21 July 2017

Mengevaluasi gerak-gerik transfer West Ham United

--- seberapa besar ancaman The Hammers di musim depan?

Seperti orang Semenanjung Balkan yang tegas dan efektif pada umumnya, Slaven Bilic tak suka bertele-tele. Namun, setelah musim 2016-17 yang sulit buat West Ham United asuhannya, ia tampaknya tak bergerak cukup cepat untuk mengamankan jasa-jasa pemain yang diperlukannya pada bursa transfer musim ini.

Sejauh ini, The Hammers telah merekrut free agent Pablo Zabaleta, meminjam Joe Hart dari Manchester City, dan merogoh 24 juta paun untuk mendatangkan Marko Arnautovic dari Stoke City. Kecuali Alvaro Arbeloa yang dilepas dan Enner Valencia yang dijual ke Tigres, tak ada nama besar yang meninggalkan Olympic Stadium sejauh ini.

West Ham sendiri tentu tak perlu jauh-jauh melongok untuk mengingat bahwa tim mereka membutuhkan reformasi total. Bermain di luar Upton Park buat kali pertama, mereka berjuang keras untuk bertahan di papan tengah Liga Premier, bahkan terjebak di zona degradasi pada Oktober. Peruntungan mereka di Eropa tak pula terlalu cemerlang setelah disepak keluar tim debutan Rumania Astra Giurgiu di putaran play-off seawal bulan Agustus.

Kehilangan penyerang bintang Dimitri Payet yang pulang kampung ke Marseille pada bursa transfer Januari tentu saja hanya menambah sakit kepala bagi Bilic, yang tak mendapat bantuan memadai dari manajemen yang tengah bersibuk pula mengurus kepindahan penuh di stadion baru. Hanya Michail Antonio dan Manuel Lanzini yang dapat dikatakan menopang mereka pada paruh kedua musim, termasuk kemenangan tipis 1-0 atas Tottenham Hotspur di bulan Mei.

Finis di peringkat sebelas boleh jadi hasil terbaik yang dapat diharapkan suporter The Hammers. Bilic sendiri pantas mendapatkan sedikit pujian karena ketenangannya menghadapi masalah-masalah yang menimpa skuatnya, terutama sekitar transfer Payet.Namun, pada bursa transfer kali ini, ia tampaknya tak cukup bergigi untuk membangun ulang ruang gantinya.

Kedatangan Zabaleta untuk memperkuat lini belakang dan talenta Hart (yang kian memudar) di bawah tiang gawang jelas patut diapresiasi, namun masalah utama The Irons terletak di lini tengah dan depan.Ruang mesin yang terlalu bertumpu pada Lanzini, seiring dengan menurunnya permainan kapten Mark Noble dan badai cedera yang kerap kali singgah, dapat menjadi problem utama di musim depan. Mendatangkan Arnautovic masih akan belum mampu menyelesaikan masalah yang nyaris kelewat kronis ini.

Pun di lini depan, kemandulan luar biasa yang mereka perlihatkan musim lalu tampaknya masih belum akan terselesaikan andai Bilic gagal mendatangkan satu striker bintang yang mampu mencetak 15 sampai 20 gol tiap musimnya. Upaya membawa pulang Jermaine Defoe masih prematur, pun usaha ambisius untuk mendatangkan Daniel Sturridge. Striker paling produktif milik The Hammers musim lalu adalah Andy Carroll dengan tujuh gol: tentu saja hanya Tuhan dan Bilic yang tahu mengapa Andy Carroll masih bermain sepak bola.

Kondisi keuangan West Ham sendiri tampaknya lumayan stabil untuk mendatangkan satu atau dua nama besar lain, karena David Gold dan David Sullivan, dua pemegang saham utama, telah menjadikan klub yang nyaris bangkrut tujuh tahun lalu ini menjadi tim dengan pendapatan ketujuh terbesar di Liga Premier. The Guardian mencatat bahwa West Ham memiliki utang bersih sebesar 67 juta paun dan defisit 17.2 juta paun pada bursa transfer kali ini. Sebagai perbandingan, Chelsea defisit nyaris 60 juta. Huddersfield Town defisit 37.4 juta. West Ham masih dapat dibilang pada zona aman.

Tanpa pembelian besar-besaran pada sisa bursa transfer yang akan segera berakhir ini, sulit untuk melihat bagaimana West Ham akan bersaing di liga musim depan. Bilic harus bekerja lebih cepat dan efisien, tentu saja, untuk mengembalikan tim ke jalur yang pernah ia inginkan dulu: kontestan zona Eropa. Bila tak tercapai dalam satu-dua musim ini, sorakan I’m Forever Blowing Bubbles tak akan kedengaran begitu ramah lagi di telinga.

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

Orang Inggris dan balet Tchaikovksy di pedalaman Swedia

--- mimpi-mimpi Östersunds FK di tengah gemerlap Eropa

Ketika wasit Juan Martinez Munuera meniup peluit akhir di Jämtkraft Arena malam itu, ia baru saja mengakhiri sebuah pertandingan bersejarah, bagian dari sebuah dongeng yang sedang ditulis.

Tuan rumah Östersunds baru saja mengalahkan tamu mereka, raksasa Turki Galatasaray, dua gol tanpa balas di leg pertama putaran kualifikasi kedua Liga Europa UEFA 2017-18. Di hadapan lima ribu penonton setia mereka, gol-gol Saman Ghoddos dan Jamie Hopcutt sudah cukup untuk memastikan sang tamu pulang ke Istanbul dengan tangan kosong.

Namun yang lebih mengagumkan lagi, inilah kali pertama Östersund tampil di pentas Eropa. Jalan mereka menuju Liga Europa mungkin adalah salah satu yang paling menarik untuk disimak pada musim ini. Bagaimana bisa mereka melakukannya?

Östersunds sendiri bukanlah tim yang tenar-tenar amat. Bila kita berbicara soal sepak bola Swedia, maka yang tersebut mungkinlah sang legenda Zlatan Ibrahimovic dan Henrik Larssen atau tim-tim yang sudah jamak muncul di Liga Champions seperti Malmö FF, pemegang sembilan belas titel nasional. Tak ada yang akan langsung terlintas berpikir soal tim yang bermarkas di wilayah Jämtland, nun jauh di utara negeri.

Kisah mereka bermula pada 1996, tak lebih dari dua dekade lampau. Östersunds FK berdiri setelah bergabungnya tiga klub lokal di wilayah Jämtland, yaitu Östersund FF, Ope IF, dan IFK Östersund. Dari ketiga tim itui, IFK Östersund adalah yang tertua, telah berdiri sejak 1908. Ketiganya boleh pula disebut tim semenjana, karena tak satupun dari mereka pernah berprestasi di luar kota berjuluk vinterstaden (kota bersalju) ini.

Tim yang baru berdiri ini memulai hidup mereka di kasta ketiga sepak bola Swedia, Division 2, pada 1997. Adalah Daniel Kindberg, sang direktur sepak bola yang kini menjabat ketua klub, yang memulai perubahan. Seawal tahun 2000, ia menjalin kontak dengan Swansea City, yang saat itu masih bermain di kasta-kasta bawah di Inggris. Hubungan inilah yang di kemudian hari terbukti krusial dalam membantu perjalanan Östersund menuju kasta tertinggi.

Salah satu buah kerjasamanya dengan The Swans adalah menambahkan cita rasa Britania ke tim pedalaman Swedia ini. Graham Potter tiba untuk mengisi kursi pelatih kepala pada Desember 2010. Östersund baru saja terdegradasi ke kasta keempat musim sebelumnya. Potter, mantan bek tengah Southampton yang menghabiskan sebagian besar karirnya di kasta bawah sepak bola Inggris ini, memabawa angin segar --- dalam bentuk yang tak diduga semua orang.

“Jika yang kami lakukan hanyalah bermain sepak bola, maka itu hal yang semua pemain merasa nyaman untuk dilakukan,” jelas Potter dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail. “Jika Anda ingin membina mereka sebagai manusia, Anda harus menghadapkan mereka dengan pengalaman yang tak membuat nyaman.”

Berkolaborasi dengan Kindberg, pria asal Solihull ini membangun tim sepak bola layaknya memimpin sebuah sanggar seni nyentrik. Setiap musim, Östersund menyelesaikan paling tidak satu proyek kesenian. Itu boleh jadi menyelenggarakan pameran seni, menulis buku, atau membuat pertunjukan teater. Seluruh komponen klub terlibat: koreografer dan pelatih seni serius diterbangkan untuk melatih sekumpulan atlet di pedalaman Swedia yang dingin menari-nari mengikuti musik klasik.

Potter menerapkan kebijakan nyentrik ini dari pengalaman. Ia tahu betul bahwa ia perlu membuat perbedaan di kota kecil ini. Östersund terletak lebih dari tiga ratus mil di utara ibu kota Stockholm, dan mereka bermain di divisi empat. Tak ada yang dapat menarik pemain bertalenta ke pertandingan yang hanya dihadiri lima ratus orang paling banyak, dan dengan cuaca dingin mencucuk tulang. “Ini hampir samar bedanya dengan hilang akal,” ujarnya mengenang masa-masa awal. “Kami harus kreatif mencari pemain.”

Ia terhubung dengan Östersund lewat Graeme Jones, mantan rekan setimnya yang bekerja sebagai asisten Roberto Martinez di Swansea, Everton, dan kini di tim nasional Belgia. Pada musim pertamanya, ia mengangkat mereka ke kasta ketiga. Hanya perlu semusim bagi mereka untuk mencapai Superettan, kasta kedua sepak bola Swedia. Jämtkraft Arena, kandang baru mereka yang berkapasitas 8,500 orang, dibuka pada bulan Juli 2007. 

“Kami pernah berperan dalam pertunjukan teater, kami sudah pernah melukis, kami sudah pernah menari, dan kami sudah pernah bernyanyi. Saya bagian dari seluruhnya dan tak ada yang makin mudah,” ujar Hopcutt, gelandang Inggris yang bergabung pada 2012. Tahun lalu, para pemain dan pelatih mempertunjukkan modern dance diiringi Swan Lake, Op. 20, salah satu mahakarya ballet yang digubah maestro Rusia Peter Tchaikovsky.

Di lapangan, filosofi Potter diterjemahkan menjadi sebuah permainan yang cepat namun beradab dan penuh determinasi. Mereka bertahan tiga musim di Superettan sebelum mencapai promosi ke Allsvenskan, kasta tertinggi. “Ini sangat besar,” ujar Potter, “karena tiba-tiba mereka dapat menonton Malmo, IFK Goteborg, dan AIK (tiga tim besar Swedia) di kota mereka sendiri. Benar-benar mengasyikkan.”

Sementara mereka mengejar mimpi-mimpi di kasta tertinggi, Östersund tak melupakan misi yang membuat mereka klub yang berbeda. Dengan tibanya banyak pengungsi dari wilayah konflik di Suriah dan negara Timur Tengah lainnya ke Swedia, para pemain melayani anak-anak pengungsi dengan program membaca buku dan bermain bola bersama.

Musim lalu, perdana di Allsvenskan, Östersund finis di peringkat delapan dari enam belas tim: sangat mengagumkan untuk tim yang masih bermain di kasta ketiga tepat dua dekade lalu. Kindberg sang ketua malah tak sepakat. Kala diwawancarai koran nasional Aftonbladet, ia berujar eksplosif. “Finis di peringkat delapan itu sangat memalukan. Kami akan memenangi Allsvenskan.”

Yang mengesankannya, seperti gerakan balet mereka yang lincah dan tanpa putus, Östersunds seakan tak peduli dengan tantangan besar yang mereka hadapi. Anak-anak asuh Potter juga memenangkan Piala Swedia musim lalu setelah mengalahkan Norrkoping, juara bertahan liga, di final. Titel pertama mereka berbuah satu tiket di Liga Europa musim ini, mempertemukan mereka dengan Galatasaray.

“Mudah untuk mengatakan, ‘mereka tak akan dapat melakukan itu di kasta tertinggi Swedia’, atau ‘mereka takkan dapat melakukannya melawan Galatasaray’,” ujar Potter. “Adalah tugas kami untuk membuktikan betapa salahnya sikap seperti itu ketika kami mendapatkan kesempatan seperti ini. Dalam sepak bola, Anda membutuhkan kisah seperti kami untuk menunjukkan apapun bisa terjadi.”

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

19 July 2017

Bersusah-payah menggantikan Gianluigi Buffon

-- tentang sederet deputi Santo Gigi dan kisah-kisah mereka

Gianluigi Buffon mungkin adalah salah satu kiper paling awet sepanjang sejarah sepak bola modern.

Sejak ia mulai berjaga di bawah gawang Juventus pada musim panas 2001, Iraq telah diinvasi dan ditinggalkan oleh Amerika Serikat, presiden Indonesia telah berganti tiga kali, dan berpuluh-puluh pemain telah silih berganti menyarungkan dan melepaskan seragam putih-hitam Bianconeri. Namun Santo Gigi tetap setia dengan sarung tangannya dan sosoknya yang meneduhkan, selalu siap siaga untuk melompat menghalau bola atau memberi komando pada rekan-rekannya.

Di sela-sela itu, Buffon mengoleksi lebih dari 600 penampilan untuk Juventus dan 169 buat tim nasional Italia, menempatkannya bersama nama-nama besar yang legendaris. Ia telah memenangkan satu Piala Dunia, tampil di tiga final Liga Champions, bahkan menghabiskan semusim di Serie B. Untuk ukuran seorang pesepakbola, karirnya adalah definisi dari sebuah keparipurnaan.

Tentu saja, setiap akhir musim, beriringan dengan satu gelar scudetto lain yang ia persembahkan ke muka publik Juventus Stadium atau penghargaan individual yang ia rengkuh sendiri, selalu ada pembicaraan mengenai pengganti potensial untuk sang juru selamat.

Ketika Buffon bergabung ke Juventus dari Parma pada 2001 (dan memecahkan rekor transfer dunia untuk seorang kiper), Juve memiliki dua kiper lain, yaitu Michelangelo Rampulla dan Fabian Carini. Keduanya segera saja tahu bahwa posisi mereka sudah tergeser oleh lelaki yang menjalani debut Serie A-nya ketika berusia tujuh belas tahun ini: Rampulla pensiun pada musim selanjutnya dan Carini ditukar ke Inter dengan Fabio Cannavaro pada 2004.

Pada musim panas 2002, Juventus secara khusus membeli Antonio Chimenti dari Lecce untuk menjadi letnan Buffon. Buat kali pertama, manajemen tim merasakan bahwa Buffon akan bertahan lama dan memutuskan untuk membangun tim di sekeliling sang kiper. Pada periode ini, Antonio Mirante, mantan kiper utama Parma yang kini menjaga gawang Bologna, juga bertugas sebagai pelapis ketiga.

Tantangan serius pertama untuk takhta Buffon terjadi pada musim 2005-06. Di musim terakhir Juve di Serie A sebelum keputusan kontroversial untuk menurunkastakan mereka pada musim selanjutnya, Buffon mengalami cedera bahu setelah berbenturan dengan Kaka dalam laga pramusim Trofeo Luigi Berlusconi. Milan meminjamkan kiper Christian Abbiati sebagai kompensasi.

Abbiati-lah deputi Buffon pertama yang nyaris selevel dengannya. Dengan bantuan si botak ini, Juventus bertahan mengarungi beberapa bulan pertama Serie A sebelum Buffon kembali pada November, namun komplikasi cedera selanjutnya membuat Gigi tak dapat pulih sepenuhnya sampai Januari. Abbiati kembali ke Milan pada akhir musim setelah mencatatkan 27 penampilan dan membantu memenangkan satu scudetto yang kemudian dianulir.

Di Serie B, tak ada yang dapat menentang solidnya posisi Buffon sebagai kiper utama, namun ia kembali terkena cedera pada musim kedua Juve kembali ke Serie A pada September 2008. Deputinya saat itu, kiper Austria Alex Manninger, menjaga gawang Juventus sampai bulan Februari 2009. Dan pada titik ini, performa Manninger dan cedera Buffon tampaknya menjadi kali pertama Juventus merasa ragu dengan masa depan sang santo.

Pada Mei 2009, ketika hari-hari Claudio Ranieri tampaknya tinggal sedikit di Olimpico, Buffon dan bek Mauro Camoranesi dilaporkan berang dengan performa buruk tim (termasuk seri 2-2 di kandang Lecce). Ia meninggalkan stadion selepas pertandingan tanpa berbicara dengan siapa-siapa. Kontan saja, rumor transfer menggelegak dengan sederet nama seperti Edwin van der Sar, Pepe Reina, bahkan Manninger sendiri dikaitkan dengan pos penjaga gawang utama Bianconeri. Bukan rahasia kalau tim-tim Inggris macam Manchester United dan Chelsea telah lama mencoba merayunya dengan gaji berlipat-lipat lebih tinggi.

Buffon akhirnya bertahan dengan menandatangani kontrak baru hingga 2013. (Dan Ranieri, tentu saja, dipecat). Manninger bertahan di Juve hingga 2012, dan terakhir bermain untuk Liverpool. Ia tak pernah sekalipun melampaui level permainan Gigi.

Setelah naiknya Andrea Agnelli ke tampuk presiden dan Antonio Conte sebagai pelatih kepala, posisi Buffon semakin tak tergoyahkan. Conte menunjuk Buffon sebagai kapten Juve dan memberikannya keleluasaan penuh untuk mengendalikan ruang ganti dengan sorot matanya yang tenang dan suaranya yang meneduhkan.

Di bawah gawang, pendahulu Conte, Luigi Delneri, memberinya deputi terbaik yang pernah ia miliki dalam bentuk Marco Storari. Storari, pria tinggi besar dengan jambang lebat dan antusiasme menggelegak, adalah purwarupa kiper kelas dua yang hampir sempurna: ia bermain untuk Napoli dan Milan namun menghabiskan musim-musim yang panjang dipinjamkan ke tim-tim kasta bawah.

Pengalaman Strorari membuatnya dapat diandalkan pada saat-saat krusial. Siapapun tak akan dapat melupakan double save tendangan Rodrigo Palacio dan Mauro Icardi yang ia buat kontra Inter di akhir musim 2014-15, ketika Juve telah memastikan gelar juara dan Buffon diistirahatkan jelang final Liga Champions. Tak heran bila Buffon memberikan ucapan selamat jalan yang hangat pada Storari kala ia dilepas.

Selepas Storari, Norberto Neto tak membuat begitu banyak dampak karena masanya di Juventus begitu singkat. Sederet nama beken macam Mattia Perin, Salvatore Sirigu, dan Gianluigi Donnarumma, tak pernah mendekat ke pintu masuk Juventus Stadium.

Namun, seiring dengan kedatangan Wojciech Szczesny pada bursa transfer ini, Juventus mungkin pada akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan mereka tentang pengganti Buffon. Sederet deputi, dari kelas dunia sampai cap teri, tak berdaya untuk menyodok Santo Gigi dari takhtanya. Szczesny, di sisi lain, boleh dikatakan telah memiliki pengalaman yang panjang bersama Arsenal.

Buffon sendiri barangkali sudah boleh mengistirahatkan sarung-sarung tangannya yang super itu.

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

Memangnya berapa harga yang pantas buat Jack Wilshere?

--- kala pemain mentah berharga selangit, yang medioker terbawa dilema

Fans Arsenal boleh saja menertawakan tawaran Sampdoria seharga enam juta paun untuk Jack Wilshere, gelandang binaan mereka yang baru saja pulang kampung setelah dipinjamkan ke Bournemouth musim lalu.

Mudah sebenarnya melihat mengapa Arsenal dapat dengan cepat mementahkan tawaran tim Serie A ini. Di satu sisi, ia pemain termuda yang menjalani debut profesional untuk tim London Utara ini sepanjang sejarah klub, gelandang dengan visi permainan kreatif dan insting mematikan di puncak performanya, dengan total 34 caps untuk tim nasional Inggris.

Melegonya ke tim asal Genoa ini seharga total tujuh setengah juta paun? Bila Anda bukan seorang pendukung mazhab trickle-down economics yang mengagung-agungkan austerity, pastilah Anda sinting karena baru kalah judi.

Namun bila melongok sisi lain, Wilshere adalah seorang pemain overrated yang digadang-gadang untuk hal-hal yang terlalu besar oleh pers dan dirinya sendiri. Ia tak pernah berhasil memacakkan dirinya sebagai gelandang kelas dunia setaraf Andres Iniesta atau Andre Pirlo. Posisinya semakin tergusur oleh talenta-talenta muda lain, baik di Arsenal atau tim nasional Inggris. Fakta bahwa ia tak sekalipun bermain di tim utama Arsenal musim lalu tak banyak membantunya.

Jika Anda berusia dua puluh lima tahun dan menemukan diri Anda bermain bersama Bournemouth, mungkin Anda sebaiknya menerima tawaran Sampdoria itu atau angkat kaki bermain bisbol, macam yang dilakukan mantan bintang college football Tim Tebow.

Ini seharusnya membuat kita berpikir: bila pemain mentah berusia bawah dua puluh tahun kini dihargai lebih dari pemain termahal dunia sepuluh tahun lalu, berapa harga yang harus dibanderol untuk bintang-bintang terlampau matang atau mantan (calon) pemain bintang yang gagal bersinar macam Wilshere?

Ambil contoh lain: Javier “Chicharito” Hernandez. Penyerang Meksiko ini tampak akan menjadi the next big thing kala berseragam Manchester United, namun sinarnya langsung terpendam ketika dipinjamkan ke Real Madrid. Ia terpaksa hijrah ke Bayer Leverkusen dan mengalami musim kedua yang sulit, terancam tergusur oleh talenta-talenta muda lain meski ia salah satu striker paling prolifik sepanjang sejarah Liga Premier dan pencetak gol terbanyak tim nasional Meksiko.

Seperti Wilshere, Hernandez dapat dibilang sudah melewati masanya. Usianya malah 29 tahun, empat tahun lebih tua daripada Wilshere. Empat-lima musim masih dapat dijalaninya di liga Eropa sebelum mungkin gantung sepatu atau hijrah ke klub berkocek tebal di Amerika Serikat, Rusia, atau Timur Tengah. Pun seperti Wilshere, ia mendapat banyak tawaran dari tim-tim Eropa lain yang ingin memanfaatkan jasanya selagi tersisa. West Ham United, salah satunya.

Berapakah harga yang pantas untuk seorang Wilshere atau Chicharito? Bila Wilshere dilego ketika pada puncak performanya -- katakanlah tiga atau empat tahun lalu -- mungkin dialah yang akan memecahkan rekor transfer dunia, bukan remaja mentah macam Kylie Mbappe atau Anthony Martial. Bila Chicharito angkat kaki dari United tepat setelah Fergie pergi, mungkin kini ia adalah bomber utama sebuah tim menengah-ke-atas macam Everton atau Ajax Amsterdam.

Bursa transfer sepak bola internasional akhir-akhir ini semakin menunjukkan betapa kejamnya perputaran uang membasuh habis karir seorang pemain. Harga-harga transfer sensasional melampaui digit-digit yang pernah dianggap wajar dan normal masih akan terus berkembang, dengan tren membeli remaja-remaja dengan talenta ajaib dan membayarnya dengan kontrak besar kini makin populer.

Paul Pogba, tanpa pengalaman mumpuni namun penuh sensasi, dibeli dengan harga 105 juta euro tahun lalu; sepuluh tahun sebelumnya, pada 2006, Chelsea membayar 43 juta euro pada Milan untuk Andriy Shevchenko, kapten tim nasional Ukraina dengan pengalaman dua belas tahun sepak bola profesional, dan itu adalah transfer termahal tahun itu.

Umur semakin nisbi dan pengalaman semakin tak berharga di mata para pelatih, pencari bakat, dan manajer bisnis yang bekerja di bawah tekanan untuk menggali lebih dalam nilai komersial dari seorang remaja mentah 19 tahun. Dan mereka yang terlampau matang atau telah melewati masa kadaluarsa itu bakal makin semakin tergusur, sampai pada suatu hari nanti hidup tak lagi memberi kesempatan dan mulai menghitung-hitung peluang, makin lama makin sempit.

Barangkali Wilshere memang harus menerima saja tawaran Sampdoria itu. Hitung-hitung liburan gratis semusim di Italia: toh dia bakal cedera juga, bukan?

Pertama kali tayang di Football Tribe Indonesia.

17 July 2017

Replika FC Hollywood itu ada di Turin

--- mengapa mimpi-mimpi Juventus dapat mengorbankan diri mereka sendiri

Untuk ukuran sebuah tim yang memenangkan scudetto enam kali berturut-turut dan tampil dalam dua final Eropa dalam lima musim terakhir, tak ada yang meragukan posisi Juventus sebagai salah satu penghuni kasta elit sepak bola Eropa saat ini.

Tapi ini juga tim yang sama yang telah mengalami pasang surut drama dan konflik dalam tubuh sendiri yang kadang mengorbankan talenta-talenta terbaik di dalamnya. Antara mimpi dan ambisi Bianconeri untuk kembali ke posisi mereka sebelumnya, tersimpan peraduan-peraduan ego yang nyaris mustahil ditangani pelatih hebat atau kapten karismatik manapun, kenang-kenangan sejarah yang terbentur dengan realisasi masa kini.

Bila Anda salah satu dari penggemar Juventus atau pengamat kasual calcio yang tak dapat memahami moral dan logika di sebalik keputusan melego bek andalan Leonardo Bonucci ke musuh bebuyutan Milan, percayalah bahwa Anda tak sendiri. Itu hanyalah puncak dari gunung es pencarian jati diri sebuah tim yang tak kurang hebat pencapaiannya di lapangan, namun tak dapat pula mengendalikan pasang-surut emosi di ruang ganti.

Perlahan-lahan, La Vecchia Signora dapat menjadi korban dari ambisi mereka sendiri.
Konflik dan drama internal yang sekali-sekali tersisip di antara raihan-raihan trofi itu tak pelak mengingatkan kita pada satu era dan sebuah tim yang hampir sama modelnya: Bayern Munich pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, periode yang menyematkan gelar FC Hollywood pada mereka. Juventus-lah yang paling dekat mereplikasi era dan tim itu.

Paralel yang sedia ada sebenarnya tak begitu mengejutkan. Bahkan lebih dari satu dekade setelah keputusan kontroversial untuk memindahkastakan Alessandro Del Piero dan kawan-kawan ke Seri B akibat skandal calciopoli yang masyhur itu, Juventus tampaknya masih belum menyelesaikan pencarian jati diri mereka yang sebenarnya.

Jika boleh kita membagi sejarah modern tim kebanggaan kota Turin ini seperti kalender Masehi terbagi dua, maka yang ada adalah Juventus Sebelum Degradasi dan Juventus Setelah Degradasi.

Juventus Sebelum Degradasi adalah tim yang percaya diri akan kemampuan kaki-kaki pemain mereka, yang yakin akan status mereka terpacak kuat sebagai aristokrat sepak bola Benua Biru. Ini adalah tim yang diberkahi pemain-pemain macam Del Piero, Michel Platini, Fabrizio Ravanelli, Roberto Baggio, Gianluca Vialli, dan Zinedine Zidane. Ini adalah pasukan yang diasuh oleh Giovanni Trappattoni dan Marcelo Lippi. Ini adalah klub yang tak pernah menengok ke belakang dan meragukan bahwa hari depan adalah milik mereka.

Tapi Juventus Setelah Degradasi adalah Juventus yang sedikit berbeda. Ini adalah tim yang sedikit demi sedikit berusaha untuk menggapai kembali kejayaan lama mereka, namun tak punya konsep yang jelas akan apa yang bakal mereka lakukan ketika kejayaan itu mendekat. Ini adalah tim yang beringas melindas enam scudetto dalam enam musim. Ini adalah tim-nya para penyintas, para survivor. Tak ada yang mempertanyakan loyalitas Gianluigi Buffon, Giorgio Chiellini atau Claudio Marchisio. Tapi bahkan trio legenda itu tak kuasa mengambil kendali ruang ganti yang silih berganti disinggahi bintang (dan calon bintang) berbanderol selangit: Arturo Vidal, Paul Pogba, Alvaro Morata.

Kondisi Juventus saat ini sedikit sebanyak mengembalikan ingatan kita pada Bayern Munich. Setelah periode yang begitu sukses pada 1970an, dimana mereka mengemas tiga trofi European Cup berturut-turut dan merajai Bundesliga tanpa kesulitan berarti, awal dekade 1980an adalah masa-masa sulit bagi tim kebanggaan Bavaria ini.

Paul Breitner dan Karl-Heinz Rummenigge adalah dua motor utama yang menggerakkan mesin-mesin Bayern pada tahun-tahun itu. Berjuluk FC Breitnigge, kesuksesan mereka di paruh pertama 1980an tak sebersinar skuat yang merajai Eropa beberapa tahun sebelumnya. Dibayang-bayangi kesulitan finansial, beberapa musim berlalu tanpa kemenangan berarti sampai duo itu pecah dengan pensiunnya Breitner.

Pada titik ini, banyak suporter Bayern yang merasa bahwa kejayaan lama mereka mustahil direplikasi. Skuat 1970an era Franz Beckenbauer, tersukses di Jerman pascaperang dan membantu memotori Die Mannschaft kampiun Piala Dunia di kandang sendiri pada 1974, hanya bakal terjadi sekali dalam beberapa dekade.

Kenyataannya, Munich memborong lima gelar Bundesliga berturut-turut pada akhir 1980an, sekaligus lolos ke dua final Eropa. Tibanya Jupp Heynckes sempat memperbarui mimpi untuk kembali berjaya di Eropa, namun justru faktor di luar lapangan yang lebih mewarnai skuat Die Roten pada masa-masa itu. Para punggawa Bayern lebih acap muncul di kolom gosip daripada olahraga. Tingkah-polah mereka lebih menunjukkan sebuah grup selebritis ketimbang serikat atlet menggocek bola.

Bayern membutuhkan waktu yang tak sedikit untuk melepas stigma itu dari identitas mereka. Yang mereka lakukan tak sedikit: mendatangkan kembali pelatih-pelatih berdisiplin tinggi macam Heynckes, membina dan membeli pemain-pemain berkarakter pemimpin yang tenang macam Philip Lahm dan Bastian Schweinsteiger, hingga mengubah budaya korporat mereka untuk menjadi lebih ramah dan modern. Lihatlah mereka kini: tempat begitu banyak tim sepak bola dari penjuru dunia berkiblat untuk belajar.

Kita mengenal banyak ragam tim yang tak dapat mengendalikan ambisi mereka sendiri hingga mengorbankan diri sendiri. Mimpi-mimpi boleh tinggi, tapi revolusi terpendam di ruang ganti, kursi kepelatihan yang acap berderik, hingga manajemen yang tak fasih menerjemahkan visi dapat menghambat laju tim itu sendiri. Butuh seorang pelatih yang liat, manajemen yang berdedikasi, dan rombongan pemain yang berwatak untuk membentuk sebuah tim pemenang yang tak kisruh luar-dalam.

Dan saat ini bolehlah kita katakan Juventus sebagai FC Hollywood in the making. Rumor yang berhembus, Bonucci angkat kaki selepas hubungannya yang memburuk dengan tim, konon berpuncak pada pertengkaran  dengan Dani Alves saat turun minum final Liga Champions.

Terbuktilah bahwa semakin kencang laju Dybala dan kawan-kawan untuk memanjat tangga-tangga dan mengembalikan kejayaan lama Sang Kekasih Italia ini, maka semakin rentan pula terperosok pada pertelingkahan-pertelingkahan kecil yang dapat merembet kemana-mana.

Bagi sebuah tim yang tengah mencari cara untuk memacakkan sebuah jati diri baru sebagai elit Eropa, amat rentan Juventus terbenam ke potensi menjadi FC Hollywood versi replika. Semoga saja, demi permainan yang indah ini, hal itu tak terjadi.

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

16 July 2017

Bertengkar juara di ruang sidang

--- di Romania, berebut gelar juara liga tak hanya di lapangan bola

Pemain dan pelatih Viitorul Constanta tak mendapat kabar soal keputusan bersejarah itu secara langsung. Mereka sedang terbang pulang dari Lausanne, Swiss, tempat mereka baru saja dikalahkan tim Perancis Marseille dalam sebuah laga persahabatan pramusim.
   
Namun, saat mendarat di rumah, para penumpang tahu bahwa mereka baru saja disahkan sebagai kampiun Romania. Court of Arbitration of Sports, lembaga arbitrasi olahraga dunia yang (kebetulan) berkedudukan di Lausanne, baru saja memenangkan mereka atas rival terdekat, FCSB, dalam gugatan hukum siapa seharusnya yang menjadi juara Liga I Romania.

Kisah bagaimana juara sebuah liga bisa ditetapkan oleh pengadilan hukum bermula bulan Mei silam, ketika Liga I Romania menutup tirainya.

Untuk sedikit konteks: Liga I memiliki dua putaran berbeda. Musim reguler melibatkan empat belas tim yang masing-masing mendapatkan jatah 26 pertandingan. Enam tim teratas lolos ke championship round, sedangkan sisanya bertarung untuk tetap berada di kasta tertinggi di relegation round. Tim yang mendapatkan poin terbanyak di championship round otomatis berstatus juara liga, sedang dua tim terbawah pada relegation round terdegradasi ke Liga II.

Viitorul Constanta, tim yang didirikan dan dimiliki oleh mantan legenda Romania Gheorghe Hagi ini, berhasil memuncaki championship round dengan koleksi 44 poin dari lima kemenangan, tiga seri, dan dua kekalahan. Namun, rival terdekat mereka, FCSB, juga mengoleksi 44 poin dari enam kemenangan, dua seri, dan dua kekalahan.

Viitorul pada awalnya ditetapkan sebagai juara karena memiliki rekor head-to-head yang lebih baik. Namun, FCSB menolak penetapan tersebut. Argumen mereka adalah rekor head-to-head pada dua pertemuan mereka di musim reguler, bukan hanya pada saat championship round saja, juga harus dihitung. Dalam skenario ini, FCSB yang akan menjadi juara liga.

Kedua tim pada akhirnya bersepakat untuk membawa pertengkaran mereka ke meja CAS di Lausanne. Lembaga kuasi-yudisial ini terkenal menangani kasus-kasus doping di olahraga dan keanggotaan sebuah negara pada konfederasi. Namun, kewenangan mereka juga ada pada kasus perseteruan penafsiran peraturan sebuah federasi sepak bola nasional, seperti halnya pada kasus Viitorul vs FCSB yang intinya merupakan gugatan terhadap peraturan Federasi Sepak Bola Romania.

Menariknya, ini bukan kali pertama juara liga Romania ditentukan oleh pengadilan internasional. Pada musim 2010-11, CAS mementahkan gugatan atas status Otelul Galati sebagai juara, setelah sebelumnya tim tersebut mendapatkan satu keputusan kemenangan WO atas Pandurii Targu-Jiu.

Kedua tim yang terlibat dalam gugatan ini boleh dibilang mempertaruhkan kebanggaan masing-masing. Viitorul Constanta adalah klub yang masih muda, didirikan oleh mantan legenda Real Madrid, Barcelona, dan Galatasaray Gheorghe Hagi pada 2009. Mereka terkenal karena pembinaan usia dini mereka yang mumpuni; dalam waktu kurang dari satu dekade, anak-anak binaan mereka melesat ke kasta tertinggi.

Di sisi lain, FCSB merupakan reikarnasi dari FC Steaua Bucuresti, tim tersukses dan paling bersejarah di Romania. Pada masa rezim komunis, Steaua adalah semacam Bayern Munich versi Romania: didukung oleh angkatan darat dan dihuni para pemain bintang macam kiper Helmuth Duckadam, Anghel Iordănescu, dan Hagi sendiri. Mereka merupakan satu-satunya tim Romania yang berhasil memenangkan European Cup (versi lama Champions League) pada 1986, mengalahkan Barcelona-nya Bernd Schuster lewat adu penalti di Sevilla.

 Pada akhirnya, keputusan CAS berpihak pada Viitorul, yang mengangkat trofi juara liga pertama mereka. Sepak bola, setidaknya di Romania, ternyata tak hanya ditentukan oleh sepakan-sepakan kaki atau cetakan-cetakan gol saja: ia juga dapat ditentukan lewat silat lidah dan adu otak di ruang sidang.

14 July 2017

Chuck Blazer: warisan sang pelanggar dan pelapor

-- wafatnya figur paling unik dalam sejarah sepak bola Amerika Serikat

Chuck Blazer, mantan Sekretaris Jenderal CONCACAF dan anggota Komite Eksekutif FIFA yang terkenal atas perannya dalam membongkar skandal korupsi di tubuh FIFA, telah wafat di kediamannya di New Jersey pada malam Rabu (12/7), Waktu Pantai Timur Amerika Serikat.

Blazer, 72 tahun, adalah sosok paling unik dalam sejarah perkembangan sepak bola modern di Amerika Serikat. Kisahnya adalah kisah bagaimana seorang soccer dad di wilayah pinggiran New York dapat mendaki tangga-tangga administrasi sepak bola seraya meraup keuntungan pribadi menuju puncak kekuasaan pengurusan permainan indah ini di benua Amerika.

Ia adalah orang yang membawa Piala Dunia 1994 ke Negeri Paman Sam, namun ia juga meraup jutaan dolar dari kontrak-kontrak bodong dan tipu-tipu perdagangan tiket. Ia orang yang membantu pemerintah federal Amerika Serikat untuk membongkar salah satu kasus korupsi terbesar dalam sejarah olah raga, dan ia juga orang yang sama yang mengaku bersalah atas 10 dakwaan pencucian uang, suap, korupsi, dan penipuan pajak di pengadilan federal New York.

Sebagai sekretaris jenderal CONCACAF, konfederasi yang meliputi wilayah Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, dari 1990 hingga 2011, Blazer bertugas sebagai deputi Jack Warner, presiden konfederasi dari Trinidad dan Tobago. Keduanya menjalankan konfederasi tersebut bagaikan keluarga Corleone versi lebih memalukan: selama bertahun-tahun, tak kurang dari 20 juta dolar dibayarkan ke akun pribadi Blazer untuk mendukung gaya hidupnya yang tak kurang mewahnya.

Dan Blazer tak pernah segan membuka mulutnya (yang dihiasi janggut putih tebal serupa Santa Claus) atau aset-asetnya yang lain kepada dunia. Figurnya yang eksentrik dapat ditemui berjalan-jalan di sekitar kota New York dengan Segway. Ia tinggal di Trump Tower di tengah distrik bisnis Manhattan, dimana ia memiliki satu apartemen untuknya dan satu apartemen untuk kucing-kucingnya. Itu semua berasal dari sepuluh persen komisi yang ia dapat dari seluruh pendapatan CONCACAF dari kontrak televisi, iklan, dan lain sebagainya: tak heran kalau julukannya semasa hidup adalah “Mr. Ten Percent”.

Seperti orang-orang kaya culas lainnya, Blazer enggan membayar pajak: segala penghasilannya dicuci ke pulau-pulau terpencil di Karibia. Inilah yang mulai membuat aparat federal Amerika Serikat gerah. FBI dan IRS (dinas pajak federal) mencokoknya pada 2011 kala ia tengah mengendarai scooter di tengah kota New York menuju sebuah restoran mewah.

Dalam plot twist yang lebih serupa naskah film Hollywood, FBI dan IRS mengubah Blazer menjadi seorang mata-mata dan whistleblower untuk mengungkap skandal korupsi yang lebih besar di tubuh FIFA, dengan ganti tak akan menangkapnya. Ia adalah pelanggar dan pelapor dalam satu tubuh.

Dengan bantuan deposisi Blazer, aparat federal menangkap sembilan eksekutif FIFA pada tahun 2015. Penangkapan ini (dan mulutnya yang terus menyerocos) membantu menjungkalkan bos lamanya, Warner, dan Presiden FIFA Sepp Blatter dari kursi masing-masing. Ia dilarang terlibat dalam sepak bola selama seumur hidup oleh FIFA pada Juli 2015.

Bagi beberapa pihak, ia takkan dipandang dengan begitu positif. “Kami telah memberinya kartu merah dalam Piala Dunia (yang penuh) penipuan,” ujar Richard Weber, ketua penyidik kriminal IRS.

Dan insan sepak bola Amerika akan mengenangnya dengan rasa bingung. “Ia melakukan banyak hal untuk olahraga ini,” ujar Bruce Arena, pelatih kepala tim nasional Amerika Serikat. “Terlepas dari segala hal soal korupsi di FIFA, ia orang yang baik,” ujarnya.

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

12 July 2017

Jalan runyam Meksiko di Piala Emas

Berbicara soal sepak bola di Amerika Utara dan Tengah, tak ada nama yang lebih besar ketimbang tim nasional Meksiko. Amerika Serikat boleh saja maju pesat dengan nama-nama besar yang mengerumuni Major League Soccer-nya, atau Kosta Rika memukau dengan kisah Cinderella-nya di Brazil tiga tahun lalu, namun kiblat sepak bola di wilayah ini masihlah negeri asal Cuahtemoc Blanco ini.

Hukum yang sama masih berlaku pada gelaran partai pembuka Piala Emas CONCACAF 2017 awal pekan lalu.     José de Jesús Corona dan kawan-kawan tiba di Amerika Serikat dengan status juara bertahan. Dua tahun silam, mereka merengkuh Piala Emas ketujuh sepanjang sejarah Para Pendekar Aztek, sekaligus mengukuhkan posisi mereka di atas rival sewilayah terdekat, para Yankees tuan rumah, yang baru mengoleksi lima gelar.

Tapi El Tri tak berangkat dari Mexico City dengan optimisme penuh. Sebelumnya, pasukan elit mereka, dipimpin pengoleksi ratusan penampilan macam Andres Guardado dan adik-beradik dos Santos, pulang dari Piala Konfederasi FIFA di Rusia dengan dibantai tim lapis kedua Jerman di perempatfinal. Pelatih kepala Juan Carlos Osorio mendapatkan pelarangan enam laga dari FIFA karena mengasari wasit, yang juga berlaku di Piala Emas.

Materi tim yang dibawa di Piala Emas memang bukan yang paling superior. Tiada nama yang familiar bagi penikmat bola dunia seperti halnya penyerang Javier Hernandez atau kiper Guillermo Ochoa. Dari dua puluh tiga pemain yang dibawa, seluruhnya berasal dari Liga MX, kompetisi domestik Meksiko, kecuali penyerang Erick Torres dari Houston Dynamo di MLS. Hanya enam pemain yang telah mencatatkan penampilan dua digit untuk tim nasional.

Hal ini dapat dimaklumi karena bagi publik Meksiko, negara yang telah dua kali menjadi tuan rumah Piala Dunia, tak menganggap Piala Emas cukup besar pamornya. Seperti halnya tetangga mereka Amerika Serikat, Meksiko telah rutin menjadikan kompetisi ini sebagai batu peloncat bagi pemain-pemain muda dan domestik. Tujuh dari 23 pemain tercatat berusia 23 tahun ke bawah.

Bagaimanapun, masalah mengekor tim ini kemana-mana jelang pagelaran tahun ini. #FueraOsorio, tanda pagar yang menyeru pemecatan sang pelatih kepala, bertebaran di media sosial. Tak kurang dari dua mantan pelatih tim nasional, Hugo Sanchez dan Ricardo La Volpe, mendesak federasi untuk menyingkirkan lelaki yang tak pernah terkalahkan di kualifikasi Piala Dunia seumur hidupnya ini.

Osorio, orang Kolombia yang pernah melatih New York Red Bulls dan Sao Paulo ini, terkenal karena senang merotasi skuatnya dan menerapkan taktik yang tak ortodoks: memberinya julukan El Recreacionista, sang pembongkar-pasang. Taktik itu bekerja di awal -- mereka mengalahkan Amerika Serikat di kualifikasi Piala Dunia -- namun gagal total di dua turnamen kompetitif sejauh ini, Copa Centenario tahun lalu dan Piala Konfederasi.

“Orang Meksiko senang berpikir bahwa tim nasional mereka lebih baik dari keadaan sebenarnya,” tulis kolumnis Mark Zeigler di San Diego Union-Tribune. Sulit untuk menyalahkan mereka, karena sepak bola telah mengalir di urat nadi Negeri Aztek sejak dulu kala. Melihat orang Kolombia berkacamata macam Osorio mengacak-ngacak metode permainan tim nasional tanpa hasil yang jelas membuat banyak pengamat dan suporter tak puas hati.

Tapi setidaknya, kemenangan 3-1 di partai pembuka atas El Salvador dapat membuat sang pelatih kepala untuk bernafas lega, setidaknya buat sejenak. Elias Hernandez, sang pahlawan kemenangan yang kini jadi buah bibir walaupun telah dipinggirkan tim nasional sejak lama, menegaskan solidaritas tim yang kini ditangani asisten Luis Pompilio Páez itu. “Kami di sini untuk (merebut) piala,” ujar Hernandez pasca-laga di San Diego itu.

Sang asisten pelatih sepakat. “Kami meninggalkan stadion dengan kepala tegak, namun kami juga harus belajar untuk mengendalikan emosi,” ujar Páez. Performa mereka boleh dibilang memuaskan, namun pertahanan yang digalang kapten Hugo Ayala akan jadi pekerjaan rumah besar di sisa turnamen. "Kami adalah tim yang kebobolan terbanyak di Piala Konfederasi,” aku Páez. “Itu adalah resiko menjadi pasukan yang ambisius, pasukan yang menciptakan banyak peluang gol.”

Hedgardo Marín mencetak gol pembuka buat Meksiko di menit kedelapan, namun dibalas dua menit kemudian oleh pemain El Salvador Nelson Bonilla. Jual-beli serangan dan adu strategi ofensif tingkat tinggi terjadi sebelum Hernandez mencetak lagi di menit ke-30. Kemenangan mereka dikunci oleh gol Orbelin Pineda sepuluh menit setelah awal babak kedua.

Meksiko akan menghadapi Jamaika dan Curacao di dua pertandingan sisa Grup C pada 13 dan 16 Juli. Menghadapi Curacao mungkin bukan masalah buat tim berperingkat enam belas FIFA ini, namun Jamaika, runner-up edisi 2015, dapat merepotkan jalan mereka yang telah runyam untuk mempertahankan trofi, merengkuh gelar kedelapan dan mempertegas posisi mereka sebagai tim terbesar di belahan benua Amerika Utara.

“Ini adalah sekumpulan pemain muda yang belum pernah menghadapi turnamen bersama-sama, dan mereka harus tetap belajar,” pungkas Páez. “

Pertama kali tayang di Football Tribe Indonesia.

10 July 2017

Rooney, Ferguson, dan cara bersilang untuk pulang

Walaupun mencapai sukses sebagai pelatih di Manchester United, Sir Alex Ferguson tak akan pernah melupakan kota kelahirannya, Glasgow. “Kami berpeluang untuk bermain di final Liga Champions 2002 di Glasgow,” tulis Fergie di autobiografinya, Alex Ferguson, My Autobiography, “Itu sangat istimewa, (berkesempatan) bermain di kota tempat lahir saya melawan Real Madrid.”

“Kota tempat lahir saya”, tulis Ferguson. Ia tumbuh sebagai putra seorang asisten pembuat kapal di Govan, sebuah distrik kelas pekerja di barat daya kota terbesar di Skotalandia ini. Ibrox, kandang tim raksasa Rangers, terletak dekat dengan tempat tersebut

Saat masih bocah, Ferguson menonton final Piala Champions 1960 di Hampden Park, di mana Real Madrid mengalahkan Eintracht Frankfurt dengan skor telak, 7-3. “Hampden Park disesaki 128.000 orang waktu itu. Jaraknya tiga atau empat mil, tetapi setidaknya kami bisa naik bus,” tulis Fergie. “Ada beberapa orang yang lewat dengam mobilnya, lalu anak-anak menumpang mobil mereka dengan membayar ongkos enam pence per orang. Itulah cara lain untuk pergi dan kembali dari stadion.”

Ferguson tumbuh mendukung Rangers. Ia memulai kariernya bersama Queens Park, sebuah tim amatir yang bermarkas di Hampden Park, kandang tim nasional Skotlandia. Ia sempat keluar dari Glasgow untuk bermain dengan St. Johnstone dan Dunfermline, namun kembali ke kota itu setelah direkrut Rangers pada 1967. Kembali ia pergi untuk meniti karier kepelatihan, pertama di Aberdeen, lalu tim nasional Skotlandia, kemudian berlabuh dan menjadi kaisar hebat di Manchester United.

Ia bisa saja kembali ke Glasgow dan Hampden Park dengan menumpang mobil dengan enam pence seperti yang ia lakukan setengah abad silam. Tetapi ia tak hendak melakukannya sambil menyarung jas hitam berlogo dua singa simbol kota Manchester itu. Ia ingin datang terhormat membawa skuatnya sebagai seorang petarung.

“Saya merasa luar biasa karena saya berpeluang kembali ke Hampden Park (pada final Liga Champions Eropa 2002), bisa mengantar United ke lapangan yang keramat itu,” tulisnya.

Namun sejarah mencatat bahwa Ferguson tak pernah berhasil membawa Ruud van Nistelrooy dan kolega ke Glasgow dan bertarung di partai final, karena langkah mereka telah dimatikan oleh Bayer Leverkusen di semifinal dengan perbedaan setipis kulit: 3-3, dan tim Jerman itu unggul dengan keuntungan gol tandang. Leverkusen sendiri harus takluk atas Real Madrid di partai puncak.

Dan sampai ia selesai menjabat pelatih Setan Merah pada 2013 lalu, Ferguson tak mencapai mimpinya untuk menjulang tinggi Si Kuping Besar di rumput Ibrox maupun Celtic Park, stadion lain di Glasgow. Ia justru memenangi kompetisi paling bergengsi di benua biru itu buat kedua kalinya di Stadion Luzhniki di Moskow pada Mei 2008, ratusan kilometer jauhnya dari timur Glasgow.

Salah satu anggota pasukan Ferguson yang memenangkan Liga Champions di Luzhniki itu adalah Wayne Mark Rooney, sang nomor 10, kapten Manchester United. Seperti Ferguson, Rooney bukanlah seorang Mancunian, sebutan untuk orang Manchester asli. Ia berasal dari Liverpool, nun beberapa kilometer dari barat Manchester. Seperti Ferguson pula, ia memiliki hubungan yang runyam nan menarik dengan tempat kelahirannya.

Naiknya Rooney ke belantika sepak bola dunia dimulai dari lapangan-lapangan buram Copplehouse Boys dan Liverpool Schoolboys, dua tim yang diperkuatnya kala kecil. Tapi yang melambungkan namanya adalah Everton, salah satu dari dua tim di kota Liverpool.

Everton membina Rooney dari usia sembilan hingga delapan belas tahun. Rumput-rumput Goodison Park adalah saksi ketajaman seorang juru gedor muda yang digadang-gadang para suporter setia sebagai juru selamat kedua setelah era sang legenda, Dixie Dean.

Tapi takdir menentukan bahwa hubungan Rooney dengan Everton dan kota Liverpool tak berjalan seperti halnya Ferguson dengan Rangers dan kota Glasgow. Bila Ferguson berpatah hati karena tak dapat pulang ke Glasgow untuk membanggakan kampung halamannya, maka Rooney meninggalkan Liverpool untuk mematahkan hati kampung halamannya.

Rooney adalah orang yang mencetak delapan gol untuk mengantarkan tim junior Everton ke final FA Youth Cup dan menyibakkan kaus “once a Blue, always a Blue”, membuat ribuan Evertonians berharap Goodison Park akan kembali menyaingi jumlah banyaknya Anfield disambangi pawai piala.

Tapi ia juga orang yang sama yang meminta dijual pada Agustus 2004 meski Everton menawarkannya perpanjangan kontrak dan akhirnya dilego ke Manchester United dengan nilai transfer termahal untuk seorang bocah yang bahkan belum genap dua puluh tahun.

Ferguson, di satu sisi, tak pernah merupakan seorang pemain sepak bola yang benar-benar hebat. Ia mencoba menebus itu dengan berkarya di luar dan membanggakan mereka dengan piala-pialanya di tanah seberang perbatasan.

Di sisi lain, Rooney adalah tempat ribuan Merseysiders berbaju biru pernah bertaruh harapan, namun ia tak pernah merasa Goodison Park cukup besar untuk menampung ambisi-ambisinya dan ia memutuskan untuk berkarya di luar. Bila Ferguson tak pernah mampu meniti jembatan, Rooney memutuskan untuk membakarnya.

Rooney, menariknya, berusaha untuk kembali dan berekonsiliasi setelah dua kali mencium lambang United kala melawan The Toffees di Goodison Park. Sang kapten timnas Inggris yang mulai tersisih ini menegaskan bahwa Everton hanyalah satu-satunya tim yang akan dibelanya selain United; mengingatkan kita pada janji Lionel Messi dan Newell’s Old Boys, tim yang membesarkan La Pulga di Argentina.

Baju biru Everton kembali ia sarungkan pada Agustus 2015 untuk laga testimonial Duncan Ferguson. Dua bulan kemudian, ia kembali mencetak gol di Goodison. Tapi, tak seinci pun tubuhnya bergerak untuk merayakan.

Ferguson, mantan bosnya, tak pernah kembali ke Rangers setelah kariernya yang panjang di United. Tapi rakyat Glasgow, para pekerja galangan kapal, para penjaga pub, ayah dan anak yang bersorak di Ibrox, tetap menyanjungnya sebagai putra mereka kala menyaksikan tim United yang ia asuh berjaya di kancah domestik dan internasional. Ia memegang Freedom of the City of Glasgow, penghargaan tertinggi yang bisa diberikan kota itu padanya. Begitulah caranya ia pulang.

Masih perlu waktu yang panjang untuk menggapai kembali puja dan hormat yang pernah diletakkan penggemar Everton dan warga kota Liverpool pada pundak Rooney. Namun, dengan memakai kembali panji-panji tim masa kecilnya, ia telah berada di jalan yang benar. Seriuh apapun warna kisahnya, Rooney telah menakar sendiri caranya untuk pulang.

Kemarin malam (9/7), Wazza, panggilan hangat untuk Rooney, menepati janji rekonsiliasinya dahulu. Ia kembali pulang, berlabuh di kota Liverpool. Meninggalkan kotanya dahulu untuk menjelajah negeri guna meraih gelar dan gelimang popularitas, sang bocah 18 tahun telah resmi kembali secara utuh, jiwa dan raga, untuk Everton, sebagai seorang pria matang berusia 31 tahun.

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.

09 July 2017

Balada David Beckham dan waralaba bola di Miami

Di tengah derasnya masuk aliran dolar Amerika ke Liga Primer Inggris, dunia sepak bola Negeri Paman Sam itu justru disambangi orang Inggris tulen dengan gaya rambut man bun dan kaki-kaki lincah bak kilat: David Beckham.

Pada awal bulan Juni 2017 lalu, Dewan Kota Miami-Dade County telah menyetujui penjualan tiga acre tanah milik pemerintah kota kepada sekumpulan investor yang diwakili oleh Beckham. Tanah ini akan melengkapi rancangan tapak sebuah stadion sepak bola baru di kota terbesar di negara bagian Florida ini, sekaligus mempermulus langkah Beckham untuk mendirikan tim sepak bola profesional pertama di Miami.

Sebelum bertanya-tanya bagaimana Beckham dapat berubah dari gelandang-separuh-selebritis menjadi Silvio Berlusconi baru di belantara Florida, maka kita harus pertama-tama melihat klausul kontrak yang ia tandatangani dengan Los Angeles Galaxy pada 2007. Seperti yang dilansir oleh The Guardian, Beckham menyetujui klausul yang memberikannya hak untuk memulai sebuah tim waralaba Major League Soccer dengan tanda harga 25 juta dolar.

Enam tahun kemudian, Beckham memilih Miami sebagai tempatnya membangun sebuah tim baru dari nol. Ia menggandeng Simon Fuller, rekan bisnisnya yang juga pencipta waralaba American Idol, untuk mewujudkan sebuah tim profesional di wilayah metropolitan yang juga mencakup Fort Lauderdale dan West Palm Beach dengan total penduduk enam juta orang ini.

Langkah Beckham (yang dengan unik dinamakan Miami Beckham United) adalah pertama-tama membuka konsultasi dengan MLS, liga sepak bola profesional Amerika Utara. Seiring dengan langkah MLS untuk memperbesar jumlah tim dari 20 menjadi 24 pada 2020, Beckham mencapai kesepakatan dengan komisioner liga Don Garber untuk mengunci pendirian sebuah tim ekspansi pada Februari 2014.

“Siapa yang tak ingin bermain dan tinggal di Miami?” tanya Beckham retoris dalam sebuah jumpa pers. “Saya tahu kota ini telah siap untuk sepak bola (profesional).”

Beckham tak salah dengan pernyataannya yang terakhir. Seperti halnya kota-kota besar di Amerika, Miami adalah kota yang haus akan olahraga. Miami Heat, kala masih diperkuat LeBron James, adalah salah satu tim besar NBA. Miami Marlins dulunya bernama Florida Marlins dan cukup diperhitungkan di MLB. Jangan pula lupakan Miami Dolphins di NFL. Yang kurang benar-benar hanyalah tim sepak bola profesional, dan tak ada yang lebih layak untuk menjalankannya di Miami selain salah satu gelandang terbaik yang pernah dihasilkan oleh tanah Inggris.

Miami adalah wilayah metropolitan keenam terbesar di Amerika Serikat, dengan populasi muda-mudi. Tak kurang pula faktor besarnya populasi kaum Hispanik Amerika, salah satu demografi terbesar penonton sepak bola di benua ini, meyakinkan MLS akan perlunya sebuah tim di pantai selatan Florida.

Proses negosiasi yang alot terjadi antara Beckham dan pemerintah setempat, terutama dalam membangun stadion baru. Salah satu syarat untuk mendapatkan tim MLS baru adalah memiliki stadion sendiri, persyaratan yang menghalang banyak kota kandidat lain seperti Detroit, Nashville, dan Pheonix. Banyak stadion olahraga di Amerika Serikat yang pembangunannya menuai kontroversi karena didanai oleh anggaran pemerintah lokal maupun negara bagian (yang secara langsung merupakan dari para pembayar pajak) untuk sekelompok investor.

Pemerintah Miami sendiri memiliki pengalaman buruk dengan pembangunan fasilitas olahraga baru: mereka membangun dan memiliki American Airlines Arena, kandang Heat, dan masih terpaksa menyubsidinya dengan uang publik. Namun, Beckham dan grup investornya berhasil mengamankan kesepakatan setelah tarik-ulur kepentingan dengan pemerintah lokal Miami, terutama setelah memastikan tak ada sepeser pun uang pembayar pajak akan keluar untuk membangun stadion baru ini.

Stadion baru tim yang masih tak bernama ini akan berkapasitas 25,000 orang dan dibangun di tepi Sungai Miami. Henry Grabar dari Slate memujinya sebagai “kesepakatan pembangunan stadion terbaik di Amerika”, terutama karena pilihan grup investor itu untuk tidak membangun gedung parkir dan alih-alih mengoptimalkan transportasi publik. Pemilihan tempat di pusat kota Miami juga dinilai tepat karena booming populasi dan ekonomi yang dalam lima tahun terakhir di wilayah tersebut.

Berkat pada klausul pada kontrak lamanya bersama Galaxy, Beckham hanya harus membayar 25 juta dolar expansion fee pada operator liga, ketimbang nominal sekitar 150 juta dolar yang harus dibayarkan peminat-peminat lain.

“Ini adalah proyek yang amat pribadi bagi saya,” ujar Beckham pada kesempatan lain. Ia telah berencana untuk mendatangkan pelatih top kelas dunia, pemain-pemain berpengalaman dengan bumbu Eropa dan sebuah akademi usia dini. “Saya ingin membangunnya seperti tim saya sendiri.”

Safe standing: mari (kembali) berdiri di stadion

Tribun berdiri di Anfield?

Lou Brookes kehilangan saudaranya, Andrew, dalam Tragedi Hillsborough. Itu petaka yang menyeramkan: sembilan puluh enam pendukung Liverpool, yang pada hari itu seharusnya melawan Nottingham Forest pada putaran semifinal Piala FA 1988-89, tewas akibat tribun berdiri yang penuh sesak oleh manusia dipadu dengan kesalahan fatal yang diambil oleh polisi yang bertugas.

Lebih dari tujuh ratus orang lainnya terluka dalam tragedi paling mematikan sepanjang sejarah sepak bola Britania Raya ini. Tragedi itulah yang mendasari Laporan Taylor, yang melarang adanya tribun berdiri di stadion-stadion dua divisi tertinggi liga Inggris. Sampai hari ini, tak ada stadion Premier League maupun Championship Division yang mengizinkan penonton untuk berdiri sambil menonton.

Namun, tak sampai tiga dekade selepas Hillsborough, tribun berdiri kini kembali digulirkan di kancah sepak bola Inggris.

 Adalah Football Supporters’ Federation, sebuah organisasi suporter sepak bola di Inggris dan Wales, yang menggulirkan kembali hal ini. Tujuan utama FSF adalah untuk memperkuat suara suporter sepak bola yang semakin terpinggirkan oleh kuasa korporat di lapangan hijau. Salah satu cara mereka mendapatkan perhatian publik sejak beberapa tahun yang lalu adalah mengembalikan kembali tribun berdiri dalam bentuk safe standing.

Jika Anda memerhatikan kebanyakan tribun berdiri di stadion di Indonesia, maka Anda hanya akan menemukan teras beton tanpa kursi maupun penghalang. Itu adalah bentuk tribun berdiri yang paling kuno: bentuk yang sama yang dipakai di The Kop lama di Anfield, di Hillsborough, dan banyak stadion klasik Eropa lainnya.

Safe standing berbeda. Setiap tingkat teras tribun memiliki penghadang keamanan, dan tiap penonton memiliki zona masing-masing alih-alih bertumpuk di satu deret. Penghadang tersebut memiliki mekanisme pengunci untuk memasang kursi bila diperlukan, misalnya untuk pertandingan level internasional yang tak memperbolehkan penonton berdiri. Bentuk ini disebut rail seat. 

Setiap stadion Bundesliga memiliki bagian safe standing; tribun kuning Borussia Dortmund di Westfalenstadion adalah contoh terbaik. Di Amerika Serikat, San Jose Earthquakes telah memiliki bagian safe standing sejak 2014, dan akan disusul oleh Orlando City, Los Angeles FC, dan Minnesota United dalam waktu dekat.

Safe standing juga sebenarnya telah tiba di Britania Raya. Pada akhir tahun lalu, raksasa Skotlandia Celtic membongkar satu bagian Celtic Park untuk membangun bagian safe standing berkapasitas enam ribu orang. Setidaknya 21 klub anggota Football League memilikinya, hanya karena mereka tak diwajibkan untuk mematuhi Football Spectators Act (UU Penonton Sepak Bola), salah satu buah rekomendasi Laporan Taylor.

Argumen yang mendukung kembalinya tribun berdiri antara lain adalah untuk mengembalikan intensitas dan minat penonton yang dianggap telah lama hilang dari sepak bola Inggris. Tren menunjukkan bahwa jumlah penonton setia di stadion-stadion di Inggris semakin menurun sejak diperkenalkannya konsep all-seater; Sir Alex Ferguson pernah menyebut atmosfer Old Trafford “sepi seperti di pemakaman”.

Survei FSF pada tahun 2012 menunjukkan bahwa 91.1% suporter di Inggris ingin dapat memilih untuk berdiri atau duduk saat menonton di stadion, dan 54% mengatakan akan lebih memilih berdiri. Safe standing akan mengembalikan sorak sorai yang riuh rendah untuk tim.

Tiket untuk tribun berdiri juga akan lebih murah. Lagi-lagi, harga tiket yang terlalu mahal menjadi alasan para penonton untuk enggan datang ke stadion. Rataan harga tiket Premier League musim lalu adalah 54 pounds, sementara tiket berdiri di sebuah pertandingan Bundesliga dapat didapat dengan harga serendah 15 pounds saja.

Premier League telah memulai proses konsultasi dengan pemerintah Inggris soal kemungkinan diterapkannya safe standing, dipelopori oleh ketua eksekutif Richard Scudamore. Tak kurang dari figur seperti pemilik West Ham United David Gold dan bos Arsenal Arsene Wenger yang dikabarkan sepakat dengan ide ini. Sekelompok suporter Chelsea bahkan telah meminta agar Stanford Bridge yang direnovasi agar dilengkapi dengan tribun berdiri.

Namun, tak seperti di Jerman atau Amerika Serikat, akan selalu ada alasan emosional yang membayangi proses kembalinya tribun berdiri. Duka lama Hillsborough tak akan mudah terobati. Liverpool akan menjadi pemain yang penting sekiranya upaya Scudamore terealisasi.

Hillsborough Family Support Group, organisasi yang mewakili kerabat para korban tragedi itu, menentang keras segala upaya untuk membalikkan rekomendasi Laporan Taylor. Everton, tim sesama Merseyside, diperkirakan akan berdiri bersama mereka seandainya Liverpool memutuskan untuk menentang safe standing.

Jalan masih panjang untuk bisa menyaksikan Premier League kembali diwarnai oleh sorak-sorai penonton berdiri di the Kop atau Stretford End. Tapi, dengan percakapan para pemegang kepentingan mulai mengarah ke sana, jalan kembali tribun berdiri tampaknya semakin dekat.

Itu sendiri diakui oleh mereka yang telah merasakannya sendiri: para kerabat Hillsborough. “Saya tahu dia benci (bila harus) duduk,” ujar Brookes tentang Andrew, yang berusia 26 tahun saat wafat.

“Menonton sambil berdiri tak membunuhnya, tapi faktor lain, bisa jadi.”

Pertama tayang di Football Tribe Indonesia.