Ramadan, bulan dimana umat membayar zakat fitrah, barangkali sudah lama lewat. Tetapi sampai hari ini, setiap mendengar kata "zakat" dikumandangkan, saya selalu teringat puisi Fakhrunnas M.A. Jabbar yang saya temukan di kolong meja guru ketika SMP dulu (kok bisa? entahlah).
sejumlah santri dan sejumlah ustadz
berdebat soal zakat sampai tak tamat-tamat
padahal pelajaran berzakat itu kurikulum wajib tiap saat
maka sang ustadz pun memberi pelajaran pertama:
andai kalian punya harta 1,3 trilun rupiah saja
harta itu dipakai jadi roti, jadi kopi, jadi kursi
jadi baju, jadi nafsu, jadi sapu, jadi babu
jadi apa sejadi-jadi
sepanjang usia seribu bulan
berapakah zakatnya?
para santri pun bermain jari
membilang-bilang sampai letih
tak teliti, diganti para akuntan negeri
tak ke tepi, diimpor ribuan kalkulator canggih
aneh, soal menambah bisa mengali bisa mengurang bisa
kalkulator itu macet saat membagi
di layar monitor terbaca: error
maka sang ustadz pun memberi pelajaran kedua:
andai kalian punyai harta 1,3 triliun rupiah saja
saat-saat lebaran
saat si miskin dan si yatim menebar harapan
berapa persen dari bungan simpanan yang miliaran
tercampakkan buat mereka?
sementara wajah kusam, mulut menganga, tubuh kerontang
baju compang dan dengus nafas tertahan
menanti jam-jam kelaparan
jangan pakai kalkulator bila takut membagi
maka sang ustadz pun memberi pelajaran ketiga :
andai kalian punya harta 1,3 triliun rupiah saja
saat derit derita melata di Palestina, Somalia, Afghanistan
dan Bosnia
ada yang terampas dari nurani saudara-saudara kita
harga diri dan kehormatan si jelita
berapakah peruntukanmu bagi sukarelawan di sana
berapa buat beli senjata dan embarkasi, beli gandum dan roti?
berapa buat rehabilitasi mushalla dan sekolah agama?
berapa buat fi sabilillah?
sejumlah santri dan sejumlah ustadz
berdebat soal zakat sampai tak tamat-tamat
padahal berzakat mata pelajaran wajib sampai lahat.
31 August 2015
29 August 2015
Memulai kembali
Saya tidak pernah konsisten dalam urusan tulis-menulis di dunia maya. Sejak pertama kali mengenal Internet di SD, mungkin sudah belasan, bahkan puluhan blog yang saya buat. Semangat awal boleh berapi-api akan jadi blogger aktif yang menulis tiap waktu terluang dan blogwalking kesana kemari. Nyatanya? Nihil.
Jika dirunut balik, kebiasaan bergonta-ganti blog itu bermula seawal punya blog pertama. Saya tidak ingat persis nama blog itu, yang pasti berumah pada Blogger. Melihat layanan-layanan blog lain macam Wordpress hingga Blogdrive (wew, old-school betul), saya tergoda untuk meninggalkan rumah dan menjelajah kesana kemari.
Kebiasaan nomaden berburu-dan-meramu semacam itu membuat saya tak pernah punya rumah permanen di dunia maya. Dua blog saya sebelum ini berumah pada Wordpress: satu untuk tulisan pribadi (catatanramzy.wordpress.com) dan satu untuk tulisan sepak bola (poroshalang.wordpress.com). Setelah saya pikir lagi, ini tidak akan pernah jadi cara blogging yang efektif.
Akhirnya saya putuskan untuk memulai kembali. Ya, memulai dari awal. Saya sudah menulis barangkali sejak dari bangku SD -- kelas berapa, saya tidak ingat persis. Entah dimana tulisan-tulisan itu terserak kini. Gaya penulisannya ya sudah pasti ngawur dan ancur-ancuran: namanya juga bocah berusaha belajar nulis. Kalau dikulik-kulik lagi, mungkin saya bisa bikin semacam memoar. Di masa depan, mungkin.
Yah, pada akhirnya, inilah rumah baru saya. Masih baru, mungkin belum berkursi dan bermeja. Silakan tuan dan puan menyaman-nyamankan diri dengan keadaan. Andai masih terkenang dengan rumah-rumah lama, silakan melawatnya sesekali di dua alamat yang tertera di atas. Cepat atau lambat, saya tidak tahu apakah blog ini bisa termutakhirkan secara rutin macam blogger-blogger jempolan lain. Kesibukan sudah pasti akan mendera tahun ini.
Tapi, tetap saja, saya sudah memulai kembali. Dan untuk hal itu saja, saya sudah merasa sangat senang.
Selamat datang!
Subscribe to:
Posts (Atom)