14 April 2013

Review: Jerusalem, The Biography

Kemarin, di Gramedia, mata saya tertohok pada Jerusalem: The Biography, karya Simon Sebag Montefiore. Tebalnya 800 halaman kira-kira.

Seingat saya, terakhir kali saya membeli buku yang kurang lebih tebalnya sama dengan buku ini, itu adalah sebulan yang lalu, saat saya membeli The Greatness of Al-Andalus karya David Levering Lewis. Itupun hanya 630-an halaman. Entah kenapa saya terobsesi pada buku tebal.

Buku ini adalah sebuah epos 3.000 tahun tentang Yerusalem, kota suci, Al-Quds, Kota Kuil, pusat dunia, rumah bagi tiga agama. Yahudi, Kristen dan Islam. Montefiore menulisnya secara gamblang, bersikap jujur dan netral. Buku ini tidak berisi tentang ajaran agama Yahudi, Kristen, maupun Islam. Bukan juga sebuah studi ketuhanan. Buku ini adalah tentang sejarah Yerusalem yang dapat dinikmati pembaca umum, tanpa suatu agenda politis.

Buku ini dilengkapi beberapa fotografi yang lumayan, dan juga silsilah Nabi Muhammad dan keluarga Herod, yang suatu masa dulu pernah memerintah Yerusalem. Sumbernya memakai Al-Quran versi terjemahan baru oleh MAS Abdul Haleem di Oxford, 2004.

Menurut saya, yang menarik dari buku ini adalah Montefiore menulis tentang Charlemagne dan Harun Al-Rasyid di bagian keempat bukunya. Tidak seperti literatur sejarah lain yang membandingkan Charlemagne dan Kekhalifahan Berber di Spanyol, Montefiore memberi sudut pandang lain. Berikut saya kutipkan separagraf tulisannya:
Khalifah (Harun al-Rasyid) mengirimi Charlemagne seekor gajah dan sebuah jam air astrolabe, sebuah alat canggih yang menunjukkan superioritas Islam dan menakuti sebagian orang primitif Kristen yang mengira alat sihir iblis.
Montefiore juga menjabarkan hubungan Charlemagne dan Yerusalem.
Orang Kristen dan pagan, ujar seorang peziarah, melakukan perdamaian di antara mereka. Sikap murah hati Charlemagne melahirkan cerita bahwa dia secara diam-diam pernah berkunjung ke Yerusalem, menjadikannya pewaris Heraclius. Ini secara luas diyakini, terutama pada masa Perang Salib, tapi Charlemagne tidak pernah berkunjung ke Yerusalem.
Ini sejujurnya sangat menarik.

Oh ya, buku ini jelas punya beberapa kelemahan. Montefiore tidak terlalu banyak menjabarkan kisah pendirian Dome of the Rock oleh khalifah Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Pun Montefiore tidak banyak menulis tentang Palestina dan Yerusalem di masa modern. Alangkah baiknya, misalnya, Montefiore menerangkan peran Hafez al-Assad dalam Yerusalem dan Palestina modern pada umumnya. Sebab, Hafez dikenal sebagai seorang penentang tegas Israel. Dan bahkan Montefiore tampaknya kurang bersemangat menjelaskan tentang Perang Enam Hari, dan berfokus kepada kisah Yitzhak Rabin.

Apapun, buku ini sangat bagus. Saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin mendapat gambaran umum tentang Yerusalem, kota suci. Kota seribu satu kisah.