27 December 2012

LangCamp

Saya tiga minggu lalu menghadiri LangCamp 2012 di Universitas Indonesia. Maaf telat ngepost, telat parah malahan, tapi tak apalah.

Wikipedia Bahasa Minang sudah 2 tahun terbengkalai di Incubator tanpa siapapun yang mengasuhnya agar bisa lolos menjadi Wikipedia. Bulan lalu, seorang steward di MetaWiki datang dan memberitahukan bahwa Indigenous Language Group di Incubator bersedia meluncurkan Wikipedia Bahasa Minang. Jelas saya tertarik, kapan lagi 9 juta orang Minang bisa mendapat pengetahuan dalam bahasa ibunda mereka sendiri?

Datanglah undangan dari John Vandenberg, Presiden Wikimedia Australia untuk menghadiri LangCamp ini. Sebenarnya ini tanggalnya mentok pas ujian praktek, dan minggu depannya langsung ujian tulis. Tapi, ya, ini kesempatan yang tidak bisa didapat setiap hari. Kebetulan ayah saya juga di Jakarta, ada seminar teknik sipil. Alhamdulillah, sekolah juga mengizinkan, setelah dapat surat resmi. Jakarta, Bung!

Saya terbang sendiri dari Pekanbaru ke Jakarta dengan tiket yang dibayar Wikimedia Australia. Mendarat di Soekarno-Hatta yang hiruk-pikuk, terjebak macet dari Jakarta sebelum akhirnya (sukses) terdampar di Depok, tempat konferensi.

LangCamp 2012 ini menjadi bagian dari 2012 Indonesia International Conference on Communication, yang digelar Jurusan Sains Komunikasi, Universitas Indonesia. Maka digelar di library UI Depok yang lebih mirip mall (plus Starbucks) ketimbang perpustakaan itu.
Hari pertama, ada pembukaan di auditorium, dan hal-hal remeh temeh birokrasi lainnya, entah ucapan pembukaan, atau apalah, sebelum dilanjutkan dengan keynote speech.

Presentasi yang disampaikan para presenter sebenarnya cukup menarik, tentang Asianisasi dan slogan-slogan provokatif “The Future Is Asia” (belakangan saya tahu slogan ini adalah slogan AFC, federasi sepak bola Asia). Namun entah kenapa, saya bosan di auditorium itu melihat para presenter bergangnam style (yang mereka katakan sebagai future, dan catat, mereka semua adalah profesor), lalu kami kabur ke Starbucks (ya, Starbucks di perpustakaan!), dan kemudian nyelonong ke Floating Room, ruang terapung, untuk makan siang.

Acara itu pun saya manfaatkan untuk berjumpa dengan beberapa Wikipediawan Indonesia, yaitu Pak Meursault2004 (pendiri Wikipedia bahasa Indonesia), Pak Pras (pengurus Wikipedia bahasa Jawa), Mbak Serenity (ketua Wikimedia Indonesia), Pian Ezagren dan pian Riemogerz para aktivis di Wikipedia bahasa Banjar, dan juga beberapa lainnya.

Fokus untuk seminar ini adalah Wikipedia bahasa Minang dan Bali. Kedua wiki ini
sebenarnya sangat berbeda sekali, baik dalam sistem tulisan, budaya atau bahkan masalah-masalah yang melandanya. Di sesi pertama seminar, kami membahas mengenai Wikipedia Bahasa Bali.

Wikipedia Bali kompleks masalahnya. Skrip aksara Bali sebenarnya ada di Commons, tetapi sangat sulit menuliskannya secara utuh di sebuah artikel. Belum lagi problem mencari kontributor yang benar-benar paham tentang aksaranya (dan biasanya sangat jarang sekali), bagaimana menafsirkan kode-kode Unicode untuk aksara Bali untuk disesuaikan ke Wikipedia, dan bahkan juga masalah kasta-kasta bahasa.

Bahasa Bali mempunyai tiga tingkat, bahasa Bali atas (yang biasanya dipakai kaum pendeta dan raja), tengah dan bawah (rakyat jelata). Di Minang tak ada problem semacam ini.
Problem Bali sangat rumit. Mereka hanya punya 15 artikel di Incubator, sementara bahasa Minang sudah 430-an lebih.

Wikipedia bahasa Minang lebih difokuskan sebagai pionir hidupnya budaya menulis orang Minang dalam bahasa ibundanya sendiri. Orang Minang tidak punya budaya menulis dalam bahasa ibundanya. Ratusan penulis, penyair atau budayawan berketurunan Minang dibesarkan untuk tidak menulis dalam bahasa aslinya dan lebih cenderung berkarya dalam bahasa Indonesia atau Melayu. Sebut saja Abdul Muis, Buya Hamka atau siapapun. Mereka berkarya dalam bahasa Indonesia. Maka tujuan sebenarnya adalah agar WPMin bisa menjadi perintis budaya penulisan dalam bahasa Minang. Tidak tepat jika disebut sebagai pionir kebangkitan, karena memang orang Minang tidak pernah punya kultur menulis.

Di hari kedua, saya (dengan konyolnya) datang jam 8 datang satu setengah jam lebih awal daripada peserta lain. Sambil menunggu orang lain datang, pandangan saya terarah pada majalah Voice+ bercover Pandji Pragiwaksono sedang nyengir. How absurd.

Seminar sesi pertama hari kedua (lagi-lagi) lebih terarah pada Wikipedia Bali. Ada presentasi dari  Crisco1492, seorang pengguna yang rajin menampilkan artikel-artikel bertopik ke-Indonesiaan sebagai featured article di Wikipedia Bahasa Inggris dan Indonesia sendiri. Chris menampilkan mengenai aksara Bali yang ternyata, sudah ada di Unicode. Presentasi berjalan menarik, dan bahkan saya baru tahu bahwa orang Bali mempunyai aksara khusus untuk simbol musik.

Hari itu juga datang Uda Gombang, pengurus WBI dan berketurunan Minang juga. Dia membawa serta buku Tambo Alam Minangkabau. Dia mengatakan pada saya bahwa orang Minang memang (benar-benar) tak punya kultur menulis. Tambo saja, yang notabene berisi tentang peraturan adat Minangkabau, ditulis dalam bahasa Melayu. Pak Naval Scene juga datang, agak siang. Dialah kontributor utama WPMin dalam bidang adat dan Minangkabau.

Sesi kedua, setelah makan siang, adalah sesi penutup. Kami, para kontributor Incubator, diberi peluang berdiskusi dengan para "pakar". Daftar lengkapnya bisa didapatkan di sini.

Diskusi berjalan alot. Para pakar tersebut tampaknya agak sedikit menyangsikan keberadaan proyek WPMin, karena sesungguhnyalah, mereka tak pernah mendengar ada proyek Wikipedia berbasis bahasa lisan. Glenn McGrew, seorang Amerika yang tinggal di Baturraden, Banyumas, serta pakar dalam berbagai bahasa Nusantara, sempat melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang cukup membuat kubu kontributor Minang kewalahan. Hahahaha.

Kami tak berminat mengikuti keynote reflection di auditorium. Para Wikipediawan, yang agak hipster ini, memutuskan menggelar laptop dan berdiskusi soal berbagai hal, selayaknya kopi darat. Baru setelah Maghrib, kami bubar untuk closing dinner yang disponsori Wikimedia Australia.

Ah, sampai di sini catatan perjalanan nan panjang ini. Wikipedia bahasa Minang masih belum meluncur. Jalan kami masih panjang. Semoga tahun depan saya diundang lagi. :D

PS: Ternyata Pak Ivan Lanin juga berbicara tentang LangCamp ini di blognya, Retas. Silakan dibaca juga

Kekerasan (bukan/memang) budaya Indonesia

Dengan semangat cinta damai dan menjunjung tinggi kesetiakawanan sosial, spanduk-spanduk bernuansa pasifis mudah ditemui di jalan-jalan Indonesia dengan tulisan semodel “Damai itu indah”. Setuju.

Ada lagi yang bertuliskan “Kekerasan tidak menyelesaikan masalah”. Setuju.

“Kekerasan bukanlah jalan keluar”. Sangat setuju.

“Kekerasan bukanlah budaya Indonesia”. Tunggu dulu.

Saya baru saja mengalami hal ini. Saya berjalan kaki ke masjid, mengejar shalat Ashar berjamaah, melewati sebuah rumah warung sederhana. Seorang ibu, sedang menyuapi (lebih tepatnya, memaksa) anaknya, yang masih balita, sangat balita, makan. Si anak tak mau. Dia berkeliaran sambil menangis di halaman rumah yang gersang itu. Si anak menangis.

Sang ibu tampaknya tak senang dengan sikap anaknya yang terus merengek ini. Dia terus memaksa anaknya makan. Sampai pada suatu ketika, si anak merengek, "Ibu jeleeek.... huhuhuuuu...." dengan gaya khas balita.

Ibu itu naik pitam. Diambilnya botol Aqua di halaman itu, dipukulinya anaknya. Sambil memaki dalam bahasa Minang pasar nan kasar, "Sia nan ang kecek jelek ha! Amak!? Makan!!"

Suka atau tidak, kekerasan tidak pernah jauh dari kita. Merubah budaya sebuah bangsa bukan perkara mudah, tapi tidak mengingkari keberadaannya mungkin bisa menjadi sebuah awal yang baik.