25 January 2014

Meraba bayangan Semen Padang yang baru

Selagi Bukit Karang Putih masih berasap, selagi PT Semen Padang masih jalan, Semen Padang FC tak akan bubar! -- Rustam Gaffar
Barangkali, kutipan di atas adalah salah satu kutipan terpopuler di kalangan suporter Semen Padang. Kutipan itu konon keluar dari mulut Rustam Gaffur, direksi keuangan PT Semen Padang ketika krisis finansial hebat melanda klub tersebut pada bulan Juli 1986 sehingga membuat delapan pemain teras mereka angkat kaki dan klub luntang-lantung melanjutkan petualangan di Galatama. Kelak, masa sulit ini perlahan-lahan memudar dan berakhir manis dengan kemenangan Piala Galatama pada 1992, digawangi sang komandan Haji Suhatman Imam dan pemain macam Wellyansyah dan Delvi Adri.

Saat ini, keadaan Semen Padang sudah jauh dari kata sulit. Mereka memenangi Liga Prima Indonesia 2012 dibantu sederet pemain berkualitas top semacam Titus Bonai, Edward Junior Wilson, Hengky Ardiles dan Esteban Vizcarra. Selama semusim di kancah liga “resmi” PSSI ini, Semen Padang dilatih oleh dua orang: Nil Maizar dan Suhatman Imam.

Nil mundur pada bulan April 2012 karena ditunjuk menjadi pelatih tim nasional Indonesia, menyisakan sang komandan gaek Suhatman memegang tampuk komando tim. Dibawah arahan Pak Haji – begitu ia biasa disebut – Kabau Sirah menyabet gelar juara dengan menaklukkan pesaing terdekat mereka, Persiba Bantul di kandang mereka sendiri saat kompetisi tinggal beberapa pekan lagi.

Ketika musim 2012 selesai dan wacana unifikasi IPL-ISL semakin mengencang, Semen Padang kedatangan wajah baru di jajaran kepelatihan pada bulan Oktober. Ia adalah putra asli Sumbar, Jafri Sastra. Namun, meski secara resmi Jafri adalah pelatih kepala, Suhatman tetap memegang kendali atas tim, karena persoalan sertifikat. Jafri bersertifikat A AFC, persyaratan mutlak yang diberikan oleh PSSI untuk pelatih kepala tim kasta tertinggi. Namun manajemen mengetuk palu: Suhatman tetap pemimpin pelatih.

Dualisme – jika boleh dibilang begitu – berjalan selama partisipasi Semen Padang di Piala AFC: dualisme yang terbukti sukses membingungkan beberapa suporter – bahkan yang fanatik sekalipun – karena di situs resmi AFC, Jafri Sastra adalah pelatih Semen Padang. Sementara itu di lapangan, Suhatman punya kendali.

Pasca-kekalahan dari East Bengal di perempatfinal Piala AFC, perubahan tiba dengan tak disangka-sangka. Jafri Sastra mulai muncul ke permukaan, menggeser pelan-pelan posisi Pak Haji Suhatman dari bangku cadangan ke tribun, sesuatu yang telah lama diimpikan sebagian besar suporter Semen Padang yang kecewa dengan gaya main Kabau Sirah dibawah Pak Haji yang konservatif dan mengandalkan pemain itu-itu saja. Saatnya Jafri maju ke depan, dengan gayanya sendiri.

Pembenahan ala Semen Padang jelas memakan korban. “Ah, itu biasa dalam revolusi,” Bung Karno pernah berujar. Empat pemain kunci angkat kaki. Vendry Mofu menerima pinangan Sriwijaya, Titus Bonai pulang kampung ke Perserui Serui, Edward Wilson Junior bertualang ke Felda United dan Elie Aiboy direkrut Persija. Keempat pemain kunci yang membantu Kabau Sirah mengangkat trofi juara IPL kini telah mengepak koper, pergi meninggalkan Bukit Karang Putih.

Sejenak, mungkin sebagian besar orang menganggap bahtera SP sudah limbung, bahkan tak sedikit yang berani memprediksi mereka akan gagal di ISL musim depan. Namun, sekali lagi, semua itu terlalu cepat.

Jafri menggebrak pasca-kehilangan empat pemain inti. Dua pemain diboyong dari bumi Pasundan: Eka Ramdani dari Pelita Bandung Raya dan Airlangga Sucipto dari Persib. Strategi dirancang ulang. Tim kini tak lagi berpusat pada pergerakan ala Tibo-Wilson semata, begitu tegas Jafri. Ezequiel Gonzales direkrut dari Persiba Bantul. Ia membangun tim berdasarkan gayanya sendiri, dengan memadukan pemain-pemain lama macam Wahyu Wijiastanto si tunggak gadang, Esteban Vizcarra, kapten Hengky Ardiles, talenta muda Ricky Akbar Ohorella dan alumnus timnas kualifikasi Piala AFC U22, Hendra Adi Bayauw dengan para pemain baru hasil rekrutan dan seleksi.

Hasilnya, tentu saja masih tahap coba-coba. Tim besutan Jafri dengan susah payah menahan imbang Sriwijaya FC dengan skor 1-1 di putaran pertama kualifikasi Inter Island Cup zona Sumatera, dan akhirnya harus takluk 3-1 di Palembang. Dan yang terakhir, sore tadi Kabau Sirah hanya berhasil menahan imbang “tetangga serumpun” mereka, PSPS Pekanbaru, dengan skor 1-1 di Stadion Kaharuddin Nasution, Pekanbaru, setelah susah payah mengejar ketertinggalan satu gol di babak pertama, hanya dapat dibalas oleh sontekan Esteban Vizcarra di babak kedua.

Sulit untuk meraba bayangan Semen Padang yang baru di bawah komando Jafri, hanya dari performa di IIC dan laga-laga latih tanding. Tugas Jafri masih banyak, antara lain memperkuat perpaduan antara pemain baru dan lama, menentukan pemain yang terpilih lewat jalur seleksi, meramu taktik yang pas, mengakali jadwal liga yang padat dan segudang pekerjaan rumah lainnya.

Ia jelas juga harus berusaha lepas dari bayang-bayang pendahulunya, Nil Maizar dan Suhatman Imam, yang sampai saat ini masih kerap disebut dalam perbincangan para suporter Semen Padang saat berbicara soal kursi kepelatihan. Tentunya, kita tak dapat mengadili Jafri cuma lewat hasil dari sebuah laga amal kontra tim Divisi Utama.

Jafri setidaknya boleh tersenyum sedikit, karena sampai sekarang Bukit Karang Putih masih belum berhenti berasap dan ia dapat melanjutkan langkah-langkah pembaharuannya di kamar ganti Kabau Sirah.

23 January 2014

Stadion Utama Riau: antara euforia, uang dan ekuasaan

Stadion adalah monumen untuk semua ayah yang sudah mati. Ia adalah monumen untuk para orang biasa. Demikian puisi seorang Belanda bernama Henk Spaan. Pada awalnya, stadion memang dibangun sebagai tempat yang sakral bagi tim sepak bola. Tapi stadion juga jadi tempat seorang ayah tertawa dan menangis, sembari memperkenalkan dunia sepak bola kepada anaknya.

Dalam stadion, para suporter yang datang dari perantauan dapat melepaskan rindunya kepada klub pujaan dan melebur dengan mereka-mereka yang mengenakan identitas sama. Entah itu warna tim, atau sekadar gambar pada logo klub.

Stadion adalah tempat suporter suatu klub, tanpa malu-malu, bisa bernyanyi dan bergoyang mendukung klub kesayangannya. Sampai batas tertentu, stadion juga menjadi arena ekspresi kebencian pada satu klub tertentu.

Stadion adalah suatu entitas. Suatu institusi sosial yang adiluhung: menggambarkan kekuatan, kebesaran dan kekuatan suatu klub atau negara. Tapi bagaimana jika stadion itu kosong melompong selama bertahun-tahun? Apa jadinya jika stadion hanya dipakai sekali, lalu dibiarkan begitu saja?
Inilah yang terjadi pada Stadion Utama Riau, Pekanbaru.

Awalnya, stadion berkapasitas 40,000 tempat duduk ini digadang-gadang sebagai stadion masa depan. Dengan arsitektur ciri khas kebudayaan Melayu Riau, yaitu sampan dan dua patung songkok –tutup kepala khas Melayu– di pintu masuknya, Stadion Utama dipuji-puji sebagai mahakarya anak bangsa di provinsi kaya minyak ini.

Bahkan, anggaran pembangunannya pun tak tanggung-tanggung, mencapai 900 miliar rupiah! Ini setara dengan enam kali biaya pembangunan Stadion Si Jalak Harupat di Bandung, yang “cuma” mencapai 135 milyar rupiah. Tak heran pula ada yang menggodok wacana pengusulan stadion ini menjadi salah satu stadion terbaik dunia. Bukan apa-apa, rumputnya dibeli khusus dari Australia. Jika pemerintah pusat  mengimpor sapi dari sana, maka warga Riau kebagian jatah rumputnya saja.
Sementara itu, bangkunya diimpor langsung dari Malaysia, diborong bersama papan skor. Konon katanya, kursi di stadion ini juga tahan api.

Entah benar entah tidak. Namun yang jelas, tentu pembangunan stadion ini telah menggelontorkan fulus yang tak sedikit. Angka tetaplah angka, yang hanya berbicara di atas kertas, tidak di lapangan. Di balik pembangunan stadion ini, tersimpan sebuah elegi pahit.

Stadion Utama awalnya memang dibangun untuk menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 yang berlangsung di bumi bertuah ini. Menjelang berlangsungnya pekan olahraga tahunan itu, Kualifikasi Piala Asia AFC U-22 digelar terlebih dahulu. Kala itu Indonesia memang mendapat kehormatan menjadi tuan rumah.

Kehormatan yang pahit, karena kita sendiri gagal melaju ke putaran final setelah ditekuk Jepang 1-5. Stadion Utama pun mulai kerap jadi pembicaraan warga Riau yang bangga dengannya. Bahkan, menyebar kasak-kusuk bahwa kelak PSPS Pekanbaru akan bermain di stadion ini.

Acara pembukaan PON yang megah meriah pun dilangsungkan di Stadion Utama. Tapi, final cabang sepak bola PON justru digelar nun jauh di sebelah utara kota, di Stadion Kaharuddin Nasution, kandang PSPS. Selepas PON, barulah terkuak kasus suap yang menyeret  pejabat-pejabat Pemerintah Provinsi. Bahkan Gubernur Rusli Zainal pun terpaksa mendekam di hotel prodeo karena kena getah skandal ini. Terkuak bahwa Pemprov Riau mempunyai utang yang tak langsai  ke kontraktor stadion. Utang ini mencapai Rp 100 miliar. Tak heran jika untuk menyelamatkan muka Indonesia di mata dunia, Islamic Solidarity Games pun dipindahkan dari Pekanbaru ke Palembang. Stadion Utama semakin ditinggalkan.

Seusai pesta megah pembukaan PON, tak ada lagi pertandingan sepak bola digelar di stadion ini. Kini nasibnya pun kian tak jelas dari hari ke hari. Kontraktor yang berang, membentangkan spanduk tagihan di area taman hijau dekat bangunan stadion.

Satu demi satu ubin stadion lepas dari tempatnya. Fasilitas umum, yang seharusnya dimanfaatkan oleh rakyat, menjadi suatu elegi pahit. Stadion Utama terpisahkan dengan jiwanya –para suporter dan orang-orang biasa– oleh uang dan kekuasaan.

Perlahan tapi pasti, Stadion Utama menjadi sesuatu yang telah mangkrak. Tak ada pesepakbola yang bermain di sini. Orang-orang yang datang dan pergi hanyalah para pedagang yang menjajakan dagangannya, geng motor yang kebut-kebutan di jalan aspal (yang tentu saja dibangun dengan APBD provinsi), pasangan muda mesum, dan Satpol PP yang meraung-raung sana sini mencari para bromocorah kecil yang menangguk di air keruh.

Stadion Utama adalah korban euforia, uang dan kekuasaan. Semenjak awal, pembangunannya diselimuti euforia hebat dari warga Riau yang telah lama mengidam-idamkan modernitas di provinsi ini. Janji-janji manis dilempar oleh pemerintah yang mengatakan bahwa pembukaan Stadion Utama untuk umum adalah bukti “pemerataan pembangunan”. Namun yang terjadi adalah para pejabat meratakan duit anggaran kepada kolega-kolega mereka. Kekuasaan telah menyedot seluruh harapan masyarakat untuk menyaksikan laga sepak bola kelas dunia di stadion ini. Euforia pun surut, tertelan dengan kasus yang satu demi satu menampar muka para elit yang haus kekuasaan.

Mungkin, Stadion Utama belum sesakral Old Trafford atau seikonik Gelora Bung Karno. Namun, biarlah ia tegak berdiri di sana. Bukan sebagai monumen untuk orang-orang biasa yang merindukan sepakbola. Tapi sebagai batu penanda bahwa spesies bernama manusia pernah begitu rakus dan tamak terhadap uang dan kekuasaan. 

Awalnya ditayangkan di Pandit Football Indonesia.