Sejak tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998, Indonesia telah menyelenggarakan empat kali pemilihan umum legislatif: 1999, 2004, 2009, dan 2014. Sistem multipartai (berkebalikan dengan sistem tiga partai ala Orba yang sama sekali tak demokratis) memungkinkan pendirian partai-partai baru, di luar kekuatan-kekuatan politik tradisional yang sudah lebih lama berdiri.
Partai-partai ini membutuhkan sosok caleg yang dikenal masyarakat di konstituennya untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya, selain berusaha untuk memperkenalkan partai mereka kepada masyarakat.
Salah satu kelompok yag paling sering diincar oleh partai-partai ini adalah figur-figur yang sudah kadung punya muka dan nama, seperti para artis dan atlet. Pemilih dapat secara langsung mengenali orang-orang ini, karena kepopuleran mereka. Khusus di kelompok atlet, para pemain bulu tangkis dan sepak bola lumayan sering dimajukan oleh partai-partai kontestan pemilu. Alasannya, dua olahraga ini adalah primadona tontonan oleh masyarakat Indonesia.
Di luar negeri pun, fenomena pesepakbola menjadi politisi – atau secara spesifik, anggota parlemen – bukan sesuatu yang tak lazim. Kita mengenal Oleg Blokhin yang menjabat sebagai anggota Parlemen Ukraina sembari melatih tim nasionalnya di Piala Dunia 2006. Romario, sang legenda Brazil, juga kini duduk di Senat negaranya. Atau para eks AC Milan seperti Gianni Rivera yang duduk di Parlemen Eropa dan Kakha Kaladze yang kini menjadi Menteri Energi di negaranya, Georgia.
Dalam pemilihan umum legislatif 2014 yang baru saja lewat, kita menyaksikan beberapa atlet yang maju bertarung di pentas demokrasi itu. Ada mantan pemain bulu tangkis nasional Ricky Subagja [maju untuk kursi DPR di Jawa Barat dari Partai Nasdem, salah satu kontestan pendatang baru]. Tak lupa pula nama-nama senior dunia olahraga yang sudah lebih dulu muncul di panggung politik dan kembali bertanding, seperti pecatur senior Utut Adianto yang maju kembali lewat tiket Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Dari dunia sepak bola, tak tanggung-tanggung, figur sekelas mantan pelatih tim nasional Nil Maizar pun ikut bertarung untuk memperebutkan kursi di DPR – juga dari Partai Nasdem. Nama-nama lain seperti penyerang PSMS Medan Saktiawan Sinaga dan mantan pemain PSM Makassar Iqbal Samad turut meramaikan pesta demokrasi ini di level DPRD Provinsi dan Kabupaten.
Partai pertama di Indonesia yang memajukan “orang bola” sebagai calon legislator mereka adalah Partai Komunis Indonesia pada pemilihan umum legislatif 1955. PKI mencalonkan dua orang caleg dari pemain bola dan satu orang caleg dari penulis bola (tampaknya mereka sudah berpikir tentang memberdayakan para football analyst sejak setengah abad yang lalu). Tiga caleg yang dimajukan itu adalah Witarsa, Ramlan, dan Jahja Jacub.
Harian Rakjat – koran resmi PKI – edisi 29 September 1955 menurunkan berita mengenai ketiga caleg ini. Witarsa digambarkan sebagai seorang “kanan luar jang paling tjepat, paling tjepat, paling tjekatan, dan paling taktis”. Sementara Ramlan dari PSMS Medan adalah seorang “palang-pintu kesebelasan kita jang rapat”, sekaligu kapten tim nasional saat itu. Terakhir, Jacub, esais bola dan redaktur koran merangkap anggota Komsi Kesebelasan Nasional Indonesia (semacam BTN pada saat ini?), tulisan dan analisisnya dinarasikan sebagai “berpengaruh besar atas perkembangan sepak bola semasa”.
Kesadaran PKI untuk merebut simpati masyarakat dengan memajukan caleg-caleg “orang-bola” yang “tahu persis bau keringat timnas” (mengikuti gaya bahasa Harian Rakjat). Partai komunis ini menawarkan solusi untuk daerah yang “sepakbola madju pesat tetapi lapangabola kurang”, yaitu dengan mencoblos calegnya. “Saudara djangan ketjilhati, ada djalan pemetjahannja.”
Tidak ada laporan lebih lanjut apakah ketiga caleg ini berhasil terpilih, dan bagaimana nasib mereka setelah pecahnya G30S/PKI. Namun, partai bergambar palu-arit ini tercatat menjadi partai politik pertama di Indonesia yang memajukan para insan dunia kulit bundar untuk bertarung mengusung panji-panji mereka.
Menginjak era Reformasi, yang ditandai dengan terselenggaranya pemilihan umum 1999 – sampai saat ini masih tercatat dengan pemilu berpeserta terbanyak dengan 28 partai peserta – mulai banyak insan kulit bundar yang kembali terjun ke politik praktis.
Jack Komboy, misalnya. Bek Persipura Jayapura di periode 1998-2003 ini memutuskan bergabung dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dalam pemilihan umum legislatif 2009. Ia maju sebagai caleg untuk DPRD Provinsi Papua, dan gantung sepatu dari tim Mutiara Hitam yang membesarkan namanya. Jack berhasil terpilih.
Lima tahun berselang, pemilihan umum legislatif 2014 menyaksikan beberapa nama tenar lapangan bundar lain yang ikut turun menjadi caleg. Tersebutlah nama juru gedor PSMS Medan, Saktiawan Sinaga, yang maju memperebutkan kursi DPRD Provinsi Sumatera Utara. Sakti – begitu ia kerap dipanggil – pertama kali mendaftar untuk menjadi caleg di Partai Gerakan Indonesia Raya [Gerindra], tetapi pada akhirnya justru beralih ke PKB. Ia mengaku alasannya memilih PKB adalah karena “tradisi kekompakan antar-kader”. “Saya memilih PKB karena konsep kemitraan. Dalam sepak bola, teman harus dianggap mitra, bukan musuh,” begitu menurutnya. Pada rekapitulasi akhir, Sakti akhirnya gagal terpilih, walaupun partainya berhasil mendapat tiga kursi di dewan.
Lain lagi kisah Iqbal Samad, bek PSM Makassar. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memilihnya untuk maju dalam pemilihan anggota DPRD Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Iqbal yang memang putra asli daerah itu, menyatakan visinya untuk menjadikan Gowa bisa terkenal se-Indonesia karena sepak bola. Ia mengangsurkan Wamena di Papua sebagai contohnya dalam membangun dunia olahraga Gowa.
Terakhir, ada nama beken Nil Maizar. Mantan pelatih tim nasional Indonesia dan Semen Padang itu maju sebagai calon legislator di DPR dari daerah pemilihan Sumatera Barat 2, yang meliputi juga kampung halamannya, Kota Payakumbuh. Tergabung bersama Partai Nasdem, Nil kalah tipis dari pesaing-pesaingnya.
Ada banyak alasan seorang pegiat sepak bola terjun ke arena politik.
Yang paling menarik barangkali adalah janji-janji PKI jika caleg “orang-bola” mereka terpilih. Partai ini menjanjikan pertandingan-pertandingan persahabatan kelas internasional untuk para suporter timnas jika mereka mencoblos logo palu arit. Saat itu, yang dianggap kesebelasan-kesebelasan dunia antara lain India, Uni Soviet, dan Hongaria.
PKI tampaknya memegang teguh janji kampanye ini. Kliping Harian Rakjat yang ditemukan oleh Gus Muhidin M Dahlan tertanggal 29 September 1955 menerakan serangkaian pertandingan antara klub Lokomotif dari Uni Soviet (tidak diketahui Lokomotif dari kota mana yang dimaksud, barangkali Locomotiv Moscow). Klub ini berlaga melawan “Persidja Djakarta” di Lapangan Ikada (sekarang Monas), “Persebaja”, PSMS, PSP Padang, PSSI-B, dan PSSI-A sepanjang bulan November 1955. Tidak ada catatan lanjutan apakah ada kesebelasan lain yang datang setelah itu.
Saat maju di pemilu 2009, Jack Komboy mengaku tertantang untuk Papua dengan daerah lain di Indonesia. “Bila saya terpilih, saya akan berjuang membangun Papua agar bisa maju dan sejajar dengan daerah lain,” ujarnya. Namun, mantan stopper PSM Makassar itu tak merinci rencananya untuk sepak bola, bidang yang ia geluti sebelumnya.
Saat memajukan Saktiawan Sinaga sebagai caleg mereka, PKB menegaskan pentingnya keterwakilan pemain bola di gedung parlemen. “Kita juga perlu memperhatikan para atlit dan olahragawan, karena setelah 30 tahun mereka jarang dipakai lagi,” ujar Ketua DPW PKB Sumatera Utara, Ance Setiawan.
Perasaan “harus terwakili” itu yang mendorong Saktiawan untuk maju. “Saya ingin mewakili para pemain olahragawan [sic]. Karena selama ini sangat jarang diperhatikan, hal inilah membuat bersedia mencalonkan diri,” tuturnya.
Sedikit berbeda dengan Saktiawan yang menekankan jarangnya para pemain bola diperhatikan oleh para perumus hukum, Iqbal Samad lebih mementingkan hal lain saat maju memperebutkan kursi DPRD Kabupaten Gowa. Mantan bek Persiba Balikpapan ini ingin menjadikan Gowa layaknya Wamena. "Dulu hotel di Wamena itu hanya seperti rumah penduduk. Namun setelah Persiwa Wamena berlaga dikompetisi teratas justru semakin berkembang dan kini membangun hotel bintang lima. Artinya kita bisa memajukan daerah melalui olahraga," ujar Iqbal.
Iqbal mempunyai misi untuk memperjuangkan alokasi anggaran olahraga yang lebih besar, sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu sejumlah cabang olahraga, seperti tim sepak bola setempat, Persigo Gowa yang berkompetisi di Divisi III. Ia memilih mengikuti sejumlah pertandingan tarkam di daerahnya untuk sosialisasi dan kampanye. Ia juga meminta dukungan rekan-rekannya di PSM. “Syamsul Haeruddin yang juga merupakan putra asli Gowa juga siap mendukung”, tuturnya.
Mengantongi pengalaman sebagai pemain dan pelatih, Nil Maizar – seperti Komboy – tak banyak menyitir sepak bola dalam misinya maju ke Senayan. “Saya ingin berbuat baik untuk kampung halaman saya,” hanya itu yang ia jelaskan saat ditanya alasannya maju. Walau begitu, Nil secara eksplisit menyatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan sepak bola – sesuatu yang benar-benar ia lakukan setelah tak terpilih, yaitu menerima pinangan menjadi komandan Putra Samarinda.
Sepak bola Indonesia telah lama bergelut dengan para politisi. Para anggota Volksraad era Hindia Belanda sudah merintisnya sejak puluhan tahun lampau: Otto Iskandar Dinata di Persib, MH Thamrin di Persija, dan Tengku Nyak Arif di Persiraja Banda Aceh, jauh sebelum orang-orang seperti Habil Marati, Hinca Panjaitan, atau Achsanul Qosasih duduk di kepengurusan PSSI
Namun, jika selama ini para politisi tulen yang ikut campur dalam urusan sepak bola Indonesia, sudah tiba saatnya para pesepakbola pula yang ikut campur dalam urusan politik. Para insan dunia kulit bundar ini punya nilai plus: mereka punya pemahaman mengenai sepak bola dan cara untuk mengurusnya, karena mereka pernah bergelut dengannya.
Sedangkan para politisi yang mengurusi sepak bola, tak pernah benar-benar tahu bagaimana sebenarnya sepak bola itu sendiri, karena satu alasan sederhana: mereka tak pernah berada di dalamnya.
Atau jika menyitir Harian Rakjat, “coblos caleg-caleg yang tahu persis bau keringat timnas yang membasahi seragam mereka saat bertanding!"
Tanbihat: Terdapat kesalahan paragraf kedelapan, yaitu pencantuman nama Ramlan dan Witarsa yang ternyata terbalik. Terima kasih kepada mas Aqwam untuk koreksinya :)
21 July 2014
04 July 2014
Senioritas teras masjid
Bulan Ramadhan datang lagi. Dan seperti adanya di setiap bulan yang barokah ini, pasti ada yang namanya shalat Tarawih. Itu lho, yang ada versi 11 dan 23 rakaat.
Atas alasan shalat Tarawih, maka bulan Ramadhan adalah masa dimana masjid ramai dikunjungi ummat. Dari kakek-kakek renta hingga bocah-bocah cilik ingusan. Semuanya datang ke masjid, dengan wajah berseri-seri menunjukkan tanda kemenangan ummat [oke ini lebay]. Ya pokokmen, masjid ramai, lah. Entah itu untuk shalat Isya, mendengarkan ceramah Tarawih dari bapak mubaligh undangan dari luar, shalat Tarawih, atau tadarus Quran.
Dan atas alasan itu pulalah saya sekarang cukup sering ke masjid. Dan saya perlu akui kalau saya jarang ke masjid kalau bulan-bulan biasa.
Maka dengan itu saya “bersinggungan” lagi dengan kehidupan masjid yang ramai itu. Masjid kami itu semacam episentrum kehidupan di sekeliling kompleks. Ya gimana ndak jadi episentrum, pemilihan gubernur sampai nyembelih hewan kurban aja di situ.
Dan kejadian-kejadian kecil ketika bulan Ramadhan ini selalu menggelitik untuk dikisahkan. Ada fragmen menarik yang terjadi pada malam-malam bulan barokah ini: anak-anak mengatur anak-anak.
Jadi, ceritanya begini. Mengingat para pengurus masjid sudah terlalu sibuk [atau barangkali bosan] melayani tingkah polah anak-anak SD [kebanyakan kelas 1 atau 2] yang biasa memenuhi masjid setiap shalat Isya dan Tarawih, maka mereka menugaskan beberapa orang anak untuk mengawasi bocah-bocah SD ini.
Yang menariknya, orang yang ditugaskan untuk mengawasi bocah-bocah kelas 1 dan 2 SD ini pun usianya tidak terlalu jauh dengan orang-orang yang seharusnya mereka atur. Sepengamatan saya, para “petugas” ini kebanyakan kelas 5 atau 6 SD, alias masih “sepangkat” dengan yang mereka atur.
Namun, jangan salah. Untuk urusan menertibkan bocah-bocah kecil yang selalu berlarian ke sana ke mari ini, wuidih para “petugas” ini tak kalah sigapnya dengan pamong praja membongkar lapak ilegal pedagang pasar.
Kira-kira bentuk masjid kami adalah sebuah ruang shalat utama yang dikelilingi teras berkeramik, yang lebarnya tak kurang dari empat badan orang dewasa. Dan sesuai juklak-juknis yang diamanahkan bapak-bapak pengurus masjid kepada para “petugas” tadi, bocah-bocah target operasi tadi itu hanya boleh shalat Isya dan Tarawih di teras berkeramik itu. Tidak boleh di ruang shalat utama.
“KEPADAAAA ANAK-ANAK KAMIIII UNTUK BISA SHALAAAT DI TERAS SAMPING KIRI DAN KANAN MASJIIIIID. DAN JUGAAA KEPADAAA PARA REMAJAAA YANG BERTUGAAAS UNTUK MEMBIMBING ADEK-ADEKNYA SHALAAAAT. TERIMA KASIIIH.”
Begitu pengumuman yang selalu dikumandangkan, 30 hari se-Ramadhan [30 atau 29, tergantung Anda percaya Kementerian Agama atau tidak], setiap menjelang shalat Isya.
Ada tiga pintu untuk memasuki ruang shalat utama. Pintu pertama, sebelah timur dekat tempat wudhu dan gerobak abang sate menggelar dagangannya, siap dijaga sekitar tiga hingga empat orang “petugas”. Bocah-bocah kecil ini – seratus persen laki-laki – tidak shalat sejajar dengan bapak-bapak, karena di sana ada usungan jenazah. Mereka shalat sejajar dengan shaf ibu-ibu.
Pintu kedua, dari sebelah selatan masjid, tidak ada yang shalat. Itu pintu untuk memasuki ruang shalat utama ibu-ibu. Nah pintu ketiga, dari sebelah barat, ini yang paling ramai. Ada empat sampai lima “petugas” berjaga siaga tiga belas di sana. Komandannya seorang anak yang saya taksir baru masuk SMP.
Teritori yang biasa dikuasai para bocah-bocah cilik ini adalah teras sebelah timur dan barat. Dilapisi karpet yang sudah dimakan usia, rada usang [lho iya, yang bagus kan sudah diborong bapak-bapak di ruang shalat utama] dan kuning-kuning. Tapi saya lihat mereka bahagia aja tuh shalat di karpet seperti itu
Saya biasa masuk ke ruang shalat utama dari pintu barat. Kalau azan Isya sudah berkumandang, pintunya sudah siaga satu. Kalau ada diantara bocah-bocah kecil ini yang berani coba-coba masuk ke ruang shalat utama, kata-kata sakti langsung keluar dari para “petugas”: “ANAK KECIL SHALAT DI TERAS!”
Tegas, keras, dan efektif.
Dan sepengamatan saya, taktik pengurus masjid untuk meng-outsource petugas pengamanan dari bocah-bocah tanggung kelas 5 dan 6 SD ini [ya, bocah tanggung karena saya bingung mereka sudah bisa dikategorikan remaja atau masih bocah] ini cukup brilian. Para “petugas” menikmati wewenang mereka, karena tiga hingga empat “petugas” bisa mengawasi 20 sampai 30 orang anak di satu teras.
Lucunya, anak-anak kelas 1 dan 2 ini manut saja. Sempat ada dialog kecil yang saya tangkap ketika sedang mendengarkan ceramah Tarawih beberapa hari yang lalu.
Bocah X: Bang, boleh masuk Bang?
Petugas Y: [wajah ditegas-tegaskan] Nggak boleh, dek.
Bocah X: Kenapa, Bang?
Petugas Y: [wajah dikeras-keraskan] ANAK KECIL SHALAT DI TERAS. DUDUK SANA!
Dan bocah X tadi pun manut.
Nah, saat ceramah Tarawih, kadang teras yang jadi teritori untuk mendamparkan bocah-bocah kecil ini “direbut” oleh bapak-bapak penghuni ruang shalat utama yang gerah di dalam. Kadang mereka ingin merokok, ngobrol ngalor-ngidul. Jadilah teritori para bocah kecil dan komandan mereka “terjajah” seketika. Jamaah cilik pun bubar seketika. Ada yang menyambut dagangan abang sate di seberang teras sana, ada yang berlari-larian tak keruan, ada pula yang mengganggu jamaah perempuan di bagian belakang. Ramai.
Lho, tapi tidak lama. Ketika badal masjid sudah mengumandangkan “subhanal malikil ma’buuuuudddd” maka bapak-bapak yang merokok dan ngobrol di teras “jajahan” tadi pun kembali masuk ke ruang shalat utama. Teritori bocah kecil dan komandan tanggung pun diliberalisasi dari anasir-anasir orang dewasa. Para “petugas” segera mengumpulkan anggota peleton mereka yang tercerai berai. Dalam semenit, beres. Merdekah!
Biasanya sebelum tarawih, para “petugas” ini terlebih dahulu bikin operasi sapu jagat. Bocah-bocah yang masih “liar” berlari-larian, akan ditertibkan, digiring ke teritori di mana seharusnya mereka berada. Ini semua demi terlaksananya shalat Isya dan Tarawih yang murni dan konsekuen.
Alur kerja para “petugas” ini juga tidak main-main. Sebagai “pemberi amanah” adalah para pengurus masjid, bapak-bapak panitia pelaksana Ramadhan. Setelah “pemberi amanah”, dikenal pula “pengawas”. Artinya yang mengawasi “petugas-petugas” cilik tadi ini. Para “pengawas” biasanya remaja masjid – remaja beneran, bukan bocah kelas 5 atau 6 SD – yang sesekali melongok ke teras samping kiri atau kanan untuk mengawasi para “petugas”. Kalau ada diantara bocah-bocah ini yang mbandel, yang mangkel, dan tidak bisa ditangani di level “petugas”, maka “pengawas” yang turun tangan. Semacam kalau Pengadilan Negeri ndak bisa ngurus ya naik level ke Pengadilan Tinggi, gitu lho.
Jadi alurnya: bapak-bapak pengurus masjid ---> pengawas dari remaja ---> petugas bocah tanggung ---> bocah-bocah cilik penghuni teras. Begitu.
Keberadaan “petugas” cilik yang kerjanya menertibkan bocah-bocah ini saya kira hal baru. Tujuh atau delapan tahun silam, waktu saya masih di MDA [gini-gini saya pernah MDA, walaupun drop-out], yang mengawasi kami – kami di sini berarti bocah-bocah kelas 1 atau 2 SD – adalah langsung para remaja masjid atau pemuda, atau sekarang, level “pengawas”.
Mungkin sekarang sudah ada regenerasi teras masjid [kami juga dulu disuruh shalat di teras masjid], karena generasi yang mengawasi kami dulu mungkin sudah pensiun. Dan bocah-bocah kecil [umur dua hingga tiga tahun] waktu era saya MDA mungkin sekarang yang jadi para “petugas” itu. Hipotesis saya lho ya.
Dan satu lagi kebiasaan unik jamaah cilik ini: sahutan “aaaamiinnn” yang begitu panjang.
Jamaah cilik teras sebelah kiri dan kanan saya taksir jumlahnya ndak lebih dari 50, namun gema sahutan “aaaamiiinnn”-nya bisa nembus pori-pori tanah. Tidak percaya? Coba bandingkan.
Imam: Waladdhooooolllliiiiiiiiiiin.....
Bapak-bapak di ruang shalat utama: Aaaaaaaamiiiiiinnnn.........
Jamaah cilik teras masjid: AAAAAAAAMMMMMMMMIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNN!!!!!!
Kalau Pak Imam nadanya slow, bapak-bapak di ruang shalat utama nadanya medium, maka jamaah cilik teras masjid ini bisa dikatakan heavy super metal.
Dan kalau sudah begini, para “petugas” cuma membiarkan. Toh kadang mereka tergelak-gelak sendiri mendengar sahutan “AAAAAAAMIIIIINNNNN” macam itu.
Saat saya pulang ke rumah malam ini, linimasa Twitter menyajikan berita soal pelajar di salah satu SMA negeri di ibu kota negara yang harus sampai meregang nyawa karena perpeloncoan seniornya. Saya langsung kepikiran para “petugas” di teras tadi itu.
Semoga dengan mengenal budaya memimpin (walaupun cuma mimpin jamaah bocah cilik), para “petugas” tadi itu tidak sampai terlalu over kalau kelak jadi pemimpin.
Semoga saja, budaya "senioritas ala teras masjid" masih melekat sampai kapanpun. Tegas, tapi tetap lugu dan bersahaja. Dan tetap ketawa kalau ada "AAAAAMIIIIINNNN" yang kelewatan keras.
Atas alasan shalat Tarawih, maka bulan Ramadhan adalah masa dimana masjid ramai dikunjungi ummat. Dari kakek-kakek renta hingga bocah-bocah cilik ingusan. Semuanya datang ke masjid, dengan wajah berseri-seri menunjukkan tanda kemenangan ummat [oke ini lebay]. Ya pokokmen, masjid ramai, lah. Entah itu untuk shalat Isya, mendengarkan ceramah Tarawih dari bapak mubaligh undangan dari luar, shalat Tarawih, atau tadarus Quran.
Dan atas alasan itu pulalah saya sekarang cukup sering ke masjid. Dan saya perlu akui kalau saya jarang ke masjid kalau bulan-bulan biasa.
Maka dengan itu saya “bersinggungan” lagi dengan kehidupan masjid yang ramai itu. Masjid kami itu semacam episentrum kehidupan di sekeliling kompleks. Ya gimana ndak jadi episentrum, pemilihan gubernur sampai nyembelih hewan kurban aja di situ.
Dan kejadian-kejadian kecil ketika bulan Ramadhan ini selalu menggelitik untuk dikisahkan. Ada fragmen menarik yang terjadi pada malam-malam bulan barokah ini: anak-anak mengatur anak-anak.
Jadi, ceritanya begini. Mengingat para pengurus masjid sudah terlalu sibuk [atau barangkali bosan] melayani tingkah polah anak-anak SD [kebanyakan kelas 1 atau 2] yang biasa memenuhi masjid setiap shalat Isya dan Tarawih, maka mereka menugaskan beberapa orang anak untuk mengawasi bocah-bocah SD ini.
Yang menariknya, orang yang ditugaskan untuk mengawasi bocah-bocah kelas 1 dan 2 SD ini pun usianya tidak terlalu jauh dengan orang-orang yang seharusnya mereka atur. Sepengamatan saya, para “petugas” ini kebanyakan kelas 5 atau 6 SD, alias masih “sepangkat” dengan yang mereka atur.
Namun, jangan salah. Untuk urusan menertibkan bocah-bocah kecil yang selalu berlarian ke sana ke mari ini, wuidih para “petugas” ini tak kalah sigapnya dengan pamong praja membongkar lapak ilegal pedagang pasar.
Kira-kira bentuk masjid kami adalah sebuah ruang shalat utama yang dikelilingi teras berkeramik, yang lebarnya tak kurang dari empat badan orang dewasa. Dan sesuai juklak-juknis yang diamanahkan bapak-bapak pengurus masjid kepada para “petugas” tadi, bocah-bocah target operasi tadi itu hanya boleh shalat Isya dan Tarawih di teras berkeramik itu. Tidak boleh di ruang shalat utama.
“KEPADAAAA ANAK-ANAK KAMIIII UNTUK BISA SHALAAAT DI TERAS SAMPING KIRI DAN KANAN MASJIIIIID. DAN JUGAAA KEPADAAA PARA REMAJAAA YANG BERTUGAAAS UNTUK MEMBIMBING ADEK-ADEKNYA SHALAAAAT. TERIMA KASIIIH.”
Begitu pengumuman yang selalu dikumandangkan, 30 hari se-Ramadhan [30 atau 29, tergantung Anda percaya Kementerian Agama atau tidak], setiap menjelang shalat Isya.
Ada tiga pintu untuk memasuki ruang shalat utama. Pintu pertama, sebelah timur dekat tempat wudhu dan gerobak abang sate menggelar dagangannya, siap dijaga sekitar tiga hingga empat orang “petugas”. Bocah-bocah kecil ini – seratus persen laki-laki – tidak shalat sejajar dengan bapak-bapak, karena di sana ada usungan jenazah. Mereka shalat sejajar dengan shaf ibu-ibu.
Pintu kedua, dari sebelah selatan masjid, tidak ada yang shalat. Itu pintu untuk memasuki ruang shalat utama ibu-ibu. Nah pintu ketiga, dari sebelah barat, ini yang paling ramai. Ada empat sampai lima “petugas” berjaga siaga tiga belas di sana. Komandannya seorang anak yang saya taksir baru masuk SMP.
Teritori yang biasa dikuasai para bocah-bocah cilik ini adalah teras sebelah timur dan barat. Dilapisi karpet yang sudah dimakan usia, rada usang [lho iya, yang bagus kan sudah diborong bapak-bapak di ruang shalat utama] dan kuning-kuning. Tapi saya lihat mereka bahagia aja tuh shalat di karpet seperti itu
Saya biasa masuk ke ruang shalat utama dari pintu barat. Kalau azan Isya sudah berkumandang, pintunya sudah siaga satu. Kalau ada diantara bocah-bocah kecil ini yang berani coba-coba masuk ke ruang shalat utama, kata-kata sakti langsung keluar dari para “petugas”: “ANAK KECIL SHALAT DI TERAS!”
Tegas, keras, dan efektif.
Dan sepengamatan saya, taktik pengurus masjid untuk meng-outsource petugas pengamanan dari bocah-bocah tanggung kelas 5 dan 6 SD ini [ya, bocah tanggung karena saya bingung mereka sudah bisa dikategorikan remaja atau masih bocah] ini cukup brilian. Para “petugas” menikmati wewenang mereka, karena tiga hingga empat “petugas” bisa mengawasi 20 sampai 30 orang anak di satu teras.
Lucunya, anak-anak kelas 1 dan 2 ini manut saja. Sempat ada dialog kecil yang saya tangkap ketika sedang mendengarkan ceramah Tarawih beberapa hari yang lalu.
Bocah X: Bang, boleh masuk Bang?
Petugas Y: [wajah ditegas-tegaskan] Nggak boleh, dek.
Bocah X: Kenapa, Bang?
Petugas Y: [wajah dikeras-keraskan] ANAK KECIL SHALAT DI TERAS. DUDUK SANA!
Dan bocah X tadi pun manut.
Nah, saat ceramah Tarawih, kadang teras yang jadi teritori untuk mendamparkan bocah-bocah kecil ini “direbut” oleh bapak-bapak penghuni ruang shalat utama yang gerah di dalam. Kadang mereka ingin merokok, ngobrol ngalor-ngidul. Jadilah teritori para bocah kecil dan komandan mereka “terjajah” seketika. Jamaah cilik pun bubar seketika. Ada yang menyambut dagangan abang sate di seberang teras sana, ada yang berlari-larian tak keruan, ada pula yang mengganggu jamaah perempuan di bagian belakang. Ramai.
Lho, tapi tidak lama. Ketika badal masjid sudah mengumandangkan “subhanal malikil ma’buuuuudddd” maka bapak-bapak yang merokok dan ngobrol di teras “jajahan” tadi pun kembali masuk ke ruang shalat utama. Teritori bocah kecil dan komandan tanggung pun diliberalisasi dari anasir-anasir orang dewasa. Para “petugas” segera mengumpulkan anggota peleton mereka yang tercerai berai. Dalam semenit, beres. Merdekah!
Biasanya sebelum tarawih, para “petugas” ini terlebih dahulu bikin operasi sapu jagat. Bocah-bocah yang masih “liar” berlari-larian, akan ditertibkan, digiring ke teritori di mana seharusnya mereka berada. Ini semua demi terlaksananya shalat Isya dan Tarawih yang murni dan konsekuen.
Alur kerja para “petugas” ini juga tidak main-main. Sebagai “pemberi amanah” adalah para pengurus masjid, bapak-bapak panitia pelaksana Ramadhan. Setelah “pemberi amanah”, dikenal pula “pengawas”. Artinya yang mengawasi “petugas-petugas” cilik tadi ini. Para “pengawas” biasanya remaja masjid – remaja beneran, bukan bocah kelas 5 atau 6 SD – yang sesekali melongok ke teras samping kiri atau kanan untuk mengawasi para “petugas”. Kalau ada diantara bocah-bocah ini yang mbandel, yang mangkel, dan tidak bisa ditangani di level “petugas”, maka “pengawas” yang turun tangan. Semacam kalau Pengadilan Negeri ndak bisa ngurus ya naik level ke Pengadilan Tinggi, gitu lho.
Jadi alurnya: bapak-bapak pengurus masjid ---> pengawas dari remaja ---> petugas bocah tanggung ---> bocah-bocah cilik penghuni teras. Begitu.
Keberadaan “petugas” cilik yang kerjanya menertibkan bocah-bocah ini saya kira hal baru. Tujuh atau delapan tahun silam, waktu saya masih di MDA [gini-gini saya pernah MDA, walaupun drop-out], yang mengawasi kami – kami di sini berarti bocah-bocah kelas 1 atau 2 SD – adalah langsung para remaja masjid atau pemuda, atau sekarang, level “pengawas”.
Mungkin sekarang sudah ada regenerasi teras masjid [kami juga dulu disuruh shalat di teras masjid], karena generasi yang mengawasi kami dulu mungkin sudah pensiun. Dan bocah-bocah kecil [umur dua hingga tiga tahun] waktu era saya MDA mungkin sekarang yang jadi para “petugas” itu. Hipotesis saya lho ya.
Dan satu lagi kebiasaan unik jamaah cilik ini: sahutan “aaaamiinnn” yang begitu panjang.
Jamaah cilik teras sebelah kiri dan kanan saya taksir jumlahnya ndak lebih dari 50, namun gema sahutan “aaaamiiinnn”-nya bisa nembus pori-pori tanah. Tidak percaya? Coba bandingkan.
Imam: Waladdhooooolllliiiiiiiiiiin.....
Bapak-bapak di ruang shalat utama: Aaaaaaaamiiiiiinnnn.........
Jamaah cilik teras masjid: AAAAAAAAMMMMMMMMIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNN!!!!!!
Kalau Pak Imam nadanya slow, bapak-bapak di ruang shalat utama nadanya medium, maka jamaah cilik teras masjid ini bisa dikatakan heavy super metal.
Dan kalau sudah begini, para “petugas” cuma membiarkan. Toh kadang mereka tergelak-gelak sendiri mendengar sahutan “AAAAAAAMIIIIINNNNN” macam itu.
Saat saya pulang ke rumah malam ini, linimasa Twitter menyajikan berita soal pelajar di salah satu SMA negeri di ibu kota negara yang harus sampai meregang nyawa karena perpeloncoan seniornya. Saya langsung kepikiran para “petugas” di teras tadi itu.
Semoga dengan mengenal budaya memimpin (walaupun cuma mimpin jamaah bocah cilik), para “petugas” tadi itu tidak sampai terlalu over kalau kelak jadi pemimpin.
Semoga saja, budaya "senioritas ala teras masjid" masih melekat sampai kapanpun. Tegas, tapi tetap lugu dan bersahaja. Dan tetap ketawa kalau ada "AAAAAMIIIIINNNN" yang kelewatan keras.
Pekanbaru, 21:44 WIB
Sambil mencoba mencari tahu apa yang bagus dari Guns N Roses
Subscribe to:
Posts (Atom)