Saya lahir di Padang. Ibu kota Sumatera Barat, dimana Anda bisa menemukan ratusan orang berderet di Pasar Raya, sambil duduk jongkok, melafalkan bahasa yang sama. Intonasi yang sama. Bahasa Minang.
Bahasa Minang saya agak kacau. Atau mungkin memang dasar perantau, atau faktor-faktor lain, saya tidak terlalu fasih berbicara Minang. Justru ketika mendengar, saya paham seratus persen.
Baru-baru ini, saya tersandung situs Wikimedia Incubator. Sebagai seorang Wikipediawan yang sudah cukup lama berkecimpung, saya iseng melihat daftar Wikipedia yang masih dalam proses.
Saya tersandung ini. Wikipedia Bahasa Minang.
Saya lihat. Ada 100 artikel lebih di sana. Sebagian tata bahasanya tidak rapi. Sangat kacau, seperti bahasa Minang pasaran. Lantas, saya tergerak untuk berkontribusi di sana. Langsung saja saya melamar jadi test admin di sana. Tak sampai seminggu, langsung approved.
Saya lihat lagi. Kontennya sudah cukup bagus, ada lebih dari 130 artikel. Cuma, untuk mencari kontributor aktif, paling tidak tiga orang, seperti itulah yang disyaratkan Wikimedia Foundation, amat sangat susahnya.
Lalu, saya berpikir lagi. Bahasa Minang dipertuturkan 11 juta orang setiap harinya, baik di Sumatera Barat ataupun diperantauan. Mengapa amat susah sekali mencari hanya tiga kontributor aktif?
Saya langsung meluncur ke Facebook, ke grup pengguna WBI di sana. Terpajanglah tulisan Gombang nan Cengka mengenai Wikipedia Bahasa Minang ini. Apa yang dikatakan Gombang disana benar.
Bahasa Minang cenderung bersifat lisan, tidak tertulis. Budaya menulis dalam bahasa Minang hampir tidak ada. Orang Minang cenderung diajarkan untuk bersastra dalam bahasa Indonesia atau Melayu. Ratusan sastrawan, penyair atau orang-orang berjenggot putih lebat bersuara serak nan paham sastra, kampungnya tak jauh-jauh dari Bukittinggi atau selingkar Gunung Marapi. Marah Rusli, Buya Hamka, Taufiq Ismail. Siapa lagi?
Koran berbahasa Minang langka sekali bahkan di Padang sekalipun. Jikalau adapun, bahasa Minang digunakan di rubrik lelucon atau humor di Haluan. Saya bahkan belum pernah menemukan Kamus Bahasa Minang. Konon katanya ada, terbitan Balai Pustaka.
Orang Minang tidak diajarkan menulis dalam bahasanya sendiri. Ini beda dengan orang Melayu misalnya, yang punya Gurindam Dua Belas. Atau bahkan, bahasa Minang sekalipun kalah dengan bahasa Aceh, yang sudah ada Wikipedianya sendiri.
Catatan: Wikimedia Foundation tampaknya sudah menaruh perhatian besar di proyek WPMin ini. Seorang steward menghubungi saya dan berharap agar WPMin dapat meluncur sebelum 6 Desember 2012. Wish me luck!
15 November 2012
10 November 2012
Setan yang bersembunyi
Kemarin siang, Ustaz Mukhlis bercerita kepada kami semua, anggota ISC-nya, mengenai Surah an-Nas. Ketika ketemu satu ayat, yaitu ayat keempat, beliau bercerita panjang lebar.
Ustaz juga bercerita tentang restoran-restoran yang memakai pelaris, dukun-dukun syirik yang biasanya mejeng di halaman belakang koran MX dan para tukang santet yang bersekutu dengan jin. Maka pada dasarnya Deddy Corbuzier, atau Limbad, atau siapalah, adalah orang-orang yang khunnasnya besar.
Nah, tak berapa lama kemudian, kami semua, seperti biasa, jalan kaki ke Nurush Shadri untuk shalat Jumat. Selesai shalat, saya langsung masang sepatu untuk ngejar makan siang. Di sebelah, ada seorang bapak-bapak berjanggut lebat, bersorban dan bersendal.
Saya kira tadi dia pengurus masjid atau apalah, karena duduk dekat mimbar dan tampak komat-kamit berzikir. Tak sengaja saya injak kaki kirinya. Belum sempat saya minta maaf, sang bapak langsung memaki dalam bahasa Minang, "p*****!".
Mungkin si bapak tadi lupa, dia memaki di rumah Allah. Sang bapak langsung melengos pergi, bahkan tanpa minta maaf dan memacu motor Astrea-nya.
Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi (an-Nas: 4)Menurut Ustaz, khunnas adalah semacam titik hitam di hati semua manusia. Semakin jahat manusianya, semakin besar pula khunnasnya. Dan semakin baik manusianya, semakin kecil pula khunnasnya. Maka pada teorinya, orang-orang seperti Adolf Hitler atau pencuri ayam adalah orang-orang yang punya khunnas besar.
Ustaz juga bercerita tentang restoran-restoran yang memakai pelaris, dukun-dukun syirik yang biasanya mejeng di halaman belakang koran MX dan para tukang santet yang bersekutu dengan jin. Maka pada dasarnya Deddy Corbuzier, atau Limbad, atau siapalah, adalah orang-orang yang khunnasnya besar.
Nah, tak berapa lama kemudian, kami semua, seperti biasa, jalan kaki ke Nurush Shadri untuk shalat Jumat. Selesai shalat, saya langsung masang sepatu untuk ngejar makan siang. Di sebelah, ada seorang bapak-bapak berjanggut lebat, bersorban dan bersendal.
Saya kira tadi dia pengurus masjid atau apalah, karena duduk dekat mimbar dan tampak komat-kamit berzikir. Tak sengaja saya injak kaki kirinya. Belum sempat saya minta maaf, sang bapak langsung memaki dalam bahasa Minang, "p*****!".
Mungkin si bapak tadi lupa, dia memaki di rumah Allah. Sang bapak langsung melengos pergi, bahkan tanpa minta maaf dan memacu motor Astrea-nya.
Subscribe to:
Posts (Atom)