selepas pertandingan.
Keputusannya untuk memainkan Higuain dan Messi dalam formasi 4-4-1-1 tampaknya masih belum bisa membendung daya serang dan kreativitas Brasil yang digalang Neymar dan Coutinho. Ketidakmampuan lini tengah Argentina untuk menyeimbangkan transformasi menyerang ke bertahan memaksa Messi untuk mengisi ruang-ruang kosong yang kerap ditinggalkan. Sementara Lucas Biglia dan Javier Mascherano praktis tak berperan banyak selain kerap keteteran menggalang serangan. Masuknya Sergio Aguero di awal babak kedua menyebabkan formasi berganti menjadi 4-4-2, namun nyatanya itu tak membantu banyak. Tak mengherankan bila meskipun Argentina lebih banyak menguasai bola, mereka hanya dapat melepaskan sepuluh tembakan ke gawang Alisson Becker ketimbang tiga belas tembakan yang dilepaskan Brasil ke gawang Sergio Romero.
Argentina akan menghadapi Kolombia, yang kini duduk nyaman di peringkat ketiga. Pasukan asuhan Jose Pekerman ini terkenal dengan lini tengah yang disiplin dan barisan belakang yang mumpuni, dengan rekor kemasukan gol terendah ketiga sejauh ini dengan dua belas gol.
Tim Tango bisa dikatakan sedikit beruntung karena Pekerman diperkirakan tidak akan bisa memainkan barisan belakangnya secara lengkap, karena Oscar Murillo sedang menjalani akumulasi kartu dan Yerry Mina masih cedera. Di sisi lain, lini tengah mereka mendapat angin segar dengan kembalinya Juan Cuadrado, yang akan bahu-membahu bersama James Rodriguez untuk menyokong ujung tombak Radamel Falcao.
Bauza diperkirakan akan memainkan taktik 4-2-3-1 favoritnya di San Juan, dengan Lucas Pratto menggantikan Higuain sebagai ujung tombak didukung Messi dan Di Maria. Untuk menambah kreativitas, ia diperkirakan akan menurunkan Ever Banega sebagai gelandang tengah, menyeimbangkan lini depan dan belakang dan menyediakan bola-bola pendek yang krusial untuk membangun serangan. Seperti yang dikatakan Roberto Saporiti, mantan asisten Menotti di Argentina 1978: “Messi memerlukan seseorang seperti (Juan Roman) Riquelme atau (Andres) Iniesta untuk menyediakan umpan-umpan yang tajam.”
Laga ini akan menjadi tabir penutup 2016 untuk kualifikasi zona CONMEBOL, yang akan kembali dimulai pada Maret 2017. Bagi kedua tim, bagaimanapun, pertandingan ini secara krusial akan mempengaruhi jalan mereka menuju Rusia tahun depan. Untuk Kolombia, kemenangan atas Messi dkk berarti memutus kutukan tak pernah menang di tanah Argentina sejak Piala Dunia 1994, dan mempermulus jalan mereka untuk menghadapi dua pertandingan yang relatif mudah di bulan Maret kontra Bolivia dan Ekuador.
Di sisi lain, kemenangan bagi Argentina amat berarti untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap cap pragmatisme dan titel juru selamat yang sudah terlanjur disematkan pada sang pelatih, sekaligus memperbaiki moral ruang ganti yang terakhir kali menikmati kemenangan pada awal September silam. Kekalahan bukan saja dapat membuat jalan Tim Tango semakin terjal karena harus mati-matian menghadapi Chile dan Bolivia bulan Maret tahun depan, namun juga berpotensi membawa mereka ke tepi jurang yang tak pernah terpikirkan: kegagalan lolos ke Piala Dunia pertama kali sejak Meksiko 1970.
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia.
Barangkali perkataan mantan pelatih Cesar Luis Menotti-lah yang paling pas menggambarkan situasi separuh darurat di tubuh tim Albiceleste. “Saya tak paham bagaimana cara Bauza bertahan, bagaimana cara dia menyerang,” ujar pelatih gaek yang membawa Argentina juara Piala Dunia 1978 ini. “Jika Messi tak dapat mencetak gol, Higuain atau Di Maria seharusnya bisa.”
Sedikit banyak pendapat Menotti ada benarnya. Argentina saat ini masih terjebak di peringkat keenam klasemen sementara dengan mengemas 16 poin dari empat kali menang, empat kali seri, dan tiga kali kalah, satu setrip di bawah peringkat kelima yang bakal meloloskan mereka ke play-off antar-konfederasi. Sebelas gol yang dicetak lini serang mereka adalah yang terendah kedua di liga, hanya unggul ketimbang juru kunci Bolivia. Bauza sendiri seakan mengakui situasi krusial tim asuhannya. “Kami tengah berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya selepas pertandingan.
Keputusannya untuk memainkan Higuain dan Messi dalam formasi 4-4-1-1 tampaknya masih belum bisa membendung daya serang dan kreativitas Brasil yang digalang Neymar dan Coutinho. Ketidakmampuan lini tengah Argentina untuk menyeimbangkan transformasi menyerang ke bertahan memaksa Messi untuk mengisi ruang-ruang kosong yang kerap ditinggalkan. Sementara Lucas Biglia dan Javier Mascherano praktis tak berperan banyak selain kerap keteteran menggalang serangan. Masuknya Sergio Aguero di awal babak kedua menyebabkan formasi berganti menjadi 4-4-2, namun nyatanya itu tak membantu banyak. Tak mengherankan bila meskipun Argentina lebih banyak menguasai bola, mereka hanya dapat melepaskan sepuluh tembakan ke gawang Alisson Becker ketimbang tiga belas tembakan yang dilepaskan Brasil ke gawang Sergio Romero.
Argentina akan menghadapi Kolombia, yang kini duduk nyaman di peringkat ketiga. Pasukan asuhan Jose Pekerman ini terkenal dengan lini tengah yang disiplin dan barisan belakang yang mumpuni, dengan rekor kemasukan gol terendah ketiga sejauh ini dengan dua belas gol.
Tim Tango bisa dikatakan sedikit beruntung karena Pekerman diperkirakan tidak akan bisa memainkan barisan belakangnya secara lengkap, karena Oscar Murillo sedang menjalani akumulasi kartu dan Yerry Mina masih cedera. Di sisi lain, lini tengah mereka mendapat angin segar dengan kembalinya Juan Cuadrado, yang akan bahu-membahu bersama James Rodriguez untuk menyokong ujung tombak Radamel Falcao.
Bauza diperkirakan akan memainkan taktik 4-2-3-1 favoritnya di San Juan, dengan Lucas Pratto menggantikan Higuain sebagai ujung tombak didukung Messi dan Di Maria. Untuk menambah kreativitas, ia diperkirakan akan menurunkan Ever Banega sebagai gelandang tengah, menyeimbangkan lini depan dan belakang dan menyediakan bola-bola pendek yang krusial untuk membangun serangan. Seperti yang dikatakan Roberto Saporiti, mantan asisten Menotti di Argentina 1978: “Messi memerlukan seseorang seperti (Juan Roman) Riquelme atau (Andres) Iniesta untuk menyediakan umpan-umpan yang tajam.”
Laga ini akan menjadi tabir penutup 2016 untuk kualifikasi zona CONMEBOL, yang akan kembali dimulai pada Maret 2017. Bagi kedua tim, bagaimanapun, pertandingan ini secara krusial akan mempengaruhi jalan mereka menuju Rusia tahun depan. Untuk Kolombia, kemenangan atas Messi dkk berarti memutus kutukan tak pernah menang di tanah Argentina sejak Piala Dunia 1994, dan mempermulus jalan mereka untuk menghadapi dua pertandingan yang relatif mudah di bulan Maret kontra Bolivia dan Ekuador.
Di sisi lain, kemenangan bagi Argentina amat berarti untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap cap pragmatisme dan titel juru selamat yang sudah terlanjur disematkan pada sang pelatih, sekaligus memperbaiki moral ruang ganti yang terakhir kali menikmati kemenangan pada awal September silam. Kekalahan bukan saja dapat membuat jalan Tim Tango semakin terjal karena harus mati-matian menghadapi Chile dan Bolivia bulan Maret tahun depan, namun juga berpotensi membawa mereka ke tepi jurang yang tak pernah terpikirkan: kegagalan lolos ke Piala Dunia pertama kali sejak Meksiko 1970.
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia.
09 November 2016
Edgardo Bauza dan semangat realis baru ala Argentina
Tapi rupanya hantu itu masih begitu kuat membayang. Tendangan tak sempurna Lucas Biglia dibalas sepakan tuntas dari Fransisco Silva, memperpanjang puasa gelar untuk paling tidak dua tahun lagi. Malam terang di New Jersey itu begitu membuat frustrasi seorang Lionel Messi, yang namanya telah bersinonim dengan kemenangan dan kejayaan bersama Barcelona namun juga dengan nyaris dan hampir bersama Albiceleste, sampai ia mengumumkan pensiun dari tim nasional. Tak lama, pelatih Gerardo Martino, yang mewarisi tim finalis Piala Dunia 2014 di Brazil dari Alejandro Sabella, turut pula lengser.
Sepak bola Argentina langsung terjun bebas ke huru-hara. Tim nasional yang selalu terhempas di final meski diperkuat pemain-pemain terbaik dalam satu generasi, dipadukan dengan konflik institusional yang menggerogoti tubuh federasi sepak bola nasional; begitu mengganggu sampai FIFA dan pemerintah Argentina harus menunjuk Komite Normalisasi untuk menginvestigasi korupsi dan penyalahgunaan kuasa di sana. Dengan kualifikasi Piala Dunia 2018 di depan mata, masa depan pemenang Piala Dunia dua kali ini tak pernah tampak begitu suram.
Di tengah ketidakpastian dan kebuntuan, AFA mengumumkan penunjukan Edgardo Bauza sebagai komandan baru di ruang ganti tim nasional. Lengkap dengan moral tim yang menurun drastis selepas pengumuman Messi yang mengguncang seluruh negeri, ia ibarat diberikan kemudi sebuah kapal yang nyaris karam di tengah Samudra Atlantik. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan ia melontarkan ucapan separuh alegoris: “Bagi banyak orang, ini (menjadi pelatih Argentina) mungkin sebuah resiko yang tak perlu, namun saya tak masalah untuk mengotorkan kaki saya dengan lumpur bersama Argentina. Saya sendiri lahir di kubangan lumpur.”
Produk bengal para berandalan
Edgardo Bauza dilahirkan di Granadero Baigorria, sebuah kota kecil berpenduduk empat puluh tiga ribu orang di sebelah utara Rosario, kota terbesar ketiga di Argentina. Tak banyak yang diketahui tentang karirnya di level muda selain ia memulai karirnya di Rosario Central, klub terdekat dari kampung halamannya. Ia juga bermain untuk Atletico Junior, Independiente, dan Veracruz, namun publik Argentina lebih mengenalnya sebagai legenda di Rosario.
Selama lima tahun bersama tim berjuluk El Canalla (Para Berandalan) itu, ia mencatatkan 310 penampilan di liga dan dua kali memenangi Primera Division, kasta tertinggi sepak bola Argentina pada 1980 dan 1986-87. Ia tergabung dalam skuat berjuluk La Simfonica, disebabkan oleh gaya bermain mereka yang mengalir cepat dan rancak dibawah pimpinan Angel Tulio Zof. Selama bermain di Estadio Gigante de Arroyito, Bauza mencetak total 80 gol, yang menempatkannya sebagai salah satu bek paling produktif sepanjang sejarah bersama Franz Beckenbauer, Daniel Passarella, dan Fernando Hierro. Wataknya yang keras dan tanpa kompromi menjaga lini belakang membuat ia dijuluki El Paton, Sang Kaki Besar.
Meskipun begitu, karirnya di tim nasional tak begitu mentereng. Ia hanya mengoleksi total tiga cap bersama Albiceleste, dan duduk di bangku cadangan saat Argentina bertekuk lutut pada Jerman Barat di final Piala Dunia 1990 di Italia. Setelah gantung sepatu di Veracruz, ia memulai karier sebagai pelatih. Tempatnya memulai? Tentu saja, Rosario Central.
Penguasa kontinental
Setelah empat musim tanpa prestasi berarti di Rosario Central selain lolos ke semifinal Copa Libertadores 2001, Bauza memutuskan untuk menerima tawaran klub yang lebih besar. Ia pindah ke Velez Sarsfield, namun hanya bertahan satu musim bersama El Fortin. Ia pindah lagi ke Colon, namun hanya juga bertahan satu tahun. Bauza sempat banting setir menjadi pundit dan komentator televisi sebelum memutuskan keluar Argentina dan menuju Peru, merintis kembali kariernya bersama Sporting Cristal.
Kali ini ia berhasil. Enam bulan pertama di Cristal, ia mengantar tim ibu kota itu menjadi kampiun liga. Namun, ia tak bertahan lama pula di Peru; pertengahan 2005, ia kembali ke Argentina untuk melatih Colon, klub sebelumnya. Setahun berselang, ia keluar lagi dari Argentina, mengepak koper menuju Ekuador untuk melatih LDU Quito.
Di Quito-lah Bauza menemukan keberuntungannya. Dengan mengandalkan formasi 4-4-2 klasik yang berpusat pada pemain-pemain sayap lincah Luis Bolanos dan Joffre Guerron, trio Argentina Damian Manso, Claudio Bieler, Norberto Araujo, dan kiper gaek Jose Francisco Cevallos, Bauza membawa Los Universitarios juara liga Ekuador di musim keduanya. Pada musim yang sama, ia membawa Quito ke partai puncak Copa Libertadores 2008.
Di partai puncak, anak asuhnya menghancurkan wakil Brasil Fluminense 4-2 di Quito sebelum secara dramatis memenangi adu penalti 3-1 di Rio de Janeiro, setelah sebelumnya tertinggal 3-1 selepas waktu tambahan. Quito dan Bauza memenangi Copa Libertadores pertama mereka dengan membalikkan konsensus umum para pengamat yang mengunggulkan Fluminense.
Bauza memutuskan untuk mengundurkan diri selepas Quito dikalahkan Manchester United di final Piala Dunia Klub FIFA 2008, namun reputasinya sebagai pelatih kawakan mulai terbentuk. Koran olahraga Uruguay El Pais menganugerahkannya Pelatih Terbaik Amerika Selatan 2008, anugerah bergengsi yang sebelumnya pernah dimenangkan oleh pelatih setaraf Carlos Bianchi, Jose Pekerman, Oscar Tabarez, dan Luiz Felipe Scolari.
Setelah sempat bergabung dengan klub Arab Saudi Al-Nassr, Bauza kembali ke Quito dan sekali lagi memenangkan gelar liga pada 2010 dan Recopa Sudamericana (semacam Piala Super UEFA ala Amerika Latin) pada tahun yang sama, mengalahkan Estudiantes. Sempat dirumorkan mengisi tampuk kepelatihan tim nasional Argentina yang ditinggalkan Sergio Bautista, AFA lebih memilih pelatih gaek Alejandro Sabella, dan Bauza memilih untuk bertahan di Quito.
Tiga tahun di Quito, Bauza memutuskan untuk pulang kampung ke Argentina. Tak seperti umumnya pelatih Argentina, ia justru menuai sukses di tanah orang, dan lebih banyak melatih tim medioker di tanah sendiri. Ia menerima pinangan San Lorenzo de Almagro, salah satu dari lima klub paling elit di Primera Division, tempat Ezequiel Lavezzi dan Jose Luis Chilavert menimba ilmu, sekaligus tim masa kecil Paus Francis.
San Lorenzo baru saja selamat dari ancaman degradasi dua musim sebelumnya, dan Bauza awalnya tak dibebani harapan muluk-muluk oleh suporter El Santo. Namun ia berhasil membawa San Lorenzo menjuarai Torneo Inicial, paruh pertama Primera Division musim 2013-14, dan mencatatkan rekor pertahanan terbaik kedua di liga. Tahun berikutnya, San Lorenzo melaju ke putaran gugur Copa Libertadores dan mengalahkan Gremio, Cruzeiro, dan Bolivar untuk mencapai final pertama mereka sepanjang sejarah.
Berhadapan dengan Nacional dari Paraguay, pasukan Bauza berhasil menahan imbang sang lawan di kandang sendiri sebelum merebut gelar juara lewat gol penalti semata wayang Nestor Ortigoza di Buenos Aires. Bauza menjadi pelatih keempat yang berhasil menjuarai turnamen itu dua kali bersama klub yang berbeda, selain Bianchi, Scolari, dan Paulo Autuori.
Akhir tahun 2015, ia kembali meninggalkan Argentina untuk bergabung dengan raksasa Brasil Sao Paulo FC. Namun, ia tak lama memimpin tim yang bermarkas di Estadio do Morumbi itu. Memanfaatkan klausul di kontraknya bersama Tricolor, ia memenuhi panggilan ibu pertiwi Argentina. Kali ini, untuk melatih tim nasional.
Konservatisme ala Griguol
Salah satu inspirasi awal Bauza sebagai pelatih adalah Carlos Timoteo Griguol, mantan pemain dan pelatih Rosario Central. Griguol memiliki karakter yang mirip-mirip Marcelo Bielsa: heboh, emosional, dan meledak-ledak. Pria berjuluk El Viejo (Orang Tua) ini punya kebiasaan unik untuk menyemangati pemainnya, yaitu dengan satu-satu menampar pipi mereka sebelum turun ke lapangan.
Meskipun fasih dalam tampar-menampar, namun taktik Griguol lebih cenderung hati-hati dan konservatif dibanding pelatih Argentina lain pada angkatannya seperti Cesar Luis Menotti. Bila Menotti, misalnya, memainkan taktik yang lebih agresif dalam formasi 4-3-3 yang menjunjung tinggi falsafah bermain indah, Griguol lebih memilih taktik konservatif 4-4-2 yang mengandalkan pertahanan namun sewaktu-waktu dapat berubah menyerang. Selain itu, ia juga mempelopori pemakaian analisis video di Liga Argentina.
Pada era dimana dunia sepak bola dunia seakan dibuai taktik dan strategi cantik macam Argentina-nya Menotti atau Belanda-nya Rinus Michels, Griguol (dan Bauza, tentu saja) berdiri teguh menjaga pendekatan mereka yang kaku dan tradisional. Bila Menotti dapat dikatakan mewakili gaya realisme magis khas Amerika Latin yang diturunkan pujangga-pujangga lama macam Gabriel Garcia Marquez dan Mario Vargas Llosa, Griguol dan muridnya Bauza justru lebih mirip penganut mazhab realis sosial yang lebih kuno macam Ernesto Sabato: kalem, pragmatis, sering dianggap membosankan.
“Saya berangkat dari rumah dari tempat latihan dan dari tempat latihan pulang ke rumah, dan saya hanya memikirkan tentang sepak bola, tanpa gangguan apapun,” Bauza berujar dalam sebuah wawancara.
Bauza biasa menggunakan formasi 4-4-2 dengan dua gelandang tengah untuk menjaga empat pemain belakangnya. Formasi ini acap dikritik sebagai taktik “safety-first” yang lebih mengutamakan bagaimana caranya tidak kebobolan sepanjang laga. Namun, pada masa-masa tertentu, formasi ini dipadukan dengan pendekatan-pendekatan pragmatis yang non-ideologis, khas gurunya Griguol.
“Saya adalah diantara yang beranggapan bahwa semua orang harus menyerang dan semua orang harus bertahan,” ujar Bauza. “Sepak bola hari ini seperti itu. Anda bisa saja bertahan di lini serang jika tekanan sedang pada puncaknya.”
Di San Lorenzo, misalnya, Bauza memainkan formasi empat bek klasik yang diisi Julio Buffarini, Fabricio Fontanini, Santiago Gentiletti, dan Emmanuel Mas. Kuartet ini mencatatkan salah satu rekor pertahanan terbaik di Primera. Namun ia juga dapat memainkan formasi tiga gelandang serang di belakang striker, biasanya kombinasi Ignacio Piatti, Leandro Romagnoli, dan Angel Correa di belakang Mauro Matos. Begitu pula di Sao Paulo: saat ia terpaksa mewarisi tim yang koyak ditinggal Rogerio Ceni, Luis Fabiano, dan Alexandro Pato, Bauza memutuskan untuk beradaptasi dengan menggunakan 4-2-3-1 dan memaksimalkan kreativitas gelandang serang Paulo Henrique Ganso.
Ciri khas strategi Bauza lainnya adalah sayap-sayap lincah yang multifungsi. Di San Lorenzo, Bauza beruntung dengan adanya Ignacio Piatti di sayap kiri dan Buffarini di sayap kanan. Pun di Santos, ia mengandalkan duet Kelvin dan Ricardo Centurion untuk menyokong Andres Chavez di lini serang.
Bauza juga memiliki sentuhan dan pengalaman untuk membuat pemain buangan menjadi bintang, from zero to hero. Di Sao Paulo, ia mengembalikan kepercayaan diri penyerang Jonathan Calleri, mengubahnya dari penghangat bangku cadangan di Boca Juniors menjadi pencetak gol terbanyak Copa Libertadores 2016 dengan total sembilan gol, meski klubnya sendiri terhenti di semifinal.
Jalan pedang di Albiceleste
Lalu apa artinya ini semua untuk Argentina?
Gerardo Martino, pendahulu Bauza, terkenal dengan gaya yang lebih kurang sama pragmatisnya saat menangani tim nasional Paraguay, namun berubah menjadi seorang konservatif gaya menyerang yang bekerja keras menyeimbangkan formasi 4-3-3-nya yang sering kali tak bekerja dengan baik. Kurangnya kecepatan dan kelincahan di lini belakang membuat tim Martino berulang kali tampak bocor di lini tengah. Martino juga kerap kali kebingungan dimana posisi terbaik untuk mendayagunakan kehebatan seorang Messi.
Sejauh ini, Bauza masih belum menunjukkan pada publik Argentina mengapa ia lebih baik ketimbang Martino. Membuka kualifikasi Piala Dunia 2018 dengan kekalahan 0-2 dari Ekuador di kandang, Argentina saat ini berada di peringkat keenam, satu strip di bawah zona play-off antarkonfederasi, tempat Chile bertengger. Mereka mengoleksi empat kemenangan, empat seri, dan dua kali kekalahan, namun telah gagal menang dalam tiga pertandingan terakhir (seri melawan Venezuela dan Peru, disusul kalah di kandang dari Paraguay). Prospek lolos ke Rusia dua tahun lagi tampaknya tak terlalu cerah.
Namun tak seperti Martino yang kerap kali terdengar begitu menumpukan beban tim pada legenda hidup sepak bola modern itu, Bauza masih kedengaran bernada lebih realistis. "Saya tak ingin Messi menyelesaikan seluruh masalah kami. Kami harus bekerja keras untuk mencari solusi,” ujar Bauza. “Ini tantangan yang bagus.”
Untungnya, Bauza berhasil menemukan solusi. Ia memainkan 4-5-1 yang mengandalkan duet Javier Mascherano dan Ever Banega untuk melindungi lini belakang, sayap Angel di Maria dan Nicolas Gaitan ditugaskan membantu Sergio Aguero dan Gonzalo Higuain. Tak beruntungnya, Argentina tak menang dengan formasi tambal sulam semacam itu.
Kembalinya La Pulga ke skuat Argentina memberikan kemungkinan dimainkannya formasi 4-4-2, bertumpu pada Messi dan Arguero di lini serang dan Lucas Biglia sebagai melindungi lini belakang. Gravitasi, jiwa, dan semangat tim telah kembalil.
Menanggulangi serangan Brasil yang dipimpin Neymar akan jadi tugas utama lini belakang yang dijaga Martin Demichelis dan Mateo Musacchio. Bauza sendiri mengakui pentingnya hal tersebut. “Masalahnya sekarang adalah bagaimana kami bisa membenahi pertahanan tim,” kata Bauza. “Argentina punya banyak pilihan untuk menyerang, tapi kami juga perlu memperbaiki pertahanan agar tim tidak mudah tertinggal dan dapat merebut bola secepat mungkin.”
Apapun hasilnya di Belo Horizonte akhir pekan nanti, Bauza tidak akan menyerah untuk mewujudkan mimpi Argentina yang terhempas di malam terang di East Rutherford beberapa bulan silam, dan di Maracana dua tahun yang lalu. Bedanya, kali ini ia memimpin tim nasional dengan gaya yang lebih membumi, taktik yang lebih mendekati kenyataan, mendekatkan diri para realisme sosial ala Sabato ketimbang realisme magis khas Gabo.
Ia, tentu saja, tetap menyimpan mimpi bersama skuat kualitas dunia yang ia miliki saat ini. Seperti ucapan yang terlontar dari mulutnya sendiri: “jika hari ini saya tidak bermimpi untuk menyerahkan Piala Dunia kepada Paus dan rakyat Argentina, saya sudah seharusnya mencari pekerjaan lain.”
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia pada November 2016.
08 November 2016
Tangan dingin Conte yang membebaskan Hazard
Pada titik ini tahun lalu, Eden Hazard barangkali sedang menatap titik nadir karir sepak bolanya. Mesin golnya seakan memperlakukan kegagalan mencetak gol penalti ke jala Maccabi Tel Aviv di fase grup Liga Champions sebagai sahur pembuka puasa gol 30 pertandingan sampai akhir Januari 2016, saat tendangan penaltinya menjebol gawang Milton Keynes Dons di Piala FA.
Pria Belgia yang menyabet gelar Pemain Terbaik versi PFA semusim sebelumnya ini mengakhiri musimnya dengan total empat gol di Liga Premier, catatan terburuknya sejak memulai karier profesional bersama Lille di Liga Perancis tujuh tahun silam. Beberapa kali absen karena cedera tak menghentikan Jose Mourinho, pria Portugal yang dipecat jelang Natal itu, untuk mengkritik performanya, langsung maupun tidak. Kedatangan Guus Hiddink sebagai nahkoda sementara tak juga mampu memperbaiki performanya.
Tidaklah mengherankan jika kedatangan Antonio Conte dari Italia memberikan angin segar bagi gelandang berusia 25 tahun ini. “Saya akan tetap menjadi seorang pemain yang sama,” ujarnya pada awal musim ini, “tetapi Conte tahu cara memperlakukan pemain.”
Kenyataannya, Conte memang tahu cara memperlakukan pemain. Segera setelah mengambil alih tampuk kekuasaan di Stamford Bridge, mantan kapten dan pelatih Juventus ini menerapkan skema 3-4-3 andalannya, yang sukses membawa Juventus bangkit menjadi penguasa Italia pada empat musim terakhir. Hazard dikembalikan ke posisi naturalnya di flank kiri, dengan tanggung jawab untuk lebih banyak maju ke depan.
Selain itu, Conte juga memperbaiki kesalahan Mourinho yang paling fatal: memberikan Hazard tanggung jawab untuk bertahan. Sepanjang karirnya, Hazard bukanlah seorang Deco, Ricardo Quaresma, atau Cesc Fabregas yang dapat diandalkan untuk naik-turun menyokong penyerang sembari memperkuat pertahanan. Memaksanya ikut bertahan, seperti yang dilakukan Mou dalam formasi diamond 4-2-3-1, terbukti gagal total musim lalu karena hilangnya sosok gelandang pekerja keras macam Frank Lampard. Alih-alih, Conte menumpukan kekuatan lini tengah pada duet gelandang Kante dan Matic, memberikan lebih banyak ruang bagi Victor Moses di kanan dan Marcos Alonso di kiri untuk menciptakan umpan-umpan panjang yang mematikan ke depan. Dari segi penyerangan, ia jauh lebih bebas di bawah Conte ketimbang Mou.
Skema seperti ini bukan hal yang awam buat Hazard. Di awal-awal kariernya di Lille, Rudi Garcia memainkannya sebagai sayap yang dapat bergonta-ganti posisi dalam formasi 4-3-3 yang mirip-mirip. Di timnas Belgia, ia juga menempati posisi yang lebih kurang sama, bahu-membahu bersama Kevin de Bruyne di sayap kanan dalam formasi 4-3-3 ataupun 4-5-1 yang lebih ofensif di bawah Marc Wilmots. Jangan lupa, kecepatan dan kelincahannya di sayaplah yang membuat Roman Abrahamovich rela menggelontorkan 32 juta poundsterling untuk memboyong pria kelahiran La Louvière ini dari Stade Pierre Mauroy pada bulan Juni 2012.
Barangkali ulasan Thierry Henry yang paling pas menggambarkan situasi ini. “Musim lalu dia (Hazard) akan memilih untuk mengoper balik bola ke belakang,” ujar legenda Arsenal itu usai Chelsea mengalahkan Southampton akhir pekan lalu. “Tapi sekarang dia selalu berpikir untuk mencetak gol, dan terus menggiring dengan kaki kirinya, lalu boom, gol.”
Ya, Hazard merayakan kebebasannya dengan dentuman assist dan gelontoran gol. Ia telah mencetak 5 gol dan 1 assist saat liga baru berjalan sepuluh laga, melebihi koleksi totalnya musim lalu. Ia bahkan tampak lebih banyak berada di depan ketimbang Costa. Menurut statistik yang dirangkum Opta, sejak Chelsea mulai bermain dengan tiga bek pada laga kontra Hull City 1 Oktober silam, Hazard lebih sering maju ketimbang Costa dalam setiap laga kecuali ketika melawan Manchester United. Persis seperti seorang classic number 10, tak ada yang pasti kapan Hazard bermain sebagai gelandang dan kapan berubah jadi penyerang.
Pujian dan pengakuan, hal yang langka buatnya musim lalu, mulai kembali mengalir. Mntan skipper The Blues John Terry memuji performanya di laga pembuka kontra West Ham. “Dia selalu yang terhebat bagi saya,” ujar Terry. Tiga bulan berselang, giliran Claude Puel yang angkat bicara. “Ia kembali setelah musim lalu yang sulit, dan ia kembali ke tingkat yang sangat baik,” puji pelatih kepala Southampton ini. Anak buahnya baru saja dikalahkan dua gol tanpa balas oleh tim London itu; Hazard mencetak gol perdana dengan memanfaatkan assist dari Moses.
Dan Hazard? Wakil Vincent Kompany di timnas Belgia ini sendiri mengakui tangan dingin Conte yang berperan besar mengembalikan performa terbaiknya. “Ia (Conte) memberitahu saya untuk maju ke depan, (tapi juga) kadang bermain melebar dan membuka permainan. Dia ingin saya mencetak gol dan membuat perbedaan,” ujar Hazard.
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia.
Pria Belgia yang menyabet gelar Pemain Terbaik versi PFA semusim sebelumnya ini mengakhiri musimnya dengan total empat gol di Liga Premier, catatan terburuknya sejak memulai karier profesional bersama Lille di Liga Perancis tujuh tahun silam. Beberapa kali absen karena cedera tak menghentikan Jose Mourinho, pria Portugal yang dipecat jelang Natal itu, untuk mengkritik performanya, langsung maupun tidak. Kedatangan Guus Hiddink sebagai nahkoda sementara tak juga mampu memperbaiki performanya.
Tidaklah mengherankan jika kedatangan Antonio Conte dari Italia memberikan angin segar bagi gelandang berusia 25 tahun ini. “Saya akan tetap menjadi seorang pemain yang sama,” ujarnya pada awal musim ini, “tetapi Conte tahu cara memperlakukan pemain.”
Kenyataannya, Conte memang tahu cara memperlakukan pemain. Segera setelah mengambil alih tampuk kekuasaan di Stamford Bridge, mantan kapten dan pelatih Juventus ini menerapkan skema 3-4-3 andalannya, yang sukses membawa Juventus bangkit menjadi penguasa Italia pada empat musim terakhir. Hazard dikembalikan ke posisi naturalnya di flank kiri, dengan tanggung jawab untuk lebih banyak maju ke depan.
Selain itu, Conte juga memperbaiki kesalahan Mourinho yang paling fatal: memberikan Hazard tanggung jawab untuk bertahan. Sepanjang karirnya, Hazard bukanlah seorang Deco, Ricardo Quaresma, atau Cesc Fabregas yang dapat diandalkan untuk naik-turun menyokong penyerang sembari memperkuat pertahanan. Memaksanya ikut bertahan, seperti yang dilakukan Mou dalam formasi diamond 4-2-3-1, terbukti gagal total musim lalu karena hilangnya sosok gelandang pekerja keras macam Frank Lampard. Alih-alih, Conte menumpukan kekuatan lini tengah pada duet gelandang Kante dan Matic, memberikan lebih banyak ruang bagi Victor Moses di kanan dan Marcos Alonso di kiri untuk menciptakan umpan-umpan panjang yang mematikan ke depan. Dari segi penyerangan, ia jauh lebih bebas di bawah Conte ketimbang Mou.
Skema seperti ini bukan hal yang awam buat Hazard. Di awal-awal kariernya di Lille, Rudi Garcia memainkannya sebagai sayap yang dapat bergonta-ganti posisi dalam formasi 4-3-3 yang mirip-mirip. Di timnas Belgia, ia juga menempati posisi yang lebih kurang sama, bahu-membahu bersama Kevin de Bruyne di sayap kanan dalam formasi 4-3-3 ataupun 4-5-1 yang lebih ofensif di bawah Marc Wilmots. Jangan lupa, kecepatan dan kelincahannya di sayaplah yang membuat Roman Abrahamovich rela menggelontorkan 32 juta poundsterling untuk memboyong pria kelahiran La Louvière ini dari Stade Pierre Mauroy pada bulan Juni 2012.
Barangkali ulasan Thierry Henry yang paling pas menggambarkan situasi ini. “Musim lalu dia (Hazard) akan memilih untuk mengoper balik bola ke belakang,” ujar legenda Arsenal itu usai Chelsea mengalahkan Southampton akhir pekan lalu. “Tapi sekarang dia selalu berpikir untuk mencetak gol, dan terus menggiring dengan kaki kirinya, lalu boom, gol.”
Ya, Hazard merayakan kebebasannya dengan dentuman assist dan gelontoran gol. Ia telah mencetak 5 gol dan 1 assist saat liga baru berjalan sepuluh laga, melebihi koleksi totalnya musim lalu. Ia bahkan tampak lebih banyak berada di depan ketimbang Costa. Menurut statistik yang dirangkum Opta, sejak Chelsea mulai bermain dengan tiga bek pada laga kontra Hull City 1 Oktober silam, Hazard lebih sering maju ketimbang Costa dalam setiap laga kecuali ketika melawan Manchester United. Persis seperti seorang classic number 10, tak ada yang pasti kapan Hazard bermain sebagai gelandang dan kapan berubah jadi penyerang.
Pujian dan pengakuan, hal yang langka buatnya musim lalu, mulai kembali mengalir. Mntan skipper The Blues John Terry memuji performanya di laga pembuka kontra West Ham. “Dia selalu yang terhebat bagi saya,” ujar Terry. Tiga bulan berselang, giliran Claude Puel yang angkat bicara. “Ia kembali setelah musim lalu yang sulit, dan ia kembali ke tingkat yang sangat baik,” puji pelatih kepala Southampton ini. Anak buahnya baru saja dikalahkan dua gol tanpa balas oleh tim London itu; Hazard mencetak gol perdana dengan memanfaatkan assist dari Moses.
Dan Hazard? Wakil Vincent Kompany di timnas Belgia ini sendiri mengakui tangan dingin Conte yang berperan besar mengembalikan performa terbaiknya. “Ia (Conte) memberitahu saya untuk maju ke depan, (tapi juga) kadang bermain melebar dan membuka permainan. Dia ingin saya mencetak gol dan membuat perbedaan,” ujar Hazard.
Pertama kali tayang di Super Soccer Indonesia.
Subscribe to:
Posts (Atom)