Selagi Bukit Karang Putih masih berasap, selagi PT Semen Padang masih jalan, Semen Padang FC tak akan bubar! -- Rustam GaffarBarangkali, kutipan di atas adalah salah satu kutipan terpopuler di kalangan suporter Semen Padang. Kutipan itu konon keluar dari mulut Rustam Gaffur, direksi keuangan PT Semen Padang ketika krisis finansial hebat melanda klub tersebut pada bulan Juli 1986 sehingga membuat delapan pemain teras mereka angkat kaki dan klub luntang-lantung melanjutkan petualangan di Galatama. Kelak, masa sulit ini perlahan-lahan memudar dan berakhir manis dengan kemenangan Piala Galatama pada 1992, digawangi sang komandan Haji Suhatman Imam dan pemain macam Wellyansyah dan Delvi Adri.
Saat ini, keadaan Semen Padang sudah jauh dari kata sulit. Mereka memenangi Liga Prima Indonesia 2012 dibantu sederet pemain berkualitas top semacam Titus Bonai, Edward Junior Wilson, Hengky Ardiles dan Esteban Vizcarra. Selama semusim di kancah liga “resmi” PSSI ini, Semen Padang dilatih oleh dua orang: Nil Maizar dan Suhatman Imam.
Nil mundur pada bulan April 2012 karena ditunjuk menjadi pelatih tim nasional Indonesia, menyisakan sang komandan gaek Suhatman memegang tampuk komando tim. Dibawah arahan Pak Haji – begitu ia biasa disebut – Kabau Sirah menyabet gelar juara dengan menaklukkan pesaing terdekat mereka, Persiba Bantul di kandang mereka sendiri saat kompetisi tinggal beberapa pekan lagi.
Ketika musim 2012 selesai dan wacana unifikasi IPL-ISL semakin mengencang, Semen Padang kedatangan wajah baru di jajaran kepelatihan pada bulan Oktober. Ia adalah putra asli Sumbar, Jafri Sastra. Namun, meski secara resmi Jafri adalah pelatih kepala, Suhatman tetap memegang kendali atas tim, karena persoalan sertifikat. Jafri bersertifikat A AFC, persyaratan mutlak yang diberikan oleh PSSI untuk pelatih kepala tim kasta tertinggi. Namun manajemen mengetuk palu: Suhatman tetap pemimpin pelatih.
Dualisme – jika boleh dibilang begitu – berjalan selama partisipasi Semen Padang di Piala AFC: dualisme yang terbukti sukses membingungkan beberapa suporter – bahkan yang fanatik sekalipun – karena di situs resmi AFC, Jafri Sastra adalah pelatih Semen Padang. Sementara itu di lapangan, Suhatman punya kendali.
Pasca-kekalahan dari East Bengal di perempatfinal Piala AFC, perubahan tiba dengan tak disangka-sangka. Jafri Sastra mulai muncul ke permukaan, menggeser pelan-pelan posisi Pak Haji Suhatman dari bangku cadangan ke tribun, sesuatu yang telah lama diimpikan sebagian besar suporter Semen Padang yang kecewa dengan gaya main Kabau Sirah dibawah Pak Haji yang konservatif dan mengandalkan pemain itu-itu saja. Saatnya Jafri maju ke depan, dengan gayanya sendiri.
Pembenahan ala Semen Padang jelas memakan korban. “Ah, itu biasa dalam revolusi,” Bung Karno pernah berujar. Empat pemain kunci angkat kaki. Vendry Mofu menerima pinangan Sriwijaya, Titus Bonai pulang kampung ke Perserui Serui, Edward Wilson Junior bertualang ke Felda United dan Elie Aiboy direkrut Persija. Keempat pemain kunci yang membantu Kabau Sirah mengangkat trofi juara IPL kini telah mengepak koper, pergi meninggalkan Bukit Karang Putih.
Sejenak, mungkin sebagian besar orang menganggap bahtera SP sudah limbung, bahkan tak sedikit yang berani memprediksi mereka akan gagal di ISL musim depan. Namun, sekali lagi, semua itu terlalu cepat.
Jafri menggebrak pasca-kehilangan empat pemain inti. Dua pemain diboyong dari bumi Pasundan: Eka Ramdani dari Pelita Bandung Raya dan Airlangga Sucipto dari Persib. Strategi dirancang ulang. Tim kini tak lagi berpusat pada pergerakan ala Tibo-Wilson semata, begitu tegas Jafri. Ezequiel Gonzales direkrut dari Persiba Bantul. Ia membangun tim berdasarkan gayanya sendiri, dengan memadukan pemain-pemain lama macam Wahyu Wijiastanto si tunggak gadang, Esteban Vizcarra, kapten Hengky Ardiles, talenta muda Ricky Akbar Ohorella dan alumnus timnas kualifikasi Piala AFC U22, Hendra Adi Bayauw dengan para pemain baru hasil rekrutan dan seleksi.
Hasilnya, tentu saja masih tahap coba-coba. Tim besutan Jafri dengan susah payah menahan imbang Sriwijaya FC dengan skor 1-1 di putaran pertama kualifikasi Inter Island Cup zona Sumatera, dan akhirnya harus takluk 3-1 di Palembang. Dan yang terakhir, sore tadi Kabau Sirah hanya berhasil menahan imbang “tetangga serumpun” mereka, PSPS Pekanbaru, dengan skor 1-1 di Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, setelah susah payah mengejar ketertinggalan satu gol di babak pertama, hanya dapat dibalas oleh sontekan Esteban Vizcarra di babak kedua.
Sulit untuk meraba bayangan Semen Padang yang baru di bawah komando Jafri, hanya dari performa di IIC dan laga-laga latih tanding. Tugas Jafri masih banyak, antara lain memperkuat perpaduan antara pemain baru dan lama, menentukan pemain yang terpilih lewat jalur seleksi, meramu taktik yang pas, mengakali jadwal liga yang padat dan segudang pekerjaan rumah lainnya.
Ia jelas juga harus berusaha lepas dari bayang-bayang pendahulunya, Nil Maizar dan Suhatman Imam, yang sampai saat ini masih kerap disebut dalam perbincangan para suporter Semen Padang saat berbicara soal kursi kepelatihan. Tentunya, kita tak dapat mengadili Jafri cuma lewat hasil dari sebuah laga amal kontra tim Divisi Utama.
Jafri setidaknya boleh tersenyum sedikit, karena sampai sekarang Bukit Karang Putih masih belum berhenti berasap dan ia dapat melanjutkan langkah-langkah pembaharuannya di kamar ganti Kabau Sirah.