03 May 2019

WikiNusantara: sebuah laporan


Pekan lalu saya berkesempatan menghadiri WikiNusantara 2019, konferensi Wikipediawan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Wikimedia Indonesia di Yogyakarta. Kehadiran saya di sini salah satunya mewakili komunitas Wikipedia bahasa Indonesia dan Minangkabau, dua edisi Wikipedia tempat saya aktif.

Kehadiran saya dibiayai oleh beasiswa penuh yang diberikan WMID (kamsia banyak-banyak!). Saya terakhir kali menginjakkan kaki di Kota Gudeg ini tiga belas tahun lalu, saat ikut liburan bersama ayah saya dan rombongan jurusan teknik sipil Unri. Tidak banyak yang saya ingat lagi tentang Yogya kecuali Ambarrukmo (yang baru dibuka pada saat saya terakhir di sana) dan Borobudur (yang tentu saja bukan Yogya).

Saya terbang dari Pekanbaru pada Kamis siang, 25 April, dan mendarat di Adisucipto sekitar Maghrib setelah sebelumnya transit beberapa jam di Hang Nadim, Batam. Kawan saya Haqi, yang sudah hampir dua tahun tinggal di Yogya dan berkuliah di UMY, menjemput saya di bandara menuju kosnya di wilayah yang saya lupa namanya (pokoknya dekat Malioboro).

Dengan semangat yang sangat tidak nJogjawi kami memutuskan tidak makan gudeg malam itu, meski sudah sampai di depan Yu Djum Wijilan. Supir Grab yang membawa kami, seorang ibu-ibu berjilbab, dengan pasif-agresif menanyakan "lho demen Yu Djum tho mas? Itu kan gudeg kafir?" sambil menunjuk warung Bu Amad, yang gambarnya ibu-ibu berjilbab juga pas di sebelah Yu Djum. Baru saat itu saya tahu gudeg ada agamanya.

Karena sudah ketiban kofar-kafir dengan gudeg, kami akhirnya memilih makan di Tora-Tora, warung makanan Jepang jalanan di simpang lampu merah MM UGM. Saya tahu warung ini dari tulisan lawas Mas Nuran Wibisono bertahun lalu. Enak dan murah, dengan suasana yang selo khas Yogya.

Pagi Jumat saya meninggalkan kos Haqi untuk ke hotel. WikiNusantara diselenggarakan di Innside by Melia Yogyakarta, sebuah hotel bintang empat di Ringroad Utara. Tapi sebelum itu kami melipir dulu (lagi-lagi naik motor, sambil mencangking tas besar dan ransel) ke Yu Djum Pusat, yang tempatnya masih asli masuk ke gang sedikit. Peduli amat dengan kekafiran gudeg, saya pesan nasi gudeng dengan paha ayam. Sedap dengan harga yang sepadan.

Selepas sarapan gudeg saya langsung ke hotel karena sudah ada janji syuting dengan kawan-kawan dari Studio Amarana. Jadi ceritanya mereka mendapat grant dari WMF untuk membuat dokumenter pendek mengenai Wikipedia dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Saya terpilih untuk menjadi pemeran utama (cielah) mewakili komunitas Minangkabau. Jadwal saya hari itu adalah berbicara on camera beberapa patah kata dalam bahasa Minang untuk mempromosikan dan mengajak orang-orang menyunting. Sore itu syuting selesai, untuk tahap pertama.

Saya sudah lama penasaran mau ketemu filsuf mbeling dan debater pensiun legendaris Cendana Aldo Muhes; beberapa kali upaya kami bertemu di Pekanbaru selalu gagal dengan paripurna. Kami belum pernah bertemu langsung, karena memang agak sulit bertemu begitu saja dengan filsuf. Oleh karena saya di Yogya lalu saya langsung mengabari beliau yang sedang selo dari tugasnya sebagai datuak rajo nan disambah dan supreme overlord Fakultas Filsafat ngGadjah Mada.

Saya bertemu beliau dan kawan-kawannya sedang selo membincangkan hal-hal dunia dan seisinya di Cafe LIP, Terban dan juga bertemu Theo, sesama debater Pekanbaru pensiun yang juga sedang kuliah di universiteit tua itu. Kafe itu tempatnya menyenangkan; selain karena terletak di depan Institut Français Indonesia, Yogya. Karena jam tutupnya cepat, maka kami beralih ke Kafe Basabasi di Sorowajan, dekat kampus UII. Baru kali ini saya melihat bukti dedikasi orang Yogya kepada kegiatan nangkring-nangkring, karena Basabasi itu salah satu kafe paling ramai yang pernah saya lihat. Diskusi berlanjut sampai tengah malam, sampai saya harus menge-bid farewell pada Lord Muhes, Theo, dan kawan-kawan yang menyenangkan.

Hari Sabtu saya bangun lebih pagi karena konferensi sudah dimulai. Sehari sebelumnya saya bertemu rekan sekamar saya, Ahmad Fauzi dari Bandung, yang ternyata baru kelas 1 SMA. Saya jadi teringat bahwa masa-masa saya jadi salah satu kontributor termuda Wikipedia Indonesia sudah lama lewat, hahahaha.

Saya bertemu banyak sekali Wikipediawan dan Wikipediawati, baik yang sudah saya temui sebelumnya atau tidak. Selain wajah-wajah familiar dari id.wp, min.wp (yang maangkuik sakampuang dari Padang, semuanya minus beberapa orang), dan WMID, saya bertemu orang-orang baru dari Wikipedia bahasa Jawa, Sunda, Bali, Rejang, dsb. Saya bertemu lagi dengan Pak Naval Scene, salah satu pendiri Wikipedia Minang dan sesepuh WMID yang dihormati; Bang Ezagren, perintis Wikipedia Banjar; dan Mas Bonaditya, mimin-nya Wiki. Selain itu saya bertemu dengan Kang Kandar dan Pak Kembangraps, keduanya kontributor senior. Barang tentu saya bertemu lagi dengan Uda IvanLanin; terakhir kami bersua di Kemah Bahasa di UI tahun 2012, tujuh tahun silam.

Acara dibuka dengan gelar wicara (saya baru tahu bahwa ini padanannya talkshow) dari Pak Naval Scene, Kandar, dan Kembangraps. Sesi pertama yang saya ikuti adalah pengantar GLAM yang salah satunya diisi oleh Dr. Pramono, pensyarah Jurusan Sastra Minangkabau di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan salah satu pendukung komunitas Wikipedia Minang di Padang. Presentasi beliau mengenai upaya menyelamatkan manuskrip kuno di Sumatera Barat mengundang decak dan kesan dari para peserta. Sebelum makan siang, saya ikut satu lagi sesi yaitu Wikipedia dan Pendidikan yang dibawakan oleh Mbak Amy dari Wikipedia bahasa Jawa. Saya terkesan dengan upaya kawan-kawan Jawa dalam memperkenalkan Wikipedia lewat program Wiki Menyang Sekolah mereka, dan terutama tertarik dengan proyek Wikimedia Education Greenhouse yang juga dipaparkan.

Selepas makan siang, Da Ivan menyampaikan kuliah umum mengenai urun daya (crowdsource!) pengetahuan di Wikipedia, yang juga diikuti sekitar seratusan peserta umum. Sesi berikut adalah tentang Wikimedia Commons, yang disampaikan oleh Gunkarta, salah satu kontributor Indonesia paling produktif di Commons dan juga bekerja di harian Kompas. Selepas itu ada sesi tentang komunitas Wikipedia bahasa Indonesia yang disampaikan oleh Pak Naval Scene dan Rintojiang, salah satu dari penyunting senior lain yang juga kini menjabat sebagai ketua dewan pengawas WMID.

Saya memberikan materi di sesi terakhir hari itu, yaitu mengenai Wikipedia bahasa Melayu. Saya mendapat giliran kedua selepas saudara CyberTroopers dari Kelantan dan sebelum Tofeiku dari Sabah. Dengan bahasa Melayu yang kurang nasi lemak terpatah-patah saya sampaikan sedikit pandangan eksternal mengenai komunitas bahasa Melayu dan apa-apa yang patut dipertimbangkan untuk lebih maju ke hadapan. Salindia (presentasi!) saya dapat dilihat di sini.

Selepas makan malam, acara sesrawungan menampilkan persembahan gamelan yang luar biasa dari Pradangga Sastra Inggris (Prasasti) UGM. (Dua orang penggedhe konferensi ini diduga juga pernah jadi bagian kumpulan ini). Saya ikut belajar memainkan bonang barung dalam set gamelan lengkap yang membawakan "Suwe Ora Jamu" dengan ketelatenan yang mungkin akan membuat Ki Manteb Soedharsono menangis.

Hari kedua dan terakhir, Minggu, dimulai dengan lightning talks yang disampaikan salah satunya oleh Mimihitam (ya, pengurus legendaris id.wp itu). Saya kemudian ikut sesi Wikipedia Aceh, Banjar, dan Using. Bahasa terakhir sangat menarik perhatian saya karena masih di Incubator dan kononnya berasal dari bahasa Jawa Kuno yang murni. Selepas rehat kopi saya ikut sesi tentang Wikipedia bahasa Minangkabau (sebagai moral support buat komunitas) dan tentang WikiLatih yang disampaikan oleh Mas RaymondSutanto.

Lepas makan siang ada presentasi menarik soal Google Toledo dan Proyek Saraswati, hasil kerjasama Google dan WMID yang rencananya akan digunakan untuk membantu penerjemahan konten lebih banyak ke bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah. Meskipun saya sedikit skeptis dengan bagaimana implementasinya nanti, namun saya kira ini sangat patut dinantikan. Dua sesi terakhir adalah tentang Content Translation (topik yang sangat menarik, terutama di id.wp) yang disampaikan oleh Mas Johnstad Di Maria (bukan, beliau bukan pastur atau romo) dan tentang strategi media sosial Wikipedia Indonesia, yang disampaikan oleh Mas Gunarta dan mimin-nya yang satu lagi (rahasia dagang!). Konferensi hari itu ditutup oleh presentasi dan ulasan dari "manusia kursi" WMID saat ini, Mas Beeyan.

Malam terakhir di Yogya saya habiskan ngopi-ngopi bersama Haqi dan Fattah, kawan saya yang sudah jadi bos sawit sekaligus penguasa Instiper Yogya, di Blandongan Kopi Priboemi. Satu-satunya alasan memilih tempat ini adalah karena terakhir kali saya di sini, (kalau tidak salah) saya pernah ke tempat ini. Suasananya masih sama. Kopi tanggungnya masih enak. Ini tempat ngopi yang sangat nJogjawi: murah, hangat, dan selo.

Besok paginya, karena penerbangan pulang ke Padang masih siang, saya memutuskan untuk berburu buku diskon ke Togamas Affandi. Beberapa orang Yogya sebenarnya merekomendasikan saya ke tempat lain, seperti Shopping Center Taman Pintar atau Berdikari Book. Namun karena waktu yang mepet, saya putuskan lain kali saja. Lumayan bisa dapat Kuasa Kata dan Java in a Time of Revolution karangan Ben Anderson (versi Indonesia), The Accidental Further Adventures of the Hundred-Year-Old Man karangan Jonas Jonasson, dan Rafilus karangan Budi Darma. Nyaris tidak mungkin mendapatkan buku-buku ini dengan harga miring di Padang.

Saya serombongan pulang bersama kawan-kawan komunitas Minang ke Padang, tapi bedanya saya sendiri yang transit di Halim (sementara yang lain di Batam, terdampar semalam, dan baru pulang keesokan harinya). Tidak lupa sebelum meninggalkan Yogya kami membungkus apa-apa yang patut di Bakpia Pathok 25, yang langsung ludes di kampus sehari setelah itu.

Yogya adalah kota yang amat menyenangkan. Saya tidak menyangka butuh tiga belas tahun untuk pulang. Meskipun kotanya tampak semakin padat dan ramai, saya masih menikmati kunjungan singkat ini dan dapat mengamini bahwa Yogya masih berhati nyaman. Tidak tahu kalau bandaranya sudah pindah ke Kulon Progo; itu harus diperiksa dengan sekali kunjungan lagi.

Saya rasa tujuan WikiNusantara untuk menyambung kolaborasi antarkomunitas penyunting Wikipedia di Indonesia sudah tercapai dengan flying colours. Saya ucapkan terima kasih terutama pada Wikimedia Indonesia selaku pemberi beasiswa dan penyelenggara acara atas acaranya yang baik sekali. Tahun depan semoga dapat dipertemukan lagi.