![]() |
Lebih baik kelahi daripada sekongkol |
Tim Anda sedang memimpin tipis dalam sebuah pertandingan krusial, dan laga ini telah menginjak menit-menit akhir. Apa yang harus Anda lakukan selama menit-menit ini?
- Duduk diam, sekali-kali bersorak. Pertandingan ini akan segera berakhir, mari pulang ke hotel dengan hati lapang karena menang
- Mari memulai sebuah kerusuhan. Kerusuhan yang besar, kalau perlu.
Jika Anda memilih pilihan yang terakhir, barangkali Anda adalah salah satu dari ribuan suporter Kroasia yang berbuat rusuh di bangku-bangku Stadion Geoffroy-Guichard, dua hari yang silam.
Yang dilakukan para suporter Kroasia itu, seperti yang digambarkan penulis sepak bola Aleksandar Holiga, adalah wujud dari “kebosanan berpikir tentang semuanya”. Para suporter bosan dan marah dengan kondisi sepak bola Kroasia; mereka telah kehilangan kepercayaan terhadap federasi sepak bola mereka. Mereka lelah, bosan dan marah.
Bila melihat kondisi sepak bola Kroasia sendiri, rasanya ini tindakan yang wajar. Seperti yang ditulis Holiga untuk The Guardian: “Dalam beberapa tahun terakhir, sekelompok kecil orang memusatkan kendali atas sepak bola Italia di tangan tujuh orang, yang dikendalikan oleh Zdravko Mamic.”
Mamic, jabatan resminya wakil presiden federasi di bawah presiden Davor Suker (yang kerap kali dituduh hanya sekedar boneka), terkenal karena temperamennya terhadap awak media saat masih menjabat sebagai direktur eksekutif di Dinamo Zagreb. Ia sendiri jug telah didakwa menggelapkan sejumlah besar uang dari kampiun nasional delapan belas kali itu, yang dilatih oleh saudara laki-lakinya sendiri Drago Mamić (ya, yang pernah melatih Persib Bandung itu). Direktur eksekutif Damir Vrbanovic juga didakwa atas tuduhan bersekongkol dalam kasus ini, dan mereka berdua telah ditangkap oleh aparat berwajib Kroasia.
Yang mengherankan (atau tak mengherankannya), Mamic dan Vrbanovic masih bisa mempertahankan pekerjaan mereka di PSSI-nya Kroasia. Mamic bahkan tampak di boks VIP Stadion Geoffroy-Guichard pada hari pertandingan kontra Ceko, dengan santai berteriak memberikan arahan pada pelatih Ante Čačić. Barangkali Anda bisa membayangkan sesosok orang kuat lain di kancah sepak bola Indonesia yang juga berhasil menelikung teralis bui macam Mamic dan Vrbanovic ini.
Kemarahan suporter ini sebenarnya bukan barang yang baru. Pada November 2014, saat Kroasia menjamu Italia di balik pintu tertutup Poljud Stadium di Split dalam laga kualifikasi, sekelompok suporter mengukir logo swastika di rumput lapangan. Para suporter itu tidaklah benar-benar memuja Hitler atau menggilai kebijakan genosidalnya, tapi logo di rumput ini menggambarkan kemarahan nyata atas kemunafikan dan kebobrokan yang merongrong tubuh sepak bola Kroasia.
Maka puncak kemarahan para suporter tim berjuluk Vatreni ini pun tak tanggung-tanggung. Faksi-faksi suporter yang bertikai di liga Kroasia, yaitu Bad Blue Boys yang mendukung Dinamo Zagreb dan Torcida yang mendukung Hajduk Split, bersatu melawan kekuasaan tiran di federasi. Terdapat laporan melaporkan bahwa beberapa anggota Torcida berhasil mendapatkan tiket dan pasokan suar dan piroteknik dari suporter klub lokal Saint Etienne. Alat yang sama dilemparkan ke sisi kiri gawang Petr Cech dan disusul kerusuhan, yang pada akhirnya membuat tim nasional mereka sendiri pulang dengan ditahan imbang.
Apakah tindakan semacam ini diperlukan? Ulah ini membuahkan investigasi disiplin UEFA dengan ancaman sanksi yang besar di masa depan. Bahkan para pemain sendiri pun merasa kecewa berat. “Barangkali kami sebaiknya tak perlu bermain sama sekali,” ujar pencetak gol pembuka Ivan Perisic. Pelatih Cacic malah lebih tak menyaring kata-katanya sama sekali. Ia menyebut para suporter sebagai “peneror permainan.”
Tapi benarkah para suporter Kroasia itu merupakan peneror permainan, seperti yang disebut pelatih Cacic? Bila melihat latar belakang masalah yang menyebabkan kerusuhan itu, tidaklah adil untuk menyalahkan para suporter, bahkan melabeli mereka sebagai peneror. Siapa sebenarnya yang lebih bertanggungjawab membuat bobrok sepak bola suatu negara: manajemen yang korup dan penuh persekongkolan, atau suporter yang marah?
Rasanya kita bisa melihat adanya benang merah yang mengaitkan Kroasia dan Indonesia. Federasi yang salah urus, manajemen yang bobrok, dan suporter yang berang dengan kondisi itu. Bedanya, para suporter Kroasia berani berdiri, di sebuah turnamen utama internasional, dan menunjukkan kemarahan mereka dengan nyata dan penuh seluruh. Mereka marah dengan cara mereka, tanpa memedulikan apa yang akan terjadi nanti.
Mari berkaca dari pengalaman Kroasia. Sepak bola Indonesia sudah terlalu lama dikangkangi sekelompok kecil pemburu kepentingan yang hanya mementingkan uang dan kekuasaan dibanding kemajuan sepak bola itu sendiri. Kita sudah terlalu lama dibodohi jargon dan dibuai kalimat “sepak bola Indonesia punya potensi yang besar.” Sudah terlalu banyak kebobrokan yang nyata diperlihatkan oleh federasi kita. Sudah terlalu nyata ketidakberesan yang ada. Berapa banyak kita dibuai cita-cita menuju ke Piala Dunia sedangkan kompetisi lokal saja berjalan tak henti dengan kengawurannya?
Sebenarnya di Indonesia sendiri sudah ada contoh perlawanan seperti yang dilakukan para suporter Kroasia. Ambil contoh perlawanan para Bonek untuk menyelamatkan Persebaya yang mereka cintai dari tangan para birokrat dan politisi busuk, yang sampai sekarang masih tetap berjalan tanpa pernah berhenti. Ingat pula dengan para suporter di seantero Indonesia yang melawan dengan cara mereka sendiri ketika klub mereka dibelah-belah dan dibagi dua akibat dualisme ngawur bertahun silam. Mari bercermin dan bercontoh, setidaknya dari perjuangan mereka.
Thomas Jefferson pernah berkata bahwa ketika ketidakadilan menjadi hukum, perlawanan itu menjadi wajib hukumnya. Barangkali kita, suporter Indonesia, perlu mulai berpikir sebagaimana suporter Kroasia. Mari kita “meneror” sepak bola Indonesia, agar dapat sadar dan berubah. Mari.
Bacaan lanjut:
- Why did Croatia fans disrupt their Euro 2016 match against Czech Republic? --- esai Holig di The Guardian
- Good football not enough for Croatia at EURO 2016 --- laporan Ante Jukic di SBS.au