03 June 2020

Baju, watak, dan pelakon

diterjemahkan secara bebas dari "Why I Call Myself a Socialist" karya Wallace Shawn, seorang aktor dan sosialis berkebangsaan Amerika Serikat, yang pertama kali terbit pada tahun 2011. anda dapat melihat Shawn membacakannya di sini. baca pula wawancara Jason Farbman di Jacobin yang baik untuk memahami latar belakang penulisannya.

Di Panggung Teater

Di kota-kota yang berukuran sedang di Amerika Serikat atau Eropa, Anda biasanya dapat menemukan sebuah teater. Teater ini biasanya terletak di pusat kota: misalnya dekat sebuah alun-alun atau di pinggir seruas jalan besar.

Para pelakon yang tampil rutin di teater-teater macam ini biasanya tinggal di komplek-komplek perumahan yang tenang di pinggir kota tersebut. Tumpuan hidup mereka sehari-hari biasa saja: menyapu halaman, berkendara seputar kota, memasak makan malam, dan kadang-kadang menonton pertandingan olah raga anak-anak mereka.

Namun, pada malam hari, para pelakon yang hidup biasa-biasa saja ini memakai jubah para raja, ratu, dan penyihir. Dari sisi panggung tempat mereka berlakon, meski hanya untuk sementara waktu, mereka melambangkan kebutuhan tergelap dan harapan terluhur umat manusia.

Seorang pelakon memainkan peran yang cukup unik dalam sebuah masyarakat. Para pengusaha tidak perlu bekerja sambil melucuti jas mereka atau menangis di muka orang-orang asing. Para pelakon mesti melakukan hal itu.

Namun, sungguh tak tepat apabila Anda berpikir bahwa para pelakon dapat dengan mudah melakonkan pribadi orang lain. Pada kenyataannya, seorang pelakon hanyalah seorang manusia pribadi yang lebih rela melepaskan lebih banyak kebenaran tentang dirinya sendiri, dibanding orang-orang lain.

Misalnya, seorang pelakon wanita boleh saja bersifat lembut, pemalu, dan tak banyak tingkah. Ia bisa saja seorang manusia pribadi yang tangannya bergetar ketika menuangkan secangkir teh untuk seorang tamu yang berkunjung. Namun, ia bisa saja melakonkan seorang nyonya bangsawan kejam nan dingin, sembari melantunkan sajak-sajak tajam dari abad ke-18.

Tangan si pelakon wanita takkan bergetar pada saat menuangkan segelas coklat di atas panggung. Ia takkan pula bermalu-maluan apabila tengah menyebarkan gosip tentang kawan-kawan terdekatnya. Kemampuan ini bisa saja membuat tetangga si pelakon wanita, yang mungkin belum pernah menontonnya beraksi di panggung, menganggap bahwa tetangga dia kenal tidak akan pernah berkelakuan seperti itu. Tetapi sang tetangga tahu bahwa si pelakon bisa saja kemudian bersikap elegan atau kejam. Saat si pelakon tengah melakonkan perannya, ia hanya tengah mempertunjukkan bagaimana ia bisa saja berkelakuan. Misalnya, bisa saja dia menjadi seorang nyonya yang tinggal di sebuah rumah bangsawan abad ke-18.

Kita bukanlah seperti apa yang dilihat orang lain. Sejatinya kita lebih daripada apa yang dilihat oleh orang lain. Seorang pelakon tahu pasti akan hal itu. Ia tahu bahwa di dalam diri mereka ada seorang penyihir dan seorang raja. Ia tahu bahwa ketika sedang “melakonkan” diri pribadinya dalam kehidupan sehari-hari, ia sedang “melakonkan” sebuah peran, peran yang lebih kurang mirip dengan peran yang ia mainkan di sebuah panggung teater.

Seorang pelakon tahu bahwa ketika ia sedang bermain peran di teater, ia sebenarnya sedang menipu teman-temannya yang hadir menonton. Ia hanya sedang menipu mereka yang hadir lebih sedikit daripada tipuan yang ia perankan di dalam kehidupan nyata. Di atas panggung, ia melepaskan bagian-bagian dirinya yang susah-payah ia sembunyikan di kehidupan nyata. Si pelakon tahu bahwa di kehidupan nyata ia memainkan sebuah peran yang kecil. Pada saat memainkan peran tersebut ia harus berusaha keras untuk menyembunyikan jutaan kemungkinan-kemungkinan yang hidup di dalam diri pribadinya.

Seorang pelakon biasanya dianggap aneh oleh mereka yang bukan-pelakon. Ini bisa disebabkan oleh kebiasaan seorang pelakon “melakukan perjalanan” ke dalam diri pribadinya sendiri. Para pelakon berjalan-jalan ke luar sebuah wilayah kebiasaan yang mereka tampakkan kepada orang-orang di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, orang-orang agak sedikit bingung apabila melihat mereka.
Sebaliknya, para pelakon juga memandang mereka yang bukan-pelakon dengan kebingungan yang hampir sama. Mereka berpikir: alangkah liyannya kehidupan mereka yang bukan-pelakon! Tak pernahkah mereka merasa sedikit klaustrofobik, karena tak pernah “berjalan-jalan ke luar” wilayah kebiasaan mereka?

Potongan Rambut yang Mustahak

Orang bijak mengatakan bahwa kita semua lahir di dunia dalam keadaan telanjang. Tiap-tiap sebuah hari bermula, banyak di antara kita yang juga dalam keadaan bertelanjang. Keadaan tersebut biasanya terjadi pada momen-momen pendek yang tertangguh, sebelum kita mulai berpakaian.

Pada banyak tradisi agama, para paderi memakai pakaian mereka dengan khidmat seperti sebuah ritual. Polisi, serdadu, petugas pembersih, dan pelayan hotel bangun pagi-pagi, berpakaian, berangkat kerja, membuka loker, melucuti pakaian mereka, dan berpakaian lagi sesuai seragam kerja masing-masing. Para pelakon berangkat ke teater, duduk di ruang rias, dan menyarungkan kostum mereka sesuai peran masing-masing.

Selagi berpakaian, Ia-yang-Berseragam ini mengingat-ingat watak yang akan ia diperankan. Bagaimana ia harus berperasaan. Bagaimana ia harus berbicara. Si pelakon, dalam kostumnya, memandang cermin dan melihat segalanya kembali ke pribadinya sendiri.

Pada waktu si pelakon melangkah ke panggung untuk memulai pementasan, ia sesungguhnya ingin meyakinkan para penonton yang hadir bahwa mereka sedang menonton sebuah kenyataan, bukan sekedar pementasan teater saja. Kostum yang ia pakai, suara yang ia lantunkan, diksi yang ia susun, aksen yang ia tirukan, cara bercakap yang ia gubahkan, semuanya hanyalah alat yang ia gunakan untuk melancarkan kemampuan yang dimiliki oleh tiap-tiap diri penonton.

Sesungguhnya inilah kemampuan istimewa yang dimiliki tiap-tiap manusia. Kemampuan itu ada pada susunan genetik Anda sebagai manusia, dan kewujudannya memungkinkan seorang pelakon menuntaskan tugasnya di atas panggung. Ini adalah kemampuan Anda, seorang manusia pribadi, untuk memercayai apa yang Anda hendaki, dan kebutuhan Anda untuk memercayai sesuatu tentang seseorang yang bukan-diri-Anda.

Orang lain bukanlah diri-Anda. Orang yang bukan diri-Anda akan terus menjadi asing bagi Anda sendiri. Anda tak akan pernah tahu keadaan tentang orang lain yang bukan diri-Anda. Jadi, amat mungkinlah bagi Anda untuk memercayai sebuah imaji-fantasi tentang mereka.

Saya perlu mengaku: saya tak pernah bertemu gen saya. Saya tak pernah melihat gen dari kaca mikroskop. Namun, saya bisa menebak-nebak macam apa gen saya itu sebenarnya. Satu hal yang saya tahu betul, saya amat responsif kepada isyarat-isyarat visual tentang orang lain. Mungkin ini perwatakan manusia sebagai sebuah spesies. Itulah alasan mengapa orang-orang bisa menghamburkan begitu banyak uang untuk merias wajah dan memotong rambut. Itulah alasan mengapa para pelakon biasanya memikirkan kostum mereka dengan amat serius.

Manusia, percaya atau tidak, benar-benar percaya akan isyarat-isyarat visual. Potongan rambut bisa mengisyaratkan banyak hal; ia bisa mengubah dengan dramatis bagaimana Anda memandang diri seseorang.

Sebentuk potongan rambut bisa mengisyaratkan: “Aku pintar, berdisiplin, tepat, dan dinamis”. Sebentuk potongan lain bisa mengatakan: “Aku tak benar-benar pintar, agak malas, tak peduli apa yang terjadi pada diri; aku tak peduli apa yang kau pikirkan tentangku.”

Potongan rambut bisa mengatakan “kupikir seks sebuah topik yang menarik; aku orangnya cukup seru, dan kupikir hidupku cukup hebat”; dan potongan lain dapat mengatakan “aku tak peduli dengan seks; kupikir hidup begitu buruk”

Jika bentuk kepala seseorang menentukan sebuah kepribadian, pakaian menunjukkan peran apa yang dimainkan seseorang dalam sebuah masyarakat. Anda mungkin nyaris tak pernah berpikir betapa cepatnya Anda menghakimi seseorang dari gaya berpakaiannya atau dari model rambutnya; dan juga betapa kuat Anda biasanya berpegang pada penghakiman tersebut. Ketika seorang pemeran melangkah ke panggung dengan pakaian seorang raja, Anda harus mulai percaya bahwa ia benarlah seorang raja.

Seorang pemeran di atas panggung sebenarnya sedang hidup di dalam alam nyatanya sendiri. Ia tahu bahwa sebenarnya memang ada seorang raja di dalam dirinya. Namun ia juga tahu bahwa Sang Nasib telah menjadikannya seorang pemeran, bukan seorang raja dalam arti yang sebenarnya. Sementara itu, para penonton yang melihat si pemeran beranjak pergi dari alam nyata dan hidup dalam sebuah ilusi, sampai gorden panggung diturunkan.

Lebih Pintarkah Anda dari Thomas Jefferson?

Anda dapat mengapresiasi seni berlakon karena Anda mampu berfantasi tentang orang lain, dan Anda mampu (dan mau) memercayai fantasi tersebut. Namun, kemampuan dan kemampuan itu sejatinya juga bermata dua, karena ia dapat menghasilkan penderitaan yang tiada putus bagi umat manusia lain.

Kesengsaraan, atau bahkan marabahaya, dapat terjadi apabila manusia menggunakan kemampuan kita untuk berfantasi ini untuk sesuatu yang lain. Saya gunakan, misalnya, dalam konteks kehidupan percintaan. Seorang lelaki bisa saja menggunakan kemampuannya yang istimewa itu untuk menggambarkan watak dirinya kepada pasangan wanitanya, meskipun penggambaran watak itu sepenuhnya bergantung pada harapan-harapan yang fantastis, bukannya kebenaran.

Anda mungkin tak bisa membayangkan betapa merusaknya kemampuan tersebut apabila digunakan secara menyimpang: misalnya, digunakan untuk menggambarkan watak negatif pada orang-orang yang entah karena apa, Anda anggap rendah. Manusia biasa melakukan ini pada sekelompok orang banyak yang bahkan belum pernah ia temui langsung. Namun manusia dapat pula melakukan kemampuan ini pada orang atau sekelompok orang yang cukup kita kenal.

Mengapa Anda melakukannya? Kadang-kadang kemampuan ini dikeluarkan hanya untuk membuat diri Anda merasa lebih baik; misalnya untuk menebus sesuatu hal yang pernah Anda lakukan atas diri mereka, atau membikin halus sesuatu hal yang Anda rencanakan atas diri mereka di masa depan.
   
Jujur saja, mungkin Anda tak pernah bisa mengatakan bahwa Thomas Jefferson tak pernah benar-benar kenal dengan orang-orang yang berkulit hitam.

Masalah Tuan Jefferson adalah ia tak tahu bagaimana cara ia akan hidup tanpa para budak kulit hitamnya. Namun, Anda takkan pernah bisa membikin diri Anda melihat Tuan Jefferson sebagai seorang pribadi tanpa hati, tanpa rasa adil, dan kejam karena memperbudak manusia yang sama derajatnya macam ia. Padahal, Tuan Jefferson sendiri mengabaikan bukti-bukti nyata yang ada di depan matanya (pada saat ia hidup) dan memilih untuk menggunakan kemampuannya untuk percaya bahwa orang-orang Afrika itu tak sederajat dengan diri-pribadinya.

Seorang sejarawan dapat saja menulis sebuah buku sejarah politik tentang umat manusia, hanya dengan mencatat peristiwa-peristiwa di mana umat manusia percaya pada suatu hal tentang umat manusia lain dalam waktu-waktu yang berlainan. Tentu saja, fantasi-fantasi ini hampir selalu musykil sifatnya.
Setelah berjalan sekian lama, seorang pengamat yang jeli akan dapat menangkap satu pola. Ambillah bangsa-bangsa yang selalu dianggap liyan oleh peradaban: orang Afrika, orang Yahudi, orang Meksiko, orang homoseks, kaum perempuan. Selepas sekian kurun, akan ada yang sadar bahwa mereka yang dianggap liyan itu sebenarnya tak lebih lain daripada orang-orang lain. Ternyata mereka juga punya kemampuan tertentu. Ternyata saya tak begitu suka pada sekelompok kecil—mereka terlalu pintar, misalnya.

Kesadaran tersebut akan selalu datang dari arah yang sama. Sejatinya, cara manusia belajar tentang sekelompok manusia yang lain daripada dirinya, hampir sama dengan cara para pelakon di atas panggung menyadari hubungan mereka dengan diri-pribadi mereka di dunia nyata. Seseorang bisa jadi Lebih dibanding apa yang dilihat orang lain.

Umat manusia pada umumnya cukup mampu untuk meninjau kembali fantasi-fantasi mereka di masa lalu dan bergerak melampauinya. Kadang-kadang, manusia melakukannya dengan bangga. “Ah ya, saya tahun lalu mencoblos Barack Obama; setelah itu kami pergi berlibur ke Vietnam.” “Kami pergi ke pembacaan puisi Octavio Paz bersama kawan-kawan kami, keluarga Goldstein, dan kami bersua Ellen DeGeneres dan Portia de Rossi di sana—mereka orang-orang hebat!”

Dan tentu saja, tidak banyak yang tahu bahwa fantasi Anda sekaranglah yang membikin Anda sendiri agak kerepotan.

Apakah Anda lebih cerdas daripada Thomas Jefferson? Bisa jadi tidak. Jadi, beginilah situasi manusia sekarang: begitu gampang melihat ilusi yang dipercaya oleh orang-orang yang hidup seratus tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau satu tahun lalu; namun sering kali tak sadar dan tak dapat menembus ilusi-ilusi yang dipercayai oleh keluarga, teman, orang-orang di sekitar, pada masa yang kiwari.

Memilih Bayi di Pasar Antarabangsa

Pada setiap harinya, sekitar 400,000 bayi lahir ke dunia. Sebagian bayi lahir dengan rusak tanpa dapat diperbaiki. Mereka lahir dengan kondisi seperti itu akibat kondisi hidup para ibu yang melahirkan mereka: kurang gizi, air tercemar, bahan kimia misterius yang menyerang masuk ke dalam tubuh dan membungkus rapat gen-gennya.

Namun, kenyataan yang paling mengerikan adalah kebanyakan dari bayi-bayi yang lahir tiap harinya ke atas dunia semuanya sehat-sehat belaka. Sejatinya tiada yang salah dengan mereka. Setiap bayi itu sudah siap untuk berkembang menjadi seorang manusia pribadi yang penuh-seluruh: yang di masa depan, kepintaran, kecerdasan, selera estetik, dan perasaan cintanya pada orang lain akan membuat dunia tempat yang lebih baik. Setiap bayi yang lahir sehat itu siap menjadi insan yang bangun tidur dengan bahagia pada pagi hari. Mereka bahagia karena mereka tahu akan menghabiskan hari itu melakukan sesuatu yang membikin mereka bahagia, mengerjakan kerja yang mereka suka. Mereka lahir dengan segala perangkat genetika yang lengkap.

Namun, apabila mereka tengah berkulat di samping ibu-ibu yang melahirkan mereka, celakanya para bayi itu tak tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka.

Saat Uni Soviet masih berjaya dan Rencana Pembangunan Lima Tahun mereka masih berlaku, para perencana pembangunan negara berusaha untuk menentukan apa yang harus terjadi atas tiap-tiap bayi yang lahir di Soviet. Para perencana akan menghitung berapa orang yang kelak dibutuhkan untuk menjadi manajer perekonomian; berapa banyak peneliti; berapa banyak pekerja pabrik. Berdasarkan perencanaan ini, para pemimpin Soviet akan mengatur negaranya dalam rangka menyalurkan jumlah orang yang tepat pada kategori yang tepat. Dewasa ini, Sang Tangan-tak-Terlihat melaksanakan fungsi tersebut untuk dunia yang berputar pada mekanisme pasar antarabangsa. 

Sering saya perhatikan bahwa banyak orang pada angkatan saya—yang lahir pada saat Perang Dunia Kedua berkecamuk—terobsesi dengan imaji kereta-kereta tiba di stasiun Auschwitz dan para perwira SS menyambut penumpang kereta yang tiba tersebut dengan melakukan “seleksi”. Beberapa penumpang kereta tersebut akan disortir menjadi buruh pabrik, yang akan hidup selama tenaga masih melekat pada badan mereka; sementara sisa penumpang yang lain akan langsung dikirim ke kamar gas.

Mekanisme pasar antarabangsa juga melakukan “seleksi” semacam ini. Sang Pasar memilih sekelompok kecil bayi-bayi yang istimewa, yang lahir pada bagian tertentu pada sebuah kota tertentu pada sebuah negara tertentu. Bayi-bayi tersebut akan dapat menghidup sebuah penghidupan yang teristimewakan. Ada yang akan menjadi ilmuwan, ada yang akan menjadi bankir. Ada yang akan pegang komando angkatan perang, ada yang akan memerintah negara-negara, ada pula yang akan mengumpulkan harta kekayaan luar biasa banyaknya. Bayi-bayi yang lain akan ada pula yang menjadi kaum intelektual, para guru, atau para seniman, yang bayarannya tentu lebih rendah. Seluruh anggota pada kelompok bayi-bayi istimewa ini akan mendapatkan peluang untuk mengembangkan isi pikiran dan membikin nyata bakat mereka.

Pasar yang sama, mekanisme yang sama, akan menyortir bayi-bayi yang lain dan menstempel label pada mereka. Sang Pasar akan membuang mereka ke liang-liang gulita jauh di bawah, di mana cara-cara membesar dan jalan-jalan penghidupan tertentu sedang menunggu mereka.

Jika Sang Pasar memerlukan beberapa ratus pekerja di pabrik-pabrik elektronik, beberapa ratus bayi akan distempel label “pekerja pabrik” dan dilemparkan ke liang-liang tempat mereka semestinya berada. Apabila tiba saatnya bayi-bayi ini sudah siap dan cukup umur untuk bekerja, mereka akan pelan-pelan merangkak keluar dari liang-liang tempat mereka dibesarkan. Ia akan berdiri di gerbang-gerbang pabrik elektronik di India, Tiongkok, atau Meksiko, tempatnya berdiri di tempat kerja selama enam belas jam per hari. Ia akan tidur di bedeng pabrik itu. Ia tidak akan diizinkan untuk banyak bicara pada buruh yang lain. Ia harus minta izin jika ingin ke kamar kecil. Ia akan digoda dengan rayuan-rayuan menjurus dari para bosnya. Ia akan menghirup udara kotor dari usia muda sampai tua, dari pagi sampai petang, hingga udara tersebut membikin paru-parunya meradang sampai ia mampus di usia muda.

Dan ketika ia sudah mampus, seseorang pelawat yang datang berziarah ke pemakamannya akan dengan enak mengenang bahwa si buruh yang sudah mampus ini mendedikasikan hidupnya pada pekerjaannya, bukan untuk membikin untung dirinya sendiri, namun untu khajat hidup orang banyak, seperti seorang perawat di rumah sakit. Sang pelawat akan lupa bahwa bila seorang perawat bekerja untuk membikin untung seorang pesakit, si buruh yang sudah mampus ini bekerja untuk membikin untung para majikannya.

Si buruh yang sudah mampus itu, yang awalnya berasal dari bayi-bayi yang telah dipilih oleh Sang Pasar untuk melakukan pekerjaannya selama hidupnya, telah mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran, dan segala-galanya untuk meningkatkan hajat hidupnya. Ia hidup dan mati untuk tujuan tersebut. Dan tidak akan ada yang berpikir bahwa apabila ia lahir, ia sebenarnya kekurangan bakat alamiah yang dapat saja menjadikannya seorang pemain biola, atau seorang konduktor musik, atau seorang yang setara dengan Beethoven.

Satu-satunya alasan si buruh yang sudah mampus itu bekerja di pabrik, bukannya di balai filharmonik, bukanlah bahwa ia kekurangan bakat alamiah, namun karena Sang Pasar membutuhkan tenaga kerja, dan jadilah ia salah satu di antaranya.

Setelah semua bayi yang lahir ke dunia selesai disortir, lunas diseleksi pada kategori-kategori yang berbeda, mereka akan dipakaikan kostum yang bermacam ragam. Selepas mereka tahu bentuk kostum yang mereka pakai, tiap-tiap pribadi mereka diberikan aksen berbicara, watak kepribadian, dan jenis-jenis tubuh tertentu. Wajah-wajah mereka akan mulai mirip—atau dimirip-miripkan—dengan watak kepribadian mereka, yang seragam dengan kostum yang dipakaikan.

Para bayi yang telah berkostum ini akan segera paham peran yang akan ia mainkan, dan mereka akan mencari pasangan untuk beranak-pinak, dan memakaikan kostum yang sama pada anak-anak mereka seiring zaman bergerak.

Maut yang Damai

Saya kebetulan mendapatkan peran untuk menjadi seorang bohemian yang setengah makmur. Saya tak kere-kere amat, tapi juga tak kaya-kaya amat.

Pada saat saya keluar rumah dan berjalan di sebuah hari yang cerah, saya memakai seragam bohemian saya. Saya bisa saja melewati seorang polisi berperut gendut yang sedang patroli; seorang profesor bergaya serabutan dan berjas usang; pasangan muda berpakaian necis yang sibuk mengejar rapat selanjutnya; mahasiswa hukum dan seni rupa.

Saya juga bisa melewati orang-orang yang biasanya berada di belakang layar, yang hanya akan tampak jika mereka mendekat sedikit. Kasir toko yang warna bajunya bertabrakan; gelandangan dengan aksen yang aneh dan kelakuan yang kelabakan; supir truk sampah yang berperut bundar dan senantiasa menyeringai; pembantu rumah tangga yang menyelinap keluar dari rumah majikannya untuk pergi ke toko.

Saya, bohemian ini, tak akan melihat apa-apa. Saya tak akan berpikir apa-apa. Saya tak akan bereaksi apa-apa dengan apa yang saya lihat, karena saya sepenuhnya percaya. Lebih tepatnya, saya percaya saja. Saya percaya kostum-kostum itu, watak-watak itu.

Pada satu waktu, sementara seorang wanita berlari ke dalam toko, saya akan bisa melihat apa yang terjadi, macam seorang pria yang sedang tenggelam melihat garis pantai dengan untuk kali terakhir. Saya bisa merasakan berteriak: “Berhenti! Berhenti! Tak ada semua ini yang nyata! Ini cuma fantasi! Ini hanya teater! Orang-orang yang berkostum ini bukanlah seperti yang Anda pikirkan! Aksen mereka palsu, air muka mereka kodian! Takkah kau lihat? Ini semua hanyalah---”

Gelap. Pikiran saya gelap seketika, dan saya kembali ke tempat saya berdiri tadi. Si pembantu rumah tangga keluar dari toko, selesai berbelanja, dan bergegas kembali ke rumah majikannya. Sekali lagi saya melihatnya hanya sebagai seorang pelakon yang sedang bermain peran. Saya melihatnya sebagai seorang manusia yang bekerja sebagai pembantu. Si pembantu tak akan pernah bisa hidup seperti hidup yang telah saya hidupi, atau mencapai kehidupan yang telah saya capai—mungkin karena ia tak cukup pintar. Si pembantu haruslah jadi seorang pembantu. Ia lahir untuk jadi seorang pembantu. Si gelandangan pastilah sudah jadi gelandangan sejak awalnya, karena memang ia dilahirkan untuk jadi gelandangan. Warna pakaian si kasir toko itu tak pernah tak bertabrakan. Ia tak pernah memakai warna yang pas. Ia selalu memakai kaus pink dan celana hijau yang saling bertabrakan itu.

Saya menghabiskan tiap detik hidup saya menggunakan kemampuan untuk berfantasi, yang telah diberikan ketika saya lahir. Saya hidup seperti Thomas Jefferson, yang hidup dalam ilusinya karena tak mampu menghadapi kebenaran tentang budak-budak yang ia miliki. Kemampuan saya untuk percaya bahwa dunia ini adalah sebuah panggung pertunjukan yang besar memberi saya peluang untuk tidak mengingat momen-momen ketika para bayi itu mati semati-matinya, dan saya selamat dari jerat kematian.

Sang Pasar melempar bayi-bayi yang menjadi pembantu rumah tangga ke dalam jurang tempat mereka dipelihara, dan membuat para bayi itu terjerat selama hidup mereka. Saya melihat itu semua terjadi, tapi saya tak dapat mengingatnya kini. Tapi, rasanya cukup menyenangkan melihat dunia memperlakukan saya dan si pembantu rumah tangga dengan adil dan setara—meski semu.

Rasanya benar-benar adil, jika Anda pikir. Jika saya mencuri sebuah mobil, saya akan dihukum penjara. Jika si pembantu mencuri sebuah mobil, dia akan dihukum penjara. Jika saya berkendara di jalan tol, saya membayar uang tol. Jika si pembantu berkendara di jalan tol, dia membayar uang tol. Jika saya melamar sebuah pekerjaan, saya akan menghadapi serangkaian ujian. Jika si pembantu melamar sebuah pekerjaan, dia akan menghadapi serangkaian ujian. Kami berdua bersaing dengan setara untuk hal-hal yang kami inginkan. Saya bisa hidup dengan berpikir bahwa semuanya sudah adil belaka.

Jika Anda lihat kenyataannya, jika Anda lihat orang-orang lain yang berpapasan dengan Anda di jalanan, sesungguhnya semua itu tidak dapat tertanggungkan. Tiada yang dapat dibenarkan jika minat dan bakat bayi dan anak-anak kecil dirampas dan diputuskan.

Hal-hal seperti inilah yang biasanya tak mampu saya pikirkan. Para pekerja pabrik, para pembantu rumah tangga, para kasir toko, dan para supir truk juga biasanya tak memikirkan hal ini. Mereka sibuk memerankan peran mereka secara konsisten dan meyakinkan. Mengapa? Mereka percaya sesuatu tentang diri mereka sama dengan cara saya percaya sesuatu tentang diri mereka: hanya itulah yang dapat mereka kerjakan, dan mereka tak akan bisa melakukan apapun selain apa yang sedang dan sudah mereka kerjakan.

Itulah yang dibikin percaya oleh semua manusia, sehingga kita bisa hidup dan menghidupi kehidupan kita secara damai bersama-sama. Namun, itulah maut yang damai.

Para pelakon memahami kekosongan yang tak terhingga di dalam diri tiap-tiap manusia: watak yang tak mereka mainkan, kelakuan yang tak mereka tampilkan. Para guru sekolah bisa melihat semua itu tiap-tiap hari. Anak didik mereka di bangku belakang sampai depan bisa bernyanyi, menari, mengolah bola, berhitung, melukis, dan berpikir. Sang bayi yang kini sedang berseragam gelandangan sebenarnya bisa saja menjadi seorang ahli biologi, dokter, penyair, badut sirkus, atau ahli kajian Yunani Kuno.

Jika pertunjukan yang sedang Anda tonton adalah sebuah ilusi, maka pembagian nasib dan pekerjaan yang dilakukan oleh dunia sekarang sesungguhnya secara moral tak dapat dipertanggungjawabkan. Manusia—saya, Anda, kita semua—harus bisa belajar bagaimana caranya untuk membagi rata seluruh tugas yang harus dikerjakan.

Kostum-kostum, seragam-seragam itu, pada nyatanya salah dan harus Anda buang. Dari sinilah Anda memulai kembali dengan telanjang.

15 April 2020

Catatan dari pandemi

Sudah begitu lama saya tidak menulis di blog ini.

Kalimat di atas bukan untuk mengiba-ibakan diri sebagai seorang penulis yang gagal, namun mungkin dapat diterima sebagai sebuah kenyataan bahwa menulis bukan (semoga tidak) lagi menjadi bagian besar dari hidup saya. Reflektif saja, tapi kenyataan.

Dalam satu-dua tahun terakhir saya lebih banyak mengekspresikan pemikiran saya lewat berbicara (debat, MUN, peradilan semu dan serentetan lainnya) atau meracau (tentu saja di Twitter). Perlu saya akui bahwa saya terlalu malas untuk kembali menulis sebuah tulisan yang layak disebut tulisan; entah karena terlalu banyak berbicara, terlalu banyak meracau, atau seimbang keduanya.

Mungkin karena sekarang waktu saya tersita untuk hal-hal yang tidak terlalu benar memerlukan urusan tulis-menulis; atau bahkan mungkin karena kuliah saya di fakultas hukum sudah menyita banyak "jatah menulis" yang sudah sedikit itu. Bisa jadi, tapi menurut saya ini alasan yang mengiba-iba juga.

Ah, saya tidak tahu. Terlalu banyak yang perlu dipikirkan akhir-akhir ini, yang biasanya berakhir dengan keputusan untuk menunda berpikir tentangnya; lalu kemudian menyesali lagi (seraya berpikir) kenapa perlu ditunda untuk memikirnya. Ini sudah macam plot film yang mengada-ada.

Pada waktu tulisan ini diterbitkan, saya sudah berdiam diri di rumah selama 1 bulan. Kampus ditutup karena pandemi Covid-19 yang menerjang Indonesia tanpa ampun. Pada intinya saya tidak berkeberatan untuk tinggal dan duduk diam saja di rumah (sebagai seorang yang sering merasa tidak perlu betul berkeramaian), namun saya pikir perintah berkurung macam begini perlahan-lahan berdampak juga kepada akal-budi manusia sehat. Tidak ada masyarakat yang bisa dikurung lama-lama, saya rasa, tapi demi pertimbangan darurat kesehatan masyarakat tentu rebahan dan makan-tidur-nonton saja di rumah dapat dijadikan poin penting dalam kontribusi pribadi dalam menyelamatkan dunia.

Selama pandemi ini saya tidak banyak beraktivitas, namun bukan berarti saya tidak berkurang pula melakukan sesuatu yang berarti. (Hidup satu-dua tahun terakhir telah mengajarkan saya bahwa kata "aktivitas" dan "faedah" adakalanya tidak selalu berkaitan). Mungkin baik pula kiranya jika saya gambarkan sedikit masa-masa karantina di mata seorang mahasiswa gabut yang diliburkan pemuda harapan bangsa (tapi belum jadi stafsus) ini.
  1. Saya bangun lebih siang dari biasanya dan tidur lebih lewat dari biasanya. Ini bukan kebiasaan baru, tapi sejak kuliah dan hidup sendiri saya selalu berusaha untuk bangun pagi. (Andai saja kelas-kelas pagi yang saya lewati karena ketiduran itu bisa diminta refund uang kuliah). Oleh karena perkuliahan kebanyakan digantikan tugas daring (atau malah tidak kuliah sama sekali; ini satu hal lagi yang dapat dimintakan refund uang kuliah) maka saya tidak perlu repot-repot menyetel alarm pagi; toh Subuh juga saya dibangunkan oleh azan dari masjid yang hanya sepeminuman teh dari kamar saya. Meskipun orang bilang bangun siang tidak baik untuk kesehatan, namun saya merasa bahwa nasihat tersebut mungkin agak kurang relevan di masa orang bisa dapat virus mematikan dari jabatan tangan. Dalam kata lain: YOLO.
  2. Saya lebih banyak minum kopi. Dua minggu setelah karantina dimulai saya membeli French press dan menyetok ground coffee setengah lusin kantong, oleh karena stok kopi dan mesinnya tidak serta saya bawa pulang ke rumah saat perintah pulang tiba. Hal ini memancing beberapa orang berkomentar menanyakan bahwa saya mahasiswa atau bukan; kalau benar mahasiswa kok punya mesin kopi? Menurut saya pertanyaan sebegini adalah bukti stigmatisasi (bah!) bahwa mahasiswa hanya boleh minum kopi sasetan saja; buktinya saya masih minum kopi dari kantin kampus; tapi tentu saja kampus tak buka sekarang.
  3. Saya membeli banyak buku (lewat toko buku daring) dan sedang bersusah-payah mengangsur membacanya, oleh karena alasan di bawah.
  4. Saya mulai berlangganan Netflix. Sejauh ini saya sudah menyelesaikan Sex Education (sitkom anak SMA tentang.... seks, tentu saja) dan Ugly Delicious (eksplorasi kokiseleb Dave Chang tentang budaya makan-makan); serta tengah separuh jalan dalam La Casa de Papel dan beberapa film dokumenter mantap yang saya temukan pada kanal ini. Setelah tiga tahun, ternyata sebuah pandemi menjadi alasan yang kuat untuk kembali ke jeratan setan kapitalisme ala original content programming.
Begitu saja hidup selama berkurung di rumah. Tidak benar-benar spesial, namun tidak dapat dikatakan tidak luar biasa karena kita sedang hidup di tengah-tengah satu-satunya peristiwa global yang membuat dunia berhenti sama sekali. Siapa yang tahu kalau kita bisa menyelamatkan dunia dengan tinggal di rumah saja? Mungkin studio-studio film tak perlu menghamburkan duit banyak untuk mereka-reka narasi manusia super.

Saya akan mencoba lebih banyak menulis di blog ini, dengan bahasa Indonesia (ini salah satu resolusi 2020: menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan beradab). Mungkin saya akan mengirim beberapa buah pemikiran ke kanal-kanal tertentu, jika mereka cukup sudi untuk menerbitkannya. Saya kira banyak yang akan menyambut nasib di tempat sampah blog ini, namun macam kata orang Barat: one step of a time.  Saya hanya ingin mengembalikan menulis menjadi kegiatan manasuka yang laissez-faire, seperti beberapa tahun lalu. Tanpa tekanan, tanpa prestise, mungkin tak dibaca banyak orang, tapi yang penting saya menulis. Sedikit-sedikit, bolehlah.

03 May 2019

WikiNusantara: sebuah laporan


Pekan lalu saya berkesempatan menghadiri WikiNusantara 2019, konferensi Wikipediawan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Wikimedia Indonesia di Yogyakarta. Kehadiran saya di sini salah satunya mewakili komunitas Wikipedia bahasa Indonesia dan Minangkabau, dua edisi Wikipedia tempat saya aktif.

Kehadiran saya dibiayai oleh beasiswa penuh yang diberikan WMID (kamsia banyak-banyak!). Saya terakhir kali menginjakkan kaki di Kota Gudeg ini tiga belas tahun lalu, saat ikut liburan bersama ayah saya dan rombongan jurusan teknik sipil Unri. Tidak banyak yang saya ingat lagi tentang Yogya kecuali Ambarrukmo (yang baru dibuka pada saat saya terakhir di sana) dan Borobudur (yang tentu saja bukan Yogya).

Saya terbang dari Pekanbaru pada Kamis siang, 25 April, dan mendarat di Adisucipto sekitar Maghrib setelah sebelumnya transit beberapa jam di Hang Nadim, Batam. Kawan saya Haqi, yang sudah hampir dua tahun tinggal di Yogya dan berkuliah di UMY, menjemput saya di bandara menuju kosnya di wilayah yang saya lupa namanya (pokoknya dekat Malioboro).

Dengan semangat yang sangat tidak nJogjawi kami memutuskan tidak makan gudeg malam itu, meski sudah sampai di depan Yu Djum Wijilan. Supir Grab yang membawa kami, seorang ibu-ibu berjilbab, dengan pasif-agresif menanyakan "lho demen Yu Djum tho mas? Itu kan gudeg kafir?" sambil menunjuk warung Bu Amad, yang gambarnya ibu-ibu berjilbab juga pas di sebelah Yu Djum. Baru saat itu saya tahu gudeg ada agamanya.

Karena sudah ketiban kofar-kafir dengan gudeg, kami akhirnya memilih makan di Tora-Tora, warung makanan Jepang jalanan di simpang lampu merah MM UGM. Saya tahu warung ini dari tulisan lawas Mas Nuran Wibisono bertahun lalu. Enak dan murah, dengan suasana yang selo khas Yogya.

Pagi Jumat saya meninggalkan kos Haqi untuk ke hotel. WikiNusantara diselenggarakan di Innside by Melia Yogyakarta, sebuah hotel bintang empat di Ringroad Utara. Tapi sebelum itu kami melipir dulu (lagi-lagi naik motor, sambil mencangking tas besar dan ransel) ke Yu Djum Pusat, yang tempatnya masih asli masuk ke gang sedikit. Peduli amat dengan kekafiran gudeg, saya pesan nasi gudeng dengan paha ayam. Sedap dengan harga yang sepadan.

Selepas sarapan gudeg saya langsung ke hotel karena sudah ada janji syuting dengan kawan-kawan dari Studio Amarana. Jadi ceritanya mereka mendapat grant dari WMF untuk membuat dokumenter pendek mengenai Wikipedia dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Saya terpilih untuk menjadi pemeran utama (cielah) mewakili komunitas Minangkabau. Jadwal saya hari itu adalah berbicara on camera beberapa patah kata dalam bahasa Minang untuk mempromosikan dan mengajak orang-orang menyunting. Sore itu syuting selesai, untuk tahap pertama.

Saya sudah lama penasaran mau ketemu filsuf mbeling dan debater pensiun legendaris Cendana Aldo Muhes; beberapa kali upaya kami bertemu di Pekanbaru selalu gagal dengan paripurna. Kami belum pernah bertemu langsung, karena memang agak sulit bertemu begitu saja dengan filsuf. Oleh karena saya di Yogya lalu saya langsung mengabari beliau yang sedang selo dari tugasnya sebagai datuak rajo nan disambah dan supreme overlord Fakultas Filsafat ngGadjah Mada.

Saya bertemu beliau dan kawan-kawannya sedang selo membincangkan hal-hal dunia dan seisinya di Cafe LIP, Terban dan juga bertemu Theo, sesama debater Pekanbaru pensiun yang juga sedang kuliah di universiteit tua itu. Kafe itu tempatnya menyenangkan; selain karena terletak di depan Institut Français Indonesia, Yogya. Karena jam tutupnya cepat, maka kami beralih ke Kafe Basabasi di Sorowajan, dekat kampus UII. Baru kali ini saya melihat bukti dedikasi orang Yogya kepada kegiatan nangkring-nangkring, karena Basabasi itu salah satu kafe paling ramai yang pernah saya lihat. Diskusi berlanjut sampai tengah malam, sampai saya harus menge-bid farewell pada Lord Muhes, Theo, dan kawan-kawan yang menyenangkan.

Hari Sabtu saya bangun lebih pagi karena konferensi sudah dimulai. Sehari sebelumnya saya bertemu rekan sekamar saya, Ahmad Fauzi dari Bandung, yang ternyata baru kelas 1 SMA. Saya jadi teringat bahwa masa-masa saya jadi salah satu kontributor termuda Wikipedia Indonesia sudah lama lewat, hahahaha.

Saya bertemu banyak sekali Wikipediawan dan Wikipediawati, baik yang sudah saya temui sebelumnya atau tidak. Selain wajah-wajah familiar dari id.wp, min.wp (yang maangkuik sakampuang dari Padang, semuanya minus beberapa orang), dan WMID, saya bertemu orang-orang baru dari Wikipedia bahasa Jawa, Sunda, Bali, Rejang, dsb. Saya bertemu lagi dengan Pak Naval Scene, salah satu pendiri Wikipedia Minang dan sesepuh WMID yang dihormati; Bang Ezagren, perintis Wikipedia Banjar; dan Mas Bonaditya, mimin-nya Wiki. Selain itu saya bertemu dengan Kang Kandar dan Pak Kembangraps, keduanya kontributor senior. Barang tentu saya bertemu lagi dengan Uda IvanLanin; terakhir kami bersua di Kemah Bahasa di UI tahun 2012, tujuh tahun silam.

Acara dibuka dengan gelar wicara (saya baru tahu bahwa ini padanannya talkshow) dari Pak Naval Scene, Kandar, dan Kembangraps. Sesi pertama yang saya ikuti adalah pengantar GLAM yang salah satunya diisi oleh Dr. Pramono, pensyarah Jurusan Sastra Minangkabau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan salah satu pendukung komunitas Wikipedia Minang di Padang. Presentasi beliau mengenai upaya menyelamatkan manuskrip kuno di Sumatera Barat mengundang decak dan kesan dari para peserta. Sebelum makan siang, saya ikut satu lagi sesi yaitu Wikipedia dan Pendidikan yang dibawakan oleh Mbak Amy dari Wikipedia bahasa Jawa. Saya terkesan dengan upaya kawan-kawan Jawa dalam memperkenalkan Wikipedia lewat program Wiki Menyang Sekolah mereka, dan terutama tertarik dengan proyek Wikimedia Education Greenhouse yang juga dipaparkan.

Selepas makan siang, Da Ivan menyampaikan kuliah umum mengenai urun daya (crowdsource!) pengetahuan di Wikipedia, yang juga diikuti sekitar seratusan peserta umum. Sesi berikut adalah tentang Wikimedia Commons, yang disampaikan oleh Gunkarta, salah satu kontributor Indonesia paling produktif di Commons dan juga bekerja di harian Kompas. Selepas itu ada sesi tentang komunitas Wikipedia bahasa Indonesia yang disampaikan oleh Pak Naval Scene dan Rintojiang, salah satu dari penyunting senior lain yang juga kini menjabat sebagai ketua dewan pengawas WMID.

Saya memberikan materi di sesi terakhir hari itu, yaitu mengenai Wikipedia bahasa Melayu. Saya mendapat giliran kedua selepas saudara CyberTroopers dari Kelantan dan sebelum Tofeiku dari Sabah. Dengan bahasa Melayu yang kurang nasi lemak terpatah-patah saya sampaikan sedikit pandangan eksternal mengenai komunitas bahasa Melayu dan apa-apa yang patut dipertimbangkan untuk lebih maju ke hadapan. Salindia (presentasi!) saya dapat dilihat di sini.

Selepas makan malam, acara sesrawungan menampilkan persembahan gamelan yang luar biasa dari Pradangga Sastra Inggris (Prasasti) UGM. (Dua orang penggedhe konferensi ini diduga juga pernah jadi bagian kumpulan ini). Saya ikut belajar memainkan bonang barung dalam set gamelan lengkap yang membawakan "Suwe Ora Jamu" dengan ketelatenan yang mungkin akan membuat Ki Manteb Soedharsono menangis.

Hari kedua dan terakhir, Minggu, dimulai dengan lightning talks yang disampaikan salah satunya oleh Mimihitam (ya, pengurus legendaris id.wp itu). Saya kemudian ikut sesi Wikipedia Aceh, Banjar, dan Using. Bahasa terakhir sangat menarik perhatian saya karena masih di Incubator dan kononnya berasal dari bahasa Jawa Kuno yang murni. Selepas rehat kopi saya ikut sesi tentang Wikipedia bahasa Minangkabau (sebagai moral support buat komunitas) dan tentang WikiLatih yang disampaikan oleh Mas RaymondSutanto.

Lepas makan siang ada presentasi menarik soal Google Toledo dan Proyek Saraswati, hasil kerjasama Google dan WMID yang rencananya akan digunakan untuk membantu penerjemahan konten lebih banyak ke bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah. Meskipun saya sedikit skeptis dengan bagaimana implementasinya nanti, namun saya kira ini sangat patut dinantikan. Dua sesi terakhir adalah tentang Content Translation (topik yang sangat menarik, terutama di id.wp) yang disampaikan oleh Mas Johnstad Di Maria (bukan, beliau bukan pastur atau romo) dan tentang strategi media sosial Wikipedia Indonesia, yang disampaikan oleh Mas Gunarta dan mimin-nya yang satu lagi (rahasia dagang!). Konferensi hari itu ditutup oleh presentasi dan ulasan dari "manusia kursi" WMID saat ini, Mas Beeyan.

Malam terakhir di Yogya saya habiskan ngopi-ngopi bersama Haqi dan Fattah, kawan saya yang sudah jadi bos sawit sekaligus penguasa Instiper Yogya, di Blandongan Kopi Priboemi. Satu-satunya alasan memilih tempat ini adalah karena terakhir kali saya di sini, (kalau tidak salah) saya pernah ke tempat ini. Suasananya masih sama. Kopi tanggungnya masih enak. Ini tempat ngopi yang sangat nJogjawi: murah, hangat, dan selo.

Besok paginya, karena penerbangan pulang ke Padang masih siang, saya memutuskan untuk berburu buku diskon ke Togamas Affandi. Beberapa orang Yogya sebenarnya merekomendasikan saya ke tempat lain, seperti Shopping Center Taman Pintar atau Berdikari Book. Namun karena waktu yang mepet, saya putuskan lain kali saja. Lumayan bisa dapat Kuasa Kata dan Java in a Time of Revolution karangan Ben Anderson (versi Indonesia), The Accidental Further Adventures of the Hundred-Year-Old Man karangan Jonas Jonasson, dan Rafilus karangan Budi Darma. Nyaris tidak mungkin mendapatkan buku-buku ini dengan harga miring di Padang.

Saya serombongan pulang bersama kawan-kawan komunitas Minang ke Padang, tapi bedanya saya sendiri yang transit di Halim (sementara yang lain di Batam, terdampar semalam, dan baru pulang keesokan harinya). Tidak lupa sebelum meninggalkan Yogya kami membungkus apa-apa yang patut di Bakpia Pathok 25, yang langsung ludes di kampus sehari setelah itu.

Yogya adalah kota yang amat menyenangkan. Saya tidak menyangka butuh tiga belas tahun untuk pulang. Meskipun kotanya tampak semakin padat dan ramai, saya masih menikmati kunjungan singkat ini dan dapat mengamini bahwa Yogya masih berhati nyaman. Tidak tahu kalau bandaranya sudah pindah ke Kulon Progo; itu harus diperiksa dengan sekali kunjungan lagi.

Saya rasa tujuan WikiNusantara untuk menyambung kolaborasi antarkomunitas penyunting Wikipedia di Indonesia sudah tercapai dengan flying colours. Saya ucapkan terima kasih terutama pada Wikimedia Indonesia selaku pemberi beasiswa dan penyelenggara acara atas acaranya yang baik sekali. Tahun depan semoga dapat dipertemukan lagi.


07 December 2018

Diaspora

Ia datang sedikit terlambat.

Kami berjanji pukul lima tepat, dan sekarang lima menit sudah lampau. Aku melihatnya muncul tergesa-gesa dari tangga stasiun kereta bawah tanah. Berhati-hati ia melangkah menyeberangi jalanan yang centang-perenang oleh mobil dan manusia. Dari balik kaca kafe, kulambaikan tangan padanya. Dengan gesit ia melambai balik, lalu mendorong pintu kaca. Sosoknya segera saja muncul di hadapanku.

“Ah, Scotsman. Maafin orang Indonesia yang hobi ngaret ini.”

Aku tersenyum. Enam tahun sudah aku mendengar panggilan itu dari sudut telepon atau membacanya dari layar kaca. Hari ini aku mendengarnya secara langsung dari mulutnya; aksen pekat trans-Atlantik itu masih lekat.

“Kamu udah pesan?”

“Udah. Caramel macchiato.”

Kali ini kami sama-sama tergelak. Minuman itu, yang sering diledeknya sebagai “kopi pabrikan Starbucks”, adalah lelucon internal kami. Aku tahu ia tak pernah menyukainya. Mungkin ia memesannya hanya untuk meledekku saja.

“Gimana perjalanan pulang?”

“Lancar. Aku justru kaget pas sampai di sini.”

“Kalian mendarat di terminal baru itu?”

“Iya dong.”

“Om dan Tante?”

“Sehat-sehat. Sedang reuni gila-gilaan dengan sahabat-sahabat lama.”

“Farhan?”

Kuangkat bahu. “Masih sedang berusaha menerima kenyataan.”

Ia hanya tersenyum simpul. Ia betulkan pashmina-nya yang sedikit masai, lalu mengeluarkan telepon genggam dari tasnya.

“Aku gak nyangka kamu akhirnya pulang ke Indonesia.”

“Tau nih. Aku juga gak percaya di awal-awal.”

“Gue pikir kalian bakal tinggal permanen di Edinburgh.”

Ah, “gue” pertama yang keluar dari mulutnya. Jakarta tentu saja sudah mengubah lidahnya.

“Gue juga.”

Ia tergelak. “Lu gak pas pakai gue-gue-an. Stick to your roots, please.”

“Oh, I wish I have one.”

Aku tak berbohong kalau kubilang aku tak punya akar. Ia tahu itu, karena ia juga tak punya. Entah kalau ia sudah menganggap Jakarta, kota tempat tinggalnya enam tahun terakhir, cukup untuk dipanggil sebagai "tempat asal".

Aku masih ingat sore menjelang musim panas saat kami kelas 6 SD. Ann Arbor, kota kecil tempat tinggal kami, sedang bersemi.

Itu hari terakhir sekolah untuk tahun itu, seingatku. Kami berjalan pulang dari sekolah. Hanya kami berdua.

"So, are you really going back to Indonesia?" tanyaku.

"Iya," jawabnya pendek.

"Terus kamu tinggal di mana nanti?"

"Jakarta."

Ia tak riang hari itu. Mungkin karena hari terakhir sekolah. Mungkin karena ia ingat bahwa ia takkan kembali ke ruang-ruang hangat Lakewood Elementary.

Aku sama sekali tak tahu, jadi aku hanya bisa meneka-neka. Selain itu, saat itu aku dua belas tahun.

"Semuanya ikut? Your brother?"

"Iya."

"Kenapa gak pulang ke Jogja?"

"Kok ke Jogja?" tembaknya kembali.

"I don't know. Kamu gak bakal tinggal sama Datuk dan Nenek?"

"Mungkin nggak."

"Tapi kalian bakal ke Jogja kan?"

Ia hanya melengos. Aku tak ingat kenapa aku bertanya seperti itu, tapi perjalanan jalan kaki itu hening sampai kami tiba di depan rumahnya. Ia hanya melemparkan senyum di muka apartemen mahasiswa lima lantai tempat keluarganya tinggal.

Tanpa "see you later" seperti biasanya; atau janji untuk bertemu di ayunan Happy Hollow sebentar sore.

See you later itu juga tak ada seminggu kemudian, ketika aku melihatnya tersipu-sipu malu sambil merona di ruang tunggu bandara O'Hare, menggendong tas sekolah yang ia gendong saat perjalanan pulang sekolah terakhir bersamaku.

Itu kali terakhir aku melihatnya, sampai siang jelang sore, di kafe ini.

"Jadi, Scotsman, how's Indonesia for you?"

Aku kembali menatapnya setengah tercenung. Gadis dua belas tahun yang murung dari Ann Arbor itu kini sudah jadi seorang perempuan dewasa sepenuhnya.

"Eh..."

"Espresso lu udah dingin nih. Sejak kapan Brits hobi ngopi?" katanya dengan sedikit terkikik.

"Aku gak Brits-Brits banget lah. Ketularan Ayah aja hobi ngopi."

Aku menuju barista untuk memesan segelas green tea. Ketika kembali, kulihat ia sedang melihat keluar jendela. Panas masih membahang di jalanan luar.

"Ah iya, gimana kuliahmu?"

Ia melirikku sejenak, lalu melengos. "Membosankan."

Kutatap ia dengan wajah menginterogasi. "Membosankan?"

"Kuliahnya sih menantang. Lu tau sendiri dari dulu gue pengen masuk kampus itu. Suasananya aja yang...."

Kalimatnya menggantung di udara.

"......lu kenapa sih harus pakai pulang segala?"

"Keluargaku pulang semua, ngapain aku sendiri di sana?"

Ia melengos lagi, lalu menghela nafas. "Ya kalau pulang, kuliahnya deketan sama gue gitu dong."

Aku tergelak. "Ntar kamu tersaingi. Kemungkinan besar kita sejurusan kalau di sana, lho."

Matanya membulat. "Kemungkinan? Emangnya lu bakal ngambil jurusan selain hukum?"

"Kok yakin banget?"

"Dari kecil gue udah tahu lu senang ngomong. Ya masuk hukum lah, masa peternakan?"

Aku tergelak lagi, lalu mencoba mengalihkan topik. "Kamu gak berubah dari dulu ya."

"Yah, gue gini-gini aja sih," katanya pelan. Wajahnya berubah menyelidik. "Are you still the old you?"

"Aku sebenarnya gak mau pulang," ucapku pelan.

Ia balas dengan senyuman tipis, lalu menengadah menatap langit-langit. "Gue tau...."

"Dan aku gak punya siapa-siapa di sana. Terakhir kali aku tinggal di sana pas bayi."

"Lu gak punya kedekatan emosional sama sekali dengan kota itu," tukasnya cepat.

"Betul."

Ia hanya diam, matanya menatap lurus padaku. "Mengerikan rasanya harus mulai ke kota kelahiran sebagai orang asing," sambungku.

"Tapi itu pilihan lu kan?"

"Iya."

"Do your trust your gut?"

Aku mengangkat bahu, lalu menyeruput habis green tea. "At this point, I don't know what and who I can trust."

Ia menggeleng pelan. Di luar, senja jatuh cepat-cepat.

(bersambung, kalau niat)

27 October 2018

Ke Medan: catatan perjalanan

Sedang menghasut-hasut. Kredit: Analisa Medan
Minggu lalu saya ke Medan, Sumatera Utara. Diminta oleh Wikimedia Indonesia untuk menjadi salah satu pelatih di acara WikiLatih yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Meskipun harus mengorbankan dua hari kuliah (yang kemudian saya tahu dosennya memang tidak masuk juga), saya dengan senang hati berangkat.

Menarik juga mengingat kalau ini adalah kali kedua saya ke Medan dalam tahun ini. Januari lalu saya ke kota ini bersama ayah saya untuk ikut tes masuk NUS, yang tentu saja gagal itu. Meski gagal masuk NUS saya tidak banyak menggerutu pada Medan sendiri, karena sebelumnya saya belum pernah ke kota ini. Hitung-hitung sekalian jalan-jalan.

Kami berangkat Kamis pagi dari Padang. Saya berangkat bersama Bang Hardi Taher, staf GLAM WMID yang kebetulan juga pernah tinggal lama di Medan. Ia naik kereta bandara dari stasiun Simpang Haru dan saya naik dari stasiun Tabing menuju BIM -- ya, Padang punya kereta bandara sekarang, serupa Jakarta dan Medan. Penerbangan kami berjalan lancar dan kami tiba di Kualanamu setelah jatuh tengah hari, lalu berlanjut dengan naik Damri.

Saya tidak tahu kami turun di mana; atas petunjuk Bang Hardi, kami makan siang di sebuah restoran ayam penyet dekat Stadion Teladan. Setelah makan kami berlanjut jalan ke Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Jl. Katamso. Saya belum pernah ke PPKS ini, dan awalnya saya kira ini cuma lembaga riset biasa. Rupanya bangunannya bergaya mewah kolonial Belanda -- warisan sejarah Medan sebagai pangkalan utama perkebunan kolonial di Sumatera Timur.

Tidak hanya itu, PPKS ini juga lumayan mantap untuk ukuran lembaga penelitian dan mempunyai perpustakaan yang lengkap, termasuk mengandung koleksi-koleksi tua. Itulah yang sedang dijajaki Bang Hardi agar koleksi tua tersebut dapat turut didigitalisasi dan dipublikasikan di platform Wikimedia. Kami menemui pejabat yang bertanggungjawab atas urusan ini dan setelah cengkerama-cengkerama sebentar, kami berlanjut ke hotel. Tak banyak yang dilakukan pada malam harinya itu, terutama karena hujan lebat mengguyur Medan.

Keesokan harinya kami menuju kampus UMSU yang terletak lumayan jauh juga dari hotel tempat kami menginap. Kami disambut oleh Pak Arifin, kepala perpustakaan yang antusias, dan Gina, koordinator kegiatan WikiLatih setempat. Memang acara kali ini diselenggarakan oleh prakarsa relawan perpustakaan kampus, dan Pak Arifin yang ternyata juga nyambi sebagai redaktur di koran Analisa ini amat antusias menjamu kami berdua dan bertanya-tanya perihal Wikipedia.

WikiLatih UMSU digelar dalam dua hari, dan pada hari pertama itu diikuti delapan orang peserta, semuanya mahasiswa. Mereka cukup antusias dalam mengikuti pelatihan dan berhasil dengan baik (untuk taraf pemula) menciptakan artikel-artikel baru di Wikipedia bahasa Indonesia. Karena standar yang diminta oleh Wikimedia memang menggunakan Visual Editor yang mirip Microsoft Word itu, mau tidak mau saya (saya saja, karena Bang Hardi lumayan familiar dengan VE) mau tidak mau menggunakannya. Padahal sebagai pengguna lama saya paling tidak suka dengan VE, hahaha.

Yang paling saya kagumi dari Medan adalah kultur kedai kopinya. Saya tidak tahu sebelum ini, tapi Bang Hardi memberi tahu bahwa kebanyakan kedai kopi di sini menyuguhkan kopi Gayo khas Aceh, dan banyak yang buka sampai tengah malam. Di Padang jarang saya temukan kedai kopi yang buka sampai tengah malam -- kehidupan malam di sana memang payah sih :p. Selepas acara kami balik sebentar ke hotel dan kemudian saya menyusulnya ke kedai Mocha Khupi di Jl. Aman, dekat Teladan. Mi Acehnya markotop dan es kopinya lumayan menyegarkan. Waktu kami pulang nyaris tengah malam, Medan masih terang benderang; gerobak masih tegak dan orang masih berkeliaran.

Hari kedua peserta WikiLatih lebih banyak dan termasuk dosen-dosen pula. Pelatihan berjalan lancar dan pesertanya tidak kalah aktif dibanding hari pertama. Favorit saya adalah ketika ada yang menulis artikel Wikipedia tentang sinamot, hantaran nikah orang Batak yang mahalnya jarang kira-kira itu. Ada pula yang menulis tentang sudako, omprengan khas Medan yang legendaris (bunyi dan bentuknya) itu. Seperti kebanyakan orang yang baru tahu Wikipedia boleh disunting, para peserta tak ayal terkaget-kaget tentang begitu banyaknya informasi yang masih belum ada di Wikipedia.

Selepas acara kami bergerak ke Gardenia, sebuah restoran taman di Padang Bulan, dekat kampus USU. Di sana kami menemui komunitas Wikipedia Medan, yaitu yang beberapa bulan lalu mengikuti WikiLatih yang sama (di UMSU memang edisi kedua di Medan) dan beberapa peserta dari UMSU yang tertarik untuk mengembangkan Wikipedia dalam bahasa Mandailing. Salah satu peserta menawarkan gagasannya untuk mengisi Wikipedia Mandailing (yang masih di Incubator) dengan konten-konten adat dan sejarah. Gagasan ini baik sekali saya kira. Ia juga melempar ide menulis tentang artikel-artikel tentang hantu dan misteri dalam masyarakat Mandailing, sehingga Wikipedia-nya kelak akan punya khazanah parbegu paling lengkap di Indonesia. Ini malah sangat baik sekali :p

Lawatan singkat ke Medan ini berakhir hari Minggu. Saya pulang sendiri ke Padang -- Bang Hardi berencana pulang keeseokan harinya, dan saya punya kelas Senin pagi. Perjalanan lancar sampai ketika saya disuruh naik ke atas pesawat Lion Air, lalu berputar-putar di landasan pacu selama setengah jam, kemudian ruang pilot bersenandung gembira: kami harap para penumpang agar turun kembali ke terminal karena kerusakan mesin. Kami baru naik lagi ke pesawat (yang berbeda) pukul empat, molor tiga jam dari jadwal awal. Saya baru tiba di Padang pukul enam dan di Air Tawar pukul tujuh. Bah!

Kunjungan kali ini lumayan berkesan bagi saya. Medan (dan Sumatera Utara pada umumnya) sangat potensial untuk dijadikan basis komunitas permanen Wikipedia di luar Jakarta setelah Padang dan Yogya. Dengan beragam-macam bahasa yang dicakapkan di provinsi ini, ada khazanah berlimpah yang perlu dieksplorasi dan diangkat satu-satu ke Wikipedia. Saya sendiri tercengang-cengang ketika mengobrol dengan seorang dosen sastra Indonesia UMSU yang menerangkan tentang kompleksitas hubungan bahasa Batak dan bahasa-bahasa lainnya seperti Angkola, Mandailing, Karo, Pakpak, dan sebagainya.

Bicara tentang UMSU, saya sangat kagum dengan perpustakaannya. Terus terang saya iri melihat keaktifan relawan perpustakaan dan kenyamanan dalam ruangnya. Bangku-bangkunya nyaman walaupun ruangannya masih sempit, tapi saat saya di sana sedang ada proyek perluasan ruangan juga. Ada pojok BI, Perancis, Inggris, sampai India -- tentu dengan sponsor dari kedutaan dan konsulat negeri-negeri itu. Yang paling saya iri adalah ketika Pak Arifin menceriterakan bahwa perpustakaan ini buka sampai malam dan jumlah pengunjung mereka bisa sampai seribu orang sehari. Sementara itu, sebuah perpustakaan tertentu di sebuah perguruan tinggi di Bukit Karamuntiang.... ah sudahlah.

Saya sangat menyukai Medan sebagai satu kota. Terlepas dari apapun yang saya tidak sepakati akan Gubernur Jenderal Eddy Rahmayadi (hahahaha), saya kira Medan amat baik dalam hal memelihara masa lalunya. Meskipun saya tidak banyak ke objek wisata (Istana Maimun, rumah Tjong A Fie dan resto Tip Top sudah saya jelajahi pada lawatan sebelumnya) di sana, namun saya menikmati benar naik kereta (sebutan orang Medan akan sepeda motor) di pusat kota dan melihat gedung-gedung peninggalan Belanda dimanfaatkan dengan baik. Kotanya nyeni-nyeni sedap, begitu pula kopi dan kulinernya, begitulah kira-kira.

Kurang-lebih ini satu lawatan yang menyenangkan. Semoga saya diperkenankan untuk lebih banyak berkunjung ke kota-kota lain di Indonesia untuk mengajarkan Wikipedia. Asal disuruh, saya berangkat :p

Tanbihat: Karena Pak Arifin seperti yang saya sudah ceritakan juga menjabat redaktur di Analisa, salah satu koran terbesar di Medan, maka beliau ikut membawa serta wartawannya untuk meliput. Liputan lokalnya bisa dibaca di sini.

05 October 2018

Mencari mastautin

Jika orang di kampus -- entah itu kawan baru, dosen pengampu, atau penjaga kantin -- bertanya "kamu dari mana?", sejauh ini saya sukses kebingungan untuk menjawab.

Biasanya saya menjawab sekedarnya, "dari kota ini". Namun jawaban itu biasanya akan disusul, "SMA berapa?". Akan membingungkan bila saya sebutkan nama SMA saya, karena memang ada kembarannya yang serupa di kota ini. Jika saya menyebut lengkap keterangan kotanya, maka yang bertanya biasanya bertambah bingung. "Kamu dari sini tapi SMA di sana?"

Sebenarnya tidak tepat jika saya mengatakan diri berasal dari kota ini Ya, saya lahir di sini, dan menghabiskan empat tahun pertama kehidupan saya di sini. Saya punya kenang-kenangan tentang kota ini: tentang jalan-jalannya, tentang warung-warungnya, tentang pasar-pasarnya. Nenek dan kakek saya tinggal di sini; saya masih bisa pulang ke rumah nenek saya di tepi laut tiap minggu bila lapang.

Tapi saya tidak pernah besar di kota ini. Saya tidak bersekolah di SMP maupun SMA-nya. Saya tidak belajar bermotor di jalan-jalannya, menonton bola di stadion-stadionnya. Saya tumbuh dan besar di seberang dan menjadikan kota ini seperti serdadu Belanda ketika turun dari Tapanuli ke Bukittinggi: tempat vakansi. Dalam sembilan belas tahun umur saya saat ini, ini tahun kelima saya tinggal di kota ini.

Saya tumbuh dan besar di kota sana. KTP saya yang tidak siap-siap itu (sudah dua tahun, demi Toutatis!) akan bertanda kota sana. Orang tua saya bekerja dan tinggal di kota sana. Saya bersekolah SMP dan SMA di kota sana Sahabat-sahabat saya di sana, meskipun tentu sekarang sudah angkat kaki ke kampus masing-masing. Namun jika saya menyebut saya "dari kota sana", maka percayalah kalau hubungan saya dengan kota itu lebih rumit dari pada yang bisa saya jelaskan dengan singkat.

Kota sana sudah terlalu sering saya tinggalkan sehingga hubungan saya dengan kota itu niscaya lebih kebal daripada sekedar "tempat asal". Saya meninggalkannya empat tahun untuk tinggal di kota lain, lalu setahun untuk di kota demikian. Karena sudah terlalu sering, maka saya bertanya-tanya apakah saya memang berasal dari sana.

Saya tak dapat menyebut saya berasal dari negeri ini, kampung ibu saya, atau dari negeri itu, kampung ayah saya. Saya tak punya hubungan apapun dengan tempat-tempat itu, selain kunjungan-kunjungan bila berlibur. Saya tak dapat mengklaim saya dari negeri lain, ataupun negeri demikian, tentu saja tidak. 

Lagipula jika saya menyebut saya "dari kota sana" maka saya akan dianggap seakan-akan perantau di kota sini. Saya bukan perantau. Saya "pulang" dari tempat yang saya selalu anggap "tempat pulang". Saya hafal kedua jalananan kota dan bisa merasa tersesat di keduanya.

Ada yang menyebut bahwa kamu berasal dari tempat kamu SMA. Bisa jadi. Tapi itu akan sulit bagi saya karena saya sekolah di dua kota yang terpisah samudera. Ada yang mengangsurkan bahwa kamu berasal dari tempat kamu lahir. Kalau begitu saya dari kota sini. Ada pula yang berargumen bahwa kamu berasal dari tempat kamu tumbuh besar. Saya tumbuh besar di kota sana, atau mungkin di mana-mana; bagaimana kalau saya ajukan kalau saya berasal "dari Internet" atau "dari rak baca di kamar saya"?

Label adalah hal yang unik. Hanya manusia yang mampu melabeli satu sama lain, dan hanya manusia pula yang bingung ketika harus melabeli dirinya sendiri. Ada yang begitu ekstrem merekatkan label-label itu pada dirinya sehingga seakan mabuk dilamun olehnya, ada yang begitu ragu menyandangnya sampai berusaha berontak dari segalanya. Ia urusan jati diri, kebanggaan, sampai ego yang berbaur jadi satu.

Dua bulan sudah berlalu sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di sini. Masih ada tentunya perkenalan-perkenalan yang belum langsai, sehingga saya masih harus mengangsurkan tempat saya berasal kepada orang baru yang akan saya kenal. Saya menyadari bahwa saya tidak punya kemewahan untuk tahu di mana tempat asal saya;

Dalam perkenalan selanjutnya, mungkin saya hanya akan mengatakan bahwa saya "tidak dari mana-mana." Atau biar lebih filosofis: "sedang mencari tempat asal saya; semoga saja di sini."

Anda, dari mana?

11 May 2018

Tentang Tranquility Base yang baru itu


Jika AM (2013) terdengar seperti campuran musik padang pasir dan raungan dendam orang kulit putih, maka album berikutnya dapat digambarkan seperti parade melodi kalah judi di Las Vegas berpadu teriakan kaum idealis bumi bulat bentuknya.

Tranquility Base Hotel & Casino, album terbaru grup asal Inggris ini, memuaskan rasa penasaran para penggemar mereka setelah menunggu selama lima tahun. Promosi album ini terbilang unik, karena tak ada satu single pun yang dirilis sebelumnya; hanya sebuah video pendek di YouTube pada awal April, menunjukkan sampul album yang berputar. Sampul itu dirancang oleh sang vokalis Alex Turner, yang sekaligus berperan sebagai produser buat kali pertama; bekerja dengan James Ford yang telah memproduseri album-album mereka sebelumnya.

Berisi sebelas lagu yang direkam di Los Angeles, Paris, dan London, album ini penuh dengan referensi sains, teknologi, budaya pop, sampai politik. Lagu pertama Star Treatment dibuka dengan kalimat “I just wanted to be one of The Strokes”, sebuah ode bercampur metafora bagi Julian Casablancas dan kawan-kawan. Di sekujur tubuh album ini, mulai dari Leonard Cohen, film Blade Runner, sampai skandal Cambridge Analytica dan Donald Trump dapat kita temui.

Tak ada yang salah dari name-dropping referensi budaya maupun idola, namun faktanya penulisan lirik yang penuh bumbu ala Arctic Monkeys ini tak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa secara melodik, album ini tak lebih dari koleksi musik pengiring dansa di lounge hotel. “Aku menyukai gagasan tentang sebuah dunia di bawah tanah, tak harus di Las Vegas tapi di mana saja dalam imajinasiku,” ujar Turner dalam sebuah wawancara dengan Pitchfork, “dan gagasan itu membantuku menulis liriknya.”

Masalahnya, gagasan tentang Vegas itu membuat album ini lebih terdengar seperti Blackstar-nya David Bowie ketimbang Anthems for Doomed Youth garapan The Libertines; lebih gelap dan menyedihkan dari sebagaimana mestinya. Golden Trunk dan Four Out of Five, lagu-lagu yang paling dekat bunyinya dengan nuansa rock menderu ala AM, terkubur oleh sampah-sampah pop eksperimental seperti American Sports dan Science Fiction. Saya bertanya-tanya mengapa maestro komposer John Williams masih harus bersibuk-sibuk mempersiapkan skor lagu untuk Star Wars: The Last Jedi sedangkan She Looks Like Fun ini lebih dari cukup untuk mengiringi adegan duel Skywalker tua dan Kylo Ren.

Yang membuat Arctic Monkeys menyegarkan adalah nada dan melodinya yang karismatik dan menggairahkan. Album ini menunjukkan bahwa melainkan mereka berniat untuk melanjutkan karir musik mereka sebagai kolaborator Frank Ocean atau DJ Khaled, Tn. Turner dan sejawatnya perlu berpikir untuk berhenti bereksperimen.

21 October 2017

Tentang narkotika: sebuah esai

Sidang perdana Parlemen Remaja 2017 di Gedung DPR; saya di meja pimpinan

Satu kematian adalah sebuah tragedi. Sejuta kematian hanyalah statistik.

Pepatah lama Rusia itu rasanya cukup sesuai untuk menggambarkan kondisi persebaran narkotika di Indonesia. Menurut data Badan Narkotika Nasional tahun 2016, setidaknya 5,9 juta rakyat Indonesia diketahui pernah atau sedang menggunakan satu atau lebih jenis narkotika yang terlarang secara hukum. Pada satu kesempatan, Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa sekitar lima belas ribu orang pemuda dan remaja Indonesia setiap tahunnya mati karena narkotika. 

Namun, hingga saat ini Indonesia masih belum memiliki pendekatan yang sesuai untuk menghadapi potensi krisis narkotika di masa yang akan datang. Kita bisa mengirimkan bandar narkoba berpaspor asing ke hadapan regu tembak atau membakar narkotika sitaan di alun-alun kota, tapi yang diperlukan dalam memerangi narkoba adalah sebuah pendekatan komprehensif dalam bidang sosial, ekonomi, politik, kesehatan, hingga keamanan nasional. Bila narkoba masih beredar bebas di sekolah, perumahan, dan lingkungan masyarakat Indonesia, maka perjuangan tersebut masih jauh dari kata selesai.

Bila berbicara tentang narkoba dan generasi muda, misalnya, angka dan statistik boleh berupa-rupa, namun gagasan utama di baliknya adalah betapa besar bahaya yang disimpan oleh narkotika pada generasi ini. Dengan lebih dari setengah populasi Indonesia berusia di bawah 30 tahun, Indonesia harus dapat melindungi generasinya yang akan datang,  yang diperkirakan akan mengalami demographic bonus pada periode 2025 hingga 2035. Bahaya yang mengancam generasi ini tidak lain dan tidak bukan adalah kecanduan, kejahatan, dan hal-hal yang menyangkut narkotika dan macam-ragamnya.

Dewan Perwakilan Rakyat, sebagai lembaga legislatif yang mewakili suara rakyat dalam alam demokrasi Indonesia, memangku kepentingan dan kekuasaan yang besar dalam merumuskan sebuah pendekatan strategis untuk melindungi generasi muda Indonesia dari ancaman narkoba. Dengan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan yang dimiliki, DPR seharusnya dapat memainkan peran penting dalam upaya ini. 

Dalam esai ini, saya mengusulkan dua pendekatan utama yang dapat ditempuh oleh DPR, bekerja sama dengan pemangku kepentingan negara lain, dalam melindungi generasi muda Indonesia dari ancaman narkoba. Dua ide utama tersebut adalah mengakhiri pendekatan kriminalistik dan mulai memperlakukan krisis narkoba sebagai sebuah krisis kesehatan masyarakat. 
Dalam studi-studi mengenai narkoba, terdapat dua macam pendekatan yang umum dikenal. Salah satunya adalah pendekatan tough on crime yang kriminalistik. Ini berarti negara memandang narkoba selayaknya kejahatan pidana besar yang tak terampunkan. Pendekatan seperti ini diterapkan oleh negara-negara seperti Amerika Serikat dengan retorika War on Drugs-nya, atau di Filipina akhir-akhir ini, dengan kebijakan-kebijakan keras Presiden Rodrigo Duterte. 
Indonesia, pada tahap tertentu, sudah memiliki salah satu hukum narkotika paling keras di dunia. UU Narkotika memperbolehkan hukuman mati pada pengedar narkoba. Namun ini tak mengurangi keagresifan beberapa aparat negara, mulai dari Kepala BNN Jenderal Budi Waseso yang mengusulkan agar penjara yang memuat narapidana narkoba dikelilingi buaya, harimau, dan ikan piranha, hingga Presiden Widodo sendiri yang tak menutup kemungkinan perintah tembak di tempat untuk para pengedar narkoba.
Sayangnya, retorika kriminalisasi yang keras ini tidak hanya kontraproduktif dalam upaya memerangi narkoba. Bahkan, bisa saja menyebabkan efek-efek samping yang tak diinginkan dan justru menghambat kemajuan gerakan anti-narkotika.
Ambil contoh hukuman mati terhadap pengedar narkoba, misalnya. Indonesia adalah salah satu dari 58 negara di dunia yang masih menggunakan hukuman mati dalam undang-undang kriminalnya, sementara 103 negara lain telah menghapuskannya secara total. Tidak mengejutkan bahwa pada tahun-tahun terakhir, hampir seluruh terpidana mati di Indonesia tersangkut kasus peredaran atau penyelundupan narkotika, dan sebagian dari mereka merupakan warga negara asing.
Namun, mengirimkan para pengedar narkoba ke hadapan regu tembak bukanlah solusi yang efektif. Hukuman mati tidak dapat dikoreksi ulang karena bersifat final dan berdampak langsung, sehingga menutup kemungkinan memperbaiki kesalahan dalam sistem peradilan yang mungkin terjadi. Tambahan pula, posisi Indonesia di kancah mancanegara dapat terlihat buruk: kita tentunya ingat akan krisis diplomatik yang sempat terjadi ketika kasus Bali Nine yang menggemparkan pada awal tahun 2015. 
DPR dapat mengakhiri hukuman mati untuk pidana narkotika dengan merevisi UU No 35 tahun 2009, seperti pada Pasal 116 ayat 2, Pasal 118 ayat 2, dan Pasal 119 ayat 2.
Memasukkan para pemakai narkoba ke dalam penjara pun merupakan sebuah kebijakan yang salah. Secara nasional, 70% dari seluruh narapidana didakwa karena kejahatan terkait narkoba. Indonesia tidak hanya memiliki hukum yang keras dalam urusan penyelundupan narkoba, namun juga dalam pemakaian narkoba, meskipun itu hanya dalam kadar yang amat kecil.
Kriminalisasi pemakaian narkoba dalam jumlah massal memiliki efek samping yang tak terelakkan: penjara yang semakin penuh dan potensi krisis HIV/AIDS di dalam penjara. Kondisi Lembaga-Lembaga Pemasyarakatan seringkali buruk, sempit, pengap, dan tanpa kebutuhan-kebutuhan mendasar untuk hajat hidup manusia. Memenjarakan seseorang itu sendiri sudah berarti memporak-porandakan keluarga dan lingkungan, karena stigma dan pola pikir masyarakat terhadap orang banduan masihlah amat negatif.
 
Juga menurut Buehler, sekitar 30 persen kematian di dalam penjara diakibatkan oleh HIV/AIDS yang berasal dari jarum suntik bekas yang beredar secara bebas di balik jeruji. Tidak mengherankan bahwa hampir setengah dari korbannya merupakan para remaja dan pemuda usia produktif 18 hingga 35 tahun. 
Dengan hak angket dan interpelasi, DPR dapat menuntut pemerintah untuk mengakhiri pendekatan kriminalistik yang kontraproduktif ini. DPR dapat memilih untuk mengalihkan formasi APBN untuk memperbaiki kondisi Lembaga Pemasyarakatan dan menuntut pemerintah untuk berhenti mendakwa lebih banyak narapidana narkoba yang sebenarnya dapat direhabilitasi. 
Lalu, bila pendekatan kriminal tak dapat dilakukan, apa yang harus dilakukan?
Jawabannya adalah mulai memperlakukan krisis narkoba sebagai masalah kesehatan masyarakat. Saat ini di Indonesia, jauh lebih mudah untuk mendapatkan narkoba ketimbang mendapatkan rehabilitiasi narkoba.  Pecandu narkoba, sebagian besar dari mereka merupakan generasi muda, yang berniat untuk mendapatkan rehabilitasi seringkali terhalang oleh fasilitas yang tidak memadai, kompetensi yang tak cukup, hingga masalah-masalah lain yang pada akhirnya menghambat. 
DPR dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk memfokuskan semula pekerjaan Badan Narkotika Nasional, lembaga yang bertanggungjawab dalam pemberantasan narkotika, untuk meninggalkan pendekatan kriminal menuju pendekatan kesehatan masyarakat. 

Itu berarti membuka dan memperluas jaringan klinik-klinik rehabilitasi, memperluas akses pada naloxone untuk mereka yang beresiko terkena overdosis, dan memulai kembali program pertukaran jarum suntik bersih untuk menghindari peredaran virus mematikan seperti HIV/AIDS.
Kampanye anti-narkoba kepada generasi muda juga harus diintensifkan. Dalam hal ini, program-program ekstrakurikuler dan olahraga di sekolah terbukti menjadi salah satu solusi yang efektif untuk mencegah remaja untuk terlibat dalam narkoba. DPR harus mempertimbangkan lebih banyak waktu untuk siswa dan siswi sekolah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang positif, baik akademik maupun non-akademik. 
Pemakai dan pengedar narkoba berhak untuk mendapatkan bantuan dan perlindungan dari negara apabila mereka berniat untuk bertobat dan mengakhiri kegiatan mereka untuk kembali ke masyarakat dengan bersih. Memenjarakan mereka bukanlah solusi, namun rehabilitasi tentu saja akan sangat membantu. 
Hari depan Indonesia adalah hari depan yang berlayar di antara dua karang. Di satu sisi, kita harus dapat mencegah generasi muda kita agar tak terpengaruh oleh bahaya besar narkotika. Di sisi lain, dengan tangan terbuka kita harus menerima kembali mereka yang memiliki masa silam yang gelap, dan merangkul mereka bersama menuju hari depan yang lebih cerah. 

Referensi:
Tanbihat: Esai ini merupakan salah satu syarat utama untuk lolos mengikuti kegiatan Parlemen Remaja 2017 yang diselenggarakan oleh Sekretariat Jenderal DPR pada beberapa waktu silam. Saya, bersama tiga siswa tingkat SMA/MA lain, terpilih mewakili Provinsi Riau dalam acara pendidikan politik yang berlangsung selama satu pekan ini. 

Setjen DPR menghimpun kumpulan esai dari anggota-anggota delegasi yang terpilih, namun sirkulasinya dapat dikatakan cukup terbatas. Saya memilih untuk mengunggahnya di sini agar dapat dibaca dan diingat oleh khalayak. 

17 August 2017

Alphonso Davies: dari kamp pengungsi ke Piala Emas

-- bagaimana keramahtamahan Kanada menyelamatkan talenta emas asal Liberia ini

Alphonso Davies punya tendangan keras yang spektakuler. Instingnya tajam merebut bola dari bek-bek yang kebingungan. Ia melesat tanpa kesulitan, membobol ruang-ruang sempit maupun lapang yang tersedia. Umpan-umpan yang dikirimkan dari lini tengah ia upayakan untuk dieksekusi dengan sebaik mungkin, entah itu ia kirim ke depan atau olah sendiri jadi gol.

Bagi mereka yang sekilas menonton gerak lincahnya, Davies tampak seperti pemain sayap jebolan akademi sepak bola bergengsi yang telah mengaduk-aduk lapangan rumput sejak kecil benar. Ada benarnya: ia bergabung dengan akademi lokal di kota tempat ia tumbuh besar di Edmonton, Alberta. Ia telah menyarungkan seragam Kanada U15 saat baru berusia 13 tahun. Ia bergabung dengan akademi Vancouver Whitecaps pada tahun berikutnya.

Usia muda Davies juga dapat menarik perhatian. Ia adalah pemain Major League Soccer pertama yang dilahirkan di milenium 2000an kala menjalani debut untuk tim utama Whitecaps musim lalu. Tapi ia bukan yang termuda: Freddy Adu masih memegang rekor itu kala menjalani debut bersama DC United saat berusia 14 tahun pada Mei 2004. Ia pemain termuda yang bergabung dengan tim nasional Kanada untuk Piala Emas CONCACAF 2017 di Amerika Serikat. Tak lama, ia memecahkan rekor pencetak gol termuda kala menjebol gawang Guyana Perancis dua kali dalam partai pembuka, dan menyelamatkan muka The Canucks dengan satu gol penyeimbang di laga kedua kontra Kosta Rika.

“Pada usia 15 tahun, saya bahkan tak dapat menatap mata seseorang secara langsung,” ujar Paul Dalglish, pelatih Ottawa Fury, salah satu rival Whitecaps. “Dan dia keluar (bermain di lapangan) dan melesat (melewati) para pemain dengan gaya yang amat mengesankan. Sinarnya bersinar terang.”

Namun, yang paling utama, kisah mencuatnya seorang Alphonso Davies adalah sebuah kisah yang sangat Kanada sekali.

Kanada, negeri asal Owen Hargreaves dan Justin Trudeau ini, terkenal di pentas dunia karena keramahtamahannya yang tak mengenal warna. Bila Amerika Serikat terkenal sebagai land of the free yang menekankan etos individualisme dan kebebasan klasik, maka Kanada menawarkan perlindungan dan keamanan bagi kaum dan etnis yang tertindas di seluruh dunia. Tak terbilang lagi beragam-macam kelompok tertindas korban konflik yang diizinkan masuk ke perbatasan negeri bersimbol daun maple ini untuk beroleh keamanan dan membina hidup baru. Para pengungsi dari Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Selatan, semuanya telah merasakan kehangatan negeri yang berbatas Kutub Utara ini.

Kala Eropa dan Amerika Serikat diaduk krisis pengungsi dalam lima tahun terakhir sebagai dampak dari perang sipil tak berkesudahan di Suriah, dan dikompori pula oleh kebangkitan gerakan-gerakan konservatif dan ultranasionalis yang berkampanye anti-imigrasi, Perdana Menteri Trudeau berdiri di gerbang bandar udara untuk menyambut keluarga para pengungsi Suriah. Di antara negara-negara Barat, Kanada telah menerima dan merelokasi hampir lima puluh ribu pengungsi Suriah pada akhir 2016, jumlah yang hanya dapat disaingi oleh Turki atau Jerman.

Keluarga Davies adalah salah satu dari mereka yang beruntung merasakan kehangatan Kanada dan penduduknya. Orang tuanya, Victoria dan Debeah, melarikan diri dari amukan perang saudara di Liberia dan tinggal selama beberapa lama di kamp pengungsi Buduburam di negeri tetangga, Ghana.

“Kehidupan pengungsi itu seperti (seseorang) meletakkanmu di kontainer dan menguncinya,” ujar Davies dalam sebuah wawancara video yang diproduksi Whitecaps.

Keluarganya kemudian mendapatkan visa pengungsi di Kanada saat Davies berusia lima tahun. Mereka berpindah-pindah tempat tinggal sebelum menetap di Edmonton, tempatnya memulai karir sepak bola usia dini.

“Perjalanan (saya) amat panjang: melarikan diri dari perang, hidup di kamp pengungsi. Tiba di Kanada adalah hal yang kami imlikan sebagai sebuah keluarga,” ujar Davies.

Davies mendapatkan kewarganegaraan Kanada hanya sebulan sebelum pagelaran Piala Emas dimulai. Kebahagiannya melebihi kabar bahwa para pencari bakat klub elit di Eropa, termasuk Manchester United, sudah memulai memantau gerak-gerak kakinya.

“Adalah sebuah kebanggaan untuk menyebut diri saya sebagai seorang warga negara Kanada,” ujarnya selepas mengucap sumpah kewarganegaraan.

Tiga gol dalam dua laga kompetitif tingkat benua sudah menunjukkan bahwa ia tak hanya bangga, namun juga lapar dan antusias untuk membuktikan kualitas dirinya pada negara yang dengan lapang dada dan ringan tangan menerima keberadaannya. Bila menilik sejarah dan juga gerak-gerak lincah kakinya, maka Alphonso Davies bisa saja menjadi pemain besar dunia pada  generasinya.

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

21 July 2017

Mengevaluasi gerak-gerik transfer West Ham United

--- seberapa besar ancaman The Hammers di musim depan?

Seperti orang Semenanjung Balkan yang tegas dan efektif pada umumnya, Slaven Bilic tak suka bertele-tele. Namun, setelah musim 2016-17 yang sulit buat West Ham United asuhannya, ia tampaknya tak bergerak cukup cepat untuk mengamankan jasa-jasa pemain yang diperlukannya pada bursa transfer musim ini.

Sejauh ini, The Hammers telah merekrut free agent Pablo Zabaleta, meminjam Joe Hart dari Manchester City, dan merogoh 24 juta paun untuk mendatangkan Marko Arnautovic dari Stoke City. Kecuali Alvaro Arbeloa yang dilepas dan Enner Valencia yang dijual ke Tigres, tak ada nama besar yang meninggalkan Olympic Stadium sejauh ini.

West Ham sendiri tentu tak perlu jauh-jauh melongok untuk mengingat bahwa tim mereka membutuhkan reformasi total. Bermain di luar Upton Park buat kali pertama, mereka berjuang keras untuk bertahan di papan tengah Liga Premier, bahkan terjebak di zona degradasi pada Oktober. Peruntungan mereka di Eropa tak pula terlalu cemerlang setelah disepak keluar tim debutan Rumania Astra Giurgiu di putaran play-off seawal bulan Agustus.

Kehilangan penyerang bintang Dimitri Payet yang pulang kampung ke Marseille pada bursa transfer Januari tentu saja hanya menambah sakit kepala bagi Bilic, yang tak mendapat bantuan memadai dari manajemen yang tengah bersibuk pula mengurus kepindahan penuh di stadion baru. Hanya Michail Antonio dan Manuel Lanzini yang dapat dikatakan menopang mereka pada paruh kedua musim, termasuk kemenangan tipis 1-0 atas Tottenham Hotspur di bulan Mei.

Finis di peringkat sebelas boleh jadi hasil terbaik yang dapat diharapkan suporter The Hammers. Bilic sendiri pantas mendapatkan sedikit pujian karena ketenangannya menghadapi masalah-masalah yang menimpa skuatnya, terutama sekitar transfer Payet.Namun, pada bursa transfer kali ini, ia tampaknya tak cukup bergigi untuk membangun ulang ruang gantinya.

Kedatangan Zabaleta untuk memperkuat lini belakang dan talenta Hart (yang kian memudar) di bawah tiang gawang jelas patut diapresiasi, namun masalah utama The Irons terletak di lini tengah dan depan.Ruang mesin yang terlalu bertumpu pada Lanzini, seiring dengan menurunnya permainan kapten Mark Noble dan badai cedera yang kerap kali singgah, dapat menjadi problem utama di musim depan. Mendatangkan Arnautovic masih akan belum mampu menyelesaikan masalah yang nyaris kelewat kronis ini.

Pun di lini depan, kemandulan luar biasa yang mereka perlihatkan musim lalu tampaknya masih belum akan terselesaikan andai Bilic gagal mendatangkan satu striker bintang yang mampu mencetak 15 sampai 20 gol tiap musimnya. Upaya membawa pulang Jermaine Defoe masih prematur, pun usaha ambisius untuk mendatangkan Daniel Sturridge. Striker paling produktif milik The Hammers musim lalu adalah Andy Carroll dengan tujuh gol: tentu saja hanya Tuhan dan Bilic yang tahu mengapa Andy Carroll masih bermain sepak bola.

Kondisi keuangan West Ham sendiri tampaknya lumayan stabil untuk mendatangkan satu atau dua nama besar lain, karena David Gold dan David Sullivan, dua pemegang saham utama, telah menjadikan klub yang nyaris bangkrut tujuh tahun lalu ini menjadi tim dengan pendapatan ketujuh terbesar di Liga Premier. The Guardian mencatat bahwa West Ham memiliki utang bersih sebesar 67 juta paun dan defisit 17.2 juta paun pada bursa transfer kali ini. Sebagai perbandingan, Chelsea defisit nyaris 60 juta. Huddersfield Town defisit 37.4 juta. West Ham masih dapat dibilang pada zona aman.

Tanpa pembelian besar-besaran pada sisa bursa transfer yang akan segera berakhir ini, sulit untuk melihat bagaimana West Ham akan bersaing di liga musim depan. Bilic harus bekerja lebih cepat dan efisien, tentu saja, untuk mengembalikan tim ke jalur yang pernah ia inginkan dulu: kontestan zona Eropa. Bila tak tercapai dalam satu-dua musim ini, sorakan I’m Forever Blowing Bubbles tak akan kedengaran begitu ramah lagi di telinga.

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

Orang Inggris dan balet Tchaikovksy di pedalaman Swedia

--- mimpi-mimpi Östersunds FK di tengah gemerlap Eropa

Ketika wasit Juan Martinez Munuera meniup peluit akhir di Jämtkraft Arena malam itu, ia baru saja mengakhiri sebuah pertandingan bersejarah, bagian dari sebuah dongeng yang sedang ditulis.

Tuan rumah Östersunds baru saja mengalahkan tamu mereka, raksasa Turki Galatasaray, dua gol tanpa balas di leg pertama putaran kualifikasi kedua Liga Europa UEFA 2017-18. Di hadapan lima ribu penonton setia mereka, gol-gol Saman Ghoddos dan Jamie Hopcutt sudah cukup untuk memastikan sang tamu pulang ke Istanbul dengan tangan kosong.

Namun yang lebih mengagumkan lagi, inilah kali pertama Östersund tampil di pentas Eropa. Jalan mereka menuju Liga Europa mungkin adalah salah satu yang paling menarik untuk disimak pada musim ini. Bagaimana bisa mereka melakukannya?

Östersunds sendiri bukanlah tim yang tenar-tenar amat. Bila kita berbicara soal sepak bola Swedia, maka yang tersebut mungkinlah sang legenda Zlatan Ibrahimovic dan Henrik Larssen atau tim-tim yang sudah jamak muncul di Liga Champions seperti Malmö FF, pemegang sembilan belas titel nasional. Tak ada yang akan langsung terlintas berpikir soal tim yang bermarkas di wilayah Jämtland, nun jauh di utara negeri.

Kisah mereka bermula pada 1996, tak lebih dari dua dekade lampau. Östersunds FK berdiri setelah bergabungnya tiga klub lokal di wilayah Jämtland, yaitu Östersund FF, Ope IF, dan IFK Östersund. Dari ketiga tim itui, IFK Östersund adalah yang tertua, telah berdiri sejak 1908. Ketiganya boleh pula disebut tim semenjana, karena tak satupun dari mereka pernah berprestasi di luar kota berjuluk vinterstaden (kota bersalju) ini.

Tim yang baru berdiri ini memulai hidup mereka di kasta ketiga sepak bola Swedia, Division 2, pada 1997. Adalah Daniel Kindberg, sang direktur sepak bola yang kini menjabat ketua klub, yang memulai perubahan. Seawal tahun 2000, ia menjalin kontak dengan Swansea City, yang saat itu masih bermain di kasta-kasta bawah di Inggris. Hubungan inilah yang di kemudian hari terbukti krusial dalam membantu perjalanan Östersund menuju kasta tertinggi.

Salah satu buah kerjasamanya dengan The Swans adalah menambahkan cita rasa Britania ke tim pedalaman Swedia ini. Graham Potter tiba untuk mengisi kursi pelatih kepala pada Desember 2010. Östersund baru saja terdegradasi ke kasta keempat musim sebelumnya. Potter, mantan bek tengah Southampton yang menghabiskan sebagian besar karirnya di kasta bawah sepak bola Inggris ini, memabawa angin segar --- dalam bentuk yang tak diduga semua orang.

“Jika yang kami lakukan hanyalah bermain sepak bola, maka itu hal yang semua pemain merasa nyaman untuk dilakukan,” jelas Potter dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail. “Jika Anda ingin membina mereka sebagai manusia, Anda harus menghadapkan mereka dengan pengalaman yang tak membuat nyaman.”

Berkolaborasi dengan Kindberg, pria asal Solihull ini membangun tim sepak bola layaknya memimpin sebuah sanggar seni nyentrik. Setiap musim, Östersund menyelesaikan paling tidak satu proyek kesenian. Itu boleh jadi menyelenggarakan pameran seni, menulis buku, atau membuat pertunjukan teater. Seluruh komponen klub terlibat: koreografer dan pelatih seni serius diterbangkan untuk melatih sekumpulan atlet di pedalaman Swedia yang dingin menari-nari mengikuti musik klasik.

Potter menerapkan kebijakan nyentrik ini dari pengalaman. Ia tahu betul bahwa ia perlu membuat perbedaan di kota kecil ini. Östersund terletak lebih dari tiga ratus mil di utara ibu kota Stockholm, dan mereka bermain di divisi empat. Tak ada yang dapat menarik pemain bertalenta ke pertandingan yang hanya dihadiri lima ratus orang paling banyak, dan dengan cuaca dingin mencucuk tulang. “Ini hampir samar bedanya dengan hilang akal,” ujarnya mengenang masa-masa awal. “Kami harus kreatif mencari pemain.”

Ia terhubung dengan Östersund lewat Graeme Jones, mantan rekan setimnya yang bekerja sebagai asisten Roberto Martinez di Swansea, Everton, dan kini di tim nasional Belgia. Pada musim pertamanya, ia mengangkat mereka ke kasta ketiga. Hanya perlu semusim bagi mereka untuk mencapai Superettan, kasta kedua sepak bola Swedia. Jämtkraft Arena, kandang baru mereka yang berkapasitas 8,500 orang, dibuka pada bulan Juli 2007. 

“Kami pernah berperan dalam pertunjukan teater, kami sudah pernah melukis, kami sudah pernah menari, dan kami sudah pernah bernyanyi. Saya bagian dari seluruhnya dan tak ada yang makin mudah,” ujar Hopcutt, gelandang Inggris yang bergabung pada 2012. Tahun lalu, para pemain dan pelatih mempertunjukkan modern dance diiringi Swan Lake, Op. 20, salah satu mahakarya ballet yang digubah maestro Rusia Peter Tchaikovsky.

Di lapangan, filosofi Potter diterjemahkan menjadi sebuah permainan yang cepat namun beradab dan penuh determinasi. Mereka bertahan tiga musim di Superettan sebelum mencapai promosi ke Allsvenskan, kasta tertinggi. “Ini sangat besar,” ujar Potter, “karena tiba-tiba mereka dapat menonton Malmo, IFK Goteborg, dan AIK (tiga tim besar Swedia) di kota mereka sendiri. Benar-benar mengasyikkan.”

Sementara mereka mengejar mimpi-mimpi di kasta tertinggi, Östersund tak melupakan misi yang membuat mereka klub yang berbeda. Dengan tibanya banyak pengungsi dari wilayah konflik di Suriah dan negara Timur Tengah lainnya ke Swedia, para pemain melayani anak-anak pengungsi dengan program membaca buku dan bermain bola bersama.

Musim lalu, perdana di Allsvenskan, Östersund finis di peringkat delapan dari enam belas tim: sangat mengagumkan untuk tim yang masih bermain di kasta ketiga tepat dua dekade lalu. Kindberg sang ketua malah tak sepakat. Kala diwawancarai koran nasional Aftonbladet, ia berujar eksplosif. “Finis di peringkat delapan itu sangat memalukan. Kami akan memenangi Allsvenskan.”

Yang mengesankannya, seperti gerakan balet mereka yang lincah dan tanpa putus, Östersunds seakan tak peduli dengan tantangan besar yang mereka hadapi. Anak-anak asuh Potter juga memenangkan Piala Swedia musim lalu setelah mengalahkan Norrkoping, juara bertahan liga, di final. Titel pertama mereka berbuah satu tiket di Liga Europa musim ini, mempertemukan mereka dengan Galatasaray.

“Mudah untuk mengatakan, ‘mereka tak akan dapat melakukan itu di kasta tertinggi Swedia’, atau ‘mereka takkan dapat melakukannya melawan Galatasaray’,” ujar Potter. “Adalah tugas kami untuk membuktikan betapa salahnya sikap seperti itu ketika kami mendapatkan kesempatan seperti ini. Dalam sepak bola, Anda membutuhkan kisah seperti kami untuk menunjukkan apapun bisa terjadi.”

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.