08 March 2015

Sebuah apologi untuk Cesare Prandelli

Seorang pelatih kepala tim nasional mengajukan pengunduran dirinya sambil menyatakan bahwa ia bertanggungjawab sepenuhnya atas kegagalan tim di Piala Dunia. Seberapa jarangkah hal itu terjadi?

Jarang. Dan Cesare Prandelli melakukannya.

“Secara teknis, semuanya tidak bekerja dengan baik dan saya bertanggungjawab atas itu semua,” tegasnya di hadapan media setelah kekalahan Italia – tim asuhannya – di tangan Uruguay, dalam laga pamungkas Grup D Piala Dunia 2014. Italia tak akan bisa melaju ke putaran selanjutnya, karena hanya menang sekali dan kalah dua kali. Uruguay dan Kosta Rika – dua tim yang mengalahkan Italia – akan menjadi wakil grup ke putaran selanjutnya.

Prandelli tak sedang menyalahkan siapa-siapa. “Ketika sebuah proyek teknis gagal, pelatihlah yang satu-satunya berhak untuk bertanggungjawab,” tegasnya lagi.

Ia tak sedang coba untuk menyalahkan gigitan kanibalis Luis Suarez ke pundak Giorgio Chiellini yang menyebabkan bek Juventus itu terjengkang jatuh ke lapangan rumput. Prandelli menepis kesalahan berada di punggung Mario Balotelli, si bengal temperamental yang ia tarik keluar untuk mencegahnya mendapat lebih banyak kartu kuning. Atau menyalahkan Claudio Marchisio, yang diusir keluar untuk pertama kali sepanjang karirnya sehingga menyebabkan pertandingan menjadi timpang sebelah.

Tidak. Prandelli memutuskan bahwa tanggungjawab berada di punggungnya.

Media-media Italia gencar sekali mengkritik mantan gelandang Atalanta dan Juventus itu setelah kekalahan pahit di Natal. Pada edisi 25 Juni 2014, Gazzetta dello Sport memasang kepala berita “L’Italia a casa: un fallimento”, yang kira-kira bisa diterjemahkan menjadi “Italia pulang: sebuah kegagalan”. Tuttosport malah lebih kejam lagi. Koran ini memasang wajah Prandelli sedang menutup mulutnya dengan wajah sendu, dengan tulisan “BRANDELLI” besar-besar di atasnya. Dalam bahasa Italia, “brandelli” berarti “tercabik-cabik”.

“Ada sesuatu yang berubah setelah saya memperpanjang kontrak. Saya tidak tahu mengapa,” ujar Prandelli.

Mei 2014, Prandelli menandatangani perpanjangan kontrak yang akan mengikatnya selama dua tahun di kursi kepelatihan Azzurri. Ia akan melatih Italia hingga Piala Eropa 2016. Namun, dengan kegagalan Italia di Brazil, pria Brescia ini melupakan jauh-jauh soal kontraknya.

Ada baiknya kita menatap sekilas ke belakang, sebelum kekalahan Italia yang pahit di Natal itu.

Mei 2010, Fiorentina baru saja menyelesaikan musim 2009-10-nya. Mereka berakhir di peringkat kesebelas, tak mendapat tiket ke Eropa. Pemain terpenting La Viola saat itu, Adrian Mutu, tengah tersangkut kasus narkoba. Prandelli menjadi pelatih mereka pada musim itu, melewati rekor Fulvio Bernardini sebagai pelatih dengan masa jabatan terlama sepanjang sejarah Gigliati.

Sekitar bulan itu pulalah Marcelo Lippi tua, veteran pemenang Piala Dunia 2006, memutuskan bahwa ia akan meninggalkan kursi kepelatihan Azzurri setelah Piala Dunia 2010 selesai. FIGC kemudian memutuskan untuk menjejaki jasa Prandelli. Giancarlo Abete, Presiden Federasi, meminta izin Fiorentina untuk mengadakan pembicaraan dengan Prandelli. Kesepakatan pun terteken: Prandelli akan menggantikan Lippi usai Piala Dunia.

Namun, tak pernah disangka-sangka bahwa frasa “usai Piala Dunia” akan datang begitu cepat. Tim Italia asuhan Lippi bahkan tak sanggup melewati hadangan tim-tim sekelas Paraguay, Slovakia, dan Selandia Baru. La Nazionale mengepak koper mereka dari Johannesburg pada 24 Juni 2010, usai ditekuk Slovakia dengan skor 3-2.

Prandelli pun mengambil alih. Ia memutuskan memakai metode meritokratik dalam menyeleksi para pemain. Ia memanggil Antonio Cassano, si bengal lain dari calcio yang tak pernah dilirik Lippi karena kelakuannya untuk masuk skuat Piala Dunia 2010, meskipun ia tengah berada pada puncak performanya.

Pun begitu pula dengan Balotelli. Pria ini tak pernah diperhatikan sekalipun oleh Lippi selama rezimnya, tetapi Prandelli memanggilnya di laga perdananya sebagai pelatih, dan memainkannya. Kelak, Cassano dan Balotelli memimpin Italia yang bertransformasi menjadi kuda hitam paling menakutkan di Piala Eropa 2012, melaju ke final menghadapi sang juara dunia, Spanyol.

Ia menganggap bahwa talenta berada di atas karakter. “Instruksi saya adalah bekerja, bekerja, dan bekerja, dan saya percaya penuh kepada pembangunan kembali [skuat ini],” ujarnya menjelang laga kualifikasi Piala Eropa 2012 melawan Slovenia. Azzurri menang 1-0, dan merebut posisi pemuncak.

Tak mudah bagi Prandelli untuk bekerja di bawah bayang-bayang calcioscommesse yang merebak di segenap penjuru sepak bola Italia pada musim 2011-12. Ia tengah mempersiapkan skuatnya untuk Euro 2012 ketika skandal itu merebak.

Namun, Prandelli berusaha bersikap biasa. Toh ia sudah pernah menghadapi situasi yang sama: menghadapi skandal pengaturan skor. Fiorentina yang ia tangani di musim 2005-06 berhasil berubah dari sekedar tim penghindar degradasi menjadi kuda hitam perebut tiket Eropa, namun apa yang diperjuangkannya – hak berlaga di Liga Champions – dibatalkan karena skandal Calciopoli. Ia tetap bertahan dan musim selanjutnya berhasil merebut tiket ke Piala UEFA.

Prandelli terus tekun mempersiapkan skuatnya menuju Polandia-Ukraina. Ia mengeluarkan Domenico Criscito – bek Zenit St. Petersburg yang diduga terlibat dalam skandal tersebut. “Saya tidak akan membawa Criscito, karena ia tengah berada dalam tekanan yang tidak akan bisa ditanggung oleh seorang manusia,” terang Prandelli.

Prandelli telah membentuk kerangka tim masa depan dengan membawa para pemain muda seperti Mario Balotelli, Fabio Borini, Mattia De Sciglio, Lorenzo Insigne, Ciro Immobile, Marco Verratti dan Stephan El Shaarawy. Ia tak melupakan pula penghormatan kepada para pemain senior seperti Andrea Pirlo dan Gianluigi Buffon, untuk menjamin terjadinya perpindahan generasi yang lancar.

Berbeda dengan Azzurri di bawah Lippi (atau bahkan Roberto Donadoni), Prandelli membawa lebih banyak variasi taktik ke kamp latihan. Ia menggunakan 4-3-3 yang dapat berubah menjadi 3-5-2 secepat kilat, dengan Andrea Pirlo memainkan peran regista yang krusial dalam membuka ruang-ruang serang. Melimpahnya variasi taktik ini memudahkan Prandelli bereksperimen sesukanya: contoh paling akbar adalah laga persahabatan pada bulan November 2012 melawan Perancis, dimana Italia kalah 1-2 setelah memainkan pola tiga penyerang Stephan El Shaarawy, Mario Balotelli dan Antonio Candreva.

Kombinasi antara sistem pemilihan pemain yang meritokratik dengan stok pemain muda yang melimpah, membuat banyak pengamat memberanikan diri untuk memprediksikan bahwa Italia akan melangkah jauh di Brazil. Perpanjangan kontrak Prandelli bulan Mei 2014 pun disambut dengan sorak gembira.

Namun, setelah semua yang terjadi di Brazil – kekalahan dari Kosta Rika dan Uruguay – Prandelli memutuskan untuk bertanggungjawab. Semuanya. Mungkin kata-kata pengunduran dirinya tak sepahit kata-kata pak tua Marcelo Lippi ketika Italia tersungkur di babak yang sama empat tahun silam, namun ia tetap menegaskan rasa tanggungjawabnya atas semua yang telah terjadi.

Dengan tegas Prandelli berucap: “Peringkat kedua di Piala Eropa, ketiga di Piala Konfederasi dan kualifikasi yang diperoleh dengan lancar tidak boleh dianggap remeh.”

Ia bicara soal prestasinya. Mungkin ia bukanlah Lippi yang pernah menjunjung trofi Piala Dunia, namun ia adalah Cesare Claudio Prandelli, pelatih kepala tim nasional Italia, yang bertanggungjawab atas semua yang telah ia lakukan selama mengenakan jas Tricolore.

Maka dengan itu, adalah baik untuk kita memberikan sedikit apologi kepada Prandelli. Mengingat bahwa ia pernah berjasa untuk tim nasionalnya, dan kesediaannya untuk bertanggungjawab atas segala sesuatu yang tiba.

Toh, memberikan apologi tak pernah susah, kan?